Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 63


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Franda memutuskan akan bercerai dengan Nino, semua berkas yang menyangkut perceraian mereka sudah masuk ke pengadilan negeri melalui pengacara Nino, mereka hanya tinggal menunggu jadwal mediasi sebelum persidangan. Franda dan Nino masih tinggal bersama, bahkan tidur diranjang mereka, meskipun sudah saling menjaga jarak, lebih tepatnya Franda yang membatasi diri, sebisa mungkin Ia mencoba agar terbiasa hidup tanpa Nino.


Tidak mudah bagi keduanya melewati ini. Nino yang belum mampu menerima keputusan istrinya terus berusaha membujuk Franda untuk membatalkan perceraian mereka, menawarkan perjanjian ulang agar diterima kembali, namun nihil. Franda teguh pada keputusannya, tidak mau memberi toleransi sedikitpun pada Nino.


Franda baru saja selesai memandikan putranya, Ben, saat Nino pulang dari kantor dan masuk ke kamar.


"Halo, boy!" seru Nino, berjalan mendekat sembari melemparkan tas laptop dan jasnya ke sofa, kedua tangannya dengan cepat melonggarkan dasi yang membelit lehernya, lalu menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku, diraihnya tubuh mungil yang hanya menggunakan popok itu dengan cepat, menghujani ciuman di pipinya.


"Kau merindukan Daddy? Apa saja yang kau lakukan hari ini, hah?" Nino berbicara pada putranya yang menggemaskan itu, seolah Ben bisa menjawab ucapannya.


Franda tersenyum, dalam hati Ia berharap akan melihat pemandangan ini selamanya, namun kembali tersadar bahwa kenyataannya tidak seperti itu. Momen ini akan hilang sebentar lagi. Pernah terlintas dikepalanya untuk kembali menerima suaminya dan kembali hidup seperti dulu, tapi dengan cepat dibuangnya pikiran itu jauh-jauh, Ia tidak ingin terlena dengan ketakutannya akan perpisahan. Semua pasti baik-baik saja, Franda yakin itu.


Franda keluar meninggalkan Nino dan Ben, membiarkan keduanya menghabiskan waktu bersama, karena setelah mereka resmi berpisah, sudah dipastikan Nino tidak akan memiliki banyak waktu bersama putranya, karena Franda meminta hak asuh penuh atas Ben.


"Kelaparan, hah?" Franda menyindir Mia yang duduk di meja makan, dengan ganas menyantap semangkuk mie instan yang dimasak oleh sora.


Mia menjawab dengan anggukan, mulutnya enggan menjawab dan lebih memilih memakan makanan ternikmat sejagat raya itu.


Franda membuka kulkas, mengeluarkan sebotol air mineral, dan meneguk hingga setengahnya, "Ibu dimana?" tanya Franda sembari menghempaskan bokongnya dikursi, berhadapan dengan Mia.


"Mandi!" jawab Mia dengan mulut penuh.


"Oh, Mama?"


Mia mengedikkan bahu, Ia memang belum melihat Mama Rossa sejak tadi. Franda menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Mia yang makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Ed belum kesini?" tanya Franda lagi, beberapa hari ini Edward memang sering datang, memastikan Nino mengurus perceraiannya dengan Franda secepatnya.


Mia meletakkan sumpit, lalu menatap tajam kakaknya yang akan segera menjanda itu, "Tidak bisakah kau membiarkanku makan dengan tenang? Tolong tahan pertanyaanmu sebentar!" katanya sinis, kembali fokus pada makanannya.


"Ckckck... Kau seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari." sergah Franda. Ia berjalan kembali ke kulkas, mengeluarkan satu cup besar es krim rasa oreo, mengambil sendok dan kembali bergabung dengan Mia dimeja makan.


Franda menyuapkan es krim sesendok penuh ke mulutnya, "Ahhh... so good!" katanya, matanya terpejam menikmati nikmatnya es krim berlogo l**ove itu.


Franda terus memakan es krimnya, mengalihkan pikirannya sejenak dari perceraian yang harus dihadapinya. Wanita itu sudah kehilangan berat badan cukup banyak akibat memikirkan nasib pernikahannya yang kini diujung tanduk. Semua orang tahu Franda sedang tertekan, meskipun Ia selalu bersikap tenang dihadapan mereka. Tak jarang Ibu, Mama, dan Mia mendapati Franda termenung, bahkan terkadang tidak merespon ucapan mereka.


