Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Black Circle


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku baru saja menginjakkan kaki kembali di Indonesia dan masih berada di area bandara saat ponselku tiba-tiba berdering, dan kulihat nomor yang tak kusangka akan pernah menghubungiku lagi.


"Sean?"


"Demian?"


"... kita perlu berbicara."


Demian Adhyaksa. Salah satu teman lamaku di Indonesia yang banyak bergaul dengan gembong narkoba. Langganan keluar masuk penjara akibat bisnis hitam yang dijalaninya. Terakhir aku berhubungan dengannya sesaat sebelum dia ditangkap di rumahku, dan aku nyaris terseret kasusnya. Beruntung saat itu aku tidak termakan omongannya untuk ikut mencicipi salah satu barang haram yang dipakainya. Dan setelahnya dia bagai menghilang di telan bumi. Hampir tiga tahun yang lalu. Kalau Demian meneleponku saat ini, pasti ada sesuatu yang perlu dia sampaikan padaku. Aku harus menemuinya.


Beberapa orang memelototiku saat aku menginjakkan kaki di lobi gedung apartemen, membuatku merasa seperti sepotong daging di atas piring. Untungnya mereka tidak mencoba mengikutiku di dalam lift. Apa yang dilakukan Demian di apartemen di tengah kota seperti ini? Kukira hakim mengirimnya ke penjara untuk waktu yang lama.


Aku memberitahu pihak keamanan supaya aku bisa menggunakan lift pribadi yang ada di lounge VIP. Sebagai pencegahan. Bagaimanapun, karena yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya tentang foto Mia dan Taka, aku tak ingin mendengar satupun pertanyaan konyol soal itu. Itu bukan urusanku meski aku secara tidak langsung tetap terseret dalam kasus ini. Rasa penasaran orang-orang bukan merupakan tanggung jawabku.


Aku berhenti di depan sebuah unit pintu apartemen, memandanginya lalu mengembuskan napas panjang sebelum mengulurkan tanganku untuk menekan belnya. Pintu mengayun terbuka dan aku melihat Demian, atau paling tidak yang tersisa darinya, berdiri di ambang pintu sambil menahan pintunya dengan sebelah tangan.


Tubuhnya terlihat lebih berisi dari terakhir kali aku bertemu dengannya, dan rambutnya di pangkas sangat pendek, serta wajahnya kemerahan. Kini dia jauh lebih mirip dengan teman yang kukenal dulu. Kurasa penjara itu bekerja dengan baik untuknya.


"Sean, sobat, senang bisa melihatmu lagi." Dia berkata sambil menyeringai lebar padaku.


Aku mendengus sinis, "Entah kenapa aku tidak memiliki perasaan yang sama."


Dia tertawa, mengabaikan ucapanku, lalu memberiku isyarat agar mengikutinya masuk ke dalam apartemen. "Kukira kau masih ada di penjara. Apa yang kau lakukan disini, Demian?"


Dia berhenti sejenak, lalu menghadapku seraya membuka kedua tangan di samping tubuhnya. "Aku sepenuhnya sehat dan bugar sekarang, kau lihat?" Kemudian dia menunjuk ke arah perutnya, lalu area di bawah dagunya. "Bahkan sedikit lagi aku akan jadi gembrot."


Aku terkekeh pelan padanya. "Ya, sepertinya cocok untukmu."


Dia membawaku melintasi ruang tamu menuju ke ruangan lain yang lebih besar, dimana terdapat satu set sofa bergaya arabian yang di tata mengelilingi sebuah meja pendek lebar yang terbuat dari pahatan potongan batang pohon jati.


Di salah satu sofa itu, aku melihat seseorang yang paling tidak ingin kutemui. Elnino Wirawan, mantan suami istriku, sedang duduk disana dengan seringai menyebalkan itu di wajahnya.


"Apa yang dilakukan manusia ini disini?" Aku memutar kepalaku pada Demian yang berdiri di sampingku.


