Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sexy Morning


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


Aku terbangun dengan hati yang penuh kegembiraan, masih terkenang-kenang bagaimana jantungku berdebar keras saat aku menghujam serakah dan penuh cinta tubuh Franda yang gemulai dengan tubuhku yang penuh dan keras. Aku masih terbayang suara-suara yang berupa geraman dan jeritan yang meluncur dari mulutnya ketika aku membelai tubuhnya. Demi Tuhan, aku takkan pernah bosan menikmati segala kemewahan yang dipancarkan oleh tubuhnya yang indah dan menantang itu. Tubuhnya molek, dan berlekuk sempurna, dan memang diperuntukkan untuk membuat segenap pria tergiur dan linglung tergila-gila.


Dan wanita seksi itu ada di dekatku sekarang. Lengannya memeluk tubuhku, dan kakinya yang kurus melilit kakiku, sementara tubuhnya menempel tenang dan hangat di dadaku. Aku ingin membangunkannya, ingin mengucapkan terimakasih untuk cintanya yang luar biasa. Tapi ketika aku melihat keluar melalui dinding kaca, aku baru sadar bahwa ini masih pagi buta.


Keadaan diluar dinding kaca masih gelap, dan terlihat gerimis turun membasahi setiap permukaan dinding. Tak bisa kubayangkan, aku berada dikamar, bersama dengannya, bersama lantunan hujan yang lembut, dan bergulingan di atas sutera putih yang teramat halus dan beraroma tubuh Franda.


Sambil tersenyum, aku membelai rambut cokelatnya yang lembab karena keringat. Aku tak pernah mengagumi atau menggilai wanita seperti ini sepanjang hidupku, tetapi disinilah aku berada. Aku mengamati wajahnya dengan seksama dan membuatku pusing karena dia amat cantik. Sampai aku bisa melihat betapa halus dan putih kulit wajahnya. Dia terlihat lelah, tapi wajahnya begitu damai dan bahagia, dan aku ikut gembira karena tahu dia bahagia karena diriku. Tapi tetap saja... wajah cantiknya menjanjikan percintaan penuh erangan dan jeritan ketika dia berhasil mendapatkan tubuh yang berhasil menggodanya.


"Maafkan aku, Franda. Seharusnya aku sanggup menunggu lebih lama. Sebenarnya aku hanya ingin menggodamu saja. Ingin menunjukkan padamu bahwa kau sangat memengaruhi otakku sampai aku terus memikirkan segala macam khayalan-khayalan saat bercinta denganmu. Tapi aku tak bisa menahannya, kau begitu menggiurkan. Tingkahmu terlalu kuat dalam menjeratku hingga aku tak mampu membiarkanmu begitu saja." Aku berpaling darinya setelah berbisik, mengarahkan pandanganku ke sekitar ruangan hotel tempat kami menginap.


Aku ingin memberinya keindahan yang setimpal dengan dirinya, melebihi sekedar menginap di hotel mahal yang mungkin terasa istimewa bagi sebagian orang. Aku ingin dia selalu bahagia ketika bersamaku sehingga lupa bahwa dia pernah menderita sebelum ini. Kehidupan masa lalunya memang terlampau sulit bagi siapa saja, aku tak yakin orang lain akan mampu bertahan sekuat Franda jika mereka yang mengalami itu. Dibalik kerapuhan dirinya, tersimpan satu kekuatan besar yang mampu menghancurkan apa saja, termasuk diriku. Dia membuatku hancur berkeping-keping dengan kemolekan tubuh dan kelembutan hatinya.


Tatapanku kembali pada Franda, dia masih terlelap, tubuhnya terlalu lelah hingga tak sempat mendengar bisikan-bisikanku atau menyaksikan tatapanku yang panas memikirkannya. Aku sudah mendekatkan bibirku ke bibirnya, dan hampir saja menciumnya, tapi kemudian kuurungkan karena tidak mau mengganggu tidurnya yang nyenyak. Irama jantungnya sudah cukup membuatku tenang.


Aku bangkit dari ranjang perlahan-lahan, lalu beranjak ke sudut ruangan untuk mengambil segelas air minum sebagai gantinya, sebagai ganti bahwa aku sangat ingin merasakan tubuhnya lagi.


Aku duduk cukup lama di sofa dengan gelas air di tanganku dan sempat melakukan beberapa hal dengan ponselku. Aku meneguk air lagi, lalu berderap kembali ke ranjang, kembali padanya.


Mataku terus mengamati wajahnya yang masih lelap. Sudut bibirku melengkung indah mengingat bagaimana perjalanan kehidupan kami yang indah sekaligus menegangkan. Tapi aku bersyukur karena wanita yang bersamaku adalah Franda, dia begitu bijak dalam menghadapi segala hal yang terjadi pada kami. Tak ada wanita yang bisa melampaui kehebatannya dalam menghadapi masalah. Franda yang terbaik dalam hal ini, dan juga banyak hal lainnya.

