
...Sean Danial Warner POV....
Malam ini benar-benar dingin dan gelap karena awan menggantung rendah di langit. Hujan bisa turun kapan saja dan rasanya sangat dingin di luar sini.
Aku sedang berada di depan gedung kantor sekaligus rumahku, berjalan mondar-mandir menunggu Franda pulang entah dari mana. Dia tidak mengatakan apapun padaku saat pergi siang tadi setelah menemui Mia di rumah sakit, bahkan aku tidak bisa menghubunginya sampai sekarang. "Ameer, apakah kau yakin dia baik-baik saja?" tanyaku ingin memastikan sekali lagi.
Ameer sudah menjelaskan padaku bahwa tadi siang Franda sempat menangis di dalam mobil, tetapi katanya dia terlihat baik-baik saja ketika turun. Namun entah mengapa aku tidak merasa begitu. Jika Franda memang baik-baik saja, dia pasti berada di rumah sekarang, bermain dengan Ben selagi menungguku pulang, atau berada di butiknya. Tapi dia tidak ada disana, ponselnya tidak aktif, dan yang membuatku bertambah cemas adalah Franda pergi sendiri, tidak ada sopir atau siapapun yang menemaninya.
"Yes, sir. Dia kelihatan baik saat turun dari mobil."
Aku mengumpat pada Darren berkali-kali dan memuntahkan semua sumpah serapah karena dia sudah memberikan kunci mobil kepada Franda, padahal dia sendiri tahu aku tidak mengijinkan Franda membawa mobil. Aku masih sangat takut sesuatu kembali terjadi padanya mengingat dia mulai terpengaruh dengan kejadian yang menimpa Mia.
Aku memandangi kendaraan dan orang lalu lalang di jalanan sambil memikirkan Franda. Lalu aku melihat mobil berwarna biru yang sangat kukenal menyelinap di antara mobil lain dan Franda berada di dalamnya, seolah sedang mengejar sesuatu. Terlalu cepat... Tidak!
Aku bergegas masuk ke dalam mobil. "Cepat jalankan mobilnya, Ameer. Franda baru saja lewat."
Aku terus memandang ke depan dan beruntung kami bisa mengejarnya. Mobil yang di kendarai Franda melaju sangat kencang seakan dia sedang berada di sirkuit balap mobil. Terbersit sedikit senyum di bibirku karena dia memilih menggunakan Porsche 918 Spider yang baru beberapa hari terparkir di garasi kami, aku sendiri bahkan belum mencobanya. Dia harus membayar ini nanti. Harus.
Kami masih mengikuti Franda dari belakang. Aku bersorak gembira ketika melihat lampu lalu lintas tak jauh dari kami sedang menunjukkan warna merah dan aku langsung melesak keluar dari dalam mobil kemudian segera berlari ke mobil Franda.
Aku mengetuk sisi kiri pintu mobilnya, dan begitu kunci terbuka, tubuhku seketika itu condong menyusup masuk. "Apakah kau bersenang-senang, Franda?" sapaku sambil tersenyum padanya. "Aku kecewa karena tidak diajak." Aku menggodanya.
Bahu Franda terangkat. "Tidak semuanya harus kulakukan bersamamu, Sean." sahutnya cuek.
Aku menoleh sekilas pada lampu yang berubah hijau, lalu dia melihat ke arah yang sama. Tubuhku mendadak menghantam sandaran jok karena Franda menginjak gas kuat-kuat, nyaris membuat mobil kami melayang.
__ADS_1
"Wow, easy, Franda. Kau bisa membunuhku." ucapku gemetar sementara berpegangan erat pada pintu mobil.
Franda menyeringai, dan itu membuatku semakin takut karena dia menambah kecepatan lebih tinggi. Beruntung jalanan mulai sepi karena waktu sudah menuju tengah malam.
"Tenanglah, Sean. Kau sedang bersama pembalap wanita terseksi yang pernah ada." katanya sambil menarik tuas perseneling.
Aku gemetar ketakutan memandang ke depan sementara Franda terlihat santai, bahkan dia tertawa mengejekku. Menyaksikan dia setenang itu membuatku merasa lega, setidaknya Franda terlihat baik-baik saja. Aku belum mengetahui apa yang menyebabkan dia menangis tadi siang, tapi aku bisa bertanya nanti, karena yang terpenting sekarang adalah memastikan kami berdua masih bisa melihat matahari terbit besok pagi.
Mobil kami masih melaju kencang di bawah kendali Franda yang memegang stir seperti orang kesetanan, tak peduli padaku yang ketakutan disebelahnya. Sekarang dia berbelok menuju jalan yang lebih kecil dan sepi lalu mendadak berhenti di depan sebuah kompleks pertokoan yang sudah tutup. Tidak ada siapapun di sekitar tempat ini. Lampu-lampu toko hanya beberapa yang menyala, membuat tempat ini terlihat sedikit menyeramkan.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku sambil memegang bahunya. Franda nampak tersengal-sengal, kemudian tiba-tiba dia mencium bibirku dengan rakus sementara tangannya bergerak liar menyentuh kejantananku dari balik celana.
