
Sean memang pria luar biasa dan pantas untuk di gilai. Takkan ada seorang pun wanita yang mampu menolak pesonanya yang mendebarkan. Dia tidak hanya tampan, tetapi juga memiliki sikap yang membuat siapa saja luluh. Kelembutan dan adab yang melekat dalam dirinya tentu saja membuat Ashley dan wanita-wanita lain yang pernah menjalin hubungan dengannya di masa lalu menjadi terikat, aku bahkan yakin bahwa akan ada Ashley yang lain yang akan membuatku meradang lagi di masa depan. Dan aku harus siap menghadapi mereka.
Sepanjang perjalanan kembali ke resort, aku hanya diam sembari melempar pandangan ke luar kaca mobil. Aku memikirkan bagaimana kami harus membahas masalah ini nanti. Sean mungkin masih marah karena perkataanku yang menuduhnya sembarangan karena dia juga enggan membuka mulutnya, tapi aku juga berhak marah, kan?
Aku menghela napas, menunduk menatap Ben yang tertidur di pangkuanku. Aku sedikit terhibur melihat wajahnya yang terlelap damai. Ketika kepalaku terangkat dan aku menatap jalanan di depan kami, aku melirik Sean sekilas. Wajahnya masih murung dengan jemari mencengkeram erat kemudi. Aku ingin menegurnya, tapi sifat egois dalam diriku membuatku urung mengeluarkan suara dari tenggorokan. Sekali saja, aku ingin dia paham bahwa aku tidak bisa menganggap remeh sesuatu yang berbau perselingkuhan.
Sean masih berhubungan dengan Ashley. Tidak penting apa tujuannya menjaga hubungan baik di antara mereka, yang jelas dia sudah menyakitiku dengan pengakuan yang lolos dari mulutnya. Aku sendiri tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain Sean, bahkan aku menjaga jarak dengan Nino karena menghargai dia sebagai pasanganku, padahal kami memiliki anak dan sudah sewajarnya aku tetap menjaga komunikasi dengan Nino.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu lalu langsung keluar dan masuk ke dalam resort. "Aku akan membawa Ben kemar, mom." gumamku pada ibuku sambil melangkah ke arah kamar.
Di dalam kamar, aku membaringkan Ben di ranjang lalu melangkah ke sofa dan duduk disana menghadap ke laut. Beberapa saat kemudian, tanganku terjulur meraih botol vodka yang masih terisi setengah dan langsung meneguknya banyak-banyak sampai tenggorokanku terasa terbakar.
Tak berselang tiga menit aku duduk di sofa, Sean masuk ke dalam kamar dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Kami berdua diam. Di menunduk, jemarinya saling meremas di atas pangkuan, dia masih marah tapi aku bisa melihat dia mencoba dengan sangat keras untuk menahannya. Dan sekarang dia mengangkat kepala menolehku.
Dengan mata yang saling beradu, kami berdua masih enggan membuka suara. Aku mengamati seberkas senyum tipis tersirat di mulutnya yang semanis vodka yang beberapa saat lalu kutenggak. Karena tak tahan dengan pesonanya yang kurang ajar mengikatku, aku menurunkan pandangan lebih dulu, menghindari kemungkinan bahwa aku akan menyerah dan menciumnya sebentar lagi.
"Aku minta maaf." gumamnya serak ketika aku hendak menenggak vodka-ku lagi. Matanya menatap lembut padaku. "Jangan," selanya, sebelum aku sempat bicara. "Ini salahku. Aku memang brengsek."
Tangannya terulur ke arahku, menatapnya yang juga seputus asa diriku, membuatku terisak. Aku meraih telapak tangannya dan merapat ke tubuhnya. "Sean," Aku menangis sejadi-jadinya di bahunya. Lenganku memeluk tubuhnya, wajahku terbenam membasahi bajunya. "Ini bodoh." desahku. "Aku bertingkah bodoh."
"Tidak." sergahnya pelan dan hangat. "Aku juga akan mengatakan hal yang sama jika ada pria lain yang membicarakan tentang dirimu yang sudah menjadi milikku."
Sean menangkup wajahku, mengangkat daguku, dan mengusap kedua pipiku dengan ibu jari. Aku merasa hancur dan tertegun bertatapan dengannya karena saat ini ada yang mendobrak benakku. Aku sadar mungkin pertanyaan ini akan terucap dari bibirku pada akhirnya, tapi rasanya benar-benar canggung dan tak nyata ketika aku benar-benar mengucapkannya. "Sean, apakah aku lebih cantik daripada dia? Apakah aku lebih membuatmu bergairah daripada dia?"
