Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
A Clue


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku melemparkan pandangan keluar jendela mobil, mengamati pemandangan yang melesat. Kilasan warna cokelat gelap berupa gedung-gedung tinggi serta jalanan berlapis batu, dan pusat kota yang dipenuhi oleh restoran moderen. Kami akhirnya sampai di Bandung setelah berkendara lebih dari lima jam.


Semalam, setelah tiba di sebuah pangkalan udara pribadi di Jakarta, Erick memecah timnya. Rudi dan aku meneruskan perjalanan ke Bandung, dimana interpol telah menyiapkan sebuah rumah sebagai tempatku bersembunyi, selama Syaiful dan beberapa komplotan gangster yang tersisa masih belum tertangkap. Sementara Erick dan yang lainnya pergi menutup akses keluar Jakarta melalui semua jalur untuk mencegah mereka melarikan diri.


Setelah kabar tentang kematianku mulai mencuat, dan data berisi transaksi itu terekspos dalam sistem penyimpanan kepolisian, gerombolan Syaiful tiba-tiba menghilang dari radar interpol. Sekarang mereka dicurigai sudah memisahkan diri satu sama lain untuk menutupi jejak. Dan itu membuat semuanya menjadi lebih rumit karena polisi harus menyisir semua wilayah yang masuk dalam daftar pencarian.


Ini adalah hari keempat sejak 'jenazahku' ditemukan, dan sudah dibawa kembali ke Indonesia.


Menurut berita yang bermunculan di seluruh media, keluargaku akan menggelar acara 'pemakamanku' di San Diego Hills, Karawang. Ini bukan hal yang mudah bagiku untuk membayangkan bahwa aku sudah berbohong kepada orang-orang yang kusayangi, dengan membiarkan mereka percaya bahwa aku telah tewas dalam kecelakaan. Meninggalkan semua kesedihan menyerang mereka serta banyak pertanyaan yang akan memenuhi kepala mereka.


Meskipun Erick pernah mengatakan, saat ini lebih baik bagi keluargaku bila aku menghilang selama beberapa waktu. Tapi aku tidak sepenuhnya setuju dengan gagasannya. Hanya saja, aku tidak punya pilihan lain.


Syaiful sudah tahu aku terlibat, dan itu mengubah segalanya. Jika dia tidak bisa mendapatkanku, maka dia akan mendatangi anggota keluargaku. Dibanding apapun juga, aku lebih tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi jika dia mengira aku sudah tewas, maka tak ada lagi alasan baginya untuk membahayakan keluargaku. Terutama Franda.


Bunyi volume saluran TV yang mendadak dibesarkan perlahan membuyarkan lamunanku. Aku melirik Rudi yang sedang mengemudi di sebelahku, dan mendapati dia tengah mengutak-atik siaran TV digital yang terpasang di dashboard. Dia menghentikan gerakan tangannya ketika menemukan salah satu saluran TV populer. Mereka sedang menyiarkan acara yang paling tidak ingin kutonton saat ini.


"Lihat, ada liputan prosesi 'pemakamanmu'. Keren! Mereka bahkan memberinya tema." celetuk Rudi sembari mengedikkan kepalanya ke arah TV. Dia jelas sedang bergurau.


Aku mengangkat alis sekilas. "Itu seperti sponsor tak resmi bagi mereka, sebuah berita besar yang menguntungkan untuk disiarkan." kataku sambil mengulurkan tangan lalu mengganti saluran TV. "Kau akan lebih terkejut bila mengetahui betapa berita seperti ini sangat menyenangkan mereka secara komersial."

__ADS_1


"Uhh, kau sinis sekali, bung." gumamnya tanpa melihatku.


Rudi membelokkan mobil memasuki kawasan pemukiman yang lebih sepi. Bangunan tinggi serta kendaraan yang melintas semakin sedikit, dan jalan-jalannya semakin sempit. Sejauh yang bisa kulihat hanya ada gedung militer terbengkalai serta bangunan tua yang tembok batu batanya berwarna merah kecokelatan karena pantulan cahaya matahari.


Sejujurnya aku sedang mencemaskan Franda.


Aku tahu semua ini harus dilakukan, tapi itu tidak membuatku merasa lebih baik. Melakukan sesuatu yang benar seharusnya tidak sesulit ini.


"Apa kau mendengar sesuatu dari Erick?" tanyaku pada Rudi.


