Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 44


__ADS_3

Waktu berlalu cepat, hari demi hari dilalui Franda dan Nino dengan menikmati momen menjadi orangtua sejak bayi mereka masih di dalam kandungan. Franda tampak bahagia meskipun terkadang Ia merasa tidak nyaman dengan tendangan dan pukulan bayi berjenis kelamin laki-laki mereka yang seolah bermain smackdown di dalam perut besarnya. Di usia kehamilannya yang menginjak bulan ke 7 Franda sudah terbiasa dengan berbagai penderitaan seperti yang di katakan oleh Mama Rossa, namun yang paling menyisanya adalah Ia tidak bisa tidur nyenyak saat malam hari.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 1.12 tengah malam, namun Franda belum terpejam sama sekali. Dirinya bergerak gelisah sedari tadi, berkali-kali mengganti arah tidurnya agar mendapatkan posisi nyaman. Ditatapnya wajah suaminya yang tidur dengan pulas di sebelahnya, tidurnya terlihat begitu nyenyak, membuat Franda tidak rela harus menanggung penderitaan ini sendiri.


Franda mengelus pipi suaminya, "Sayang..." kata Franda dengan suara manjanya yang di sengaja, elusan di pipi Nino berganti menjadi tepukan pelan, membuat pria 34 tahun itu mengerjap.


"Hmm..." jawabnya malas.


"Aku tidak bisa tidur, dia mengajakku bermain terus." Franda merengek dan menarik tangan Nino ke perutnya.


Nino menurunkan badannya agar sejajar dengan perut Franda, ditariknya kaos yang di pakai istrinya hingga menampilkan perut besar nan mulus itu, "Ben, jangan menyusahkan Mommy, Sayang. Berikan waktu untuk Mommy istirahat, nanti Ben bisa main dengan papa sepuasnya kalau sudah lahir, sekarang jangan rewel ya." Nino mengelus perut istrinya sambil menciuminya. Franda tersenyum lucu melihat cara suaminya berbicara perutnya, terlebih saat mendengar panggilan Ben yang digunakan Nino sejak mengetahui jenis kelamin bayi mereka.


Nino terus mengelus perut buncit istrinya, awalnya bertaha disana namun perlahan tangannya semakin naik dan kini mendarat di bukit kembar Franda yang juga sedikit membesar mengikuti perkembangan kehamilannya. Franda melenguh saat Nino bermain dengan meremas p'ayudaranya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lainnya juga bekerja di bagian inti, istrinya telihat menikmati setiap cinta yang di berikan Nino melalui sentuhannya.


"Eunghh..."


Nino tersenyum, Ia sengaja memancing istrinya agar istrinya itu bisa beristirahat setelahnya, Nino sudah berpengalaman beberapa bulan ini, Franda akan tertidur saat merasa kelelahan, jadi sebisa mungkin Ia harus membuat Franda lelah. Jika Franda masih segar saat berada dikamar, berarti Nino harus bekerja saat itu juga, seperti sekarang.


Nino menarik pelan lengan istrinya agar duduk, meminta Franda yang mengambil kendali diatasnya, karena itu posisi yang paling baik. Selain membuat Franda nyaman, bayi yang berada di kandungannya juga lebih aman.


"Ayo, kau yang mengambil alih, Sayang!"


Franda menurut, Ia langsung duduk di atas tubuh Nino. "Aku tidak bisa menciummu!" ucap Franda kesal karena jarak tubuh mereka terhalang perut buncitnya.


Nino tergelak, istrinya bahkan langsung kesal hanya karena tidak bisa mencium, "Hahaha, kau kesal karena itu?" tanyanya. Franda mengangguk. Nino langsung mundur sampai bersandar di kepala ranjang, "Nah, begini pasti sampai. Ayo latihan, hahahaha." kata Nino sambil menarik kepala istrinya mendekat.

__ADS_1


Franda tersenyum senang ketika berhasil menyatukan bibirnya dan suaminya. Nino yang melihat Franda sudah oke, langsung melancarkan serangan, bermula dengan bibir, turun ke leher hingga ke p'ayudara istrinya, semua dilahap habis olehnya tanpa tersisa.


Merasa cukup dengan pemanasan, Nino mengangkat tubuh istrinya sedikit dan langsung menghentakkan miliknya dengan cepat, membiarkannya disana untuk beberapa saat sebelum kembali menerbangkan pesawatnya. "Move, baby!" Nino memerintah Franda.


Franda menurut dan mengayun pelan diatas tubuh suaminya, tangannya berpegangan pada kepala ranjang. Sepasang suami istri yang tengah bahagia itu terus berbagi cinta, berbagi kehangatan, saling melayani, saling memuaskan. Keduanya memberi dan menerima, mengungkapkan apa yang mereka rasakan, berkomunikasi dengan tubuh mereka, menyebut nama satu sama lain, dan mengucapkan begitu banyak kata cinta yang tak akan pernah cukup untuk mewakili hati.


