Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The Wedding Day!


__ADS_3

"Ya, Tuhan! Kau cantik sekali!" Aku memutar kepala saat ku dengar Mia berseru dibelakang.


Hari ini akhirnya aku akan menikah dengan Sean, bukan pernikahan yang pertama bagiku tapi entah kenapa aku merasa sangat gugup. Sikap Sean yang selalu mendominasi berhasil membuatku kehilangan keberanian, kepercayaan dirinya yang berlebihan selalu membuatku merasa diintimidasi, namun dalam arti yang baik.


Wajah tampan dan rupawan serta mata birunya selalu menghipnotisku setiap kami bertatapan, membuatku tak sanggup membantah ucapannya. Aku akan mengiyakan pada apapun yang dikatakannya, patuh seperti seekor anjing pada tuannya. Bahkan aku tidak mampu menolak saat Sean menyuruh seorang Nanny datang ke apartemenku untuk menjaga Ben.


"Where's Mom?" tanyaku. Kami menginap di hotel yang menjadi tempat pernikahanku dengan Sean sejak kemarin.


"Masih diatas, Ibu dan Ben bersama Edward." jelas Mia, tangannya pura-pura sibuk membenarkan gaunku. Aku mengamati wajah adikku yang berubah sendu, kuhentikan kegiatannya dan menariknya duduk disebelahku.


"Ada apa?"


Mia menggeleng, lalu tersenyum padaku, "Aku bahagia melihatmu seperti ini, melihat kakakku yang dulu sudah kembali dan bangkit dari mati suri yang diciptakannya sendiri, hahaha!" Aku mendengus mendengar ucapannya, kusentil keningnya pelan, sementara Mia tertawa kencang sambil menghapus air matanya.


"Aku serius, aku bahagia melihatmu kembali. Panda, dengarkan aku... Aku tahu kau belum mencintai Sean, hatimu masih terpaut pada Nino, kau tidak perlu berpura-pura seolah kau menikah dengan pria yang kau cintai, tapi percayalah padanya. Bukankah Ed sudah mengatakan Sean adalah pria yang baik, bahkan aku tidak menyangka Ed langsung menyetujuinya malam itu. Mulai hari ini, lupakan Nino, lupakan masa lalumu, fokuslah pada kehidupanmu bersama Sean. Belajar menerima Sean sebagai suamimu, buka hatimu untuknya, jangan jadikan pernikahanmu sebagai pelarian untuk mengobati rasa sakitmu."


Ah, Mia! Lagi-lagi anak kecil ini menceramahiku, kata-katanya sungguh lebih pantas diucapkan oleh orangtua. Aku heran dari mana dia mendapatkan pemikiran seperti itu dikepalanya, dia selalu saja membuatku terpana dengan ucapannya. Sikap dewasa tersimpan dibalik sifat kekanakannya, berbanding terbalik denganku yang dewasa namun tidak bisa mengatur hidupku sendiri.


"Hei, aku tahu harus melakukan apa! Tunggu, kenapa kau terdengar seperti Ibu? Kurasa kau memang lebih pantas menjadi kakakku, Mia!"


"Tidak! Aku akan terlihat lebih menyedihkan kalau jadi kakakmu, kau sudah menikah dua kali sementara aku sekalipun belum, kekasih saja tidak ada. Hidupku benar-benar mengerikan!"

__ADS_1


Aku dan Mia tertawa, menertawakan kehidupan yang aneh dan lucu. Kadang kebahagiaan datang saat semua hal berjalan seperti yang kita inginkan, namun tak jarang masalah menyerang dan membuat kita lupa akan kebahagiaan yang pernah hadir. Marah pada Tuhan, pada takdir, menolak menerima dan pada akhirnya tak jarang kita melampiaskannya dengan menyakiti diri sendiri, menyiksa diri dan berharap seseorang akan datang untuk menyelamatkan.