Dia menolehku sekilas. "Tentang istrimu?" Dia balik bertanya dan aku mengangguk.


"Well, tidak banyak," nadanya terdengar hati-hati. "Istrimu... ada di rumah sakit selama dua hari, tapi kudengar hari ini dia sudah keluar dan terlihat ikut menghadiri 'pemakamanmu' bersama..."


"Ya, tentu saja kami melindunginya dari Syaiful. Tapi kami tidak mungkin bisa mencegahnya jatuh sakit karena meratapi kematianmu, sir." Dia menggelengkan kepala, menatapku tak percaya. "Itu sesuatu yang tidak mungkin kami kendalikan, bukan?"


Aku pura-pura tidak mendengarnya. Meskipun dalam hati aku tahu semua yang dikatakannya benar. Mungkin aku hanya butuh seseorang untuk disalahkan, untuk menjauhkanku dari fakta bahwa aku sendirilah yang menyebabkan semua itu. Benar-benar menyedihkan.


"Kau tahu? Tiga hari yang lalu adalah hari ulangtahunnya." Aku menerawang ke kejauhan. "Sebenarnya aku sedang menyiapkan sesuatu, sebuah chevy tua dan kuno, dan saat kutemukan mesinnya sama sekali tidak menyala, tapi masih bisa diperbaiki. Aku berniat memberikannya pada istriku di hari ulangtahunnya."


Rudi memutar kepalanya menatapku heran. "Kau ingin memberikan rongsokan besi tua pada istrimu sebagai hadiah ulang tahun? Astaga, sir... kau benar-benar pelit!"

__ADS_1


Aku mengabaikan komentarnya. "Chevy itu dulunya milik mendiang ayahnya. Bernilai sentimentil... kalau kau paham. Aku bisa saja memberinya barang yang baru, tapi itu tidak memiliki sejarah atau nilai yang sama. Aku tahu chevy itu penting baginya dan dia akan senang memilikinya kembali."


Mobilnya tiba-tiba mulai melambat, lalu berbelok masuk ke dalam sebuah gerbang tinggi berwarna hitam. Kini kami menyusuri halaman depan yang luas, ada jalur kendaraan yang mengarah pada bangunan yang berdiri di depan sana.


"Kita sudah sampai." ujar Rudi setelah menghentikan mobil di sisi timur halaman bangunan itu.


Itu tidak seperti rumah, desainnya detail dan rumit layaknya bangunan lama dengan banyak pilar. Sebuah gedung bersejarah di tengah kota. Cerdik, tidak akan ada orang yang bisa memasuki properti seperti ini begitu saja tanpa ijin.


"Sedikit berlebihan untuk seleraku, tapi kita membutuhkan tempat seperti ini." Rudi berbicara lagi ketika melihat ekspresiku. Dia mematikan mesin mobil lalu meraih sebuah ransel dari kursi belakang, kemudian membuka pintu mobil di sisinya. "Ayo masuk. Aku perlu berbicara pada rekanku yang lain agar memperluas area pengawasan, hanya untuk berjaga-jaga." Dia berdiri di samping pintu seraya menoleh padaku.


"Aku akan segera menyusul." sahutku.


Dia memandangku sejenak, terlihat seperti akan mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Rudi menganggukkan kepala lalu menutup pintu mobil dan melangkah.


Aku sudah memikirkannya semalaman, mencoba menyingkirkan dorongan itu semampuku. Tapi sekarang, aku tidak yakin akan sanggup menahannya lebih lama. Mengetahui Franda mengalami saat-saat yang berat dan melaluinya sendiri membuatku merasa hancur. Kupejamkan mata dan menarik napas panjang untuk mengatur emosiku.


Saat ini aku perlu berbicara dengannya, lebih dari apapun.


Aku membuka laci dashboard dan mengeluarkan ponsel sekali pakai dari sana. Menggenggamnya cukup lama di tanganku, dan memikirkannya berulang kali sebelum kuberanikan diriku menekan nomornya.


"Halo?" Seketika aku merasakan dadaku memberat mendengar suaranya yang serak. Aku tahu dia pasti sedang menangis saat ini. Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya, tapi aku tahu itu bukan sesuatu yang boleh kulakukan.

__ADS_1


Akhirnya aku mematikan sambungan telepon dan memilih melakukan sesuatu.


__ADS_2