
...Sean Warner POV....
Aku mengedarkan ke sekeliling ruangan dimana Erick dan rekan-rekannya duduk, mereka mengarahkan perhatian penuh padaku dengan ekpresi menunggu. Mendadak rasa was-was menyergap pikiranku karena membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai aku gagal. Karena itu berarti aku harus mengikuti rencana Erick.
Tidak. Aku tidak ingin membayangkan keseluruhan rencananya. Jadi, sebaiknya ini berhasil atau segalanya akan menjadi lebih rumit antara aku dan Franda.
Aku menghela napas lalu mulai melakukan panggilan telepon, aku memusatkan perhatianku dengan penuh kewaspadaan saat mendengar panggilanku di jawab pada dering ketiga.
"Aku sudah bertanya-tanya kapan kau akan menghubungiku." Suara Syaiful terdengar santai dari seberang. "Apa kau sudah memutuskan?"
Aku terpejam dan mengembuskan napas pelan, berusaha menyingkirkan kemarahanku sebelum menjawab pertanyaannya. "Aku akan memberikan semua data yang kau inginkan, tapi aku mau kau melepaskan Dave. Aku membutuhkan kesaksiannya dalam persidangan untuk membebaskanku dari tuntutan kontrak kerja sama The Great Holdings Co.,"
Samar-samar aku mendengar dia mengumpat di ujung telepon. "Tidak ada negosiasi, Warner. Keselamatan istrimu adalah satu-satunya penawaranku." gumamnya dengan suara yang dalam dan rendah, jelas bahwa dia ingin mengintimidasiku dengan percakapan ini.
Dengan susah payah, aku berusaha mengesampingkan perasaan cemas yang mengganggu pikiranku serta menguatkan tekad untuk mendesaknya lebih jauh. "Kita sama-sama tahu, kau tidak akan bertindak bodoh dengan menyakiti istriku. Interpol mengawasi setiap pergerakanmu dan juga seluruh kelompokmu, dan hanya perlu satu tindakan provokatif saja, maka mereka akan meringkus kalian semua dalam sekejap." kataku geram.
Tidak ada balasan apapun selama beberapa saat. Aku yakin dia sedang mempertimbangkan kata-kataku. Jika semua yang dikatakan oleh Rudi tentang Syaiful merupakan kebenaran, maka dia pasti memikirkan apa yang kuucapkan. Atau mungkin saja dia sedang menyusun rencana untuk mencari celah agar bisa menghentikan campur tangan interpol.
Aku menghela napas sekali sebelum lanjut berbicara lagi. "Sir, satu-satunya yang kuinginkan hanyalah terbebas dari tuntutan kontrak palsu itu. Aku tidak pernah ingin berada di tengah-tengah antara urusanmu dengan interpol." Aku menekan kalimat terakhir untuk meyakinkannya. "Aku sudah muak dengan semua ini, dan ingin masalah ini berakhir secepatnya."
Dia terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya menjawabku. "Baik, kau bisa menemui Dave. Kau bisa bicara padanya, tapi dia tetap tinggal di Malaysia."
Aku menggeram. "Dia harus harus datang untuk bersaksi di persidangan itu, sir... atau semua tidak akan ada gunanya." sergahku.
"Tidak, kau masih bisa merekam pengakuannya. Kau dapat menggunakan bukti itu di pengadilan tapi Dave tidak akan kemana-mana. Kau akan diawasi selagi berbicara dengannya, dan putriku adalah satu-satunya orang yang akan pergi bersamamu." Dia berhenti sejenak. Aku bisa mendengar rahangnya mengertak.
"Dan jika aku tahu ada satu saja anggota interpol yang mengikutimu, maka aku bersumpah kau tidak akan pernah melihat istrimu lagi." Dia langsung memutuskan sambungan telepon.
***
"Aku baru saja menghubungi anggota kami yang mengawasi Paula, dia bilang gadis itu baru saja tiba di bandara."
__ADS_1
Aku memutar kepala ke arah pintu dan mendapati Rudi berdiri disana sambil bersedekap.
"Tunggu sebentar."
Aku mengirimkan pesan untuk yang kesekian kalinya pada Franda, dia menghindari teleponku sejak kejadian kemarin, setelah mantan suaminya menjatuhkan bom atom di kantornya dengan memberitahu padanya bahwa aku akan bepergian berdua bersama Paula keluar negeri.
Meskipun itu benar, tapi sudah jelas Franda akan mendapatkan kesan yang salah dengan caranya menyampaikan berita itu. Dan sekali lagi, aku mengecewakannya.
"Kau ingat rencananya, bukan?" Suara Rudi menarikku kembali.
"Tetap bersama Paula hingga melewati kota transit pertama, lima belas kilometer dari Selangor akan ada orang kalian yang mendatangi kami dan mengubah rutenya." sahutku datar.
Dia mengangguk puas. "Kita hanya perlu mengalihkan perhatiannya, agar dia merasa aman dan tidak curiga."
Aku mendengus sinis padanya. "Jangan khawatir, aku tidak perlu memalsukan apapun. Lagi pula, kami saling mengenal satu sama lain." ujarku sarkastis.
Aku menyeret koperku lalu berjalan melintasi ruangan dan berhenti di depannya.
"Dengar, sir... ini tidak akan mudah, tapi ingatlah tujuan kita melakukan semua ini." Nadanya terdengar hati-hati. "Apa kau benar-benar sudah siap melakukannya?"
