Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
She's Okay


__ADS_3

Pada saat pagi aku terbangun di kasur, aku masih bisa merasakan tubuhku berdengung panas. Aku lelah, namun pada saat yang sama merasa puas dan bersemangat. Suamiku bercinta denganku tanpa ampun, yang membuatku tak berdaya. Aku hanya mampu bernapas, merasakan gelombang yang bergelung berulang-ulang menyerbu tubuhku. Dengan perlakuannya yang seliar itu, bukan berarti aku mengeluh karena tak berdaya. Aku malah merasa senang karena satu-satunya yang dibutuhkan suamiku di dunia ini hanya diriku. Aku patut bersyukur dengan kehadirannya yang luar biasa yang menerimaku dalam segala keadaan.


Ah... bayangan kegiatan semalam dan malam-malam sebelumnya di hutan ini membuat jantungku berdebar. Aku hendak memeluk suamiku, ingin berada di tempat paling tepat di hidupku. Tapi sepertinya harus kutunda karena aku tidak menemukannya saat ini. Ketika aku mengusap mata dan melirik ke arah dinding yang terpasang jam, aku menyadari ini bukan pagi melainkan menjelang siang. Aku mendesah pada saat bertepatan Sean masuk ke dalam kamar. "Astaga, Sean, aku malu karena aku sangat pemalas. Aku harap aku bisa bangun lebih dulu dan menyambutmu."


Sean berjalan ke arah lemari, membuka pintu, menoleh padaku dan menghadiahiku senyum menawan. "Bukan salahmu, Franda, aku yang menidurimu sampai nyaris pagi. Seharusnya kau melempariku dengan bantal di sampingmu itu untuk memprotes gairah dan obsesiku terhadapmu."


Senyumku terbit, suamiku memang pria yang mengagumkan. "Kau tahu," cetusku. "Aku pernah merasa takut jika suatu saat aku terbangun kau tidak ada di dekatku. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku dan menganggapku sebagai wanita gila yang hanya merepotkanmu. Aku merasa takut kau mencampakkanku karena keadaan mentalku yang kadang tak bisa di tebak, aku bisa berubah menggila secara tiba-tiba dan tanpa di duga."


Sean mendengarkanku dengan tenang. Justru sekarang aku terkesiap oleh wajah tampannya yang nyaris setiap hari kunikmati. Rahangnya tegas dan garis wajahnya benar-benar indah. Tampilannya yang santai dan maskulin benar-benar membuatku semakin kagum pada keindahan tampangnya. "Franda," Dia berjalan dengan santai ke kasur.


Aku gugup dan berbaring dengan gelisah sementara Sean duduk di sampingku dan mengusap keningku. "Franda," gumamnya lembut. "Kau pikir aku main-main dalam mencintaimu? Kau boleh saja menggila, Franda. Itu sama sekali tidak mengurangi perasaanku kepadamu, malah membuatku semakin bersemangat untuk menunjukkan betapa pentingnya dirimu dalam hidupku." Sean menunduk, menempelkan mulutnya di keningku. "Istirahatlah, Franda. Kau kelelahan, dan itu semua salahku karena terlalu menyita waktu tidurmu. Mungkin aku akan berusaha menguranginya sedikit..." Mata Sean bertemu mataku, kemudian rahangnya mengertak. "Tapi sialan, aku tidak akan bisa karena kau sangat cantik dan seksi, Franda."


Aku tertawa, dan dia mundur sedikit untuk berdiri. Tapi aku sempat meraih tangannya, sehingga Sean kembali menatapku yang berbaring di balik selimut. "Jangan pernah menguranginya, Sean. Aku membutuhkan segenap dirimu dan gairahmu untuk mempertahankan kewarasanku yang tersisa sedikit itu. Aku ingin selalu seperti ini, bangun dalam keadaan luar biasa gembira setelah menghabiskan malam yang mendebarkan bersamamu."


Sean tersenyum, "Ya, Franda. Malam kita akan selalu panjang dan panas lagi. Kujanjikan itu padamu."


