
"Kau baik-baik saja, kakak ipar?"
Aku mendesah pelan seraya meraih tas dari atas meja kerjaku di WE Fashion's Style, lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. "Ini sudah kelima kalinya kau bertanya seperti itu." sahutku sambil melirik Dean yang duduk di seberangku.
"Itu karena kau sedang menyangkalnya."
Aku menggelengkan kepala, merasa jengah dengan sikapnya yang berlebihan, lalu berdiri dan merapikan rok gaunku. Kemudian aku melangkah keluar dari ruanganku, sementara Dean mengikutiku berjalan menyusuri lorong menuju keluar gedung.
Sinar matahari yang hangat langsung menyambutku ketika menginjakkan kaki di pelataran. Udaranya cukup segar, dan lingkungan disini sungguh menakjubkan. Sejenak aku teringat saat-saat tinggal di rumah hutan yang damai dan tenang. Itu adalah masa-masa yang indah dengan tempat terbaik yang pernah kualami sepanjang hidup.
Aku berniat langsung menuju ke La Femme, lalu bekerja sampai malam. Aku membutuhkan itu sebagai pengalihan. Jika aku tidak melakukan apapun, atau membiarkan diriku sendirian, aku tidak bisa mencegah diriku untuk memikirkan tentang...
"Ayolah, Franda, akui saja kalau aku benar soal Sean. Tidak seharusnya kau membiarkan dia pergi. Dia tidak pernah meneleponmu, dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi sejak dia berangkat."
"Sean pasti sedang sibuk menyelesaikan masalahnya disana." sahutku tajam, nada suaraku jelas mengatakan kalau aku tidak senang dengan percakapan kami.
"Ya, tentu. Aku yakin itu alasannya, karena tidak mungkin kalau mantan kekasihnya yang sudah mengambil alih seluruh perhatiannya."
Aku mengerang dalam hati sambil mempercepat langkah menuju area parkir, tapi Dean dengan gigih terus mengikutiku.
Langkahku terhenti saat kami sudah berada di samping mobil. Tidak ada orang lain disana, hanya Ameer yang keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untukku. Sebelum aku masuk ke mobil, suara Dean terdengar lagi.
"Franda,"
Aku melempas tas ke dalam mobil lalu dengan cepat berbalik menghadapnya seraya mengangkat kedua tanganku, tanda menyerah. "Baiklah, aku menyesal dan sengsara, apa kau puas?"
Dia mengerutkan kening. "Bukan itu maksudku..."
"Dean, dia sedang menghadapi masalah yang sangat serius dan aku merasa tidak berguna karena tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya." gumamku frustasi.
__ADS_1
Aku sudah menahan semua ini di kepalaku selama dua hari sejak Sean datang menemuiku sesaat sebelum dia berangkat ke Malaysia. Saat itu aku ingin sekali menghentikannya, sebagian dari diriku berharap dia tidak pergi dan meninggalkanku. Tapi aku tahu dia memang harus menyelesaikan semuanya.
Aku cemas setengah mati, dan disaat yang bersamaan aku ingin mempercayainya. Aku belum pernah merasakan sesuatu sesakit ini ketika mencintai seseorang, rasanya begitu mengerikan seolah itu bisa meremukkanku.
Rasa panas begitu menyengat di kedua mataku ketika air mataku mulai menggenang. Aku memejam dan menarik napas dalam, mencoba mengusirnya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Air mata sialan itu mengalir semakin deras.
"Oh, Franda..." Dean menarikku mendekat, lalu memelukku erat. Sekarang, aku tidak bisa lagi membendung semuanya. Aku menangis seperti anak kecil di dalam pelukannya.
"Aku tidak mendengar apapun darinya sejak... dia pergi." kataku terputus-putus di sela-sela isakan. "Aku mencemaskannya dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya, Dean."
"Semuanya akan baik-baik saja." Dia mengusap punggungku untuk menenangkanku sebelum melepas pelukannya.
Dean memindahkan tangannya ke lenganku seraya melemparkan senyum padaku. "Besok hari ulang tahunmu, kan? Dia tidak mungkin melewatkannya. Saat dia menghubungimu, katakan padanya jika dia tidak muncul dalam dua hari, kau akan meninggalkannya." Aku tertawa pelan mendengar ucapannya.
Kemudian alisku bertaut saat aku menyadari sesuatu dalam kalimatnya. "Tunggu, dari mana kau tahu soal ulang tahunku? Apa kau sengaja mencari tahu tentangku?" Dean tertawa, seakan aku mengatakan sesuatu yang lucu.
Setelah beberapa saat, perlahan tawanya berhenti dan dia menatapku sambil menggelengkan kepala. "Kau memang bodoh ya, kakak ipar. Untuk apa aku melakukan itu? Sean yang mengatakannya padaku. Malam sebelum dia berangkat, dia datang ke apartemenku karena kau merajuk dan tidak mau menemuinya."