"Manusia ini punya nama, kau tahu," Nino berkata sambil meraih sebotol vodka dari atas meja, kemudian menempatkan gelas kosong di hadapannya, lalu perlahan mulai mengisinya. "Dan kebetulan, ini adalah apartemenku."


Aku menatap Demian dengan kedua alis terangkat, menuntut penjelasan darinya sebelum beralih kembali pada Nino. "Permainan apapun yang kau rencanakan, aku bersumpah..."


"Tidak," Demian memotong ucapanku lalu buru-buru berdiri di tengah jarak antara Nino dan aku, seperti seorang wasit yang ingin memisahkan pertarungan.


"Aku tahu kau masih marah padaku, dan juga tak suka padanya. Tapi percayalah, itu bukan hal yang paling penting sekarang," Dia mengangkat kedua tangannya untuk menenangkanku. "Apa yang akan kusampaikan padamu sangat penting, Sean."


Aku menyipitkan mata memandang pada mereka berdua, sulit menebak motifnya. Ekspresinya terlampau serius untuk berpura-pura. Tapi bagaimanapun juga, mengabaikan fakta bahwa mereka berdua pernah berurusan denganku adalah hal yang tidak mudah.

__ADS_1


Demian menghela napas sebelum kembali berbicara. "Aku mendengar desas-desus dari kawan-kawanku yang dulu, orang-orang Malaysia..."


"Maksudmu para gangster itu?" potongku sarkastis.


Dia mengangguk enggan. "Mereka bilang seseorang baru saja membuat masalah dengan bandar mereka, dia berhutang, sangat besar, tapi tidak sanggup membayarnya kembali."


Aku mengertakkan rahang dan menatapnya marah. "Apa itu ulahmu? Setelah apa yang terjadi terakhir kali, kau benar-benar tak bisa menahan diri!"


"Tidak, aku hanya bergaul dengan mereka, bukan berbisnis seperti dulu," bantahnya. "Ada orang lain, dan dia mencoba menjadikan namamu sebagai jaminan. Frank Boseman, adik sepupumu, dia terlibat hutang serius karena judi dan juga obat-obatan."


"Lalu, saat mereka mendatanginya untuk menagih uangnya, Frank bilang kalau dia bisa menghubungimu dan bahwa kau, atau kakaknya, yang akan membayar untuknya." Demian memandangiku dengan tatapan cemas.


Aku sendiri tidak tahu harus berkata apa. Frank, adik laki-laki Dave, adalah sumber masalah. Dia mulai menggunakan heroin sejak berusia tiga belas tahun, dan menjadi pengedar narkoba amatir lalu tertangkap polisi beberapa kali. Dan Dave lah yang selalu membereskan kekacauan yang dia buat. Tapi ini pertama kalinya dia berani menggunakan namaku.


"Dimana dia sekarang?"


Demian menggeleng pelan, "Tak ada yang tahu, Frank sudah menghilang selama beberapa hari. Apa Dave tidak mengatakan apapun soal adiknya padamu?"


Ini bukan pertama kalinya Frank terlibat masalah, dan aku punya firasat ini bukanlah yang terakhir. Dave pernah bercerita, sekitar setahun lalu, dia sengaja menyuruh adiknya tinggal di rumah kerabat mereka di Kupang, NTT. Kota kecil, tenang, jauh dari ingar-bingar, sangat aman. Dia berharap Frank bisa beradaptasi disana dan menemukan jalannya untuk menjadi lebih baik.


Aku sudah memberi tahu Dave saat itu bahwa itu tak akan berhasil. Masalahnya adalah Frank tidak pernah kehilangan jalannya, dia hanya... suka menjadi berandalan. Jadi menempatkan dia disana sama seperti memenjarakannya, hanya menunggu waktu sampai dia memutuskan kabur dan kembali ke kehidupan lamanya.


