Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
End of Game.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku harus bersabar, ini hanya sementara. Ya, ini hanya sementara.


"Apa yang kau lakukan, Franda?" Aku bertanya dengan nada yang sedikit keras sambil bertolak pinggang dan menggelengkan kepala berkali-kali.


Franda, wanita yang selama ini kukenal anggun dan lemah lembut itu sudah hilang. Semua keanggunannya menguap sejak dia terbangun dari koma dua bulan lalu. Aku nyaris putus asa menghadapi tingkahnya yang mengerikan. Dia nyaris membunuhku dengan kebiasaan barunya yang luar biasa.


Kamar kami yang dulu selalu rapi tertata sekarang tidak ada bedanya dengan kapal pecah. Pakaian berserakan di sana-sini, memenuhi setiap sudut kamar. Di ranjang, di sofa, di atas nakas, sampai ke meja rias. Semua penuh dengan pakaiannya. Aku tidak sanggup percaya pada apa yang kusaksikan sekarang.


Dia sedang menari-nari di atas ranjang dengan sebelah tangan memegang sisir yang dia gunakan sebagai mic, dan dia menyanyi mengikuti suara Cindy Lauper yang menyanyikan Girls Just Wanna Have Fun melalui pengeras suara yang di sambungkan ke ponselnya. Rambutnya acak-acakan, dan dia hanya mengenakan kaus hitam milikku yang kebedaran di tubuhnya tanpa mengenakan celana.


Aku tidak keberatan dengan penampilannya, tapi... Ya Tuhan, dia benar-benar berubah. Tingkahnya seperti remaja liar yang menikmati hidup dengan sesuka hati. Dan sekarang dia melompat turun dari ranjang, berlari ke arahku lalu memanjat naik ke tubuhku.


"Kau sudah pulang, bear?" tanyanya seraya menciumku membabi-buta. Hubungan kami memang semakin dekat seiring berjalannya waktu. Franda sudah bisa menerimaku dan juga keluarga kami, perlahan dia mampu beradaptasi dengan kami walaupun terkadang masih merasa asing dengan kami.


Namun aku tak sepenuhnya kecewa dengan perubahannya karena banyak hal yang patut untuk di syukuri. Pertama, dia kembali padaku walaupun dengan jiwa yang berubah, lalu dia terlihat tidak terbebani seperti dulu. Jiwanya bebas dan dia terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Tentu saja aku merasa senang dengan kenyataan itu, satidaknya satu kekhawatiranku menguap untuk sementara.

__ADS_1


Aku tersenyum padanya, melupakan sejenak kekesalanku tadi lalu balas mencium keningnya. "Kau mengerikan, Franda." gumamku dengan raut wajah berpura-pura takut.


Masih berada dalam gendonganku, dia tertawa. Mencium bibirku beberapa kali. "Itu karena aku menikah dengan monster." Kemudian dia tertawa lagi.


Aku berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sambil berjalan menuju ranjang, aku membalas perkataannya. "Aku baru tahu bahwa orang yang kehilangan ingatan bisa berubah drastis sepertimu." dengkurku, lalu menurunkannya di tepi ranjang. Mataku beralih pada sekeliling kamar yang kini hancur lebur. "Lihatlah... Apa kau tidak terganggu dengan pemandangan kacau ini?" tanyaku, tak habis pikir dengan apa yang kulihat sekarang.


"Tidak." jawabnya cepat. Membuatku menarik napas dalam-dalam. Aku pun melangkah memunguti semua pakaian itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor yang terletak di sudut ruang ganti.


Aku berderap kembali, berniat untuk mandi, namun ucapan Franda membuat langkahku tertahan. "Ya ampun... dia sangat tampan." gumamnya dengan mata berkilat menatap layar ponsel. "Astaga, celananya terlalu ketat. Aku bahkan bisa melihat sesuatu yang luar biasa sedang terjebak disana." Kini dia terlihat seperti akan meneteskan liur sementara aku terkesiap, tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Oh Tuhan... bear! Senyumnya manis sekali." Mendadak dia mendekat padaku lalu menyodorkan layar ponselnya. Seketika itu aku menggeram dan mengumpat dalam hati. Franda sedang menunjukkan video seorang pegolf pria profesional Adam Scott, yang tengah menunggu giliran untuk bermain. "Dia benar-benar sempurna, bukan?"


