Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Wonderful Circle


__ADS_3

"Siap berangkat, sayang?" Suara Sean yang berdiri di ambang pintu mengalihkanku dari sepatu hak tinggi agak berdebu yang sedang kuusap dengan kain lap bersih.


Aku menegakkan tubuhku sambil berpegangan pada tepian meja kayu di dapur lalu tersenyum padanya. "Yep!" sahutku bersemangat.


Aku sangat antusias dengan rencana perjalanan kali ini. Setelah terjebak beberapa hari di hutan dan hidup layaknya makhluk rimba yang hidup di alam liar, akhirnya hari ini kami memutuskan pergi ke kota untuk menyegarkan diri sejenak. Menikmati keindahan yang pemandangan moderen dimiliki oleh Queensland, berjalan-jalan sambil berbelanja, dan berpesta kecil di rumah pasangan Jones, yakni Taylor dan Samantha yang mungkin saat ini sedang sibuk memasak hidangan untuk menyambut kami.


Tadi malam, begitu Sean mengatakan kami akan ke kota hari ini dan akan akan menginap semalam di hotel, aku teringat pada Sam yang selain menjadi 'terapi pribadi' untukku di hutan, dia juga merangkap sebagai juru masak bersama Taylor. Mereka memang pasangan serasi soal masak-memasak. Taylor sendiri bekerja sebagai sous chef di sebuah restoran italia. Lalu, berawal dari fakta itu, aku secara khusus meminta mereka untuk membuatkan kue Lamington Autralia yang sempat kulihat saat berselancar dengan ponselku. Dari gambar dan deskripsi yang kubaca, kue itu sepertinya enak.


Aku melempar kain lap ke dalam keranjang khusus yang terletak di dekat kabinet bawah dapur lalu meraih Dior structured bag yang tampak mencolok di rumah ini, kemudian aku berderap mendekati suamiku yang selalu tampak gagah. Dia mengenakan setelan kemeja katun panjang berwarna putih gading dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku untuk memamerkan urat-urat lengannya yang tebal, dan membuatku pusing karena begitu ingin menariknya kembali ke kamar. Sementara pada bagian bawah dia mengenakan jins berwarna biru pudar dan sepatu kets putih yang senada dengan kemejanya. Selain kulitnya yang agak menggelap akibat berenang saat terik di danau kemarin, dia masih tampak mengagumkan. Aku begitu mencintai manusia tampan yang satu ini, sampai-sampai merasa akan gila karenanya. Well, tentu saja, aku memang sudah 'gila' sebelum bertemu dengannya, tapi bukan dalam arti yang sama. If you know, you know.


Aku memicingkan mata ketika menyadari dia sedang mengamati penampilanku sambil menahan tawa. "Look at you... wah, aku tidak menyangka kau memiliki pakaian dan tas itu di hutan ini." katanya, lalu tawa halus keluar dari mulutnya.


Aku menurunkan pandangan pada gaun little black dress yang memang sedikit berlebihan jika dikenakan di hutan, tapi bukankah kami akan ke kota? Jadi, kurasa aku perlu menunjukkan sesuatu yang luar biasa dalam penampilanku. Kenyataan bahwa kami berada di negara orang lain sudah pasti menjadikanku santapan menarik bagi mata-mata penduduk lokal karena tampangku yang berbeda, makanya aku tidak ingin membuat mereka kecewa dengan pakaian yang asal-asalan.


Aku mengangkat kembali wajahku, sedikit mendongak menatap wajah manis suamiku. Alisku terangkat naik bersamaan dengan kedua bahuku. "Kau perlu mengenal wanita lebih jauh, Sean." balasku acuh. Dengan cepat meraih tengkuknya, menciumnya sedikit rakus dan agak lama, kemudian tersenyum nakal saat mulut kami terpisah.


Dia merespon dengan menggoyangkan kepala lalu menggerakan tangan hingga membentuk sudut segitiga di sisi tubuhnya yang kubalas dengan memasukkan sebelah lenganku, kemudian kami melangkah keluar.


