
...Sean Danial Warner POV....
"Pemerintah sudah menutup jalur keluar untuk semua perjalanan ke arah selatan, ini akan mempersempit wilayah pencarian kita, dan aku yakin kita akan segera menemukan Syaiful."
Aku mengikuti langkah Erick melewati pintu putar yang terbuat dari kaca di gedung biro Kepolisian. Di depan lobby kami disambut oleh beberapa orang petugas polisi berseragam yang tampaknya sudah menunggu kedatangan kami. Mereka segera mendekati Erick dan terlihat seperti sedang mendiskusikan sesuatu yang serius.
Kota lama, markas militer atau semacamnya, hanya itu yang bisa kutangkap sekilas dari pembicaraan mereka. Aku menduga itu adalah jejak Syaiful di Lembang. Erik sempat memberitahuku soal ini sebelumnya, bahwa ada semacam fasilitas militer lama yang ditinggalkan di suatu tempat di pinggiran kota dan mereka sedang berusaha menemukannya. Aku berharap kali ini ada titik terang mengenai hal itu.
Aku berdiri menunggu dengan gelisah di tempatku sementara mereka sedang memperdebatkan beberapa hal. Pandanganku turun untuk melirik sekilas jam tanganku, nyaris satu jam berlalu sejak kami meninggalkan rumah persembunyian di pusat kota. Aku tahu tempat itu dipenuhi oleh orang-orang interpol dan sebagainya, tapi entah kenapa aku masih merasa khawatir meninggalkan Franda disana.
Erick menatapku sejenak sebelum kembali berpaling kepada rekan-rekannya, dia menggumamkan sesuatu lalu beberapa detik kemudian meninggalkan kerumunan itu dan berjalan menghampiriku.
"Mereka menemukan jejaknya di sekitar Lembang, dua orang pria yang yang teridentifikasi sebagai veteran kavaleri berkeliaran di daerah itu. Mereka sedang berusaha memastikannya."
"Jadi, apa yang harus kukatakan pada mereka?"
"Well, semua yang kau tahu tentang Syaiful dan putrinya, mengkonfirmasi identitasnya dengan data-data mereka. Biro Federal perlu melengkapi berkas dakwaan yang..."
Ucapannya terhenti karena bunyi dari ponselnya, dia buru-buru menjawabnya. Sepertinya itu telepon dari rumah persembunyian karena aku mendengar dia menyebut nama Rudi.
Raut wajahnya datar, menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu berpaling padaku. "Apa kau mematikan ponselmu?"
Aku menarik benda itu dari saku jaketku dan melihat layarnya yang gelap lalu mengangguk pada Erick. "Kupikir akan lebih aman." gumamku seraya mengedikkan bahu sekilas.
Sorot matanya mendadak berubah tegang dan entah kenapa ekspresi wajahnya terasa seperti mengirimkan rasa dingin yang menjalari sekujur tubuhku.
"Kita punya masalah, sir." katanya dengan hati-hati, "Rudi baru saja memberitahuku... Istrimu menghilang."
***
Kata-kata Erick perlahan menghilang yang dari pendengaranku seiring kilasan wajah Franda yang memenuhi benakku. Aku memejamkan mata mencoba meredakan kecemasanku dan berkonsentrasi memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Franda. Tapi aku sama sekali tidak bisa berhenti merasa khawatir. Setiap detik pikiranku tenggelam oleh ketakutan terbesarku.
__ADS_1
Tidak. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.
Setelah dia berada di rumah persembunyian, kukira aku telah menjaganya aman disisiku setidaknya hingga interpol menyelesaikan kasus ini. Tapi sekarang semuanya justru semakin memburuk. Aku tidak pernah merasa seputus asa ini dalam hidupku. Aku ingin melakukan sesuatu, apapun... untuk menemukannya. Meski benci mengakuinya, aku sadar bahwa saat ini aku memang benar-benar tidak berdaya.
"Biro Federal mengatakan mereka akan membantu, dan dengan senang hati memberi ijin untuk mengakses kamera pengawas lalu lintas di seluruh penjuru kota, jadi kita bisa lebih cepat menemukan istrimu."
Aku mendongak dan mendapati Erick telah berdiri di samping sofa tempatku duduk.
"Akan lebih membantu jika sejak awal orang-orangmu mampu melakukan tugasnya dan menjaga istriku dengan baik." kataku sinis seraya menatapnya tajam.
Dia menghela napas namun tidak menjawab ucapanku, kemudian dia beranjak menghampiri meja kerjanya yang terletak di seberang sofa dan menyandarkan bokong pada tepiannya.
"Kenapa orang-orangmu membiarkan istriku dibawa?" tanyaku dengan nada geram, menuntut agar dia segera menjawabku.
"Bukan seperti itu..." Erick menghentikan ucapannya lalu mengalihkan pandangan keluar jendela. "Yosi, personil yang membawa istrimu pergi, tadinya adalah salah satu orang terbaik kami."
