Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
It's Too Hurt


__ADS_3

Kuhirup napas dalam-dalam sambil memandangi pintu masuk rumah sakit tempat dimana Mia di rawat. Aku bisa mencium aroma penyakit yang nyaris membuatku mual. Ini benar-benar tempat yang paling tidak ingin di kunjungi oleh siapapun. Termasuk diriku.


Semalam Edward dan Sean memaksaku kembali kesini untuk berbicara dengan Mia. Sejujurnya aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku dua hari lalu, aku mengatakannya semata-mata ingin Mia menyadari kesalahannya dan memberitahu kami siapa pria yang menjalin hubungan dengannya hingga membuatnya hamil. Tapi Mia terlalu keras. Sampai hari ini dia masih menahan mulutnya untuk menyebutkan nama pria itu. Dan aku sudah muak dengan tingkahnya yang kekanakan.


Kami berusaha membantunya sebelum Ibu mengetahui masalah ini, namun dia tidak bisa menangkap maksud kami.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah sakit sambil berharap Mia akan menurut kali ini dan tak membuat masalah semakin panjang. Aku khawatir terjadi sesuatu pada Ibu jika dia mengetahui masalah ini. Dia sudah terlalu tua untuk menerima 'kejutan', jantungnya tidak akan siap menghadapi berita yang pasti akan mengejutkan siapapun yang mendengarnya.


Sambil membuang napas, aku membuka pelan pintu ruang perawatan Mia, dan saat itulah aku mendengar pembicaraan yang membuat darahku naik dengan cepat hingga memenuhi setiap sel di kepalaku.


"Jadi, kau senang dengan situasi ini?" suara Denise yang sedang menjenguk Mia terdengar bingung bertanya.


Mia menganggukkan kepala sambil meneguk air mineral dari botol.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak menyukainya. Dia terlalu mengaturku. Semua yang di lakukannya membuatku muak dan nyaris gila." Mia meneguk airnya lagi sebelum melanjutkan. "Dia bersikap seolah paling berkuasa atas hidupku. Hah, kau bahkan tidak tahu bagaimana menyedihkannya kehidupanku dulu. Aku diharuskan mengalah padanya setiap saat dan tidak seorangpun yang peduli pada perasaanku."

__ADS_1


"Aku bahkan mati-matian mengurus anaknya sementara dia sibuk melalukan sesuatu yang tak jelas tujuannya."


Botol air berbahan plastik di tanganku mengeluarkan suara berderak nyaring saat aku tanpa sadar mencengkeramnya begitu erat. Denise yang pertama melihatku terkejut, wajahnya memucat menatapku lalu dia melirik cemas pada Mia, yang kemudian mengangkat kepala dan bertemu pandang denganku. Ekspresinya nampak terkejut seperti Denise, namun hanya sesaat.


"Kau datang, sissy?" ujarnya santai. "Bukankah kau mengatakan kita tidak memiliki urusan apapun? Bukan saudara atau semacamnya? Kurasa aku tidak memintamu datang." Mia kembali meneguk airnya sambil menatapku.


Kakiku bergerak cepat mendekatinya sebelum aku sempat memikirkan apapun dan langsung menampar pipinya. Mia mengerang menyentuh pipinya yang memerah bekas tamparanku, lalu dia tertawa pelan. "Kau baru saja menamparku."


"Apa maksud ucapanmu?" geramku.


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeringai sinis. "Kau tidak akan pernah mengerti, kau si anak emas, pilihan pertama semua orang." Dia berkata sinis. "Kau mengambil semuanya dan mencampakkan semuanya, bertingkah seolah-olah kau pusat dari segalanya dan yang lain hanyalah sisa-sisa, itu benar-benar membuatku muak." Mia menatapku penuh dengan kebencian.


"Kau tahu apa masalahmu, Mia? Kau bicara seolah aku penyebab dari hidupmu yang menyedihkan. Tapi kenyataannya adalah, kau hanya iri dan berusaha membuatku terlihat buruk sehingga kau merasa lebih baik." Mulutku berdecak lalu meletakkan makanan yang kubawa di atas meja. "Aku merasa kasihan padamu." kataku dingin sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Mia bersama Denise di dalam.


Ameer terlonjak kaget saat aku tanpa sadar memukul kaca jendela di sampingku. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya sepanjang perjalanan dari rumah sakit sampai kembali ke gedung tempat tinggalku.