"Tidak," gumamku muram.


"Sean, kau harus tahu, orang-orang bandar itu... mereka tidak seperti anak-anak muda yang bergaul denganku. Mereka cenderung lebih brutal, dan tidak terlalu peduli pada hukum. Itu sebabnya aku merasa perlu untuk memperingatkanmu, siapa tahu mereka benar-benar mencarimu karena Frank. Kau harus bicara pada Dave mengenai ini."


"Ya, tentu." ujarku getir.


Demian meraih ke dalam saku saat ponselnya berdering, dia memandangi layarnya dengan kening berkerut sebelum mendongak menatapku. "Aku harus mengangkatnya, dari adikku. Selalu saja ingin memeriksa keadaanku." ucapnya jengah.


"Sarah disini? Di jakarta?"


"Ya, hanya untuk beberapa hari, pacarnya sudah kembali ke Korea begitu aku keluar dari penjara. Tapi Sarah memutuskan tinggal disini sementara untuk memastikan aku tidak berulah kembali." Dia meringis lalu bergegas melangkah ke ruangan lain untuk mengangkat teleponnya.


Aku mengalihkan pandangan pada Nino yang masih duduk dengan tenang di tempatnya. Dia menyandarkan diri sembari menyesap vodka-nya sambil menatapku tak acuh. Aku sedang tidak ingin berurusan apapun dengannya, jadi kuputuskan untuk pergi lebih dulu.


Tapi dia tiba-tiba berbicara, "Berapa lama lagi?"


Dia sudah berdiri ketika aku membalikkan tubuh menghadapnya, dia menaruh gelasnya yang sudah kosong ke meja lalu berjalan menghampiriku.


"Apa?" sahutku datar.


"Berapa lama lagi kau berencana menahan Franda?"


Aku mendengus. "Dengar, aku tidak memiliki urusan apapun denganmu, dan jika kau telah menyusun rencana untuk mengganggu pernikahan kami, sebaiknya kau berhenti sekarang karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh istriku."

__ADS_1


Matanya berkilat marah menatapku. "Ini bukan yang diinginkannya! Aku mengenalnya, lebih baik daripadamu. Lingkunganmu yang rumit, ini semua takkan pernah membuatnya nyaman. Itu sebabnya aku selalu berusaha menariknya darimu, menjauhkan dia dari segala sesuatu yang membuatnya semakin kondisi mentalnya parah, tapi kau, dengan seenaknya menyeretnya semakin jauh ke dalam."


Sebenarnya, seberapa jauh Nino mengenal Franda? Franda tidak pernah menceritakan apapun padaku selain masalah perceraian mereka, dan aku juga tak pernah ingin tahu. Tapi jika Nino cukup mengenalnya, dia pasti tahu sesuatu tentang hal yang diinginkan Franda. Hidup bahagia bersama pasangannya, sesederhana itu.


Aku tertawa sarkastis yang membuat raut wajah Nino kian menggelap. "Kau tidak tahu apapun, kan? Franda hanya ingin menjalani hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya tanpa perlu khawatir orang itu mengkhianatinya. Dan aku tidak akan melakukan hal bodoh sepertimu, bung!"


Aku melangkah maju dan berbicara di dekat wajahnya sambil menekan setiap kata yang kuucapkan. "Jadi, jika kau sudah memutuskan untuk menjadi penonton sejak awal, maka tetaplah seperti itu, dan biarkan aku yang membuatnya bahagia dengan kehidupannya." Aku menikmati ekspresi tercengangnya dengan puas sebelum berbalik pergi meninggalkannya.


Tentu saja dia tidak akan tahu. Yang dia lihat hanyalah Franda yang baik dan tulus, serta selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya. Tapi Franda lebih dari itu. Nino hanya melihat Franda seperti yang dia harapkan, sementara aku ingin melakukan apapun untuk membuat Franda bahagia.