"Mia..." Franda menjatuhkan sendok dimeja makan, tiba-tiba Ia merasakan sakit di kepala, seluruh tubuhnya gemetar, dan napasnya terasa begitu sesak.


Mia belum menoleh, masih fokus pada mie instannya, Ia mengira Franda akan bertanya lagi padanya.


"Ahhh...." pekik Franda, sontak Mia mengangkat kepalanya. Raut wajahnya berubah panik saat melihat Franda yang gemetar meremas dadanya, Franda sangat pucat, jelas telihat Ia sedang menahan sakit. Keringat mulai bermunculan di sekujur tubuhnya.


"Ahhh..." pekik Franda lagi.


"Panda, ada apa? Kau kenapa?" Mia semakin panik, "Mom!" teriaknya memanggil Ibu yang sedang mandi di kamar.


Satu panggilan, belum ada jawaban, berarti Ibu masih di kamar mandi, pikirnya.


"Nino!" teriak Mia lebih keras agar Nino mendengarnya. Benar saja, kakak iparnya langsung keluar dengan menggendong Ben. "Tolong Panda, cepat!"


Nino tak kalah panik melihat Franda yang kesakitan, Ia setengah berlari menuruni anak tangga, diletakkannya Ben di baby bouncer diruang keluarga, "Kenapa dia?" tanyanya begitu sampai di meja makan.

__ADS_1


Mbak Ika, Miss Diana, dan Sora yang mendengar teriakan Mia juga muncul bersamaan. Ketiganya ikut terkejut kala melihat majikan mereka yang kesakitan, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa selain menonton.


"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba kesakitan." jawab Mia.


Nino meraih tangan Franda yang berpegangan pada tepian meja makan. "Franda, Sayang... Kau kenapa?"


Franda tidak menjawab, tubuhnya terus gemetar, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, bahkan kini Ia merasa lehernya seperti dicekik. Genggamannya ditangan Nino semakin erat, Franda benar-benar tersiksa. Matanya mulai memerah dengan napas terengah-engah.


"Sayang, kau kenapa? Apa yang sakit?" Nino semakin panik, Ia bisa merasakan kuku Franda yang mulai menembus kulit tangannya.


"Aahhh..." Franda memejamkan mata, lalu kembali membukanya dengan cepat, menahan rasa sakit yang begitu menyiksa.


"Sora, suruh Dika menyiapkan mobil, kita harus membawanya ke rumah sakit." ucap Nino.


Sora dengan cepat berlari keluar dan memberitahu perintah Nino pada Dika. Nino menggendong Franda yang masih gemetar dan membawanya ke mobil yang sudah siap di depan, membawa Franda masuk, dan Mia menyusul setelah menitipkan Ben pada Miss Diana, Ia duduk di seat depan bersama Dika.


Setelah hampir setengah perjalanan, Franda mulai tenang, tubuhnya mulai melemas, rasa sakit di kepala dan dadanya sudah berkurang, meskipun napasnya masih memburu.


"Ada apa? Apa yang sakit, Sayang?" tanya Nino.


Franda menggeleng, "Aku tidak tahu, tiba-tiba kepalaku seperti mau pecah, napasku sesak, dan leherku juga seperti tercekik." jawab Franda lemah, Ia bersandar pada dada suaminya yang tidak lama lagi akan berganti status menjadi mantan suami.


"Sekarang masih sakit?"


"Tidak, aku sudah tidak apa-apa. Ayo pulang saja." kata Franda, mulai menarik diri dari pelukan hangat Nino.

__ADS_1


"Tidak, kita harus ke dokter dan memeriksanya, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Nino begitu khawatir, dipeluknya kembali istrinya dengan erat, Ia tidak peduli dengan apa yang tengah mereka hadapi saat ini, yang terpenting Ia harus memastikan Franda baik-baik saja.


Franda pasrah, menolakpun akan percuma, Nino pasti akan tetap memaksanya. Franda sangat kenal watak pria yang sudah 9 tahun menjadi suaminya itu, Nino tidak bisa di bantah jika sudah memutuskan sesuatu.


__ADS_2