
Nino kembali kekamar untuk melihat Franda yang tadi ditinggalkannya dan mendapati Franda terbaring disofa dengan posisi menantang membuatnya mengingat kejadian tadi. Franda yang tertidur nyenyak tidak menyadari bathrobe-nya terbuka memamerkan paha mulusnya, Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Nino yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan ingin memangsa.
Nino mendekat dan menatap wajah istrinya dengan lekat, Ia mengagumi kecantikan wanitanya itu yang tidak pernah berkurang sedikitpun sejak awal mereka berkenalan, justru semakin cantik seiring bertambahnya usia. Pria itu mencium hidung istrinya yang membuat Franda terbangun dan langsung memeluk Nino.
Nino yang kaget tidak menolak, Ia tersenyum melihat dengan sikap manja istrinya yang kembali.
"Sayang, kau harus mandi... Ayo, bangun!" kata Nino hendak mengangkat istrinya.
Franda menggeleng. "Biarkan seperti ini sebentar lagi, aku ingin menikmati sisa waktu bersama suamiku" kata Franda membuat Nino terhenyak mendengarnya.
"Aku tidak pergi kemana-mana, aku akan selalu disini bersamamu!" jawab Nino sambil membalas pelukan istrinya dengan erat.
"Entahlah, aku tidak merasa begitu" Franda membenamkan wajahnya dileher suaminya, menghirup aroma maskulin yang sangat disukainya itu.
"Hey, jangan berbicara seperti itu, Sayang! Maafkan aku, maafkan kesalahanku. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi" ucap Nino yang hanya dibalas 'hmm' oleh Franda.
"Kau lapar? Aku akan membuatkan steak kesukaanmu" kata Nino setelah beberapa saat.
Franda menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin makan apapun!" jawabnya.
__ADS_1
Nino tidak mengatakan apapun lagi, Ia hanya mengikuti kemauan istrinya dan tetap memeluknya erat.
"Sayang..." panggil Nino beberapa saat kemudian.
"Hmm?" Franda menjawab tanpa membuka mata.
"Aku serius tentang niatku menceraikanmu, aku tidak ingin kau tersiksa bersamaku. Beberapa hari ini aku berpikir tentang keinginanmu untuk memiliki anak, dan aku akan menjadi orang yang paling egois jika tetap menahanmu" kata Nino. Ia memejamkan mata, menahan sakit saat mengucapkan kata-katanya sendiri.
"Bukankah kau sudah menyiksaku selama ini? Kenapa baru menyadarinya sekarang?" tanya Franda menatap sinis kepada suaminya.
"Ya, aku baru menyadari keegoisanku selama ini membuatmu tersiksa dan aku tidak ingin mengikatmu lebih lama lagi. Kau masih muda, masih cantik, pasti banyak laki-laki diluar sana yang tertarik padamu" Nino berusaha mengucapkannya dengan santai meskipun hatinya sangat sakit. Ia benar-benar ingin Franda bahagia.
"Kalau kau memang sangat ingin menghancurkanku, aku katakan aku sudah hancur sekarang! Kenapa kau kejam sekali, Nino? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apa yang kau harapkan dariku selama ini? Kesalahan apa yang sudah ku lakukan padamu sampai kau harus menenggelamkanku berkali-kali?" Franda mulai menangis setelah melanjutkan ucapannya.
"Bukan begitu, Sayang... Aku hanya tidak ingin menyiksamu. Aku ingin kau bahagia, aku tidak..."
"Kau tidak berhak menentukan apakah aku bahagia atau tidak, sudah kukatakan aku yang tahu harus melakukan apa dengan hidupku. Kenapa kau terus memaksaku membencimu?" kata Franda memotong ucapan suaminya.
"Bukan itu maksudku, Franda! Aku tidak akan bisa memberikan anak padamu, kau tidak akan bisa hamil jika terus bersamaku! Aku memahami keinginanmu yang tidak bisa kukabulkan makanya aku ingin kita bercerai" ucap Nino kembali menjelaskan, sangat sulit baginya membuat agar istrinya mengerti.
__ADS_1
"Persetan dengan anak! Jangan beralasan ingin melepasku karena kemandulanmu jika kau ingin menikahi wanitamu itu! Katakan padaku kau ingin menikahinya, kan? Oh, f*ck! Aaarrggghh!!" Franda tak bisa lagi menahan ledakan amarahnya, Ia menendang meja kaca didepannya hingga terbalik dan hancur berkeping-keping.
Franda berdiri membelakangi Nino dengan kedua tangan berada pinggang, napasnya memburu, saat ini Ia terlihat siap menghancurkan apapun yang a.da dihadapannya.
"Sayang...." panggil Nino yang ketakutan, Ia tidak berani mendekati istrinya sedang mengamuk, Nino belum pernah berada disituasi seperti ini sebelumnya. Ia langsung merutuki kebodohannya yang terus memprovokasi Franda.
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut sialanmu itu! Kau b*jingan paling tidak tahu diri yang pernah kukenal, masih bagus aku mau menerima pria mandul sepertimu, kau justru menolakku seolah ada wanita lain yang mau melakukan hal yang sama sepertiku... Oh, aku lupa, kau punya *'***** yang siap menyambutmu kapanpun kau datang!" kata Franda sembari menyeringai.
"Kau dengar ini baik-baik, sekali lagi kau berani berkata tentang perceraian aku akan mencincangmu habis dan kujadikan makanan anjing tetangga sebelah!" ancam Franda yang sepertinya akan benar-benar dilakukannya.
Nino terdiam mematung, tidak berani mengeluarkan suara sama sekali. Istri lembutnya yang kini sudah menjelma seperti seekor singa yang kelaparan selama berbulan-bulan, siap memangsa siapapun disekitarnya.
"Aku terlalu lembut padamu selama ini, bukan? Sampai kau tidak menyadari bahwa aku menjadi bisa sangat kejam padamu, aku tidak akan segan-segan menghancurkan seluruh hidupmu dan *'***** itu jika aku melihat kalian berhubungan lagi! Jangan berpikir aku akan selalu baik dan menurut padamu, kau yang sudah memancingku jadi jangan salahkan aku yang memakan umpanmu!" ucap Franda mengancam.
Ia mendekati suaminya dan menatap tajam.
"Kuberi kau waktu sampai besok pagi untuk menyelesaikan urusanmu dengannya, selesaikan semuanya atau aku tidak akan bisa melepasnya setelah itu! Jangan berharap aku akan melunak kali ini, kesabaranku sudah melampaui batas, aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tidak menghabisinya" lanjut Franda, kemudian berjalan kekamar mandi dan menutup pintu dengan kencang, membuat Nino yang sejak tadi terdiam langsung melompat kaget.
Nino bergidik ngeri melihat kemarahan istrinya, sisi lain dari Franda yang baru saja diketahuinya hari ini. Sikap Franda yang mengerikan membuat Nino juga berubah menjadi seperti seekor anak kucing manis yang sangat takut kehilangan ibunya, menuruti Franda adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya sekarang.
__ADS_1