"Kau dengar sendiri apa yang dikatakan Demian tadi, kau bisa membuatnya berada dalam bahaya jika orang-orang itu mencarimu, Sean!" Aku mendengar dia berseru di belakangku.


Aku mencengkeram sisi pintu saat mendengar perkataannya, lalu sesaat sebelum melangkah keluar, aku menoleh sekilas dan berkata padanya, "Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya."


Dalam perjalanan pulang, aku mendatangi apartemen Dave. Hanya untuk menemukan bahwa tempat itu masih kosong. Tidak seorangpun menjawab bel pintunya, dan salah seorang tetangga yang tinggal berseberangan dengan Dave mengatakan tak pernah melihatnya sejak seminggu yang lalu.


Ini tidak ada gunanya. Aku pasti sudah menemukannya jika dia memang mau di temukan. Dan dia jelas punya alasan kuat untuk menghilang sekarang, setelah kontrak senilai dua triliun rupiah itu dicairkan. Aku mengumpat pelan di bawah napasku lalu bergegas pergi menjalankan mobilku meninggalkan gedung apartemen itu.


Beberapa menit berjalan, ponselku berdering. Aku mengamati nomornya dan terasa asing. Tapi aku mengenali kode area-nya, nomor telepon Malaysia. Aku menepikan mobil dan mematikan mesin.


Ponselku masib terus berdering, dan alih-alih menjawabnya, aku hanya memandanginya, seolah sedang menggenggam benda asing di tanganku. Rasa was-was menghinggapiku. Aku tak tahu kenapa. Tapi firasat yang mengalir di sepanjang tulang belakangku mengatakan sesuatu yang tak bisa di jelaskan.


"Mungkin aku harus menjawabnya." Aku mendengar suaraku sendiri berbicara, yang nadanya lebih mirip pertanyaan.


"Siapa ini?" tanyaku, penuh antisipasi.


Terdengar tarikan napas berat yang gemerisik dari ujung telepon, yang mengisyaratkan jika dia seorang pria. Hening sesaat selain deru samar-samar seperti logam yang beradu. Bukan telepon iseng, jelas sekali. Tapi suara yang kudengar saat dia mulai berbicara membuat sekujur tubuhku kaku dan tegang dalam sekejap. Jemariku yang menggenggam ponsel mengetat hingga nyaris ingin meremukkannya.


"Ini aku," Dia berkata, yang terdengar seperti geraman pelan.


"Keparat!" aku mengumpat di bawah napasku.


"Aku tahu ada alasan untuk kau merasa marah padaku saat ini, Sean. Terutama karena kontrak itu, tapi..."


"Apa kau bercanda?" semburku. "Aku tidak marah padamu, Dave. Itu bahkan masih terlalu bagus untukmu. Aku menyesali setiap harinya saat aku masih percaya padamu. Kau pengkhianat hina!"


Kudengar helaan napas panjang dari seberang sebelum dia berkata kembali. "Aku tidak bermaksud membuat masalah, tapi situasi pelik yang kuhadapi di luar kemampuanku untuk menyelesaikannya, Sean. Lagi pula uang itu, aku tidak memakainya sepeserpun."


"Dan kau berharap aku mempercayainya?" sahutku garang.


"Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi dengar dulu..." suaranya kini menjadi makin mirip bisikan. Terdengar was-was, seolah dia takut seseorang mendengarnya.


Tentu saja dia punya alasan yang kuat untuk merasa begitu setelah apa yang diperbuatnya. Kuyakin saat ini dia tengah bersembunyi, mengendap-endap di suatu tempat, persis seperti seorang kriminal. Tunggu. Bukankah ini akan jadi kesempatan bagus bagiku untuk menemukannya?


Segera kuubah mode panggilan, lalu menghidupkan alat perekam pada ponselku sebelum bicara padanya.

__ADS_1


"Jadi, kau ada dimana sekarang?"


__ADS_2