***
"Hei, son, makan lolipop sebanyak itu akan merusak gigimu, kau tidak akan bisa makan apapun lagi jika itu terjadi." Aku berkata pada Ben selagi berjongkok di depannya hingga aku bisa menatapnya dengan baik.
Tepat pada saat itu, aku melihat Franda berjalan keluar dari rumah menyusul Ben. Kedua mata cokelat-nya tertegun menatapku. Dari raut wajahnya aku bisa melihat dia sedang bergelut dengan emosinya karena kehadiranku. Sejak kemarin dia tidak pulang ke rumah kami, dan memilih tidur di rumah kakaknya.
Saat dalam perjalanan ke bandara, aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa pergi tanpa bicara padanya. Dan sejak dia menghindari teleponku, aku memutuskan untuk datang menemuinya secara langsung.
Aku mengembalikan pandangan pada Ben. "Channel 7 sedang menayangkan edisi khusus Tom and Jerry pagi ini, dan Daddy tau kau menyukai acara itu. Minta Miss Darla memutarkannya untukmu, son. Daddy perlu bicara dengan Mommy sebentar." ujarku sambil tersenyum padanya.
Aku menunggu hingga dia masuk dan menghilang dari pandangan sebelum berpaling pada Franda.
__ADS_1
"Aku datang untuk berpamitan." gumamku seraya berdiri dan menegakkan tubuh. "Aku tahu kau sedang marah padaku, Franda. Tapi aku harus bertemu denganmu sebelum aku pergi."
Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengalihkan tatapannya dariku, kemudian menggeleng. Aku sempat melihat matanya berkaca-kaca saat dia menatapku.
"Sayang, aku hanya ingin kau tahu bahwa semua yang kulakukan semata-mata hanya untuk melindungimu. Dan aku minta maaf jika tanpa kusadari aku justru melukaimu."
Franda tetap menghindari tatapanku, dan aku merasa dia mungkin kesulitan menemukan kalimat untuk diucapkan. Menyembunyikan kepergianku bersama Paula darinya adalah kesalahan besar. Aku tahu itu.
Hanya saja, kupikir aku melakukan sesuatu yang benar dengan tidak memberitahunya, dan kemudian aku sadar bahwa aku sedang bersikap egois. Alasan utama kenapa aku cenderung merahasiakan darinya segala yang terjadi padaku adalah karena aku takut jika dia tahu, dia mungkin akan melihatku dengan cara yang berbeda. Hubungan kami mungkin akan menjadi berbeda.
Aku tahu bagaimana rasanya diabaikan, ayahku mengajarkan semua itu padaku saat dia meninggalkanku. Dan kukira akan selalu begitu, sampai aku bertemu dengannya. Franda adalah segala yang kuinginkan. Dia lembut, murni, dan penuh ketulusan.
Sesuatu yang kelam masih bersarang jauh di dalam hatiku bahkan setelah bertahun-tahun, dan aku membutuhkan Franda untuk mengubahnya, sama seperti dia membutuhkanku untuk mengatasi masalahnya. Aku bisa menjadi lebih baik jika aku memilikinya. Jika ini egosi, maka biarlah ini menjadi keegoisanku yang terakhir kalinya.
Tapi untuk sekarang, keselamatannya adalah segalanya.
Kurasa itu sudah cukup bagiku, karena aku sudah melihatnya. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, tapi wajahnya adalah hal terakhir yang ingin kulihat sebelum aku pergi. Itu sepadan.
Aku berbalik dan melangkah pergi menjauhi ambang pintu rumah kakaknya. Hujan deras mengguyur di luar, tapi mungkin itu bagus untuk menjernihkan pikiranku.
"Sean..."
Langkahku langsung terhenti begitu aku mendengar suaranya memanggilku. Kata pertama yang diucapkannya setelah kami berpisah kemarin, namaku.
Aku membalikkan tubuhku dan mendapati dia berjalan mendekat. Kulihat kedua matanya di penuhi oleh air mata yang mengalir perlahan turun di sisi wajahnya. Aku membeku ketika dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Dia tampak seperti malaikat, bahkan ketika dia menangis.
Franda mengulurkan kedua tangannya meraih jemariku, lalu menggenggamnya. "Aku tidak marah padamu, hanya..." Dia terisak pelan, berusaha mengendalikan emosi yang berkecamuk di pikirannya.
Aku mengangkat sebelah tangan menangkup pipinya, dengan mata menatap ke dalam mata indahnya.
"Aku ingin kau percaya padaku, Sean. Apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa merubah perasaanku padamu." Dia berhenti sejenak, bibirnya yang gemetar melengkungkan sebuah senyuman indah. Benar-benar indah. "Aku mencintaimu, Sean. Selalu mencintaimu." lanjutnya berbisik.
__ADS_1
Aku memejamkan mata, merasakan kelegaan dan kegembiraan yang meluap di waktu yang sama mengisi tiap-tiap sel tubuhku. Dan ketika aku membuka mata dan memandangnya, seolah setiap beban yang menekanku selama ini perlahan terangkat. Aku bukan lagi orang yang sama seperti sebelumnya.
Aku meraih pundaknya dan menariknya ke arahku. Perlahan menyusuri garis bibirnya yang lembut dengan ujung ibu jariku. "Itu hal terindah yang pernah kudengar, sayang. Sekarang, setelah mendengarnya, kurasa aku mungkin bisa mati dengan tenang." ujarku seraya tersenyum padanya, sebelum mencicipi bibirnya yang lembut itu.