
Aku dan Sean baru saja membuka pintu kamar setelah mandi untuk kedua kalinya saat matahari tepat berada di atas. Kami hendak turun untuk mengisi perut yang mulai membetontak dan mendapati Mia yang menatap sinis pada kami. Kepalaku sedang menebak-nebak apa yang membuatnya semarah itu, namun segera kuketahui saat mulutnya menggerutu dan mengomeli kami.
"Hei!" serunya kencang. "Bisakah kalian memanfaatkan kecanggihan teknologi di kamar kalian? Panda, bukankah aku sudah mengatakannya padamu kemarin?" Wajahku mendadak panas menahan malu. Aku mengutuk diriku sendiri yang lupa mengaktifkan fitur kedap suara karena Sean menyerangku secara tiba-tiba.
Berbeda dengan diriku yang berdiri gelisah, disampingku Sean terlihat menahan tawa. Dia menggenggam tanganku, menautkan jemari kami dan berbicara selagi menuntunku berjalan. "Terimakasih sudah mengingatkan kembali, Mia. Kakakmu menyerangku dan tidak memberiku kesempatan untuk mengambil remote." katanya, membuat kedua bola mataku nyaris melompat keluar.
Aku melayangkan tatapan tajam padanya dan memukul lengannya kuat. Bisa-bisanya dia melemparkan kesalahan padaku. Wajahku terus menekuk sepanjang kami menghabiskan sarapan sekaligus makan siang. Aku belum mau memaafkannya meskipun dia menggodaku berkali-kali. Tak ada makanan yang benar-benar masuk ke perutku, hanya beberapa potong buah dan segelas susu.
Aku masih bungkam sampai kami duduk di ruang keluarga. Hari ini Sean tidak ke kantor. Dia ingin menemaniku seharian, tetapi ucapannya tadi membuat moodku memburuk seketika. Tadinya kami berencana akan menghabiskan waktu membawa Ben bermain namun aku membatalkannya. Aku tidak ingin melakukan apapun sekarang.
Masih bertahan dengan sikap bungkam, aku berderap kekamar meninggalkan Sean di ruang keluarga bersama Edward, yang hari ini juga memutuskan untuk bermain bersama Ben. Sambil melangkah, sebelah tanganku meremas bagian belakang leherku yang sedikit tegang. Rasa lelah baru terasa menerjangku.
Didalam kamarku yang super mewah, aku membaringkan tubuh lelahku di ranjang. Aku tidak tahu apakah ini pengaruh dari kehamilan atau memang tubuhku benar-benar lelah. Dengan malas tanganku menjulur untuk meraih remote di nakas. Aku menurunkan suhu pendingin ruangan lalu menarik selimut sampai sebatas leher. Perlahan kantuk menyerang dan aku tertidur.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur sampai telingaku menangkap suara Sean samar-samar memanggilku. Ketika aku membuka mata, pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah tampan suamiku yang sedang tersenyum manis. Seketika bibirku melengkung namun kembali berubah cemberut saat mengingat aku masih marah padanya.
Lantas dia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipiku dan mataku tak terlepas darinya sehingga aku bisa melihat bagaimana caranya menggodaku dengan sangat lembut. Suamiku menatap dalam ke mataku. Bibir manisnya tersenyum padaku sementara otakku berpikir tentang derasnya darah yang mengalir di nadi lehernya.
Bibirnya terbuka dan aku goyah seolah dia menarik napasku. "Jadi, apa kau masih marah padaku, sayang?" dengkurnya lembut dan penuh kasih sayang.
Aku merasakan darahku berdesir dan tanganku gemetar. Di balik selimut dan caraku berbaring, aku sedang berjuang keras untuk tidak runtuh dan mencair secepat ini sehingga aku harus memejamkan mata dan menahan diri agar tidak terhanyut dengan rayuannya.
Pertanyaan Sean benar-benar membenturkanku. Seolah dirinya menghempaskanku ke ranjang atau memerangkap tubuhku pada tembok dan membuatku tak berdaya ketika dia mulai mengambil alih segalanya. Mulai mendominasiku yang rapuh ini.
__ADS_1
Suaranya yang serak dan dalam terus saja berdengung dan tak ingin menghilang di telinga. Tanpa sadar aku membayangkan betapa sangat menyenangkan saat suara itu bermain di indra pendengaranku. Mengingat erangannya saat tubuhku yang berdenyut mengapitnya, mendengar geramannya ketika mulutku bermain di bagian tubuhnya yang mengeras, bahkan aku mendengar segala umpatan yang dia teriakkan untukku hanya karena dia tidak bisa menahan bagaimana rasa nikmat ketika ujung sarafnya di sapu gemetar oleh gairahku.
Aku membuka mata. Demi Tuhan, selembar kaus yang dikenakannya sangat mengusikku. Memanggil untuk diraih lalu ditanggalkan. Jika diriku tidak bisa mengatur kekuatan dan gairahku pada detik ini juga, sudah kupastikan aku akan melemparkan diriku dan melucuti semua pakaian Sean sehingga seluruh pakaiannya mendarat menyedihkan di lantai.
Mataku tak cukup hanya melihat jakun di lehernya. Aku merindukan dadanya. Menginginkan aromanya. Dan ingin menjulurkan kedua tanganku untuk membelainya serta merasakan dadanya yang keras dan menggoda.
