
Aku masih cemas menunggu suamiku yang belum kembali sampai saat ini jam sudah menunjuk angka sepuluh malam. Hatiku tak tenang memikirkan dia berada diluar dalam keadaan kalut. Berkali-kali aku mengubunginya melalui ponsel, tapi tak satupun yang tersambung. Ketakutanku semakin bertambah ketika satu jam lalu aku menelepon Dave untuk menanyakan keberadaan Sean dan pria itu mengatakan tidak tahu dimana Sean.
Ingin rasanya aku keluar dan mencarinya, tapi kemana? Aku tidak mengetahui tempat-tempat yang akan dikunjunginya saat dia membutuhkan ketenangan. Aku belum mengetahui sejauh itu meskipun dia sudah banyak bercerita tentang dirinya.
Mataku yang sembab menatap sedih pada ranjang yang selalu nyaman saat aku disana bersama dirinya, ranjang yang menjadi saksi betapa kuat cinta yang ada diantara kami. Aku sungguh mengutuk sikap kurang ajar Nino yang seenaknya memelukku tadi, dan lebih mengutuk diriku karena terlalu bodoh membiarkannya masuk ke ruang kerjaku. Harusnya aku tinggalkan dia atau berbicara dengannya diluar. Astaga, apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku meraih ponsel dari nakas untuk mencoba menghubunginya sekali lagi. Sial, panggilanku masih belum tersambung.
"Sean, kau dimana?" kataku putus asa. Aku duduk ditepi ranjang sambil terisak pelan. Keadaan ini sungguh membuatku gila. Kalau saja aku tidak hamil, mungkin sekarang aku sudah berada di klub bersama Denise atau Mia. Menghabiskan malam sampai tak sadarkan diri lalu terbangun dan lanjut meratapi kebodohanku besok pagi.
Jika dalam pernikahan pertamaku selalu suami yang membuat masalah, kenapa sekarang terbalik. Aku yang selalu menyebabkan pertengkaran diantara kami dan membuat suami yang begitu mencintaiku terus tersakiti. Tidak mungkin membela diri dan mengatakan aku tidak bersalah sementara aku mengajaknya masuk ke dalam ruanganku. Sean tidak akan mendengarkan itu. Ya, aku juga pernah bersikap sama dulu.
Sampai nyaris tengah malam aku masih terjaga. Mondar-mandir didalam kamar, mendengar tanda-tanda kehadiran suamiku. Oh, Tuhan... bisakah aku pingsan saat ini juga? Terlalu banyak pikiran liar yang muncul di kepalaku. Pada akhirnya aku lemah, meringkuk di sofa malas di dalam kamar sambil memeluk bantal.
Entah kapan aku tertidur sampai samar-samar aku mendengar suara pintu kamar terbuka. Tubuhku gemetar melihat suamiku berjalan sempoyongan, dia mabuk. Perlahan aku mendekat dan meraih tubuhnya agar bersandar padaku. "Hei, kau terlihat cantik Mrs. Warner." katanya sambil tersenyum. Bau alkohol yang menyengat membuatku memundurkan kepala sedikit. Aku menutup mata dan menelan ludah untuk menahan mual yang menyerang perutku.
__ADS_1
"Ya. Dan kau terlihat sangat mabuk, Samson." kataku sambil bersusah payah menahan tubuhnya yang besar agar tidak terjatuh. "Come on, big guy!" Aku menuntunnya sekuat tenaga sampai dia mendarat di tepi ranjang.
Aku menangis melihat suamiku yang begitu hancur. Aku baru saja mematahkan hatinya yang lembut dan penuh kasih sayang. Untuk kedua kalinya dia menangis karenaku. Sambil terisak, aku membuka sepatu dan pakaiannya lalu berderap ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Saat aku kembali, dia sudah berbaring telentang di lantai dengan mulut menggerutu tak jelas.
Sementara aku mengelap tubuhnya, dia menggodaku dengan memegang serta mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Bersabar sebentar, aku harus membersihkan tubuhmu." ucapku lembut. Kakiku melangkah ke walk in closet untuk mengambil pakaiannya dan dua selimut tebal dari lemari lalu kembali lagi padanya.
Setelah selesai memakaikan pakaiannya, aku mengembangkan dua selimut tebal untuk alas tidur kami. Aku memilih menemaninya tidur di bawah karena tidak mungkin aku sanggup mengangkat tubuhnya yang besar dengan tubuhku yang kurus. Keringat membasahi wajahku saat aku berjuang menggeser tubuhnya ke atas tumpukan selimut sampai kulitnya benar-benar tidak menyentuh lantai. Aku tidak mau dia terbangun besok dengan perut kembung akibat masuk angin.
