
Aku sudah bangun dan mengguyur tubuhku dengan air hangat dibawah shower. Aku begitu menyukai sensasi hangat yang menyergap tubuh dan tulangku, mataku terpejam menyerapnya. Membiarkannya menyelubungiku agar kekerasan hatiku mencair, dan menghilang seiring air hangat yang mengalir turun.
Aku berderap meninggalkan kamar mandi menggunakan bathrobe putih dan handuk yang menggulung kepalaku. Kulihat Sean sedang memasang dasinya, aku menyambar dasi itu dari tangannya dan membantunya.
Hampir sebulan pernikahan kami, Sean tetap setia dengan ucapannya perihal menungguku. Belum sekalipun dia menyentuhku, kami hanya tidur, makan, dan mengobrol layaknya teman. Perlahan aku mulai bisa menerima kehadirannya, waktu berhasil mengikis rasa tidak nyamanku saat bersamanya. Tak jarang Sean menggodaku dengan sentuhannya, namun dia tetap bertahan dengan janjinya.
Aku tahu tidak mudah baginya menahan hasrat, terlebih saat melihatku yang terkadang tanpa malu-malu mengganti pakaian dihadapannya. Kebiasaanku pasti sungguh menyiksanya, aku sengaja melakukannya untuk melihat sebaik apa pertahanan dirinya, dan dia sungguh hebat menyembunyikan perasaannya.
"Kau sudah mulai mahir melakukan tugasmu sebagai istri, hah!" katanya begitu aku selesai memasangkan dasi dilehernya, kedua tangannya menempel di pinggangku.
Aku tersenyum, "Well, aku pernah menikah sebelumnya, memasangkan dasi sudah menjadi keahlianku selama bertahun-tahun." aku mendaratkan tanganku di pundaknya, lalu bergerak pelan turun ke dadanya, aku bisa merasakan degup jantungnya melalui telapak tanganku.
Sean melabuhkan kecupan dikeningku, kebiasaan setiap pagi yang selalu dilakukannya sejak hari pertama kami tinggal bersama, ditariknya aku masuk kedalam dekapannya, tangan berototnya yang mengurungku selalu hangat dan menenangkan. "Terimakasih sudah mau menjadi istriku." aku mengangguk didadanya, ku usap punggungnya, perlahan aku berjinjit dan mencium pipinya, menjawab ucapannya dengan perbuatan lebih baik daripada kata-kata, belakangan aku tahu Sean lebih menyukai itu.
"Apa kau akan ke butik hari ini?" Sean bertanya sambil mengambil jasnya yang sudah ku siapkan di walk in closet.
Aku mengangguk, ku lepaskan gulungan handuk dikepalaku, "Ada beberapa hal yang harus ku periksa, aku tidak bisa menyerahkan semuanya pada Denise. Dia akan mengutukku karena terus merepotkannya." kutarik hair dryer dari laci meja rias yang sudah berada disana sejak aku mengatur kamar kami.
__ADS_1
Sama seperti dulu, aku tidak mengijinkan siapapun masuk ke kamarku. Hanya aku, Sean, Ben, atau Mia dan Ibu yang terkadang masuk. Mia dan Ibu tetap tinggal bersamaku, oh, Miss Diana juga. Janda itu tidak mau lepas dariku, dia tetap menempel meski aku mengatakan akan membayar pesangonnya dengan gaji setahun penuh. Katanya lebih menyenangkan melihat pria tampan dibanding harus hidup sebagai janda kaya yang kesepian.
Kegiatanku terhenti saat ku dengar ketukan di pintu, aku melangkah dan mendengar suara Ben samar-samar berteriak diluar, bayi itu pasti meronta dan memaksa masuk.
"Daddy!" serunya sambil berlari menghambur ke arah Sean begitu pintu terbuka, Ben sudah mulai terbiasa dengan Sean, bahkan sekarang anak itu lebih sering mencari Sean dibanding diriku. Sean benar-benar tahu cara merebut hati putraku, Sean juga yang mengajari Ben untuk memanggilnya Daddy. Awalnya Ben menolak, tetap memanggil Sean dengan sebutan uncle, namun Sean terus menghasutnya dengan iming-iming lollipop, jadilah anak itu luluh padanya.
Kulihat Sean meraih Ben yang berlari, membawanya ke gendongan dan mencium pipi Ben dengan gemas, "Selamat pagi, Ben! Apa tidurmu nyenyak? Bisakah ceritakan pada Daddy tentang mimpimu semalam?"
Aku melanjutkan kegiatanku mengeringkan rambut, membiarkan Sean mendengarkan celotehan Ben tentang mimpinya yang entah benar atau tidak. Aku tetap mencuri dengar pada ucapan Ben yang menceritakan tentang mimpi lollipop-nya, aku terkekeh ditempatku saat dia mengatakan ada seorang kakek yang memberinya begitu banyak lollipop berwarna-warni didalam mimpinya, Sean terlihat menanggapi dengan antusias, sesekali dia mengucapkan 'oh, ya!' atau 'wow' dengan mimik takjub yang tidak dibuat-buat. Ini daya tarik lain Sean yang membuatku mulai luluh padanya.