Aku menarik lepas tanganku dari Sean dan berjalan pelan ke mobil sementara dia mengunci pintu rumah. Mendekati mobil, aku tersenyum pada adikku yang sudah menunggu dengan raut kesal yang tak dibuat-buat. "Bisakah kalian lebih cepat? Aku nyaris mati kebosanan menunggu." gerutunya, agak berlebihan memang, tapi seperti itulah adikku.


Aku terkekeh melihat wajahnya yang kusut, belum apa-apa mood-nya sudah buruk. "Tenanglah, Mia. Kau tidak akan mati hanya karena itu. Lagi pula, semuanya akan terbayar begitu kau bertemu dengan pria hutan lainnya yang kuyakin sama tak sabarnya sepertimu." jawabku santai menggodanya. Dia mendengus.


Beberapa hari tinggal bersama kami dan menjadi penghuni hutan dadakan dengan teman-teman kami yang lain, dia terlihat sangat menikmati suasana disini. Aku senang karena dia bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang tengah dihadapinya, terlebih dia nampak dekat dengan Jason. Aku tidak ingin masuk terlalu jauh mencampuri urusan pribadi mereka, karena sejauh ini Mia sendiri masih fokus pada masalahnya. Jadi, kupikir kehadiran Jason mungkin bisa membuatnya melupakan walikota itu.


Aku tersentak ketika Sean menepuk bokongku pelan. "Kau melamunkan apa?" cetusnya seraya mengulurkan tangan membuka pintu untukku.


Sebelum melesak masuk ke dalam mobil, ide jahil untuk menggodanya terlintas begitu saja di kepalaku. Aku memajukan kepala dan berbisik dengan nada yang paling sensual. "Kejantananmu yang akan mengeras setelah ini." Aku terkikik saat matanya membulat dengan cepat.


Dia mengerang. "Franda," Menepuk bokongku sekali lagi sambil menggigit penuh bibir bawahnya. "Masuklah, sebelum aku mengangkatmu kembali ke dalam rumah, gadis nakal!"


Aku segera menuruti perintahnya sambil mengamati dia mengitari mobil sampai duduk di kursi di sebelahku, karena bukan tidak mungkin dia akan membuktikan ucapannya. Sean pria yang berbahaya dan menghanyutkan sekaligus. Dia mampu mendesakku kapan saja dia menginginkannya. Sampai-sampai aku bergidik ngeri namun bergairah membayangkan apa yang akan terjadi jika dia meniduriku di salah satu batang pohon yang tumbang. Mungkin saat itulah kami bisa disebut sebagai makhluk rimba yang sebenarnya, seperti Tarzan dan Jane.


"Sudah siap, Franda?" tanya Sean begitu menutup pintu. Kedua tangannya sudah menempel di stir.


Aku mengangkat sedikit rok gaunku ke atas paha. "Selalu siap untukmu, Sayang."

__ADS_1


Sean melotot, tapi bibirnya melengkung indah. "Franda... kau benar-benar..."


Tawaku segera lepas memenuhi mobil dan berhenti secepat dia datang ketika Mia protes dari belakang. "Hei, ada orang lain disini!"


Kami segera berangkat setelah mendengar gerutuan Mia. Tubuh kami berguncang-guncang di dalam mobil karena kondisi tanah yang basah dan lembek akibat genangan air hujan. Tetapi kemudian kami meluncur dengan mulus saat masuk ke jalan raya desa Winton.


Memasuki kota sebelum melanjutkan ke rumah pasangan Jones, aku meminta Sean untuk berhenti di toko kue untuk membeli sesuatu. Aku tidak mungkin bertamu dengan tangan kosong, bukan? Kubeli tiga cheesecake panggang New York ukuran besar dan setoples manisan raspberi, tak lupa mengambil beberapa mangkuk salad buah siap saji untuk Maggie, yang sedang berdiet.


