Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Wild Love.


__ADS_3

Sudah hampir pukul delapan malam ketika aku dan Mia menyelesaikan susunan kepingan jigsaw puzzle yang entah sejak kapan berada di ruang tengah. Aku tidak pernah membawa benda itu ke rumah ini, dan kurasa Sean juga tidak. Ah, mungkin salah satu temannya yang menaruh disana lalu lupa mengambilnya lagi ketika mereka pulang, atau memang sengaja ditinggalkan karena mereka akan kembali? Aku tidak tahu.


Aku melangkahkan kaki menuju halaman belakang, udara yang cukup dingin membuatku merapatkan jubahku sambil mengusap-usap lenganku sendiri. Langit terlihat gelap, hanya ada samar-samar awan mendung yang tampak seperti gulungan permadani raksasa berwarna pekat seolah ada seseorang yang telah mencelupkannya ke dalam tinta hitam.


Aku merapatkan jubahku sekali lagi, sambil mengembuskan napas yang berembun seraya menatap sekeliling halaman belakang. Aku belum melihat Sean sejak sejam yang lalu, terakhir dia mengatakan akan menambah minyak mesin listrik tua yang berperan sebagai satu-satunya sumber kehidupan di hutan ini, tapi pondok tempat dimana mesin itu berada terlihat gelap. Lagi pula, mana mungkin dia berada disana selama satu jam.


Mungkin hujan akan turun malam ini. Ini bukanlah sesuatu yang buruk. Sama sekali tidak. Dan aku tidak khawatir sedikitpun akan basah. Aku masih kesal dengan Sean dan bertahan merajuk sampai saat ini dan aku berharap sapuan air hujan malam ini akan membuat suasana hatiku sedikit membaik.


Dulu ayahku pernah mengatakannya saat kami mengunjungi nenekku di Solo. Saat itu aku sedang kesal karena Ed menggodaku dengan menghancurkan rumah-rumahan yang belum lama kubangun. Dia dengan sengaja menendangnya sampai rumah-rumahan itu rubuh dan hancur berantakan. Aku sangat marah padanya dan keluar tanpa mengatakan apapun.


Aku sedang duduk di ayunan yang tergantung di pohon akasia ketika ayahku datang lalu dia mendaratkan bokongnya di ayunan yang lain. Kami terdiam beberapa saat, kemudian dia mengucapkan kata-kata itu. "Saat kau sedang kesal, dan tetesan hujan membasahi wajahmu, kau akan merasa lebih tenang, Panda. Dan satu harapanmu akan terwujud." gumamnya sambil mendongak menatap langit.


Aku hanya melirik sekilas, tidak membalas ucapannya. Lalu, tiba-tiba entah karena perkataannya atau karena yang lain, hujan turun. Aku hendak berlari ke arah rumah, namun ayahku menahan tanganku. "Kau bisa membuktikan apa yang baru saja ayah katakan," Dia tersenyum padaku.


Ternyata dia benar, aku merasa sedikit lebih tenang. Kekesalanku seakan menguap tersapu air hujan yang mengguyur tubuhku.


Aku takkan pernah lupa hal-hal kecil dan sepele yang diajarkannya padaku. Dia memang bukan papaku, tapi dia memiliki tempat terbesar di hatiku karena waktu yang kami habiskan terlalu banyak. Ah, aku merindukannya sekarang.


Tetesan air hujan pertama mulai mengenai wajahku, kupejamkan mata dan secara otomatis bibirku melengkung ke atas selagi pikiranku berkelana kembali mengingat saat aku dan ayahku mendengar 'musik hujan' untuk pertama kalinya. Aku mendongakkan kepalaku untuk merasakan lebih banyak lagi, rasanya seperti berada di bawah pancuran air raksasa. Dan semuanya melebur menjadi satu saat air turun membasahi wajahku.


Untuk sesaat aku berpikir. Jika harapan bisa benar-benar terwujud, yang kuinginkan sekarang adalah Sean datang menemaniku, berdiri bersamaku saat ini dan sama-sama merasakan nikmatnya sentuhan air hujan.


