Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Family


__ADS_3

Dua jam kemudian Ia terbangun setelah mendengar ketukan dipintu.


"Panda, kau tidur? Ini aku, Mia!" panggil Mia dari luar. Panda adalah panggilan untuknya ketika dirumah.


"Masuk!" jawab Franda, masih berbaring dan memeluk guling.


"Panda! Aku merindukanmu!" Teriak Mia yang ketika masuk langsung berlari dan melompat keranjang, memeluk dan menciumi wajah Franda yang terbaring.


"Mia, stop!" Franda berteriak sambil mendorong Mia, namun adiknya itu menolak.


"Tidak, aku sangat merindukanmu! Sudah lama kau tidak mengunjungi kami padahal rumahmu tidak jauh. Aku rindu, Panda!" sahut Mia protes dengan sikap kakaknya.


"Aku punya pekerjaan suami yang harus aku urus. Waktuku tidak banyak untuk terus datang kesini. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini, Mia!" kata Franda menjelaskan.


"Hey, kami keluargamu! Ayah dan Ibu selalu menunggumu datang walaupun sebentar. Seandainya kau tahu bagaimana mereka bertanya apakah kau menghubungiku dan Edward, huh!" Mia mendengus kesal, kemudian duduk dan melempar Franda dengan bantal.


"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud begitu. Aku akan menginap beberapa hari disini." kata Franda. Ia bangun dan bersender di kepala ranjang, masih memeluk guling dan memejamkan mata.


"Kau serius? Kau akan menginap?" tanya Mia yang belum percaya. Franda memang sangat jarang menginap disana setelah menikah, hanya beberapa kali dalam setahun, itupun karena ada kegiatan tertentu.


"Iya. Ayah dan Edward sudah pulang?" tanya Franda.


"Belum. Ayah biasanya baru akan selesai Golf jam 5, kalau Ed aku tidak tahu." jawab Mia mengedikkan bahu.


"Oh..." Franda seperti sudah menebak jawaban Mia.


"Hey, where is Nino? Aku belum melihatnya." tanya Mia yang memang belum melihat Nino sejak tadi.


"Still working." Franda menjawab singkat dan kembali berbaring membelakangi Mia. Ia sangat malas berbicara tentang suaminya.


"Are you ok? Is something happen? huh?" Mia penasaran mendengar jawaban singkat Franda, Ia menduga pasti terjadi sesuatu dengan kakaknya.


"Nope!" jawab Franda, yang membuat Mia semakin penasaran.


"Hey, you can tell me! What happen?" Mia menarik bahu Franda agar menghadap padanya.

__ADS_1


"Mia, please... I need to pee now." Franda turun dan berjalan ke kamar mandi meninggalkan Mia yang terus mengikutinya dengan tatapan penasaran.


Sesungguhnya Franda tidak benar-benar ingin buang air kecil, Ia hanya ingin menghindari adiknya yang tidak akan berhenti bertanya ketika penasaran. Hidup bersama sejak umur 4 tahun hingga kini usianya 31 tahun membuatnya sangat mengenal sifat Mia dan seluruh anggota keluarga intinya.


Setelah beberapa menit bertahan didalam kamar mandi Franda keluar dan berharap Mia sudah pergi dari kamarnya, namun yang terjadi adalah sebaliknya.


"Panda! What happen? Why don't you tell me something?" Mia langsung menyerang Franda dengan pertanyaannya begitu melihat kakaknya keluar dari kamar mandi. Franda terlihat kaget dan menarik napas dalam, mencoba mengembalikan irama detak jantungnya.


"Stop it, Mia! It's a married life matter, you don't have to know, and also I won't tell you!" Franda menjawab dengan tatapan tidak suka dengan sikap Mia.


"Kenapa? Bukankah selama ini kita selalu berbagi masalah? Dan biasanya kau juga bercerita jika mempunyai masalah dengan pernikahanmu? Ada apa sebenarnya?" Mia masih belum menyerah.


"Not this one, Mia! Please, leave me alone! I need more sleep. Now!" bentak Franda sambil mengusir Mia.


Mia tidak percaya melihat sikap Franda lalu melangkah keluar dan menarik pintu dengan kencang. Ia yakin pasti sesuatu terjadi pada Franda dan Nino, tapi apa? Mia tidak bisa menebaknya sama sekali, selama ini tidak ada apapun yang disembunyikan Franda darinya. Franda akan menceritakan semuanya pada Mia yang belum tentu menceritakan pada orang lain, termasuk Ayah dan Ibu. Mia adalah oramg pertama yang akan mengetahui ketika Franda memiliki masalah.


Ibu Marissa yang sedang duduk diruang keluarga menatap heran pada Mia yang keluar dari kamar Franda dengan wajah kesal.