__ADS_1


Matanya terbuka, jernih dan terang. Dia tersenyum cerah ketika mendapatiku sedang memandangnya. "Good morning, husband." sapanya dengan suara serak yang membuatku berdebar.


Telapak tanganku membelai wajahnya sementara bibirku membalas sapaannya. "Good morning, wife."


Franda bergerak, bersandar di kepala ranjang sambil menarik selimut menutupi dadanya. Dia menguap sekali, dan aku ingin sekali menyerangnya detik itu juga. Wajahnya begitu menggemaskan dengan rambut yang berantakan dan mata yang sembab. Demi Tuhan, dia benar-benar membuatku gila.


Sekarang dia bergerak ke arahku. Tangannya menyingkap selimut, lalu duduk mengangkang di atas pahaku. Dia menggoyangkan pinggulnya dengan sangat pelan, ingin memberiku sedikit godaan. Dan ya, tentu saja dia berhasil.


"Tubuhku tak berhenti berdenyut karena ulahmu." gerutuku. "Dan, lihat sekarang, apa yang coba kau lakukan padaku? Kau ingin kejantananku membiru karena kau mencoba untuk menyiksaku, peri seksiku?"


Franda mendadak tertawa, dia mencubit pangkal hidungku sementara matanya berkilat-kilat geli. "Astaga, julukan apa itu? Kau benar-benar genit, Sean."


Aku menggigit jarinya ketika tangannya bermain di bibirku. Dia belum sempat protes karena aku menyergapnya lagi. "Jangan terlalu nakal, sayang. Aku takkan sanggup menahan diri jika kau terus menggodaku."


"Franda," desahku. Lalu tanganku naik dari pundak ke pipinya. "Apakah kau ingin tahu apa yang tadi kupikirkan saat sedang melihatmu tertidur?"


"Apa?" balasnya, penasaran.


"Aku bersyukur kau hadir dalam kehidupanku. Aku nyaris terjebak dalam pernikahan bersama wanita lain. Namun aku begitu beruntung kau menerimaku tepat sebelum itu terjadi."


Franda terlihat gugup. Aku yakin dia tahu siapa wanita yang kumaksud. Tetapi dia tetap saja bertanya, menantang diriku, menantang dirinya sendiri. "Siapa wanita itu, Sean?"

__ADS_1


Mulutku tersenyum. "Tadinya tahu siapa wanita itu. Tapi ketika aku melihatmu tertidur di dekatku, tiba-tiba aku melupakannya." godaku dengan genit.


Franda tersenyum geli sekaligus lega. "Ah, itu bukan apa yang ada di pikiranmu, kau sedang merayuku saja."


"Tapi..." Franda membelai bibirnya sendiri dengan lidahnya.


Mataku berkilat-kilat, menuntut. "Tapi, apa, Franda?"


Tangannya merangkul bahuku sementara tangannya yang lain mengelus wajahku. "Aku tidak tahu apakah kau sedang mengarang tentang pikiranmu atau memang seperti itu kenyataannya, kau berhasil. Ya, kau berhasil, Sean."


Senyumku melebar dan nakal. "Franda?"


"Ya, aku milikmu. Di pagi buta ini, di tempat ini dan dikamar ini, diiringi gerimis, maukah kau menghiburku lagi seperti semalam, Sean?"


"Mau." balasku cepat. Dia tersenyum menyaksikan humorku, tetapi juga menangkap ekspresi nakalku.


Aku sudah ingin menggulingkannya dan membuatnya berbaring di bawahku, namun tangannya menahanku. Matanya bertemu dengan mataku. "Tutup matamu, Sean."


Aku menurutinya. "Franda," erangku lirih.


Franda merangkul leherku, menempelkan dadanya yang memberat karena sangat bergairah untukku. "Ya." bisiknya didepan mulutku. "Tiduri aku seperti tadi malam, buat aku menjerit dan menangis karena merasa nikmat, Sean. Hibur aku dengan segenap tubuh dan tenagamu yang kuat. Aku menginginkan sesuatu yang luar biasa untuk menyambut hari. Kumohon... senangkan diriku."

__ADS_1


Aku langsung menyerukkan wajahku ke lehernya dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Ketika mataku terbuka, aku berubah liar menggeram serak sampai tenggorokanku bergetar. Seperti hewan buas, aku mengangkatnya, menghempaskannya dengan cepat ke permukaan ranjang berlapis sutera, lalu dengan sekali gerakan tangkas, aku menyingkirkan selimut agar menjauh dari kami. Aku merunduk dengan gusar, meluncurkan mulut ke perutnya, terus meluncur ke bawah, dan Franda tersentak. Mulutku berada tepat di tubuhya yang memerah dan berdenyut-denyut untuk memulai percintaan kami pagi ini.


"Ah, Sean..."


__ADS_2