Aku mengerutkan kening dan membuka mata ketika tiba-tiba merasakan seseorang menyentuh pipiku. Aku menatap dengan mata melebar, tak percaya bahwa harapanku benar-benar terwujud. Sean berdiri di hadapanku, rambut hitamnya basah oleh air hujan, dan mata birunya menatapku antara campuran bingung dan cemas.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa berdiri di bawah hujan?" Dia berbicara keras mengatasi bunyi hujan.


Aku terpana memandanginya, seolah dia tidak nyata. Aku tidak bergerak, ataupun berbicara. Ya Tuhan, aku sangat merindukan makhluk di hadapanku ini.


Hujan semakin deras memukul-mukul kelepak mantel yang digunakannya, meninggalkan jejak noda gelap yang makin luas pada permukaannya. Dia mengembuskan napas tak sabaran seraya mengguncang tubuhku pelan. "Ayo masuk ke dalam. Kau akan demam jika terus berdiri disini." Aku hanya diam saat dia menarikku masuk ke dalam rumah, lalu mendudukkanku di kursi kayu dapur.


Dia berderap ke kamar mengambil handuk dan langsung melilitkannya di tubuhku. Aku menoleh padanya dan menyadari dia sedang menatapku. "Aku baru kembali dari lumbung untuk mengambil sisa bahan bakar." katanya lembut. "Kau baik-baik saja?"


Aku mengerjapkan mata lalu mengalihkan pandangan dengan enggan pada kabinet dapur. "Ini cuma hujan," ujarku pelan, dan setelah itu aku tidak berbicara lagi.

__ADS_1


Kami terdiam cukup lama. Diam yang menyiksa, kalau boleh kutambahkan. Aku mengamati Sean yang memanaskan air di kompor. Dia begitu tenang, tapi ada sesuatu pada raut wajahnya. Aku tidak tahu, tapi itu membuatku gelisah... dan penasaran. Apa yang sedang dia pikirkan?


Sean tengah membuka kabinet dan mengeluarkan dua kantung teh dari sana saat aku kembali berbicara. "Apa kau suka kenangan? Aku punya semua memorabilia milik ayahku, semua benda kesayangannya semasa hidupnya dulu." Dia menoleh, memandangiku. Mulutnya melengkung, dan aku melihat kilatan terkejut sekejap melintas di matanya sebelum dia dengan cepat mengalihkan pandangan menatap kantung teh lagi.


"Well, tidak juga." jawabnya ringan.


Dia benar. Memang tak ada yang lebih buruk dari kenangan, itu adalah sesuatu yang bakal mengikutimu seumur hidup. Dan kebanyakan darinya, adalah yang terburuk.


"Kukira aku lebih suka masa kini, lebih bisa dikendalikan." ujarnya lagi.


Aku hanya mengangguk tanpa bicara, memandang kaku ke teko air yang berbahan stainless steel yang berdengung, mencoba menghindari kontak mata dengannya. Dan sikapku itu membuatnya menggodaku. "Jadi, kukira kita berdua baik-baik saja sekarang?" Aku melihatnya kembali, dengan tatapan bertanya-tanya dan kedua alis terangkat.


"Kau benci padaku karena masalah psikiater itu, ingat?" Aku tercengang sementara dia tersenyum melihat ekspresiku yang mungkin menggelikan. Aku memang kesal padanya, tapi sekarang bukan lagi karena psikiater, melainkan dia menyebut namaku sebagai alasan untuk menahan Mia.


"Tidak, tidak, aku tak pernah... mungkin bukan begitu maksudku." Aku berbicara cepat dalam satu tarikan napas.


"Jadi, apa maksudmu, Franda?" katanya tenang, memasang wajah sepolos mungkin.


"Aku memang tidak menyukai gagasanmu soal psikiater, tapi kurasa tidak masalah jika harus menemui seseorang di antara mereka." balasku. "Lagi pula, kupikir benci adalah interpretasi yang keliru." Aku menatapnya lembut pada matanya yang sebiru lautan.