"Omong-omong, kau sedang bersiap?" kataku, bangkit dari ranjang dan mengenakan jubah. Aku mendekati Sean dan merangkul bahunya. "Untuk apa?"


Aku terperanjat sendiri sebelum Sean sempat menjawab. "Astaga, aku lupa hari ini kita akan menjemput mereka. Aku akan segera mandi dan bersiap-siap. Aku benar-benar payah sekali." Aku menepuk lengan suamiku yang keras. "Tunggu aku sebentar, aku akan membantumu."


Tangan Sean berpindah dari pintu lemari ke pinggulku. "Dia memelukku dari belakang, menyampirkan rambutku ke salah satu bahu lalu menurunkan mulutnya ke lekukan leherku. "Franda, mandi dan bersantailah. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau hanya perlu bersikap tenang dan memikirkanku, Franda. Itu sudah sangat berarti bagiku."

__ADS_1


Dengan begitu saja, aku langsung menyandarkan kepalaku ke dadanya. Karena sulit sekali menahan desakan bermesraan dengan Sean belakangan ini. Aromanya luar biasa, panas tubuhnya menggoda, dan sentuhan tangannya di pinggulku benar-benar membuatki meleleh. "Sean, terimakasih untuk segalanya. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus bersyukur karena memilikimu."


"Kendalikanlah dirimu dari apa saja yang membuatmu kacau, Franda. Tunjukkan padaku bahwa kau bisa mengatasi masalahmu dan aku akan bahagia hanya dengan itu."


Tak tahan dengan permintaannya yang tulus dan serak di lekukan leherku, aku sontak berbalik dan memeluknya. "Aku berjanji." ucapku yakin. "Ya Tuhan, aku sangat mencintaimu, Sean."


Aku agak terhuyung ketika Sean mengangkat kakiku dari lantai dan menggendongku ke arah ranjang. "Berbaringlah beberapa saat lagi, setelah itu kau boleh bergerak sesuka hatimu sampai aku menidurimu lagi. Mengerti?"


Sambil meremas rambut Sean, aku mendorong kepalanya mendekat padaku agar bisa menciumnya. Kami berciuman, dengan lembut, lalu dia tersenyum sambil mengusapkan hidungnya ke hidungku. "Lihat, kau masih sangat lemas, Franda. Berbaringlah sebentar dan aku akan segera membawakan cokelat panas kesukaanmu."


Aku memang sangat tak berdaya. Seluruh tenagaku benar-benar terkuras setiap harinya untuk menerima cintanya dan membalasnya. Dan itu sangat menggetarkan sekaligus seksi sebagai pasangan suami-istri. Sekarang aku hanya berbaring dan menggenggam ujung bantalku sambil memandangi suamiku memilih pakaian. Dia meminta pendapat tentang baju apa yang harus dikenakannya, dan aku menjawabnya dengan isyarat pada jemariku.


"Kau benar-benar akan menarik perhatian wanita-wanita bule di luar sana. Kau sangat seksi. Aku bingung sekarang apakah aku harus terus merasa kagum kepadamu sementara para ulat nangka sudah pasti akan bermunculan ke permukaan." gumamku setelah dia menutup ritsleting celananya.


"Ofcourse, baby." cetusku dengan hati bergemuruh senang.


Aku memperhatikan punggung Sean yang menjauh dan menghilang di balik pintu kamar. Sembari menunggu dia kembali membawa segelas cokelat untukku, pikiranku melayang pada keadaan diriku sendiri yang payah. Aku menghela napas berat dan mengembuskannya kuat-kuat seakan aku sedang mengusir energi buruk yang menerpaku. Beberapa hari menghabiskan waktu bersama Sean dan temannya disini ternyata bisa membuatku merasa nyaman dan agak tenang. Aku sempat kacau di hari pertama mereka berkunjung, namun sekarang kondisiku sudah lebih baik, bahkan aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya.