Kepalaku mendadak berat. Aku menahan sesak yang menghimpit dalam dadaku kala teringat ucapan Mia di rumah sakit tadi. Entah aku harus merasa bersalah atau marah, tapi kata-katanya membuatku kecewa. Selama ini aku berpikir kami baik-baik saja, setidaknya dia baik-baik saja.

__ADS_1


Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Mia dan keluargaku, bersungguh-sungguh ingin membalas semua upaya mereka ketika membantuku melupakan kejadian buruk yang menimpa kedua orangtuaku, membayar semua pengorbanan yang sudah mereka lakukan. Demi Tuhan, aku memang melakukannya.


Semua yang kulakukan selama ini tak lain untuk menyenangkan mereka. Aku bekerja agar Ayah dan Ibu bangga padaku sekaligus memenuhi semua kebutuhan Mia meskipun aku tahu Ayah dan Edward bisa memberikan apapun yang diinginkannya. Tapi kenapa dia tidak melihat semua upayaku itu, dan sekarang dia mengatakan aku mengambil semua darinya? Dan kalau pun benar, bagian mana yang kurebut darinya?


Ayah dan Ibu memperlakukan kami secara adil, mereka memberikan apa yang kami butuhkan, perlakuan mereka sama terhadap kami semua. Ketika mereka memberiku sesuatu, Mia dan Edward juga mendapatkannya, dan begitu sebaliknya saat Ayah dan Ibu memberikan Mia atau Edward. Satu-satunya yang membuatku merasa spesial adalah ketika mereka bersikap berlebihan dalam menyayangiku. Tapi mereka melakukannya karena saat itu memang aku sedang terguncang.


Orang-orang selalu berkata dengan iri padaku. "Kau sangat beruntung, terlahir dengan sendok perak di mulutmu, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan dan pergi kemanapun kau mau." Aku tak menyalahkan mereka. Kurasa mereka tidak tahu, bahwa setiap hal yang mahal dan indah selalu memiliki sejarah yang kelam di baliknya.


Siapa yang menginginkan hidup sesulit ini? Tidak seorang pun yang mau. Ditinggal mati oleh orang tua saat kecil, menghabiskan waktu dua puluh empat jam setiap minggu selama dua tahun dengan psikiater, dan di paksa meminum segala macam obat. Saat itu aku merasa semua orang berusaha membunuhku dengan obat-obatan itu, mereka seakan ingin melenyapkanku dari dunia, dan mungkin lebih baik jika itu adalah kenyataannya.


Mataku mulai terasa panas menahan air mata yang menggenang, pandanganku ikut buram karenanya, dan ketika aku terpejam, pipiku terasa hangat saat air mata itu mengalir. Tanganku naik meremas dada yang kini semakin sesak.


Apa yang dikatakan Mia benar-benar menghantam pikiranku, membuatku merasa ingin mati detik ini juga. Aku ingin menyalahkan orang lain, tapi siapa yang harus kusalahkan? Aku sendiri tidak pernah mengharapkan kenyataan sepahit ini menerjang hidupku. Aku tidak pernah meminta kedua orangtuaku untuk pergi meninggalkanku dan menitipkanku pada orang lain.


Kalau boleh memilih, aku juga menginginkan kehidupan seperti orang lain. Hidup bahagia bersama papa dan mamaku, memiliki kenangan masa kecil yang menyenangkan, tumbuh dan menjadi dewasa di samping mereka sampai menyaksikan mereka tersenyum bangga ketika aku berhasil mencapai sesuatu.


Aku ingin kedua orangtuaku yang mengantarku saat hari pertama aku sekolah, mengajariku saat malam hari lalu membacakan cerita sampai aku tertidur, lalu melihat mereka tersenyum menyapaku ketika aku terbangun di pagi hari.

__ADS_1


Aku ingin mamaku mengikat rambutku, atau mengajariku menggunakan perlengkapan wanita, atau memasak bersamaku, dan papaku menyuapiku makan, atau sekedar membantuku melakukan pekerjaan rumah. Tapi aku tidak pernah merasakannya dan aku tidak bisa memilih meskipun aku sangat menginginkannya.


Oh Tuhan, kenapa Kau memberiku kehidupan sesulit ini?


__ADS_2