Aku memasukkan kembali hair driyer ke laci meja rias, ku hampiri Ben dan Sean yang masih mengobrol di ranjang. "Ben, Daddy harus ke kantor. Bagaimana kalau Ben main dengan Mommy sekarang." kataku sambil berlutut ditepi ranjang. Sean akan benar-benar terlambat jika terus melayani Ben yang terus berceloteh.
Ben memeluk erat Sean, keberatan dengan tawaranku. Kulihat Sean hanya menaikkan alisnya sambil tersenyum, "Ben, ayo! Daddy harus bekerja agar bisa membelikan lollipop yang berwarna-warni seperti yang diberikan kakek dalam mimpimu." ucapanku langsung membuatnya sumringah, dilepasnya pelukan mereka dan menghambur ke arahku. Kata lollipop selalu berhasil.
"Daddy, promise?" katanya sambil menjulurkan kelingkingnya. Sean mengangguk, membalas Ben dengan menautkan kelingking mereka.
Aku membawa Ben mengikuti langkah Sean yang turun kebawah, tak berniat mengganti bathrobe-ku sedikitpun. Kami duduk dimeja makan, bergabung bersama Mia dan Ibu yang sudah lebih dulu berada disana untuk sarapan.
__ADS_1
Obrolan ringan dan menyenangkan selalu hadir saat kami menghabiskan sarapan setiap pagi, kebanyakan kami yang mendengarkan Ben yang tidak bosan membahas lollipop, entah kenapa putraku itu tidak bisa menghilangkan lollipop dari kepalanya. Aku tidak tahu apakah anak lain seusianya juga begitu, yang jelas lollipop selalu menjadi topik pembicaraan kami bersamanya.
Sean sudah menghabiskan sandwich telur dipiringnya, dia bergegas berdiri dan melabuhkan kecupan di pipiku, hal yang sama dilakukannya pada Ibu dan Ben, kecuali Mia. "Aku berangkat," katanya lalu berjalan menjauh, baru beberapa langkah kulihat dia berbalik, "Mia, kau boleh menggunakan mobil yang kau tanya kemarin, minta kuncinya pada Darren." Sean kembali melangkah setelah mengatakan itu pada Mia.
Aku sontak menatap Mia, meminta penjelasan maksud ucapan Sean padanya. Mia mengedikkan bahu, "Aku hanya meminjam porsche-nya sebentar. Lagipula dia juga jarang menggunakannya, jadi, kurasa tidak ada salahnya aku meminjamnya."
Gadis ini mulai lagi, dia selalu memanfaatkan kebaikan Sean. Baru dua minggu lalu dia merengek meminta Sean mengganti Mazda CX5 miliknya dengan Mercedes-AMG GT seharga 2.8 milliar, dan Sean dengan bodohnya menurutinya. Aku protes padanya, namun Sean mengatakan tidak perlu pusing, dengan sombongnya dia pamer bahwa dia bisa mendapatkan uang segitu dalam waktu sebulan.
"Mia, bisakah kau berhenti memanfaatkan kebaikan suamiku? Bukankah Sean sudah membelikanmu mobil yang kau inginkan, lalu kenapa sekarang kau meminjam mobilnya? Jangan katakan kau ingin dia mengganti mobilmu lagi!" kataku dengan gusar, aku malu pada suamiku yang baik dan bodoh itu. Kebaikannya membuatku semakin merasa bersalah karena dia belum menyentuhku sama sekali sampai hari ini.
Aku menatap tajam pada Mia, dia tampak tidak peduli, ucapannya yang berikutnya lebih mengejutkanku, "Kau yang bodoh, kenapa kau tidak mau meminta sesuatu padanya padahal dia bisa memberimu seisi dunia. Apa salahnya jika aku meminta sesuatu pada kakak iparku?"
Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi dengan ini, Mia selalu saja bertindak sesuka hati. Kupukul meja makan dengan kedua tanganku, mataku terpejam menahan kemarahan, sedetik kemudian aku tersadar dan langsung menyesali perbuatanku, Ben menangis ketakutan karena terkejut, kulihat Ibu juga menatapku dengan bingung, bahkan aku sempat mendengar teriakan kaget Miss Diana dari dapur.
"Mia, kita akan menyelesaikan ini nanti." ucapku, kutinggalkan meja makan bersama Ben, aku sempatkan mencium pipi Ibu dan meminta maaf padanya atas sikap kurang ajarku.
"Ben, maafkan Mommy. Mommy tidak bermaksud membuatmu takut, jangan menangis lagi, Sayang."
__ADS_1