Aku melihat sesuatu yang mengeras di matanya, dan dia menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, aku takut mendengar jawaban darinya. Aku sanggup mendengar apapun, tapi tidak cukup kuat mendengar bahwa aku tidak cukup memuaskannya.
"Franda," desisnya, napasnya yang panas menyerbu wajahku. "Aku tidak tahu apakah aku pantas menjawabnya tanpa menyinggung perasaan siapapun yang mendengar ini karena setiap wanita adalah keajaiban bagi pria..." Matanya terpejam beberapa saat, lalu membuka kembali dan dia meringis. "tapi, ya, kau harus mendengar jawabannya karena kau membutuhkannya."
Aku mengembuskan napas dengan gugup, berpikir ingin menutup mulutnya agar dia tidak menjawab apapun. Aku tidak ingin menyakiti hati wanita manapun yang pernah bersamanya, namun ikatan matanya membuatku tersihir. Tangannya mengencang di wajahku, kepalanya semakin mendekat ke pipiku, hidungnya menyapa helaian rambutku. Dan pada saat menegangkan itu, dia berbisik sangat liar. Sangat liar sampai rasanya aku nyaris sesak napas.
__ADS_1
"Franda," Ujung hidungnya mengelus pipiku, "Kau boleh ada dua, tiga, di dunia ini," Tubuhnya kuat tapi bergetar samar karena semua perasaan yang bergelayut dalam dirinya. "tapi, rasa dirimu saat aku berada dalam tubuhmu-lah yang membuatku gila. Aku tidak ingin berhenti satu detik pun sampai terkuras habis karena cita rasamu yang berbeda... saraf-sarafmu yang berbeda... kontraksimu yang berbeda..."
Dia memundurkan kepala sedikit dan mengernyit tegas padaku. "Kau mengerti?"
Aku bernapas terengah-engah, aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Aku merasa gila karena dia mencintaiku dan merasakanku sedalam dan sejauh itu. Aku menarik tengkuknya dan menciumnya amat rakus, dan sean menerimanya dengan tulus. "Jangan bertanya lagi, Franda. Kau tidak tahu rasanya menemukan bibir senikmat milikmu."
"Aku mencintaimu, Warner."
Dengan senyum yang bersinar dia membalasku, "Aku juga mencintaimu, Mrs. Warner."
Aku mencium lagi mulutnya, lebih rakus dan lebih lama. Sampai napas kami nyaris terputus dan kami tersengal. Persetan dengan Ashley dan ulat nangka lain yang akan hadir mengganggu hubunganku dengan Sean, dia suamiku dan sudah sepantasnya aku percaya padanya. Sean bukan pria kebanyakan yang akan mudah luluh pada sesesorang. Dia pria yang memiliki prinsip kuat dalam menjalin hubungan, dia tahu bagaimana cara menjaga dirinya dari godaan wanita liar di luar sana.
Terkadang, kita menyadari bahwa ada saat dimana kita harus menyerah dan melepaskan apa yang ada, tetapi cinta tidak serta-merta membiarkankanmu melakukan itu. Cinta sejati memaksamu memberi kesempatan untuk mencoba sekali lagi dan kau berharap itu akan berhasil, meski jauh di dalam dirimu tahu bahwa... seseorang tidak akan pernah berubah. Tapi orang itu jelas bukan Sean. Kalau aku pernah melakukannya saat bersama Nino dan aku gagal, aku yakin tidak akan gagal bersama Sean. Cinta di antara kami terlalu kuat untuk bisa dipisahkan oleh apa pun.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu." gumamnya ketika ciuman kami terlepas. Dia beranjak mengitari ranjang dan mengambil laptop di nakas lalu kembali lagi duduk di sebelahku.
"Hei, kau baik-baik saja?" Aku terkesiap dan mengerjap beberapa kali saat Sean menangkup tanganku. Aku ingin bertemu dengan tanteku tapi entah kenapa aku merasa segugup ini.
Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan sembari menenangkan diriku. "Ya," lirihku. "Aku baik-baik saja." kataku, tapi nada keraguan jelas terdengar disana.
Sean mengeratkan genggamannya di tanganku. "Tenanglah, oke? Kita hanya akan melihat fotonya." Aku mengangguk.