"Aku menginginkanmu." gumamnya di bibirku. Tangannya tergesa-gesa berusaha membuka ikat pinggang yang melilit di celanaku.
Aku cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya dan bermaksud menghentikannya. "Kita sedang di pinggir jalan." ujarku mengingatkan. Aku tidak mau seseorang melihat kami bercinta disini. Ini area kompleks pertokoan, mungkin saja ada seorang pemulung yang akan melintas lalu memergoki kami. Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi saat itu.
Franda langsung mengangkat tubuhnya dan duduk mengangkang di atas pahaku. Tanpa melepas bibirnya dari bibirku, dia membuka panties-nya dan mengangkat rok gaunnya lalu mengarahkanku pada inti tubuhnya. Detik berikutnya yang terdengar adalah suara Franda yang mendesah dan aku menggeram.
Kedua tangan Franda berpegangan pada sandaran jok di belakangku, dan aku meremas pinggulnya seraya membantunya bergerak naik-turun di atasku. Kepalanya merunduk karena mobil yang kami gunakan memang tidak di rancang untuk melakukan adegan intim di dalamnya.
Aku tidak peduli lagi pada apapun. Masa bodo jika ada orang yang kebetulan lewat dan menyaksikan kami bercinta dengan gila-gilaan di dalam mobil di tepi jalan. Biarkan saja mereka mendapatkan tontonan gratis dari sepasang suami istri paling liar dan paling panas di muka bumi, karena memang begitu kenyataannya. Kami adalah pasangan paling gila satu sama lain dan tidak akan ada yang bisa menandingi kegilaan ini.
Franda menggigit leherku kuat-kuat sampai aku meringis sementara dia meledakkan bagian dalam dirinya yang begitu menakjubkan. Sekujur tubuhnya bergetar, mulutnya menggeram tertahan sementara tangannya meremas rambutku sekuat tenaga. Kemudian tak lama setelah itu tubuhnya melemas lalu bersandar padaku. Dadanya menempel di dadaku dan keningnya menyatu dengan keningku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang masih tersengal-sengal menerpa wajahku.
Aku tersenyum menyaksikan wajahnya yang berkeringat, rambutnya berantakan, namun yang membuatku mendadak gila dan nyaris terserang sesak napas adalah senyum kepuasan yang terbersit di mulutnya. Matanya beradu dengan mataku, menyiratkan cinta yang dalam yang ada di antara kami. Bagiku tidak seorang pun yang bisa menggantikan tatapan matanya, hanya Franda yang akan menatapku seperti itu selamanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, dia menarik wajahnya dari wajahku lalu tawa riang keluar dari mulutnya seakan yang baru saja kami lakukan adalah sesuatu yang lucu, dan aku pun segera ikut tertawa bersamanya.
"Terimakasih, Warner." Franda mencium bibirku sekali kemudian dia mengangkat tubuhnya dan kembali berpindah ke jok di belakang stir.
Aku menggeleng menatapnya sementara memasang kembali celanaku. "Kau memang gila, Franda." Kusandarkan punggungku seraya mengalihkan pandangan darinya. "Apakah kau pernah melakukan ini sebelumnya?"
Aku tak tahu kenapa aku menanyakannya, tapi ada sesuatu dalam diriku yang meminta untuk mengucapkan itu. Mungkin karena dia pernah menikah selama bertahun-tahun dan bisa saja hal seperti ini terjadi dalam pernikahan pertamanya, atau mungkin karena aku terlalu takut mengakui bahwa aku memang masih cemburu pada mantan suaminya. Entahlah, aku tak tahu pasti.
Dia mendengus mendengarnya, sambil mengangkat bokongnya untuk menaikkan panties-nya, dia pun berbicara. "Apa kau sedang bertanya tentang kehidupan ranjangku ketika bersama Nino? Dia tidak sehebat dirimu, Sean. Tenang saja... aku hanya gila saat bersamamu." selorohnya dengan mengerdip.
Aku memberinya senyum kecil lalu mengangkat bahu. "Well, aku selalu ingin kau tergila-gila padaku. Hanya denganku."
Mata Franda menatapku, menyelidik. "Benarkah? Apa kau tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih gila dari ini?"
"Tidak." kataku cepat. "Tapi aku siap untuk merasakannya di masa depan." sambungku lagi.
Franda tersenyum nakal, menggodaku dengan kata-katanya yang liar. "Bagaimana jika bercinta di balkon kamar kita? Kurasa kita perlu mencobanya."
"Deal. Saat siang hari?"
"Deal."
Kami pun tertawa bersama.
***
__ADS_1
Percayalah, aku nulis ini selama empat jam sambil berayun di hammock. Butuh konsentrasi yang tinggi buat nulis bab yang singkat begini. Kalian baca cuma 1-2 menit, sementara aku nulis berjam-jam. Ketik, hapus, ketik, hapus. Gitu terus sampai akhirnya aku rasa pas dan kalian bisa dapat Feelnya waktu membaca. Anyways, terimakasih sudah membaca karyaku. Rencananya aku mau buat cerita Mia di novel baru, tapi masih mikir-mikir. Penasaran gak tentang Mia?