Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Chrismast Eve


__ADS_3

Pernah suatu hari acara Natal di rumah keluarga Atmaja berubah menjadi acara yang menyiksa. Ibu dan ayahku membuat kesal satu sama lain sepanjang pagi dan saat santap malam Natal sudah dihidangkan, suasana di antara mereka merosot ke perdebatan saling menuduh.


Ibuku menjabarkan betapa santap malam tahun ini nyaris menjadi bencana gara-gara ayahku 'bermain-main dengan pengatur oven yang baru pada Malam Natal'.


"Dari sekian banyak waktu untuk bereksperimen, aku tidak menyangka ayahmu memilih malam yang sakral saat aku menyiapkan kaki domba panggang. Kami terpaksa membuka jendela dapur semalaman untuk menyingkirkan bau daging gosong. Dan ini terjadi setelah semua tukang daging tutup untuk libur Natal, jadi tidak ada kemungkinan untuk mengganti kaki domba itu sebelum Natal." gerutu ibuku sepanjang rel kereta api.


Ayahku mengedikkan bahu. "Toh aku tidak pernah bilang aku suka daging dingin itu. Lagi pula, kita sudah punya cukup kalkun dingin sampai Februari. Kau memasaknya lebih dari 12 jam sebelum kita memakannya, Sweetheart. Siapa yang akan menikmati daging itu?" balas ayahku menyindir.


Aku menoleh kearah nenekku yang jelas sudah mematikan alat bantu dengarnya dan sedang terkekeh menonton film Natal di televisi, dengan bahagianya tidak menyadari Perang Dunia Ketiga berkecamuk di sekitarnya. Andai saja aku memiliki sumpal telinga plastik transparan yang biasa digunakan untuk latihan band dan semacamnya.


Kakak dan adikku juga selamat dari malam penuh perdebatan itu karena mereka merayakan Natal dirumah nenek dari keluarga ibuku. Jadi, akulah satu-satunya orang yang harus menyaksikan drama mereka.


Tapi itu terjadi sudah lama sekali, ketika mendiang ayah dan nenekku masih hidup.


Aku memandangi orang-orang di sekelilingku saat ini dengan perasaan bahagia. Wajah mereka pun terlihat sama bahagia seperti diriku, kecuali Mia. Anak itu tidak akan bisa menunjukkan raut manis sedikitpun. Dia terlalu mencintai gaya hidupnya yang cuek dan tak tahu aturan.


Setelah santap malam yang di dukung oleh makanan hasil tangan ibuku dan Sora... maaf, maksudku calon kakak iparku, kami berkumpul di ruang tengah, di dekat pohon natal yang kami hias semalam sesaat setelah Ben tidur.


Gelas-gelas berisi wine dan kue-kue kering berjejer di atas meja bulat, sementara lagu-lagu Natal bergantian menggema melalui pengeras suara yang menggantung di sudut atas dinding. Ini Natal paling menyenangkan menurut versiku.


Sean berdiri dan melentingkan garpu ke gelasnya, meminta perhatian kami semua. "Baiklah, seperti yang kita ketahui, ini adalah Hari Natal. Dan Natal selalu identik dengan hadiah." Dia berdeham untuk menjernihkan suaranya. "Untuk itu, aku dan Franda sudah menyiapkan hadiah kecil untuk kalian semua,"


Seketika ruangan berubah menjadi riuh oleh tepuk tangan dan sorakan senang dari orang-orang di dalam ruangan. Terutama Mia dan Ben yang berteriak paling kencang. Untuk urusan kejutan, Mia sangat bisa diandalkan.


Aku tertawa memandangi raut bahagia mereka, bahkan Miss darla dan Daisy pun ikut bersorak. Kemudian Sean melanjutkan lagi. "Kami tidak tahu hadiah apa yang kalian harapkan, jadi kami hanya memberikan apa yang kami pikir kalian butuhkan. Dan semua hadiah itu sudah tertulis di dalam amplop yang menggantung di pohon Natal. Silahkan mengambil amplop dengan nama kalian masing-masing. Kecuali ibu," Sean mengarahkan pandangan ke ibuku. "Hadiah sudah ada di kamarmu, mom."


Dengan tak sabar mereka langsung mengerubungi pohon Natal yang ada di sudut ruangan.