Sebelum ikut berbaring, sebelah tanganku menarik satu selimut lagi dari atas ranjang dan menutup tubuh kami berdua. Suamiku yang sedang kacau itu mulai tenang dalam tidurnya. Mataku menatapnya sedih dan merasa bersalah. Dia tidak pantas merasakan sakit seperti yang kurasakan dulu ketika Nino mengkhianatiku, hatinya terlalu lembut dan rapuh. Entah bagaimana aku harus menghadapinya besok, yang jelas saat ini aku bersyukur dia pulang. Memeluknya seperti ini sudah cukup untuk melepas kerinduan yang kutahan selama seminggu ini.
Aku terbangun dan mendapati suamiku yang selalu tampan itu masih pulas disampingku. Sudut bibirku terangkat saat melihat sebelah tangannya menimpa perutku. Ada kebahagiaan yang terbit di hatiku. Baru saja aku bergerak ingin menciumnya, tiba-tiba perutku mual tak tertahankan. Secepat kilat aku bangkit menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutku sampai habis. Tidak banyak yang keluar karena sejak kemarin siang aku belum makan apapun. Hanya ampas oatmeal sisa sarapan pagi yang dibuat Miss Diana kemarin yang terlihat.
Dengan lemas, aku keluar dari kamar mandi sambil sebelah tangan mengusap lembut perutku sementara sebelah tanganku yang lain meremas pelan tengkukku. Kutinggalkan suamiku yang masih terlelap dilantai sementara aku berderap keluar kamar.
Aku merasakan helaian rambutku saat mengikatnya tinggi-tinggi dengan karet. Kakiku berderap turun melalui anak tangga. Setelah menginjak lantai dasar rumahku yang berbahan granit, mataku langsung menangkap seorang wanita paruh baya yang setia menemani keluarga kami beberapa tahun ini. Siapa lagi kalau bukan Miss Diana, si Janda Genit. Dia terlihat sedang bersantai menempatkan pandangannya di depan layar televisi sementara kakinya terlipat di sofa.
__ADS_1
Perlahan aku mendekatinya dan mengeluarkan suara serak khas bangun tidur. "Miss, tolong siapkan sup daging untuk sarapan ya." kataku lalu berjalan ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut laparku.
Miss Diana menekuk bibirnya sebelum menjawab. "Sejak kapan kau menginginkan daging untuk sarapan, Nyonya?" protesnya sambil mengukutiku.
Tanganku meraih apel dari atas mini bar dan menggigit satu gigitan besar. "Sejak hari ini." jawabku malas sambil mengunyah apel. Belum ada yang mengetahui kehamilanku selain Denise dan Pritta. Sejak pulang kemarin aku hanya bertemu Ben sebentar dan langsung mengurung diri sampai suamiku pulang.
Aku juga belum menghubungi Ibu dan Mia yang sudah hampir sebulan ini berada dirumah lama bersama Edward. Ibu ingin tinggal disana sementara waktu untuk mengurus Ed yang masih bertahan dengan kesendiriannya meski usianya hampir memasuki angka 40. Kakakku itu terlalu mencintai pekerjaannya sampai tidak memiliki waktu untuk mencari kekasih.
Aku kembali ke kamar setelah menghabiskan apelku. Awalnya aku ingin melihat Ben, tapi urung kulakukan melihat jam masih menunjukkan angka enam lewat dua puluh lima menit. Anak itu pasti masih tertidur pulas.
Darahku berdesir melihat pemandangan seorang pria yang meringkuk memeluk selimut di lantai kamarku. Pria yang begitu kucintai, kukagumi, dan kudambakan itu terlelap dengan damai. Aku duduk memeluk lutut di sampingnya. Sebelah tanganku menyelinap untuk mengusap perut yang menyimpan buah cinta kami berdua. Sudut bibirku melengkung indah membayangkan bagaimana hari-hari akan terlewati setelah kami berbaikan nanti.
Sean akan bertahan denganku. Apapun yang terjadi, suamiku tidak akan menyerah dengan mudah. Jika dia bukan pria yang mencintaiku, mungkin dia sudah pergi meninggalkanku dan tak pulang sejak kemarin. Tapi dia disini sekarang, tertidur dihadapanku. Aku benar-benar tidak salah menerimanya sebagai suami. Karena jika aku salah, aku pasti akan mendapatkan monster yang berpura-pura menjadi suamiku.
Aku mengangkat wajahku dan menatap foto pernikahan kami yang tergantung menempel di dinding di atas kepala ranjang. Aku teringat dan berterus terang, aku berjanji pada Sean tidak akan menemui Nino sendiri. Tapi yang kulakukan sebaliknya, aku malah membiarkannya masuk dan memelukku tepat didepan mata suamiku.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Sean. Maafkan aku."