Begitu juga yang terjadi padaku setahun ini, tanpa sadar aku menyalahkan Tuhan, tidak secara langsung, melainkan dengan melupakan keluargaku, aku terlalu sibuk mencari cara untuk melupakan kesedihan yang merundungku akibat bercerai, hingga tidak menyadari putraku, Ben, membutuhkanku disampingnya.


Sean Danial Warner! Kenapa dia begitu tampan, bahkan dari kejauhan aku bisa melihat bentuk tubuhnya dibalik balutan tuxedo hitam yang digunakannya. Mata biru itu, mata yang selalu berhasil membuatku kehilangan kendali atas diriku, meluluhlantakkan kesadaran, dan menenggelamkanku lebih dalam pada kepatuhan hanya dengan matanya.


"She's yours!" Edward mengarahkan tanganku agar menyambut uluran tangan Sean, aku gemetar saat bersentuhan dengan tangannya yang hangat, kehangatannya menjalar seketika, menyatu dengan segala perasaan yang berkecamuk didadaku.


"Today, I affirm my love for you, and vow, to share my life with you in everything, to respect and love you, you are the most generous person I have ever known, kind, honest, and beautiful, I take you to be my wife, to have and to hold, in sickness and in health, from this day forward, you shall be first in my heart, and our souls shall be together as one."


Aku menyimak setiap kalimatnya yang keluar dari mulutnya, kilatan di matanya yang terlihat begitu antusias membuatku berkaca-kaca, sedikit tidak percaya aku akan mendengar sumpah seseorang untukku yang kedua kalinya dalam hidup.


"Sean, I take you to be my husband, to have and to hold from this day forward, for better or for worse for richer, for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, from this day forward until death do us part."


Kakiku mulai sakit akibat berdiri selama hampir 2 jam dengan high heels setinggi 13 cm, menerima ucapan selamat sambil tersenyum dari orang-orang yang datang ke pernikahan kami, aku kesal dengan tamu yang begitu banyak padahal aku sudah mengatakan pada Sean untuk tidak mengundang banyak orang.


"Kau lelah?" tanyanya saat salah satu temannya beranjak meninggalkan kami. Aku memajukan bibirku, menunjukkan kekesalan yang kutahan sejak tadi.


"Tidak usah bertanya! Kakiku akan patah sebentar lagi!" jawabku ketus.


Sean tergelak, kemudian menggodaku dengan senyum manisnya, "Hei, kau menggemaskan saat merajuk. Cantik sekali!"

__ADS_1


Aku kembali memasang senyum terpaksa saat seorang wanita mendekati kami, aku tidak mengenalnya, namun aku yakin dia pernah terlibat sesuatu dengan Sean dimasa lalu memalui matanya yang menatap tak suka padaku.


"Selamat untukmu, Sean! Aku senang akhirnya kau menemukannya." nadanya tidak terdengar senang sama sekali, dia melirikku sekilas lalu kembali tersenyum pada Sean.


"Thank's, Carla! Dia cantik, bukan?" Sean menatapku saat mengatakannya, mungkin menyombongkan diri atas pencapaiannya yang tidak sia-sia menunggu hingga belasan tahun lamanya.


Wanita bernama Carla itu bergantian menyalamiku, "Aku Carla, teman lama Sean. Selamat untuk kalian berdua!"


"Terimakasih, Carla. Aku Franda, kuyakin kau sudah tahu." jawabku seramah mungkin, tersenyum ceria untuk memaksimalkan aktingku.


"Apa dia mantan kekasihmu?" tanyaku pada Sean saat wanita itu menjauh meninggalkan kami.


Sean kembali mengeluarkan senyum mematikannya, dan aku benci itu, "Apa kau cemburu padanya?" Aku menahan tawa mendengar kalimatnya.


"Cemburu? Hah, untuk apa aku cemburu dengannya? Hahaha, kau ini, yang benar saja!"


***


Like, like, like!


Komen, komen, komen!

__ADS_1


Kasih bunga juga boleh, hahaha!


__ADS_2