Kami tiba di rumah Taylor dan Sam pukul dua siang lebih lima belas menit. Aku mengedarkan pandangan pada bangunan minimalis bergaya skandinavia bercat abu-abu terang. Seluruh halamannya di tutupi oleh rumput jepang yang rapi, sepertinya baru di pangkas, karena aku melihat setumpuk rumput di sudut kiri pagar tembok. Beberapa jenis tanaman hias tersusun rapi sepanjang pagar itu dan sampai ke depan pintu masuk rumah. Aku tersenyum geli kala mengingat kehebohan yang terjadi di Indonesia saat pandemi melanda, bayangan para ibu-ibu yang demam tanaman hias sepertinya juga terjadi disini. Aku tidak tahu apakah Sam memang menyukai tanaman atau tidak, tapi seperti itulah bayanganku ketika memandangi rumahnya.


Menyadari keadaan yang masih sepi, aku yakin kami merupakan tamu pertama di rumah Taylor dan Sam. Sam yang tampak letih menyambut kami di pintu, mengenakan celemek dan lap piring tersampir di salah satu bahu.


"Lega sekali kalian datang," katanya sambil memelukku erat, lalu melakukan hal yang sama kepada Sean dan Mia, kemudian menggiring kami ke dalam. "Kelakuan Taylor seperti mimpi buruk." cetusnya sambil menerima kue yang kubawa.


"Ya ampun, ada apa?" Kuikuti dia menyusuri lorong meja makan mereka.


"Biasa, pria itu sedang meniru kelakuan orang tolol. Sungguh, kau akan mengira dia akan menjamu bangsawan kalau melihat lagaknya. Aku bersumpah dia sudah membersihkan dapur tiga kali, sekalipun tempat itu terlalu kecil untuk bisa memuat salah satu dari kami malam ini."


"Aku dengar, lho," kata Taylor, muncul dari pintu lengkung menuju dapur. "Aku hanya ingin memastikan rumah kami layak tampil, itu saja."


"Filo wrap isi sosis daging sapi berbumbu, sebenarnya."


Ekspresi seriusnya membuat kami mengikik. Sam melempar lap piring itu kepadanya. "Uuh, ya deh, Gordon Ramsey."


Taylor bersedekap lalu memasang muka masam kepada kami. "Oh, sekarang kau mengejek. Tunggu saja sampai kau mencicipinya, baru kita lihat siapa yang akan tertawa." Dia mencondongkan tubuh mendekat untuk memeluk. "Franda, kau tampak cantik seperti biasanya. Aku suka gaunmu, Non."


Aku tersenyum sambil berputar sehingga dia dan Sam bisa mengamati gaun serta hak tinggi merah yang kukenakan. Tidak sia-sia aku berpenampilan seperti ini untuk memukau mereka karena sejauh ini berhasil.


Taylor berpindah untuk menyapa Sean dan Mia. "Bung, kau sangat keren! Apakah kau sedang bosan dan berusaha memikat para gadis lagi?" gumamnya sambil menatap suamiku takjub.


Sean tersenyum, melirikku sekilas sebelum membalas Taylor. "Well, itu bukan ide buruk jika malaikat pencabut nyawa tidak sedang menatapku saat ini."


"Bagus kalau kau sadar." sahutku cepat sambil menjentikkan jari.


Kini giliran Mia yang menjadi bahan olokan Taylor. "Mia, adik iparku yang menggemaskan!" Dia meraih Mia ke dalam pelukannya. "Jadi, apa kau sudah siap bertemu dengan kekasihmu?"

__ADS_1


Mia menyeringai, namun rona kemerahan muncul di wajahnya, menandakan dia sedang tersipu. "Kau terlalu percaya diri. Kakak ipar? Oh, jauhkan bahasa itu dariku." balasnya dengan sedikit cuek, tapi kami semua tahu dia senang dengan gurauan Taylor.


Dua puluh menit kemudian ketukan tak beraturan di pintu depan mengumumkan kedatangan pasangan Thomas, Matthew dan Maggie. Mereka tampak luar biasa serasi dengan memakai pakaian dengan warna coral yang senada.