Dia memotong kalimatku. "Jadi, kau kecewa padaku?"


"Aku tidak bilang begitu... maksudku, aku bahkan tidak tahu apa yang kuharapkan darimu hingga harus merasa kecewa," Aku tertawa canggung sambil menggeleng tak percaya dengan kalimatku sendiri.


Sean membawa dua gelas teh yang baru saja di seduhnya, lalu meletakkan satu di hadapanku. Dia mengambil tempat duduk yang bersebrangan denganku sambil matanya memandangiku lekat-lekat. Jika maksud tatapannya adalah ingin menarikku ke dalam pikirannya, maka dia berhasil. Karena aku tidak mampu mengalihkan mataku darinya.


"Aku minta maaf karena sikapku yang kekanakan, bertemu psikiater benar-benar membuatku tidak nyaman. Aku sudah pernah melakukannya, bahkan nyaris setiap hari aku harus terjebak dengan mereka. Tapi tidak ada yang berubah padaku. Entah karena aku masih kecil dan tanpa sadar menolak semua yang mereka sampaikan, atau memang karena saat itu mereka hanya menyampaikan omong kosong. Aku tidak tahu."


Sean tersenyum lembut, sangat lembut sampai aku merasa ingin menggigit bibirnya yang seksi itu. Sebelah tangannya mengangkat gelas, lalu menyeruput teh tanpa mengalihkan pandangan dariku. Ditatap seperti itu olehnya, aku merasa gelisah sekaligus bergairah. Tubuhku yang tadinya kedinginan kini mulai panas akibat sapuan matanya yang nakal.


"Tidak masalah, Franda. Anggap saja ini hari keberuntunganmu karena aku menerima maafmu, tapi jangan merasa terbiasa." Aku sontak tertawa saat dia mengerling genit.


"Baiklah, akan kuingat baik-baik." sahutku, mengangkat gelas dengan kedua tanganku. Mataku terpejam begitu merasakan manis gula dan hangat teh menghibur tenggorokanku, bahkan aku mendesah pelan karena merasa nikmat.

__ADS_1


Aku tersentak saat tiba-tiba Sean menangkup pipiku, tanganku gemetar, bahkan nyaris menjatuhkan gelas tehku. Aku semakin terbakar ketika Sean menciumku sebelum aku sempat membuka mata. Aku sudah sering merasakan mulutnya di mulutku, tapi tetap saja aku merasa gugup setiap kali kami melakukan itu.


Tanganku gemetar menggenggam gelas kuat-kuat sementara kakiku bergerak gelisah. Gerakan mulut dan lidah Sean membuatku basah dan berdenyut. Aku membiarkannya menikmati bibirku sementara aku juga merasa nikmat karena sapuan bibirnya. Dia begitu manis... begitu mendebarkan, dan aku selalu gila karena ciumannya yang hangat itu.


Tanpa sadar aku memindahkan telapak tanganku ke lehernya, menahan kepalanya agar tetap berada dalam jangkauanku, membuat Sean tersenyum puas di mulutku. Belaiannya yang lembut membuatku hanyut dan terlena sampai-sampai aku melupakan bahwa Mia sedang bersama kami.


Aku terhuyung dan ciuman kami terlepas saat Sean tiba-tiba mengangkat tubuhku, lalu berjalan menggendongku ke dalam kamar. Aku merespon dengan melingkarkan kakiku di pinggulnya, kemudian melanjutkan ciuman kami lagi sampai Sean menghempaskan tubuhku di ranjang.


Aku hendak meraih kepalanya lagi tetapi Sean menahan gerakan tanganku, lalu mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya yang lain bergerak liar menyusuri wajahku. "Aku sangat ingin menyembahmu, Franda." erangnya serak. Matanya liar mengamati wajahku. "Tapi... kurasa kau lebih menyukai hukuman."


Napasku tercekat mendengar pengumuman yang sangat erotis dari mulutnya, menggelitik saraf-sarafku. Wajahku panas oleh gairah yang kencang menyerbu. Pinggulku bergerak gelisah, dan aku mendesah. "Ya, hukuman darimu lebih nikmat daripada persembahan apapun." balasku menantang.