"Ada apa?" tanyanya pada putri bungsunya.


"Aku kesal padanya! Dia membentakku karena bertanya apakah dia memiliki masalah. Aku kesal padanya, Bu!" Mia mengadu pada Ibu Marissa.


"Tapi, Bu..." Mia berbicara namun langsung berhenti saat melihat Ibu Marissa memegang tangannya dan menggelengkan kepala.


"Biarkan dia menyelesaikannya kali ini. Panda pasti akan cerita nanti, kita hanya perlu mendukungnya sekarang." kata Ibu Marissa kembali menahan Mia yang hanya mendengus kesal.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan sekarang seluruh anggota keluarga sedang berada di meja makan. Mereka makan malam dengan tenang, tidak ada satu orangpun yang bertanya tentang permasalahan Franda karena Ibu sudah melarang mereka sebelumnya. Ayah dan Edward yang sebelumnya tidak tahu apa-apa hanya menatap heran pada wanita itu, namun mereka tetap menahan rasa penasaran mereka.


Semua orang tampak menikmati makanan yang dimasak oleh Ibu Marissa, kecuali Franda. Ia terlihat melamun dan hanya mengaduk-ngaduk makanan yang ada dipiring tanpa berniat memakannya. Sesekali Ia menarik napas dalam dan memejamkan mata, tanpa Ia sadari semua orang di meja makan sedang memperhatikannya.


"Panda?" Ayah memanggilnya, namun tidak mendapat jawaban.


"Panda?" panggilnya lagi, dan masih tetap sama.

__ADS_1


Ayah Satya terdiam sebentar, lalu dengan sengaja menumpahkan air yang ada digelasnya agar Franda melihatnya, namun tetap saja tidak ada reaksi dari Franda. Ia sama sekali tidak terganggu oleh air yang tumpah dan meminta perhatian tersebut. Mia yang melihat itu langsung menggoyang bahu Franda, membuat wanita itu tersentak.


"Ya?" katanya ketika tersadar dari lamunannya.


"Habiskan makananmu, kami sudah selesai!" kata Mia.


Franda melihat kearah piring mereka satu persatu yang memang sudah kosong, menandakan mereka benar-benar sudah selesai, lalu kembali menatap piringnya yang masih utuh tapi berantakan karena diaduk-aduk tanpa sadar olehnya.


"Ah, maaf. Aku belum terlalu lapar.". katanya kemudian mendorong maju piringnya.


"Mom, Dad, aku kekamar.". lanjutnya sambil berdiri. Ayah Satya yang melihat itu langsung berasuara.


"Panda, back to your seat!" perintahnya dengan tegas, membuat Franda langsung kembali duduk. Ia tahu Ayahnya tidak suka melihatnya seperti itu.


"Finish your food! Jangan berani melangkah sebelum kau menghabiskannya" Ayah meninggalkam meja makan setelah itu.


Kini hanya ada Franda, Ibu, Mia, dan Edward yang masih duduk. Edward yang sedari tadi diam mencoba memulai pembicaraan.


"Panda, I don't know what happen to you, but I'm not happy to see you like this, nobody is happy now!.Jangan menyiksa diri dengan masalahmu, kau harus menjaga otak dan perutmu agar kau mampu menghadapinya. Stop being stupid!" Edward menatap Franda datar. Ia tidak ingin mencampuri urusan Franda sama sekali, yang diinginkannya hanya melihat Franda baik-baik saja tidak perduli sebanyak apa masalah yang dihadapinya.


"Ya!" kata Franda singkat. Ia mengambil kembali piringnya dan menyendokkan makanan dengan terpaksa.


Franda terus berjuang mengabiskan makannya, dengan susah payah Ia terpaksa menelan sampai habis nasi dipiringnya danterus ditemani oleh tatapan ketiga orang lain di meja makan tersebut.


"Sudah. Aku ingin tidur sekarang!" katanya Franda.


"Tetap ditempatmu!" kata Edward menahan Franda, Ia ingin adiknya menceritakan masalahnya.


"Come on, Ed! I need to sleep now!" protes Franda.


"No! Stay there and tell us what happen!". kata Edward lagi. Ia tidak akan membiarkan Franda kali ini.


"Ed, please..." Franda memohon dengan wajah memelas, bahunya melemas saat melihat Edward yang menatapnya tajam.


"Panda!" Edward memiringkan kepalanya sedikit, isyarat agar Franda bercerita. Ibu Marissa yang melihat itu segera bersuara.

__ADS_1


"Ed, leave her alone now. She need time" kata Ibu Marissa berusaha menghentikan Edward.


"No, Mom! Aku rasa kita berhak tahu apa yang terjadi." Edward menjawab tanpa menatap Ibunya.


__ADS_2