Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Playing Cards


__ADS_3

Sekitar 30 menit berkendara akhirnya Nino tiba didepan rumahnya, menunggu Adi si penjaga membuka pagar.


"Aman, Di?" tanya Nino pada Adi, lalu memasukkan mobilnya setelah mendengar jawaban 'Aman, Pak!' dari Adi.


Nino melangkahkan kaki langsung naik ke lantai atas menuju kamar. Ia membuka pintu dan mendapati istrinya sedang duduk di meja rias, terlihat sangat cantik dengan gaun malam ditubuhnya. Nino terus memandangi istrinya sambil tersenyum. Merasa sangat bahagia karena memiliki pendamping yang sempurna seperti Franda.


Franda yang tahu suaminya sudah berdiri dipintu hanya melihat sekilas. Merasa ada ada sesuatu yang janggal, sebab sejak tadi pagi sikap suaminya sedikit aneh. Tidak seperti biasanya, hari ini Nino terlihat seperti anak kecil yang sangat menyukai mainan barunya. Franda sadar Nino tidak akan mengatakan apapun jika Ia bertanya, untuk itulah Ia menyusun rencana agar Nino mau bercerita padanya.


"Sudah puas memandangi istrimu yang cantik ini? Tidak ingin memelukku? hmm?" tanya Franda sembari mengubah arah duduknya menghadap suaminya, tersenyum dengan pose menggoda.


"Ahh, aku hanya mencoba mencari bagian mana yang tidak aku sukai. Tapi ternyata sia-sia, aku tidak menemukannya." jawab Nino yang kemudian meletakkan tas kerjanya di sofa lalu mendekati istrinya. Mencium seluruh wajah Franda dengan penuh cinta, mengabsen setiap titik dengan bibirnya.


Franda tersenyum mendengar jawaban Nino. Ia selalu menatap Nino yang kini berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Mau aku siapkan air hangat?" Franda menawarkan.


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa melakukannya. Cepat selesaikan kegiatanmu, karena aku tidak akan melepaskanmu lagi setelah aku keluar dari kamar mandi." Nino tersenyum sambil mengedipkan mata sebelah, menggoda istrinya.


"Aku khawatir kau yang akan kabur, Sayang!" jawab Franda dengan tawa renyah.


"Baiklah, kita lihat nanti. Persiapkan dirimu, Nyonya." balas Nino dengan berbisik di telinga istrinya, yang membuat Franda meremang.


Seringkali pertandingan mereka dimenangkan oleh Franda, keahliannya bermain kartu sudah terasah sejak kecil, Ia dan keluarganya hampir setiap weekend berkumpul diruang keluarga untuk bencengkerama sambil bermain kartu, memanfaatkan hari libur Ayahnya untuk melakukan hal menyenangkan itu.


Nino keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan apapun, berjalan melewati istrinya tanpa sungkan.


"Wahhh, kau sangat tidak tahu malu, Tuan!" kata Franda sambil tertawa, menggelengkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Kau sudah melihat, bahkan merasakannya setiap hari selama tujuh tahun, apa alasanku malu di depanmu, Sayang?" jawab Nino cuek. Terus berjalan menuju ruang ganti dan memakai pakaiannya.


"Kau sudah siap?" tanyanya setelah kembali.


Franda mengangguk, lalu mengeluarkan setumpuk kartu remi dari laci meja rias, membawanya ke ranjang dan melompat disana begitu saja. Nino mengikuti istrinya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang diambilnya dari lemari ruang ganti.


"Aku pasti menang kali ini, aku harus menang!" ucao Nino dengan yakin. Dengan semangat tinggi menepuk tangan beberapa kali, lalu membusungkan dada.


Franda tertawa, "Berhenti mengkhayal, Sayang! Kau selalu yakin bisa mengalahkanku, tapi kenyataannya selalu berakhir dengan vaccum cleaner selama seminggu!" ejek Franda.


"Jangan lupa, aku juga sering mengalahkanmu!" protes Nino.


Franda kembali tertawa, "Hanya empat kali, coba kau hitung berapa bulan yang kita lewati selama tujuh tahun? Kita melakukan ini hampir setiap bulan, dan kau hanya menang sebanyak empat kali! Kalau kemenanganku jangan ditanya, menggunung!" Franda terus meledek Nino, wajah kusut suaminya sangat menggemaskan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2