Sean menggeram, rahangnya mengertak, lalu dia melepaskan tanganku dan dengan cepat bergerak naik, berlutut mengangkang tepat di hadapan wajahku. Mulutku segera melengkung tinggi, kemudian dengan kedua tanganku yang baru saja terbebas, aku membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya.


Mataku terpaku pada kejantanannya yang sudah penuh dan keras, membuat mulutku banjir oleh ludahku sendiri. Aku menelan ludah sekali. Menyaksikan pemandangan seindah kejantanannya adalah godaan yang paling menggiurkan. Sean memang pria yang diinginkan oleh wanita manapun, jadi tidak heran jika wanita-wanita sebelumku tak bisa lepas darinya. Mereka pasti merindukan sentuhannya yang memabukkan. Tapi sayangnya, mereka tidak akan mendapatkan itu lagi, karena aku akan menjaga harta karunku.


Tanganku yang gemetar naik perlahan dari paha hingga ke pinggulnya. Aku mengamati lagi bagian tubuhnya yang nikmat dan beraroma khas itu. Astaga, ini benar-benar sempurna... miliknya begitu besar, begitu keras, dan begitu panjang, terlihat lebih sempurna lagi dengan urat-urat yang menebal disana. Pantas saja aku menjerit tiap kali dia menghentakku, dan jeritanku itu akan terdengar tak lama setelah ini.


Puas memandanginya, aku mulai mengusapnya. Mataku naik menatap Sean, dia mendongak sambil menggeram sementara telapak tangannya menempel pada dinding kayu. Geramannya semakin keras ketika aku menyapukan lidahku dengan liar pada ujung kejantanannya lalu dengan cepat membenamkannya ke dalam mulutku. Aku menikmatinya seolah sedang menikmati es krim di bawah terik matahari.


Mulut dan lidahku semakin gila membelainya, membuat Sean mengerang puas. "Ah, kau... mulutmu itu memang sialan, Franda." desahnya.


Tanganku terulur menangkup bokongnya sementara kepalaku semakin bergerak cepat di kejantanannya. Bertambah cepat lagi saat aku teringat Ashley. Aku ingin Sean selalu merasa puas denganku hingga tidak sempat berpikir untuk mencari wanita lain. Aku akan membuat ranjang kami selalu panas sampai dia merasa terbakar setiap kali dia berdekatan denganku.


"Aku akan menghiburmu seperti ini setiap malam, Sean." lirihku genit, kemudian melahap lagi tubuhnya yang nikmat itu tanpa berniat menunggunya membalas ucapanku.


Dengan buru-buru dia menarik diri dari jangkauan mulutku. Aku memekik pelan saat tangannya menyingkap gaunku, menariknya hingga melewati kepalaku. Aku tersenyum sambil mengamati gerakannya menelanjangiku dengan tak sabaran, seakan aku akan lenyap jika dia tidak segera meniduriku.


Dengan satu hentakan keras, Sean membenamkan tubuhnya padaku. Detik itu juga aku meraih seprai dan mencengkeramnya kuat-kuat. Sean mendesakku amat kencang. Dalam dan lama. Kuat dan keras. Sampai tubuhku berguncang-guncang di bawahnya. Dia tak henti-hentinya mengerang sementara aku pasrah menerima serbuan gairahnya yang membuatku menjerit berkali-kali.


Aku tidak peduli pada apapun lagi. Yang kuinginkan sekarang hanyalah kami bercinta sampai sampai puas... sampai lelah... sampai tak sanggup lagi membuka mata... lalu terbangun esok pagi dengan perasaan cinta yang semakin kuat di antara kami.


'"Franda," geramnya di sela-sela hentakannya. "Aku akan membuatmu kering setiap malam. Kau akan mencapai banyak sekali pelepasan..."

__ADS_1


"Ya," desahku. "Aku milikmu, Sean. Lakukan apapun yang kau inginkan."


"Ah, Franda... kau sangat nikmat..."


__ADS_2