"Odyssey The Alexios!" Ben yang pertama kali membuka amplopnya langsung berlari melompat ke arahku dan Sean. "I can't believe this! Thank you, guys." katanya riang sambil menciumi Sean dan aku bergantian.


"A key?" Cetus Mia dengan raut bingung menatap kami. Aku mengulurkan tangan meraih sebuah kunci mobil yang kuselipkan di sudut sofa sejak siang tadi dan melemparkan kunci itu pada Mia. "Porsche? Apa ini..."


"Ya, itu milikmu sekarang." kataku menjelaskan. Dan reaksinya persis seperti Ben tadi, bedanya dia hanya melompat ke arahku dan menciumi wajahku dengan keras sampai kepalaku menempel pada lengan sofa.


"Panda... kau memang kakak terbaik di muka bumi."


"Jaga baik-baik."

__ADS_1


"Absolutely!"


Miss Darla, Daisy, dan asisten rumah tangga lainnya yang berada di Jakarta mendapatkan hadiah yang sama, yaitu sejumlah uang yang sudah di urus oleh Sean. Aku tidak tahu berapa jumlahnya, tapi jika melihat wajah mereka saat mengecek akun bank melalui ponsel, kutebak jumlahnya tidak sedikit.


Sementara itu, kakakku mendapat lima persen saham Warner Enterprise sebagai hadiah Natal sekaligus hadiah untuk kehamilan Sora. Aku tidak tahu soal hadiah itu, Sean yang mengurus semuanya. Dia bilang saham itu akan membantu kakakku sewaktu-waktu jika perusahaannya mengalami masalah. Hanya untuk berjaga-jaga.


Dan untuk ibuku... aku mengembalikan mobil Chevy ayahku padanya, tentu saja dengan persetujuan Sean. Mobil yang setahun lalu diberikan Sean sebagai hadiah ulang tahunku. Itu lebih berharga bagi ibuku, dan dia lebih pantas memilikinya karena banyak antara kenangan dia dan ayahku di mobil itu. Dan dia juga mendapatkan kalung dari Sean sebagai tambahan.


Lalu, bagaimana dengan Lily? Dia sudah tidur dan hadiah yang paling dibutuhkannya adalah sebotol susu. Well, dia mendapatkan hadiah itu tanpa perlu repot-repot menunggu hari Natal.


Tahun ini Sean dan aku memutuskan untuk memberi sesuatu yang agak spesial kepada orang-orang terdekat kami sebagai bentuk syukur atas kebaikan Tuhan, mengingat ini tahun terberat dalam pernikahan kami. Mulai dari kasus Dave, tragedi 'Agen 007' yang aku alami, dan drama kematian kedua orang tuaku yang baru terbongkar beberapa waktu belakangan.


Kami mengobrol selama beberapa jam sampai nyaris tengah malam sebelum akhirnya membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing. Sean dan aku langsung menuju kabin tersembunyi melewati gudang penyimpanan wine setelah mengganti pakaian.


"Besok Samantha dan yang lainnya akan datang." kata Sean begitu kami masuk ke dalam kabin.


"Benarkah?" Aku berbicara selagi menyusun bantal di ranjang, lalu merebahkan diri dan menarik selimut.


Sean mengangguk, ikut berbaring di sebelahku. "Ya, Sam bilang Maggie, Matt, dan Jason akan datang lebih dulu, sementara dia dan Taylor menyusul setelah Taylor pulang kerja."


"Dia bekerja di restoran, dan restoran tidak mengenal libur. Terutama saat Natal. Mereka bisa meraup keuntungan lebih banyak dalam event tahunan seperti ini. Resiko pekerjaan." dengkurnya menjelaskan.


Keheningan yang tenang terasa selama beberapa saat. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya memberi hadiah yang sudah kusiapkan untuk Sean. Aku ingin memberikannya sekarang, tapi aku terlalu gugup. Tidak yakin dengan hadiahku sendiri.


Aku mendongak menatapnya, dia belum tidur tapi matanya terpejam sementara jemarinya menyusuri jemariku yang menempel di perutnya. "Sean,"


"Hm."


"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."