Matthew mengenakan kaus berkerah yang dipadukan dengan celana pendek putih ketat dan sepatu loafers, sementara Maggie terlihat sangat anggun dengan gaun A-line dan sepatu hak tinggi yang menghiasi kakinya. Aku tahu persis maksudnya ketika dia melemparkan senyum malu-malu padaku. Maggie memang agak kurang pintar dalam memilih sesuatu yang pas di tubuhnya, padahal dia memiliki lekukan yang indah. Dan ternyata dia menyerap semua yang kusampaikan padanya. Aku tidak bohong, Maggie benar-benar seperti... model?


"Whoa! Lihatlah Maggie kita yang pendiam ini, apa yang kau lakukan sampai dia bisa menjelma menjadi Miranda Keer, Matt?" Taylor, lagi-lagi dengan mulut kereta apinya yang usil menggoda siapa saja, menatap Maggie dengan mata berkilat-kilat penuh pujian. Membuat wajah Maggie semakin memerah menahan malu.


"Hentikan mulutmu itu, Tay!" cetus Sam cepat sambil melayangkan tatapan tajam yang membuat Taylor menciut, lalu dengan segera tersenyum saat pandangannya kembali kepada Maggie. "Kau sangat cantik, girl." ujarnya memuji seraya memeluk Maggie.


"Bagus, Sam!" celetuk Matthew, bergurau dengan sorot sinis yang dibuat-buat ketika beradu mata dengan Taylor.


Saat pelukan mereka terlepas, aku maju menggantikan Sam. "Mags, kau luar biasa." gumamku tulus, dia memang luar biasa.


"Terima kasih, Franda. Aku hanya menerapkan apa yang kau ajarkan." balasnya merendah.


"Oh, tidak, tidak. Kau akan tetap luar biasa meski hanya menggunakan piyama."


Lima belas menit kemudian Jason, pria terakhir yang ditunggu-tunggu, muncul dengan membawa sekotak anggur merah yang disambut oleh kami semua yang tengah berkumpul dengan kehangatan dan antusiasme yang jelas lebih besar dibanding terhadap dirinya. Tatapan kami seolah mengatakan "bisa minum-minum dengan bebas sampai puas." Bukan berarti kami tidak menyukainya, kami menyukainya, hanya saja pemandangan sekotak anggur tentu lebih menarik untuk disaksikan dari pada wajah Jason.


"Halo, guys!" Suaranya membahana saat memasuki ruang makan tempat minuman sudah di edarkan. "Bagaimana kabar sekumpulan orang-orang favoritku ini?"


"Tidak usah basa-basi mengatakan sekumpulan, Jason. Kami tahu yang kau maksud favorit disini adalah Mia, benar?" Maggie, dia mengejutkan kami dengan suaranya yang tiba-tiba terdengar sarkastis.


Raut percaya diri Jason agak goyah. "Ah, pelan sedikit, Mags!" gerutunya.


Ini merupakan sumber kelucuan di tengah-tengah kami bahwa Maggie, si pendiam, bisa menginjak-injak kepercayaan diri Jason hingga hancur dengan mudah.


Kami bergantian memeluknya. Dia masih terlihat santai ketika menyapa kami, namun berubah canggung saat berhadapan langsung dengan Mia. "Bagaimana kabarmu, Mia?" Dia bertanya malu-malu.


Mia mengangguk, dan menjawab dengan sama malu-malunya. "Baik,"


Jason mengajak Mia untuk duduk di ruang tamu sementara kami memilih berada di ruang makan. Membicarakan beberapa fakta lucu dan mengejutkan, tentang ayam jantan yang tidak memiliki alat kelamin, dan aroma vanila yang sebenarnya berasal dari bokong berang-berang yang sudah di ekstraksi, juga fakta bahwa ada seorang pria yang menyelinap masuk ke istana Buckingham untuk makan keju cheddar selama tiga pulih menit lalu berkeliling kediaman ratu inggris. Setelah duduk di singgasana dan minum setengah botol anggur merah, pria itu akhirnya keluar.


Dan semua fakta-fakta mencengangkan itu keluar dari mulut besar Taylor Jones.

__ADS_1


__ADS_2