
...Sean Danial Warner POV....
Aku masih merasakan sesuatu yang janggal pada Franda. Seharian ini dia terlihat sedikit berbeda, gerak-geriknya tidak menunjukkan bahwa dia baik-baik saja dan aku yakin pasti Mia mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Aku sempat membujuknya untuk bercerita padaku tentang apa yang terjadi di rumah sakit kemarin, tetapi Franda dengan senyum getir yang terkembang di bibirnya, mengatakan tidak terjadi apa-apa meskipun sorot matanya berkata lain.
Bermaksud ingin bertanya langsung pada Mia, aku pun memutuskan untuk mendatanginya di rumah sakit sore ini. Aku tidak mau Franda kembali kacau mengingat dia pernah menggila beberapa waktu lalu, dan aku pun ikut gila saat harus berhadapan dengan situasi sesulit itu. Sudah kukatakan berkali-kali bahwa Franda memiliki masalah dalam mengatur dirinya, dia tipikal wanita yang berlebihan menanggapi sesuatu, terutama jika berkaitan dengan dirinya dan masa lalunya.
Aku melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Mia dan mendapati dia tengah duduk di hospital bed sambil menatap layar ponselnya sementara Edward yang duduk di sampingnya juga melakukan hal yang sama.
Aku melempar senyum begitu mereka melihatku dan langsung mendekat. "Bagaimana keadaanmu, Mia?" tanyaku seraya meletakkan kantung plastik berisi ayam goreng dari restoran cepat saji yang kubawa.
Mia menatapku sekilas. "Baik." sahutnya cuek lalu kembali menatap ponselnya.
"Panda?" Aku berpaling pada Edward yang baru saja bertanya padaku.
"Dia tidak ikut." jawabku sambil melangkah melewati edward untuk mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.
"Baguslah." Keningku seketika berkerut mendengar ucapan Mia, dan aku tidak suka dengan nada bicaranya yang ketus. Bahkan dia menyeringai ketika melirikku.
Aku menghela napas. "Apa masalahmu, Mia?" Aku bertanya sambil menatapnya, tapi Mia tidak melihatku. Dia tidak mengalihkan wajahnya dari ponsel ketika menjawabku.
"Tidak ada." katanya cuek. "Ponselmu berbunyi." celetuknya kemudian.
Baru saja aku ingin bertanya pada Mia tentang kedatangan Franda kemarin, ponselku sudah berbunyi. Aku menggerutu sambil meraih benda itu dari saku bagian dalam jas, mengerutkan kening saat melihat nama Ibu pada layarnya.
__ADS_1
"Sean, kau ada dimana?" suaranya terdengar ganjil.
"Aku..." ucapanku tertahan karena Ibu buru-buru memotongnya.
"Bisakah kau pulang sekarang?" desaknya.
Keningku berkerut, tapi aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dari cara bicaranya. "Ada apa, bu?" tanyaku penasaran.
Untuk sesaat Ibu belum menjawab. "Franda, dia..." Suaranya tiba-tiba bergetar, seperti... menangis.
Aku merasakan darah surut dengan cepat dari kepalaku saat mendengar perkataannya. Dengan membabi buta, aku berlari keluar menuju area parkir, mengabaikan suara Edward yang berteriak memanggilku.
Sampai di area parkir, aku meminta Ameer keluar dan langsung melesak ke kursi pengemudi. Aku memacu mobilku seperti orang sinting, melaju dengan kecepatan penuh menuju gedung tempat tinggalku. Mencengkeram kemudinya dengan kedua tangan yang gemetaran. Aku merasakan pandanganku mulai di kaburkan oleh air mata.
"Please, jangan..."
Ibu tidak menjelaskan secara gamblang apa yang terjadi pada Franda, tapi nada bicaranya membuatku sangat khawatir. Itu mengingatkanku pada saat ketika aku melihat Franda sedang kacau dan menggila.
Aku memarkirkan mobil dengan tergesa-gesa saat sampai di area parkir bawah tanah, melompat turun dari mobil dan langsung berlari menuju lift. Di dalam lift, aku bergerak-gerak gelisah dan bolak-balik memandang lampu indikator yang menujukkan angka, dan mulutku mengumpat karena lift terasa begitu lambat.
