Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 33


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Franda, Mia, dan Sean masih asik mengobrol di cafe yang semakin malam semakin padat oleh pengunjung. Musik live yang dimainkan oleh band lokal yang tadinya santai juga semakin keras menggoda siapa saja untuk ikut bergoyang, tak terkecuali Franda dan Mia. Keduanya terlihat sudah mabuk, bir yang awalnya hanya 3 botol terus bertambah, tidak tahu sudah berapa banyak yang mereka minum. Sean tidak terlalu mabuk karena Ia ingin memastikan dua wanita yang bersamanya itu aman. Ia hanya duduk mengamati Franda dan Mia yang menari sambil tertawa riang.


Sean melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul 11.30 malam. Ia berjalan mendekati Franda dan berbisik ditelinga wanita itu.


"Ayo pulang!" ajak Sean pada Franda.


"Apa?" ternyata Franda tidak mendengarnya karena suara musik yang memang keras.


"Ayo pulang! Sudah hampir jam 12..." jawab Sean setengah berteriak.


"Sebentar lagi." ucap Franda dengan mata yang mulai memerah.


"Kalian sudah mabuk, ayo pulang!" kata Sean menarik Franda dan Mia bersamaan ke arah meja mereka.


"Ada apa?" tanya Mia heran saat Sean menariknya tiba-tiba.


"Kalian harus pulang, tunggu disini sebentar." Sean meninggalkan keduanya dan berjalan ke arah kasir untuk membayar semua pesanan mereka, lalu kembali setelahnya.


"Ayo!" Sean lagi-lagi menarik Franda dan Mia yang berjalan sempoyongan, Ia benar-benar repot mengurusi dua wanita yang bukan siapa-siapa baginya itu.


Setelah sampai diparkiran Ia langsung memasukkan mereka ke mobilnya, membuat keduanya bingung.


"Hey, aku membawa mobil!" kata Mia.


"Kau mau pulang dalam keadaan mabuk? Aku akan mengantarkan kalian, katakan saja alamatmu." jawab Sean sedikit gusar. Entah kenapa dia merasa harus memastikan keduanya selamat.


"Tapi bagaimana mobilku? Ayah akan mencincangku sampai habis jika mengetahui aku pulang tanpa mobil!" Mia membuka pintu ingin keluar namun segera dihentikan Franda.


"Kau tidur dirumahku saja, biar Sean yang mengantar kita." jawab Franda dengan suara berat. Kepalanya benar-benar pusing akibat alkohol yang diminumnya.


"Oh, tidak, tidak! Suamimu lebih mengerikan dari pada Ayah. Lebih baik aku pulang saja!" kata Mia dengan kondisi yang sama dengan Franda.


"Hey, tenang saja! Nino suamiku bukan orang lain. Apa yang kau takutkan? Sean tolong antar kami ke rumahku." kata Franda sambil memajukan badannya untuk melihat Sean yang duduk didepan. Sementara Mia hanya diam dan pasrah.


"Ya!" jawab Sean sedikit kesal, Ia terlihat seperti supir.

__ADS_1


Sean langsung melajukan mobil menuju rumah Franda, Ia tidak perlu menanyakan alamat karena memang sudah mengetahuinya, beberapa kali Ia menjemput Franda disana saat mereka akan membahas tentang Nino dan Jenny dulu. Sesekali dirinya melirik dua orang dibelakang yang sedang berbicara tidak jelas, sambil tertawa tanpa menyadari malapetaka akan datang sebentar lagi.


"Panda, kapan terakhir kali kita seperti ini?" tanya Mia pada kakaknya.


"Aku lupa, hahahaha. Dulu kita selalu kabur saat Ayah dan Ibu sudah masuk ke kamar, bersenang-senang dan pulang saat subuh dengan mengendap-endap. Hahahahah..." ucap Franda terbahak sambil mengenang masa lalunya dengan Mia.


"Ya, kau ingat saat Edward mengetahui itu dian sangat marah, tapi Ayah menyalahkannya karena tidak bisa menjaga kita, hahahha" sambung Mia yang juga tertawa.


"Ya, ya! Aku ingat itu! Oh, poor Edward! Hahahaha..." Franda lagi-lagi tertawa. Namun langsung terdiam saat mendengar pertanyaan Mia.


"Panda, kau yakin baik-baik saja?" tanya Mia.


Franda menggeleng. "I don't know. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Ahhh..." Franda mengusap kasar wajahnya.


Mia mendekat dan memeluk kakaknya, terakhir kali Ia melihat Franda bersedih adalah beberapa bulan lalu saat Nino ketahuan selingkuh dengan Jenny, setelahnya wanita itu terlihat baik-baik saja. Bahkan hubungannya dengan Nino juga tampak sudah kembali seperti dulu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku yakin kau sanggup melewatinya. Ayah selalu bilang 'You can't make an omelet without breaking the eggs'!..."