"Kakakku tergila-gila padamu, Franda. Aku bisa melihatnya. Kuyakin dia akan lari terbirit-birit begitu kau memintanya pulang. Tunggu saja."
Aku tersenyum, mengangkat kepala dan mengusap air mata dengan punggung tanganku. "Ya, dia memang begitu." gumamku kemudian.
Aku melirik Ameer sekilas, dia berdiri di samping mobil, menungguku. "Bisakah kau menjelaskan tentang semuanya padaku? Tentang Dave dan... pokoknya semuanya. Sean tidak mengatakan apa-apa padaku soal tujuan keberangkatannya." kataku setelah pandanganku kembali kepada Dean.
Dia terdiam sejenak, menimbang permintaanku sebelum akhirnya dia berbicara. "Aku tidak tahu apakah dia menyukai ini atau tidak, tapi kupikir kau memang berhak tahu," katanya, lalu memandang ke sekeliling kami. "Bisakah kita kembali ke dalam?" lanjutnya saat tatapannya tertuju padaku.
Aku langsung mengangguk, lalu berbalik untuk meraih tasku dari dalam mobil. Sebelum mengikuti Dean yang sudah melangkah lebih dulu, aku berbicara pada Ameer. "Kembalilah dua jam lagi." Dia mengangguk, dan aku melangkah kembali ke dalam gedung.
***
__ADS_1
"Jadi, Sean ke Malaysia untuk menemui Dave?" Aku bertanya pada Dean setelah dia menceritakan tujuan Sean ke Malaysia, dan dia mengangguk.
Aku terdiam. Memikirkan semua hal yang baru saja dijelaskan oleh Dean. Aku tidak mengira Sean akan menghadapi masalah seberat itu. Berawal dari kontrak palsu yang dibuat Dave, dan berakhir terlibat dengan gangster dan interpol. Selama ini kupikir masalahnya hanya sebatas tentang kontrak kerja sama, yang entah bagaimana, dia harus membayar ganti rugi atas kontrak itu.
Satu hal yang membuatku merasa buruk adalah, tanpa kusadari aku melakukan sesuatu tanpa memikirkannya dengan baik. Maksudku, aku terlalu terburu-buru menuduhnya berbohong dan menipuku padahal sebenarnya Sean sedang berusaha memperbaiki segala sesuatunya tanpa melibatkanku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat aku menamparnya hari itu. Ya Tuhan, dia pasti kecewa padaku.
Sekarang, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku ingin menghubunginya untuk sekedar meminta maaf, namun itupun tidak bisa kulakukan karena ponselnya memang tidak aktif sejak dia pergi. Dan itu membuatku cemas. Aku takut sesuatu terjadi padanya.
"Franda, kau baik-baik saja?" suara Dean menarik pikiranku kembali.
Aku menolehnya dan mengangguk lemah. Dan aku tahu, aku tidak baik-baik saja. "Ya." kataku dengan pelan seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Kenapa Dave melakukan itu padanya, Dean? Kenapa dia setega itu?" tanyaku, benar-benar tidak mengerti kenapa Dave harus menyeret Sean ke dalam masalah adiknya.
Dean menggeleng, ketika matanya beradu dengan mataku, aku tahu dia juga bingung. Sorotnya jelas menunjukkan ketidaktahuan. "Aku yakin Dave tidak bermaksud melibatkan Sean dalam masalah ini, dan aku bisa mengerti alasannya. Hanya saja dia bertindak terlalu berani dengan membuat masalah soal kontrak itu. Bayangkan saja, karena perbuatannya kita semua terancam menjadi gelandangan."
"Apakah Julie tahu masalah ini?"
Dean menyipitkan mata menatapku. "Kau tahu Julie?"
Aku mengangguk. "Sean pernah bercerita tentang Julie saat kami di Queensland." ujarku menjelaskan. "Beberapa hal tentang hubungannya dengan Jason, kalau kau mengenalnya."
"Ah, ya, Jason. Aku mengenalnya, kupikir mereka sudah berpisah." ucapannya terdengar seperti pertanyaan, membuatku ingin membalasnya.
"Memang, dan sekarang Jason sedang mendekati adikku." aku tertawa pelan seraya menggelengkan kepala. "Itu lucu, bukan?"
Dean ikut tertawa. "Ya, sangat pantas untuk ditertawakan. Aku tidak bisa membayangkan suatu hari nanti Julie kembali menemui Jason. Pihak mana yang akan kau dukung? Mia atau Julie?"
"Oh, come on! Itu sama sekali bukan urusanku. Lagi pula, mereka bukan anak kecil yang akan berebut mainan."
"Definitely. But, who knows?"
__ADS_1
"No one, actually."
Kami pun tertawa. Pembicaraan kami berlanjut sampai dua jam berikutnya, membahas tema yang lebih ringan. Dean menceritakan semua tentang keluarga mereka, membuatku sejenak bisa mengalihkan pikiran dari Sean.