Ketika pintu lift membuka, aku kembali berlari menuju kamar dan mendapati Miss Diana dan Daisy sedang berdiri cemas di dekat dapur. "Dimana dia?" seruku panik pada mereka berdua. Mereka berdua melihatku dengan raut wajah takut bercampur cemas yang sulit kumengerti.
Daisy berdeham sebelum menjawabku. "... di kamar, Tuan."
__ADS_1
Aku meninggalkan mereka dan langsung berlari naik ke atas menuju kamar. Melangkahi dua sampai tiga anak tangga sekaligus sampai aku tiba di depan kamar kami.
Beberapa orang berkumpul disana dan mereka menoleh begitu mendengar pintu kamar yang terbuka. Seketika aku merasa jantungku berhenti berdetak, dan darahku membeku. Apa yang kulihat sekarang adalah kejadian kedua yang tidak akan bisa kulupakan seumur hidupku.
Franda, istriku, sedang berbaring di pangkuan Ibu dengan tangan berlumuran darah sementara Ibu menahan sesuatu di perutnya. Franda baru saja menusuk dirinya dengan gunting, dan gunting itu tergeletak disana, penuh dengan darah, di samping tubuh Franda yang juga berlumuran darah.
Aku menyerbu ke arah mereka lalu mengambil alih tubuh Franda. "Hei." sapanya dengan lemah, nyaris berbisik. Tatapan matanya menyiratkan keputusasaan yang dalam dan itu membuatku kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, Franda?" tanyaku dengar suara bergetar sementara tanganku menggantikan tangan Ibu untuk menutup lukanya.
Franda tersenyum lemah padaku, bibirnya bergetar dan air matanya mengalir membasahi wajahnya. "Biarkan aku pergi, Sean."
Aku masih belum membalasnya karena sibuk menutup bekas luka tusukannya agar darah berhenti mengalir. Tapi tiba-tiba sebelah tangan Franda menahan tanganku dan sebelah tangannya yang lain terangkat menyentuh pipiku. "Aku mencintaimu." itu kata terakhir yang kudengar dari mulutnya, lalu setelahnya dia terpejam dan tubuhnya langsung melemas.
"Franda," Aku langsung mengangkatnya dan berlari seperti orang gila untuk membawanya ke rumah sakit. Beruntung Darren sedang berada di basement dan dia mengantar kami ke rumah sakit.
"Franda... sayang, bertahanlah." gumamku bergetar sambil berurai air mata. Aku berusaha membangunkannya, tetapi Franda tidak mau membuka mata. Franda tidak mendengarku meskipun aku membentaknya, dia tetap diam dan tak bergerak di pangkuanku. Aku putus asa, aku marah, aku kecewa, dan aku kesakitan karenanya.
Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana kehidupanku jika dia benar-benar pergi meninggalkanku. Aku pasti akan melakukan hal yang sama dan mengikutinya. Pikiranku kalut dan penuh dengan segala kekhawatiran, dan dengan sadar aku mengutuk Mia karena dia yang menyebabkan semua kekacauan ini.
Semua yang terjadi hari ini berawal dari Mia, dia dan pria itu harus membayarnya jika sesuatu terjadi pada Franda. Aku tak peduli meskipun dia adik iparku, kupastikan Mia akan hancur di tanganku. Dia harus mendapatkan pelajaran karena telah berani mengusik ketenangan Franda. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ia aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun dan akan membuatnya hancur berkeping-keping apabila Franda tidak membuka mata kembali.
Tanpa sadar aku memukul bagian belakang sandaran kursi pengemudi, membuat Darren yang duduk di depannya tersentak dan hampir membuat kami celaka. "Maaf, Darren." kataku buru-buru.
__ADS_1
Hatiku di penuhi kebencian pada orang-orang yang menyebabkan kami mengalami ini. Aku bersumpah tidak ada ampun bagi mereka sekalipun mereka bersujud dan mencium kakiku. Aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak sampai kapanpun jika aku kehilangan Franda setelah ini.
Terkutuklah, kalian. Manusia-manusia tak tahu diri! Aku bisa bersikap baik pada siapapun, tapi jangan berharap bisa hidup dengan tenang setelah kalian mengusik ketenanganku. Kematian bahkan terlalu mudah untuk kalian dan kita akan lihat apa yang akan terjadi setelah ini.