Sean membuka mata, melihatku dengan tatapan ingin tahu. Membuatku semakin gugup. Aku mengerang dalam hati, berpikir ingin menarik kembali kata-kataku. Tapi segera kutepis pikiran itu jauh-jauh. Aku sudah berusaha melakukan suatu hal yang kubisa dan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Jadi, masa bodoh kalau dia memang tidak menyukainya.


"Bukan sesuatu yang besar, tapi kuharap kau tidak meledekku." Aku bergeser kesamping, menjulurkan tangan meraih kotak beludru hitam kecil dari bawah ranjang dan menyerahkannya pada Sean.


Aku mengamati perubahan ekspresinya selagi dia memandangi kotak itu. Perasaan cemas mulai menyerang ketika alisnya berkerut. "Franda, aku tidak butuh perhiasan. Untuk apa kau..."


"Kau belum melihatnya, Warner." kataku memotong ucapannya dengan sebelah tangan menutup mulutnya. Belum apa-apa dia sudah keberatan. "Aku menulis sebuah lagu untukmu."

__ADS_1


"Lagu untukku?" ulangnya heran bercampur penasaran. Nadanya terkesan seakan dia tidak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Well, aku juga.


Maksudku aku sama sekali tidak pernah berpikir membuat lagu untuk seseorang, apalagi dunia musik sudah kutinggalkan sejak lama.


Aku berdeham untuk mengusir perasaan gugup. "Waktu kita berpisah dan aku tinggal di apartemen, tiba-tiba saja ide ini melintas di kepalaku. Musiknya mungkin akan terdengar agak aneh bagimu," gumamku was-was. "Aku tidak yakin kau menyukainya. Ini akan terdengar sedikit lawas karena sejak kecil aku hanya menyanyi bersama ayahku, dan seleranya yang tua secara praktis menular padaku." Aku tidak bermaksud terdengar menyedihkan, tapi tatapan Sean membuatku merasa begitu.


"Apa judulnya?" tanyanya lembut.


"A Song for You,"


"Seperti Leon Russell? 1970?"


Aku terkesiap. "Kau mendengarkannya juga?" kataku bersemangat dengan suara lebih keras dari yang kukira.


Sean tertawa pelan lalu menganggukkan kepala. Wow, Sean Warner juga menyukai lagu-lagu lama... aneh.


"Saat aku menulisnya kupikir ini cocok untukmu, lalu kubuat melodinya ke versi soul." Aku meraih headset dari atas meja kecil di sisi kepala ranjang dan menyerahkannya pada Sean.


Dia memandangiku selama beberapa detik. "Mau berbagi denganku?" Mata birunya menatapku penuh harap. "Kemarilah..." katanya tenang sambil mendorong tubuhku lebih dekat hingga dia bisa memelukku.


Sean mengambil headset dari tanganku, menyambungkannya pada music player yang berbentuk penjepit dasi dan memasang headseat masing-masing di telinga kami. Kemudian dia mulai memutar musiknya.


"Ini bagus, Franda." katanya berkomentar.


Tanpa bisa kucegah wajahku langsung berseri-seri mendengar pujiannya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Sean, tapi setiap detik yang kulalui saat kami mendengarkan lagu yang kubuat khusus untuknya, memberikan sensasi baru yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku yakin wajahku pasti memerah sekarang.


Ketika aku mendongak, kulihat Sean tengah memejamkan mata seraya bersandar pada headbed. Aku memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Rahangnya yang kokoh terpahat sempurna membingkai wajahnya yang rupawan.


"Tutup matamu, Franda. Itu cara terbaik agar kau meresapi musiknya." Aku nyaris terlonjak saat mendengar ucapannya, buru-buru aku memalingkan wajah lalu memejamkan mata sembari berusaha meredakan deru napasku.


Namun alih-alih mendengar musik, suara jantungku justru lebih kencang dari apapun di sekeliling kami saat ini. Dan bukannya terbuai pada lagu, aku justru mabuk oleh aroma tubuhnya yang jantan.


Ketika musik sudah berhenti sepenuhnya, Sean memelukku lebih erat dan mencium kepalaku. "Terima kasih, Franda. Ini benar-benar indah. Suaramu sangat indah." dengkurnya lembut di kepalaku.


Aku tersenyum puas. "Aku mencintaimu, Sean."


"Aku mencintaimu, Franda."

__ADS_1


__ADS_2