"Sekitar enam tahun yang lalu dia ditugaskan ke Libanon selama tujuh bulan, dan disanalah dia bertemu dengan Syaiful untuk pertama kali. Tapi pada saat itu kerjasama dengan militer masih dianggap legal, dan catatan nama Syaiful juga masih bersih. Lagipula, setelahnya Yosi tidak pernah menyebut-nyebut soal Syaiful lagi, seakan tidak ada yang berkesan dari kerja sama mereka. Dan tidak ada riwayat yang mencolok, tidak ada catatan dinas, atau apapun yang dapat menghubungkan mereka berdua."
Erick terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Dia meraihnya, lalu menatap layarnya dengan seksama, kemudian raut wajahnya mendadak berubah antusias.
Erick mengangkat kepala melihatku. "Mobil SUV dengan ciri-ciri yang sama terlihat baru saja memasuki Lembang. CCTV-nya tidak terlalu jelas namun biro Federal mengidentifikasi seorang pria dan wanita ada di dalam mobil itu."
"Itu bisa saja istriku."
Erick menganggukkan kepalanya. "Mungkin Yosi ditugaskan oleh Antonio untuk membawa istrimu pergi dari rumah persembunyian. Kami sudah menerima instruksi untuk bekerjasama dengan polisi mengatasi kasus ini, dan menurut kami saat ini adalah waktu yang paling sempurna untuk memancing Syaiful keluar dari tempat persembunyiannya."
Aku mencoba mencerna kata-katanya namun pikiranku terpecah saat ponselku berbunyi. Sebuah nomor tak dikenal tampak di layarnya. Aku melirik Erick sekilas dan dia memberikan isyarat agar aku aku mengangkat telepon itu.
"Ini aku." suara Syaiful dari seberang membuatku dan Erik saling bertukar pandang. "Bagaimana rasanya sudah menjebakku?" katanya lagi.
Aku menarik napas sebelum mengucapkan sesuatu untuk menjawabnya. "Sir, jika kau menyerahkan diri sekarang polisi mungkin akan meringankan hukumanmu dengan kebijakan ektradisi, dan kau akan memiliki waktu untuk membereskan semua ini tanpa publikasi pada media." gumamku, mencoba terdengar santai.
__ADS_1
"Jangan sok pintar!" bentaknya. "Kau sudah mengacaukan semuanya dengan membawa Paula ke dalam masalah ini. Kau tidak berharap aku menerima semua ini dengan mudah, bukan? Kau Mengambil milikku dan aku akan melakukan hal yang sama."
Aku menangkap samar-samar suara pertengkaran di ujung telepon sebelum aku mendengar suara yang paling kurindukan sepanjang hari ini berbicara dari seberang.
"Sean, jangan datang,"
Ucapannya segera terputus dan berganti dengan pekikan tertahan seolah dia sedang kesakitan.
"Franda?"
"Sekarang dengarkan aku baik-baik, aku tahu teman-teman interpol dan polisimu sudah mengirimkan orang untuk mengikuti Yosi, tapi aku ingin kau datang ke sini sendirian atau aku terpaksa harus menyakitinya."
Seketika tubuhku menegang saat aku menyadari sambungan telepon terputus begitu saja. "Kita harus..." Aku beranjak dari sofa sambil mengacak-acak rambutku dengan gusar. "A-aku harus pergi kesana." kataku putus asa.
Erick tidak bereaksi. "Erick?" Aku mengangkat kepala menatapnya, raut wajahnya terlihat ragu. "Kau dengar sendiri yang dia katakan, aku harus menyelamatkannya."
"Tunggu, seperti yang kubilang, polisi mempunyai rencana dan ini diluar kewenanganku. Kita harus mengikuti aturan mainnya, sir."
Mataku membulat, dengan kedua tangan terkepal, aku berdiri dan menatap tajam ke arahnya. "Kalian... apa kalian bermaksud menjadikan istriku sebagai umpan?" tanyaku berapi-api.
Dia tidak mengatakan apapun, tapi sorot matanya menjelaskan bahwa aku tidak salah mengira tujuan mereka.
"Kau perlu tahu kami tidak merencanakan semua ini, tapi ya, ini satu-satunya kesempatan yang kami miliki. Kita akan menyelamatkan istrimu tapi kami perlu waktu, sir."
"Aku tidak bisa menunggu untuk mengikuti rencana kalian, istriku pasti sangat ketakutan saat ini. Aku akan pergi."
Aku berjalan dengan cepat mengitari sofa sebelum kurasakan tangan Erick menahan bahuku. "Kau tidak boleh kemana-mana. Kau adalah prioritas kami, keselamatanmu merupakan inti dari seluruh operasi ini, jangan lupakan itu."
Aku berbalik dan dengan cepat mengarahkan tanganku mencengkram kerah kemejanya. "Istriku adalah prioritasku! Persetan dengan operasi kalian." ucapku geram lalu mendorong tubuhnya hingga punggungnya menempel pada salah satu dinding.
"Kalian yang mendeklarasikan perang kepada Syaiful, lalu mendatangiku dan membuatku menjadi sumber informasi hingga memaksa putrinya berbalik melawannya. Jadi, ingatlah... Jika sesuatu terjadi pada istriku, itu karena kesalahan kalian dan aku akan menghancurkan kalian semua."
__ADS_1