"You can't make an omelet without breaking the eggs'!..." Franda mengikuti kata-kata Mia, keduanya langsung tertawa sambil berpelukan.


Sean membunyikan klakson agar Adi membuka pagar, sang penjaga bingung melihat mobil asing yang akan masuk kerumah majikannya itu saat tengah malam, namun langsung membuka begitu Sean membuka kaca dan mengatakan Franda didalam mobil.


Sean membangunkan Franda dan Mia yang tertidur dibelakang, tapi tidak ada reaksi apapun dari mereka. Dua wanita itu tertidur efek meminum alkohol terlalu banyak. Sean turun dan membunyikan bel, tak lama Mbak Ika keluar dengan wajah setengah mengantuk.


"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Mbak Ika.


"Franda dan adiknya tertidur dimobil, boleh tolong panggilkan suaminya?" jawab Sean dengan sopan.


Mbak Ika mengangguk dan langsung masuk. Beberapa kemudian Ia kembali bersama Nino dengan wajah yang tampak sangat marah.


Tanpa basa-basi Ia melayangkan pukulan kepada Sean hingga membuat pria itu tersungkur namun Sean tidak membalas.


"Hey, santai! Istrimu sedang mabuk dan tertidur dimobilku!" kata Sean sambil mengusap darah diujung bibirnya.


Nino yang mendengar itu semakin tersulut emosi. Sedari tadi Ia khawatir menunggu istrinya yang belum pulang, dan tiba-tiba datang seorang pria yang tidak disukainya mengatakan bahwa istrinya mabuk dan berada didalam mobil pria tersebut. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, ditambah lagi tadi dia melihat penampilan Franda yang lain dari biasanya. Nino tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan dengan istriku, hah? Kenapa dia pulang bersamamu?" bentak Nino sambil mencengkeram kerah kemeja Sean.


"Wow, aku tidak melakukan apapun padanya! Kami tidak sengaja bertemu dicafe, dan ada adiknya juga disana, mereka berdua tidur dimobilku saat diperjalanan kesini." jawab Sean, Ia melepaskan tangan Nino dari bajunya.


Nino langsung berjalan kemobil Sean dan melihat Franda memang bersama Mia disana. Ia mengumpat melihat keduanya terlihat kacau.


"Sayang, hey... Sayang, bangun!..." kata Nino sambil menepuk pelan pipi istrinya beberapa kali. Wanita itu menggeliat, lalu tersenyum saat melihat suaminya.


"Sayang, aku merindukanmu..." ucap Franda sambil memeluk suaminya. Ia tidak sadar dengan apa yang terjadi, dirinya benar-benar mabuk.


Nino yang melihat istrinya seperti itu merasa sangat kecewa, tapi tidak mungkin juga memarahinya sekarang. Ia langsung menggendong Franda yang tersenyum sambil menciumi pipinya.


"Tolong bawa adik iparku kedalam. Mbak, tunjukkan kamar tamu padanya." kata Nino memerintah Sean dan Mbak Ika, Sean mendengus kesal tapi tetap melakukannya.


Nino membaringkan Istrinya diranjang, melepas sepatu dan menganti baju Franda.


Ia ingin keluar menemui Sean dan meminta maaf sekalian berterimakasih sudah mengantar istrinya, namun langkah nya terhenti saat Franda menariknya.


"Sayang, aku rindu..." katanya dengan manja.


"Kau sedang mabuk, istirahatlah..." Nino melepaskan tangan Franda dan meninggalkannya dikamar.


Sean baru akan masuk ke mobilnya saat mendengar Nino memanggilnya.


"Sean? Kau Sean, kan? Maaf atas sikapku tadi, dan terimakasih sudah mengantar mereka kesini." kata Nino setelah berhadapan dengan Sean.


"Ya, sama-sama!" jawab Sean singkat. Ia membuka pintu mobil, dan lagi-lagi Nino bersuara.


"Wajahmu tidak asing, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nino, Ia baru memperhatikan Sean dan merasa pernah melihatnya disuatu tempat, namun Nino tidak tahu dimana.


"Tidak, aku tidak mengenalmu!" ucap Sean berbohong, Ia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Nino dengan mengatakan kalau mereka berasal dari kampus yang sama.


"Kau yakin?" tanya Nino masih tidak percaya, Ia sangat yakin pernah bertemu dengan Sean.


"Ya!" Sean masuk kedalam mobil dan langsung melaju kencang setelah meninggalkan rumah Nino.

__ADS_1


__ADS_2