Dan dia meresponku dengan tertawa kencang. Tangannya terangkat naik memukul lenganku pelan. "Tenanglah, bear. Aku tidak akan berselingkuh dengannya karena dia tidak mungkin berada disini." sahutnya santai, masih terkekeh.


"Apa maksudmu?" tanyaku penuh kemarahan.


Franda berdecak. "Ah, kau terlalu kaku." Dia berbalik lalu melompat naik ke ranjang. "Aku bukan wanita yang akan berkhianat meski aku sendiri masih meragukanmu." dengkurnya sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Maksudku, kau tahulah... aku belum yakin dengan pernikahan kita."

__ADS_1


Mendadak tubuhku lemas dan aku menunduk. Kesadaranku kembali dengan cepat begitu mendengar perkatannya. Franda memang belum sepenuhnya percaya padaku. Jarak di antara kami masih jauh jika membahas pernikahan. Aku tidak menyalahkannya dalam hal ini, tetapi tetap saja aku merasa kesal dengan keadaan yang menyebabkan pernikahanku kacau.


Situasi ini sangat menyulitkan bagiku. Aku merasa terpojok dan buntu. Tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ingatan Franda karena dokter mengatakan dia akan sembuh dengan sendirinya, dan aku harus membantunya dalam menggali kembali ingatannya. Namun aku tidak tahu harus memulai dari mana, memaksanya mengingat sesuatu dengan menekannya akan membuatnya lebih menderita.


Aku membuang napas kasar lalu mengangkat kepala menatapnya, dan bergerak maju mendekatinya. "Franda," panggilku pelan. Dia menoleh. "Bisakah kita membuat semua ini lebih jelas? Aku tahu kau sedang berusaha menolak semua masa lalumu yang berat, kau sengaja berusaha melupakannya dan berpikir bahwa hidupmu tidak memiliki beban apapun saat ini." Aku berhenti sejenak, beradu tatap dengan matanya.


Mata cokelatnya yang dulunya selalu menatapku penuh cinta, kini berubah datar. Aku tahu dia tidak bermaksud melupakanku dan dia pantas mendapatkan ketenangan dengan menghilangkan ingatannya, tapi cara dia memandangku sekarang sangat menggangguku.


Aku berdeham. "Namun kumohon... lihatlah aku sebentar saja. Aku merindukanmu yang dulu, aku merasa hampa dengan hubungan kita yang sekarang. Aku putus asa menghadapi sikapmu yang seakan tidak mau memberiku kesempatan, Franda." Aku menarik napas dalam dalam, meraih tangannya lalu menggengamnya erat-erat, berupaya menunjukkan bahwa aku serius dengan ucapanku. "Aku tidak masalah jika harus mengenalkan diriku lagi padamu dan mengulang semuanya, kita bisa melakukannya jika itu yang kau mau. Tapi, bukalah hatimu untukku." tambahku bersungguh-sungguh.


Tadinya aku berharap dia akan membalas sama seriusnya denganku, tapi aku salah. Franda tersenyum geli, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Sampai dia memegangi perutnya yang mungkin terasa melilit, sampai air matanya ikut keluar, dan tiba-tiba dia menangkup pipiku.


Matanya menatap dalam ke mataku. Kemudian dia memajukan wajahnya dan menciumku. Franda mencicipi bibirku dengan rakus dan ganas. Lidahnya liar membelaiku, membujuk agar aku membalas ciumannya. Tapi aku terlalu terkejut dengan perubahannya, otak dan tubuhku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Ketika dia menarik diri dariku, aku terhenyak dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. "Aku mencintaimu, Sean."


Aku masih bingung dan heran dengan keadaan yang tiba-tiba terasa seperti dulu sementara dia terus melanjutkan ocehannya. "Apakah separah itu rasa putus asamu, Sean? Maaf kalau aku mengecewakanmu, aku melakukannya karena tidak mau membuatmu dan yang lainnya merasa terbebani denganku. Kurasa... sudah waktunya kau mengetahui ini."

__ADS_1


Aku mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"


__ADS_2