
Franda memejamkan mata, mengembalikan irama jantung dan napasnya yang masih tersengal. Franda tidak mempercayai dirinya akan luluh begitu saja pada suaminya, keadaan mereka yang tidak baik-baik saja membuatnya sedikit malu pada dirinya. Kenapa Ia dengan mudahnya menyerahkan dirinya pada Nino? Kenapa Ia tidak bisa menahan diri ketika bersama suaminya?
Franda membuka mata dan melihat Nino sedang tersenyum padanya. Ia bangun dan memeluk suaminya dengan erat.
"Kenapa kau melakukannya?" tanyanya pelan tanpa melirik Nino. Ia menaruh wajahnya didada bidang suaminya sambil memainkan jarinya disitu.
"Aku minta maaf... Aku tidak tahu kalau akan sejauh ini, tadinya aku hanya bercerita dengannya. Interaksi kami selama dikantor membuatku merasa dekat dengannya dan aku sangat butuh teman yang mengerti keadaanku saat itu, dan dia sangat paham dengan situasiku..." kata Nino, Ia mengusap kepala Franda.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, Sayang? Aku istrimu, aku yang lebih berhak tahu dibandingkan siapapun!" Franda mendesah, Ia tahu percakapan ini sangat tidak nyaman untuknya, tapi Ia harus melakukannya.
"Sayang, aku terlalu takut... Maafkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu, aku tidak akan sanggup jika kau pergi meninggalkanku. Jenny mengerti dengan keadaanku karena dia juga berada diposisi yang sama." kata Nino menjelaskan.
"Apa maksudmu?" tanya Franda heran.
"Jenny tidak bisa memiliki anak, sama sepertiku." Kata-kata Nino membuat istrinya melongo, menatap tak percaya padanya.
"Itulah kenapa aku dekat dengannya, aku merasa nyaman berbicara dengannya karena kami mengalami hal yang sama. Berbagi cerita dengan orang yang mengerti akan memudahkan semuanya" lanjut Nino.
"Tapi, bagaimana bisa? Dia belum menikah, kan? Bagaimana dia tahu kalau dirinya tidak bisa memiliki anak?" tanya Franda bingung. Setahunya Jenny memang belum menikah selama ini.
"Ya, dia belum menikah. Aku tidak tahu bagaimana persisnya, dia hanya mengatakan kalau rahimnya diangkat akibat kecelakaan yang dialaminya saat berumur 19 tahun" Nino berkata sambil menggendong Franda dan membawanya ke ranjang. Keduanya berpelukan dalam selimut.
__ADS_1
"Aku minta maaf atas kesalahanku, tapi jangan terlalu keras padanya, Sayang. Aku tahu ini sulit buatmu, kau boleh marah padanya tapi ku mohon mengerti sedikit saja, hmm?" kata Nino menatap istrinya, tatapannya memohon.
"Kenapa kau sangat egois, Sayang? Kau tidak memikirkan perasaanku? Aku yang menjadi korban disini, kenapa aku yang harus mengerti dan memaklumi orang lain. Aku yang menjadi istrimu disini, Nino!" mata Franda berkaca-kaca, Ia sangat tidak tahu kenapa Nino harus memintanya bersikap baik pada wanita yang merebut suaminya dan menghancurkan pernikahan mereka.
"Sayang, bukan begitu... Kami memang menyakitimu, wajar saja kalau kau marah... Aku cuma tidak mau kau menyebutnya j*lang atau apapun sejenisnya, Jenny wanita baik-baik, Sayang!" Nino memegang pipi Franda, berusaha meminta pengertian istrinya.
"Wanita baik-baik mana yang mau tidur dengan suami orang? Aku tidak bisa melihat sedikitpun kebaikan disitu!" kata Franda.
"Aku istrimu, kau sudah menikah dan dia bahkan mengenalku sejak hari pertama bekerja denganmu. Aku tidak bisa mengerti bagian mana yang kau katakan baik, kenapa juga aku yang harus mengerti setelah kau berselingkuh dan menipuku?" Franda menjauh dari Nino. Turun dari ranjang dengan tubuh polosnya lalu masuk kekamar ganti dan kembali dengan memakai bathrobe tanpa membersihkan diri.
Nino masih terdiam ditepi ranjang, Ia hanya memperhatikan istrinya yang kini sedang merapikan kembali peralatan make-up yang berantakan karena percintaan mereka tadi. Franda menatap Nino sambil melipat tangan.
"Apa kau mencintainya?" tanya Franda, membuat Nino mengangkat kepala dan menggeleng cepat.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu setelah semua ini, Nino? Tidakkah kau mengerti bagaimana posisiku sekarang? Kau menkhianatiku..." kata Franda, Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Nino langsung memotong.
"Aku tahu, Sayang! Aku sadar telah menyakitimu, aku hanya..."
"Hanya apa? Kurasa kau tidak sungguh-sungguh saat mengatakan kau menyesal" kata Franda balas memotong ucapan suaminya.
"Enough for now, give me some space!" lanjut Franda, Ia naik keranjang dan tidur membelakangi Nino.
__ADS_1
Nino terdiam, Ia meninggalkan Franda diranjang, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
.
Franda terbangun saat mendengar ponselnya berdering, Ia melirik jam didinding yang menunjukkan pukul 4.30 sore. Dengan malas Ia meraih ponselnya yang terletak dimeja samping ranjang, terlihat Ibu Marissa yang menghubunginya.
"Mom!" jawabnya setelah tersambung.
"Where are you? Is everything ok?" tanya Ibu Marissa dari seberang.
"Aku dirumah, aku harus meluruskan sesuatu dengan Nino. Don't worry, I'm fine!" Franda menjawab sambil bangun dari ranjang dan berjalan kearah sofa, duduk bersandar disana sambil memejamkan kembali matanya, belum rela mengakhiri tidurnya.
"Ok, kabari jika kau membutuhkan sesuatu!" ucap Ibu Marissa.
"I'm ok, Mom! Aku mungkin akan bermalam disini, jadi jangan menungguku" jawab Franda sambil menguap.
"Ok, selesaikanlah masalahmu. Bicarakan baik-baik dengan suamimu, jangan mengambil keputusan saat kau tidak tenang, Sweety!" kata Ibu Marissa memberi nasehat pada putrinya.
"Iya, kami akan membicarakannya nanti" Franda mengiyakan.
"Ya sudah, baik-baiklah disana" kata Ibu Marissa dan langsung mematikan sambungan setelah dijawab 'Ya' oleh Franda.
__ADS_1
Franda kembali tertidur kembali disofa setelah berbicara dengan Ibunya. Ia sangat lelah setelah perdebatan panas dengan Nino tadi, jiwa dan raganya sangat lemah sekarang.