Aku sendiri sudah paham maksud Sean membawaku ke tempat ini, dia hanya ingin memberiku waktu untuk menenangkan diri dan menjauhkanku dari semua hal yang mungkin mempengaruhiku, dan aku bersyukur dengan gagasannya itu. Setidaknya ada kemajuan dalam proses mengatasi masalahku.


"Apakah teman-temanmu akan kembali lagi kesini?" tanyaku setelah menyesap cokelat panasku yang enak.

__ADS_1


"Ya, mungkin setelah Ibu dan yang lainnya pulang."


Aku menyesap minumanku lagi, lalu buru-buru meletakkannya di nakas untuk segera memeluk Sean yang duduk di sampingku dengan sabar dan penuh pengertian. "Terima kasih karena bersedia membantuku, Sean." lirihku di dada bidangnya yang berdebar. Aku sangat mencintainya sampai rasanya begitu sakit dan aku ingin sekali menangis. Aku tahu kebahagiaan kami sekarang bergantung padanya, pada kesabarannya. Kalau dia tidak menemaniku, aku pasti akan hancur.


Ketika kami saling menarik diri dan saling tersenyum, Sean menangkup pipiku. "Franda, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Tidak ada yang mampu membuatku ikut gila seperti dirimu. Kau harus terus berusaha menghilangkannya, atau aku akan mengikatmu dan menidurimu sampai kau pingsan setiap kali kau berubah kacau."


Aku tertawa mendengar godaan Sean yang panas, yang dapat kudengar lagi beberapa hari belakangan. "Aku mungkin gila... tapi mungkin aku akan tersadar dan menikmati ketika kau meniduriku saat itu. Aku akan menjerit dan menangis karena kau terlalu kuat, berbahaya, dan berpengalaman, Sean. Aku tidak mungkin membuang kesempatan untuk merasakan kenikmatan darimu karena kau..." napasku tersengal karena terpesona sekali dengan suamiku. "Kau pria paling seksi, paling sabar, paling menawan yang pernah kutemui sepanjang hidupku."


Mata Sean berkilat-kilat. "Apakah aku benar-benar sesempurna itu bagimu, Franda?"


Aku menjawab dengan tegas, dan gemetar. "Tentu saja. Orang yang tidak menganggapmu seperti itu tidak pantas berada di sampingmu."


"Tetaplah seperti ini, Sean. Kau yang tampan, sempurna, luar biasa, tapi kau juga rendah hati dan sedikit pemalu. Betapa banyak pria di luar sana yang sombong dengan pola pikir mereka. Tapi kau berbeda, cara berpikirmu sederhana dan juga manis. Kau mau bersabar dan menemaniku. Kau takkan pernah mengkhianati seseorang yang menjadi pasanganmu. Karena kau bukan pria seperti itu, Sean Danial Warner, dan sekarang kau suamiku. Malaikatku."


Sean mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mencengkeram pinggulku dengan kuat dan posesif. "Franda," geramnya rendah. "Bisakah aku ikut mandi bersamamu?"


Aku kembali tertawa, kemudian tersenyum lebar. "Ya ampun, kau masih sangat bersih, Sean."


"Baiklah, kalau begitu malam nanti." tukas Sean, yang detik berikutnya tetap mengangkat tubuhku dari ranjang ke pelukannya. Aku mengangkat alis menatapnya walaupun sebenarnya aku selalu siap untuk bercumbu dengannya.


Dengan suara serak dan lembut, Sean menjawab tatapanku yang menyelidik dan tergoda padanya. "Franda, apapun yang kau katakan, kau tetap tidak bisa menahanku untuk membawamu ke kamar mandi dan membantumu melepaskan jubah ini."

__ADS_1


Mataku berseri-seri. "Sean," Aku mencium bibirnya yang tersenyum nakal sampai dia menurunkanku kembali di lantai kamar mandi dan menarik lepas jubahku. Matanya menatap mataku sampai pintu di antara kami tertutup. Aku merinding... tubuhku yang polos gemetar penuh harap.


__ADS_2