Lenguhan, er*ngan, dan des*han terus memenuhi setiap sudut kamar kedap suara itu. Kehamilan Franda membuatnya lebih agresif, dan sedikit liar, membuat Nino seperti tak mengenali istrinya lagi. 3 minggu lalu Franda bahkan secara terang-terangan menggodanya saat makan siang bersama kedua orang tua Nino, dengan tidak tahu malunya Franda meremas bagian inti kehidupan suaminya dibawah meja sambil berbisik, 'Aku menginginkanmu, sekarang!'.


Nino kaget dan malu setengah mati saat melihat mata istrinya yang menatapnya sayu, tatapan mata kelaparan itu bahkan masih di ingatnya sampai hari ini. Saat itu juga mau tidak mau Nino pamit kepada Papa dan Mama, secepatnya dirinya harus membawa istrinya sebelum mereka sadar dengan kelakuan mesumnya.


Franda dan Nino baru saja menyelesaikan percintaan mereka saat ponsel Nino berdering, matanya mrnyipit saat mendapati siapa yang meneleponnya. Tidak ingin menimbulkan masalah, Ia pamit ke ruang kerja pada Franda untuk mengangkat teleponnya. Franda yang lelah hanya mengangguk tanpa sanggup membuka matanya.


Sekitar 10 menit kemudian Nino kembali ke kamar, Ia teringat dengan jadwal periksa kehamilan istrinya besok, "Sayang, kau sudah tidur?" tanya Nino memastikan.


"Hmmm..." istrinya belum tidur.


"Hmm..." hanya itu yang keluar dari mulut Franda. Kantuknya tak dapat dilawan lagi, Ia langsung pulas setelahnya.


Nino menatap istrinya dengan perasaan bersalah, "Maaf aku berbohong, aku tidak mungkin mengatakan Papa Jenny ingin bertemu denganku, aku tidak mau menyakitimu. Percayalah, aku mencintaimu! Hanya mencintaimu, Sayang!" batin Nino, lalu diciumnya kening istrinya lama.


.


Franda sedang bersiap di kamar, hari ini Ia akan memeriksa kandungan bersama Mia. Nino sudah meminta adik iparnya itu untuk menemani istrinya sebelum berangkat tadi pagi.


Mia berjalan masuk ke kamar Franda, "Kau sudah siap?" tanya Mia.

__ADS_1


"Ya, aku akan mengganti baju sebentar." jawab Franda berlalu ke ruang ganti. "Mia, tolong aku!" katanya lagi sambil membelakangi Mia yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Mia berdiri, "Kau masih saja tidak bisa mengancing bajumu," ucap Mia. Dari dulu kakaknya itu memang sulit jika berurusan dengan resleting baju bagian belakang.


Keduanya langsung menuju rumah sakit menggunakan mobil Franda yang di kemudikan oleh Dika, supir yang di pekerjakan oleh Nino untuk mengantar Franda kemana-mana.


"Kita kerumah sakit mana?" tanya Mia didalam mobil.


"Dr. Cher Hospital." jawab Franda singkat.


"Hey, aku baru ingat. Kakak temanku bekerja di Batavia Medical Centre sebagai dokter kandungan, kenapa tidak coba kesana? Ku dengar para pasiennya cukup senang konsultasi dengannya, katanya asik." ucap Mia menawarkan.


"Kau yakin? Aku sebenarnya tidak suka dengan dokterku yang sekarang, terlalu kaku."


"Ya, temanku pernah menunjukkan review-nya di website rumah sakit, dan ratingnya tinggi." Mia mengeluarkan ponselnya dan mencari tentang dokter yang diketahuinya bernama dr. Clara. "Lihat, komentarnya bagus, kan? Kita kesana saja." Mia kembali menawarkan.


Franda membaca sejenak komentar-komentar yang ditunjukkan Mia, lalu mengangguk, "Dik, kita ke Batavia Medical Centre saja, tidak jadi ke Dr. Cher Hospital." perintah Franda pada Dika, supirnya.


Dika Mengangguk, "Ya, Bu!"


Setelah 30 menit mereka tiba di rumah sakit, Franda dan Mia langsung turun sementara Dika menunggu di mobil. Keduanya baru saja berjalan menuju ruang pendaftaran, namun Franda tiba-tiba berhenti saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya berpelukan dengan seorang wanita tidak jauh dari pintu masuk rumah sakit.


"Nino? Itu Nino, kan?" tanyanya pada Mia.


Mia yang mendengar itu langsung mengikuti arah pandangan kakaknya, lalu mengangguk, "Iya, itu kakak ipar. Tapi, siapa yang dipeluknya?" Gantian Mia yang bertanya, Ia tidak melihat wajah wanita yang dipeluk oleh Nino.

__ADS_1


Mia bermaksud mendatangi mereka, tapi Franda menghentikannya. "Ayo pulang!" Suara Franda bergetar, pandangannya kabur akibat air mata yang mulai mengambang. Franda memegang kepalanya yang terasa berat, semakin berat saat melihat dengan jelas wajah Jenny yang berbalik. Franda mencengkeram pergelangan tangan Mia dengan kencang, kakinya lemas seketika. Mia langsung menuntun Franda yang shock kembali ke mobil, tidak memungkinkan kalau harus memeriksa kandungan dalam kondisi seperti ini.


__ADS_2