Otakku mendidih sementara menyaksikan pria jantan itu bergerak kembali. Wajahnya hanya beberapa senti di depan wajahku dan tanganku kembali gemetar. Dadaku naik-turun dengan gemetar ketika melihat bibirnya terbuka untukku.
"Melihatmu begini, maka aku sudah mendapatkan jawaban bahwa kau sudah memaafkanku, sayang." Angkuhnya. Dan aku menyukai bagaimana cara dia menyombongkan diri sekaligus menebak isi otakku.
Alisku terangkat dengan susah payah sementara menyaksikan bibir itu kembali berbicara. "Sekarang aku ingin menghiburmu dan mengembalikan suasana hatimu, babe." Sean bergerak naik. Mengurung tubuhku yang berbaring di ranjang dengan kedua tangannya. Aku merasakan hembusan napasnya dan aku meneguk liur karena rasa gila. Aku tidak bisa percaya setiap gerakannya yang terasa sensual.
Aku tersentak ketika dia menyentuh bahuku yang tak tertutup sempurna. Dengan cepat aku mendorong tubuhnya hingga dia berguling ke sampingku. "Jangan menggodaku. Aku masih marah padamu." kataku hampir memekik.
Aku mencoba untuk terus diam dan merasakan sentuhan suaranya yang mendominasi. "Kau boleh memintaku melakukan apa saja untuk mendapatkan maafmu, sayang. Ingin aku menyentuhmu, atau meninggalkanmu, atau... terserah yang kau mau."
Pertanyaannya menyulut selimutku lalu membuatku terbakar. Aku telah dibangkitkan dan sekarang menjadi wanita api. Kekuatanku kembali dan aku bahkan dapat merasakan mataku menyala dan memberi tatapan kilat.
Dengan pasti, aku menjawab. "Aku tidak suka kau bermain denganku seperti itu. Kau mempermalukanku di depan Mia. Kau tidak akan tahu betapa malunya diriku saat kau mengatakan itu."
Bibirku terbuka namun terlalu gemetar karena emosi jiwaku sendiri. "Kau bisa melihat bagaimana dia menatapku tadi. Demi Tuhan, aku merasa kecewa dengan kata-katamu. Aku tahu kau hanya bercanda, tapi itu bukan model candaan yang bisa kuterima, Sean."
Aku merasa semua sarafku mendidih dan terus mengutarakan apa isi hatiku. "Kau membuatku malu setengah mati dengan ucapanmu seakan aku memang melakukannya. Dan kalaupun itu benar, kau tidak bisa mengatakannya pada orang lain."
__ADS_1
Aku mendengar napasku terasa berat. "Kau tentu tahu kalau aku memang menggilaimu, tapi jangan berterus-terang seperti itu pada orang lain sekalipun dia keluargaku. Astaga, Sean... kau benar-benar membuatku marah."
Habis. Aku meluncurkan semua perasaanku padanya. Kata-kata yang kukeluarkan dengan segenap perasaanku dan berharap dia akan mengerti maksudku.
Tetapi Sean justru mengernyit. Dia bingung padaku dan aku bingung pada diriku sendiri yang semarah ini hanya karena masalah sepele.
Tangannya terulur menyentuh wajahku. "Apa yang kau bicarakan, sayang? Apakah ucapanku memang sejahat itu sehingga menyakitimu?"
"Aku tidak tahu kau kalau kau memiliki model candaan yang berbeda." Sean melanjutkan seolah ingin meyakinkan diriku bahwa dia tidak bermaksud menyakitiku.
Mataku yang panas membelai matanya dan mencoba untuk meyakinkan pada dirinya pula bahwa aku sangat terluka. "Maka jangan mengulanginya lagi, Warner."
Sean terkejut. Raut wajahnya sekarang berubah dan tidak terbaca. Entah apa yang dia tangkap dari ucapanku. Melihatnya kebingungan, aku mendekatkan wajahku padanya. Hidungku menyentuh hidungnya dan aku menghirup napas dari sana. Napasnya yang panas menyerbu tubuhku dan membuatku tersengat.
Aku menaikkan bibirku dan menyapu bibirnya sehingga dia menggeram. Aku tidak peduli, aku terus membelai bibirnya dengan bibir dan lidahku sementara kakiku merangkak naik ke atas tubuhnya. Luar biasa. Rasanya terlalu nikmat sehingga bibirku basah sementara mulutnya mengering karena ciumanku.
Aku tidak ingin berhenti. Aku meluncur dari mulutnya lalu menelusuri lehernya. Aku menggigitnya dan menghisapnya semampuku. Membuat tanda bahwa dia milikku sepenuhnya. Jemariku bergerak liar meraba dadanya. Dengan penuh gairah, aku menyentuh salah satu puncak dadanya dari balik kausnya.
Aku tersenyum dan berkata. "Jangan mengulanginya, Warner."
Dengan cepat aku menarik diri dan beranjak turun dari ranjang sementara dia masih telentang dan menatap bingung padaku yang berhasil mengguncang gairahnya lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Mataku berkilat senang sementara aku membuka pintu kamar.
"Rasakan itu, Samson!"
__ADS_1