Sean mengulurkan tangan ke laptop dan membuka email yang di kirim oleh Joe. Ketika foto-foto itu terpampang di depan mataku, entah bagaimana awalnya, tapi aku menangis. Rasanya seakan aku memiliki hubungan yang kuat dengannya. Dia terasa tidak asing, bahkan seperti aku sangat mengenalinya meski ini pertama kali aku melihat fotonya.
"Kau mengingatnya?" tanya Sean.
Aku menggeleng ragu-ragu. Ingin menjawab iya tetapi aku sendiri tidak yakin pernah bertemu dengannya. "Entahlah," Aku memandangi layar laptop lagi. "Kurasa aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku tidak tahu dimana." kataku.
Sean menyipitkan mata, tanda tak percaya dengan ucapanku, dan itu di buktikan oleh kalimat yang keluar dari mulutnya. "Itu tidak mungkin, Franda. Dia tinggal di jepang bersama suaminya selama dua puluh tahun lebih, dan tidak pernah sekali pun mengunjungi indonesia lagi. Kecuali kau pernah ke jepang."
__ADS_1
Aku menggeleng cepat. "Aku belum pernah kesana." Mataku kembali mengamati lagi foto itu dengan seksama. Ya, aku seperti pernah melihatnya tapi dimana?
Karena tak berhasil menemukan apa-apa dalam ingatanku, aku menyerah dan sebagai gantinya aku akan bertanya pada ibuku apakah wanita itu benar-benar tante Lucy yang kucari selama ini.
Aku dan Sean segera melangkah keluar dan beruntung kami langsung mendapati ibuku sedang duduk di sofa sambil memegang sebuah buku. Dia menyadari kedatangan kami dan menyambut kami dengan senyuman. Tangannya yang keriput menutup buku lalu melepas kacamata yang bertengger di wajahnya.
Aku meninggalkan Sean dan ibu sebentar untuk mencari Mia dan memintanya mengawasi Ben yang terlelap di kamar sementara kami berbicara pada Ibu, lalu aku kembali lagi ke ruang tengah. "Mom." Aku mendaratkan bokong di samping ibuku, seketika merasa tenang saat tangannya mengusap pipiku. Sentuhan ibu memang selalu terasa ajaib setiap saat, ditambah pembawaannya yang lembut dan penuh kasih sayang, ah... benar-benar sesuatu yang dibutuhkan oleh semua anak.
"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?" gumamnya, benar-benar lembut dan penuh perhatian.
Aku menempelkan pipi di lengannya yang polos, kedua tanganku terulur menyentuh tangannya dan menggenggamnya untuk menyatakan betapa aku bersyukur memiliki ibu seperti dia. "Jauh lebih baik." jawabku seraya melemparkan senyum.
Tatapanku beralih pada Sean, lalu segera mengatakan rencana kami kepada ibu. "Mom, Sean sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan tante Lucy. Dia berada di jepang selama ini, dan kemarin salah satu orang suruhan Sean mengirim fotonya."
Ibuku terperanjat, matanya berkaca-kaca. "Ya Tuhan, ini berita bagus. Kita sudah mencarinya selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan apa-apa." Dia terlihat bersemangat. "Mana fotonya?"
Sean langsung menyodorkan layar laptop ke hadapan ibu. Detik itu juga air mata mengalir di membasahi pipinya. "Lucy..." ucapnya gemetar. "Apakah kalian yakin ini foto terbaru?" Aku melirik Sean sambil menaikkan kedua alis.
Sean mengangguk. "Ya, ini foto terbaru, mom. Orangku sendiri yang memotretnya." katanya tanpa ragu.
Mata ibuku menyipit, memperhatikan lagi foto itu lekat-lekat. "Tapi... dia terlihat lain." Ibu meraih kaca mata yang terletak di sampingnya lalu memakainya dan kembali mengamati foto itu. "Apakah hanya satu foto yang kalian dapatkan?" tanyanya lagi tanpa mengalihkan tatapan dari layar laptop.
"Ya, mom. Ini yang paling jelas." balas Sean.
Aku ikut memandangi foto itu, namun tidak bisa mengingat apa pun karena memang wanita di foto itu menghadap ke samping dan mengenakan kacamata hitam.
Berselang beberapa saat, ibu memutar kepala menatapku. Tatapannya penuh selidik, seakan ingin memastikan sesuatu, lalu beralih lagi pada layar laptop. Dia tampak bingung dan aku juga sama bingungnya karena tidak mengerti arti perubahan raut wajahnya.
"Kita harus menemuinya."
__ADS_1