Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Pengganggu.


__ADS_3

Aku terbangun seperti kemarin, dengan keadaan polos dan puas. Sean menghajarku selama berjam-jam, dan membangunkanku kembali saat matahari hampir terbit hingga langit terang. Pagi buta tadi, dia menggoyangkan pinggul dengan liar dan lihai, melontarkan kata-kata kotor dan kasar. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku bersedia menjadi wanita nakal untuknya, menanggung hasratnya yang menggebu-gebu, brutal dan tanpa ampun. Namun apabila menyerahkan semuanya padanya, maka yang kuterima bukan siksaan, tapi kenikmatan.


Beruntung sekali, aku adalah wanita yang menerima serbuan gairahnya. Tidak ada tempat untuk wanita lain karena Sean sudah berjanji padaku. Meskipun begitu, aku tidak bisa terlalu percaya padanya. Mengingat banyak wanita yang rela menyerahkan diri padanya, aku merasa perlu menjaga milikku agar kejadian saat bersama Nino dulu tidak kembali terjadi dalam pernikahanku bersama Sean.


Aku menghela napas dan berpaling kesamping menatap pria yang sudah memberiku kepuasan. Tirai yang tidak tertutup sama sekali, membiarkan cahaya matahari masuk dan menerobos hingga ke ranjang menyoroti wajah suamiku yang kelelahan.


Keringat bahkan belum kering dari kulitnya. Dan aroma percintaan masih sangat kuat menyebar. Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkan wanita lain terbangun disampingnya dalam keadaan intim seperti ini. Menyaksikannya pulas, dengan raut sombong dan kekanakan. Tentu saja, Sean berhak sombong karena berhasil membuatku puas dan mencapai puncak berulang-ulang.


Puas memandangnya dan tak ingin mengganggunya, aku beranjak turun dari ranjang. Astaga, aku masih bisa merasakannya di antara kedua pahaku, dan kakiku masih kram dan gemetar. Ada perih sedikit namun lebih besar rasa nikmat yang kudapatkan. Dengan perlahan aku melangkah ke dinding kaca. Separuh jalan, aku pun merinding.


Semalam aku sama sekali tidak melihat bercak-bercak telapak tangan menempel di kaca. Namun siang ini, aku melihat bercak tanganku yang kecil dan bercak tangan Sean yang besar menempel hampir di seluruh bagian yang menghadap ke laut. Kursi bergeser dan bantal-bantal berserakan. Bahkan masih ada jejak basah di permukaan meja dan lantai.


Semalam memang per-smackdown-an yang gila-gilaan. Di lain kesempatan, aku akan membagikan kisahku pada dunia saat aku hanya mampu terbaring telungkup dan mencengkeram permukaan seprei dengan tanganku yang rapuh, sementara Sean mengangkat bokongku amat tinggi dan menghujamkan tubuhnya yang kuat dan besar ke dalam diriku yang merekah dan penuh air.


Setelah menutup tirai kamar agar dia bisa tidur lebih nyaman, aku melangkah ke kamar mandi. Aku ingin berendam di air hangat untuk waktu yang lama. Untuk mendapatkan relaksasi yang maksimal, aku memasukkan bath bomb beraroma lemon. Berendam menggunakan bath bomb itu superfun, aromanya akan masuk ke saraf-saraf penciuman dan menenangkan pikiranku, lalu membuatku lebih rileks.

__ADS_1


Aku berendam selama 20 menit, lalu beranjak ke shower dan membilas tubuhku.


Aku berpakaian dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Sean yang terlihat nyenyak. Mataku kembali menangkap sekotak perhiasan yang diberikan Sean semalam, aku berkaca-kaca mengingat betapa beruntungnya aku memiliki pria sehebat Sean. Kalau dulu aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil, sekarang aku menginginkannya. Aku mendambakan kejutan-kejutan yang akan kuterima dari Sean. Apapun bentuknya, jika dia yang memberikan itu, aku pasti menyukainya.


Kuhabiskan waktu untuk mengecek laporan butik sementara Sean tertidur. Jemariku aktif membuka beberapa email yang di kirim oleh Denise, tidak ada yang spesial dan terlalu menarik perhatian, kecuali rentetan panjang pesan Denise yang meminta penambahan bonus. Well, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan keadaan.


Duduk di teras didepan kamar, aku tersentak saat tangan Sean tiba-tiba melingkar di dadaku, membalikkan kepala dan menatap wajahnya yang berantakan, aku terkekeh. "Good morning, Sugar Daddy!" sapaku dengan genit dan tersenyum geli. Sean mendengus, namun belum sempat dia menjawab sapaanku, terdengar dering ponselnya yang berteriak dari dalam kamar.


Sean tersenyum dan mencium pipiku sekilas, "Good morning, Sugar baby!" katanya, lalu dengan langkah malas dia berjalan kembali ke kamar. Samar-samar aku mendengar Sean menjawab panggilan dengan nada tak suka. Tentu saja, tak ada orang yang senang di ganggu ketika sedang berbulan madu. Bisa kutebak seseorang yang meneleponnya pasti mengganggunya dengan urusan pekerjaan.


Berselang tiga menit kemudian, Sean mendekat dengan wajah kusut. Entah apa yang di sampaikan si penelepon padanya, tapi aku yakin percakapan tadi pasti membuatnya gusar. Sean memelukku dari belakang, aku meremang saat bibirnya menyentuh leherku untuk mencium aroma tubuhku, helaan napas berat terdengar sebelum dia berucap, "Aku minta maaf... Sepertinya bulan madu kita terganggu, ada sedikit masalah terjadi di kantor."


Suamiku kembali membenamkan wajahnya ke leherku, sementara tanganku terus mengusap rambutnya yang berantakan namun tetap terlihat seksi, "Aku berjanji akan mengajakmu kembali kesini secepatnya. Dan saat hari itu tiba, kupastikan bukan gangguan yang kau dapatkan, melainkan kenikmatan hingga kau tidak ingin beranjak turun dari ranjang." katanya, lalu melabuhkan ciuman hangat di pipiku.


Aku merinding mendengar janjinya yang mendebarkan, jantungku berdegup sangat kencang sampai rasanya ingin meledak. Membayangkan ucapannya yang vulgar dan terus terang, tubuhku bereaksi dengan cepat. Aku berdiri dan berbalik, sebelah tanganku menggantung di pundaknya, sementara sebelah yang lainnya menyentuh dadanya yang keras, aku berjinjit untuk mendekatkan bibirku ke bibirnya, aku menggodanya dengan bisikan yang kubuat seseksi mungkin, "Aku tidak sabar menunggu hari itu datang, Mr. Samson!"

__ADS_1


Bibirnya terangkat, kedua tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya berpindah pada bokongku, meremas dengan nakal dan berakhir dengan satu pukulan lembut disana, napasnya mulai memburu dengan rahang mengeras, "Apa kau sedang merayuku? Aku bisa membuatmu menjerit disini kalau kau mau, masih ada waktu untuk satu putaran cepat. Katakan saja."


Sialan!


Darahku berdesir, tapi aku tidak ingin kalah, "Disini? Diteras ini?" tantangku, tatapanku turun seiring tanganku yang naik menyentuh lehernya. Urat-urat nadinya yang tebal sukses membuatku menelan liur.


"Ya, disini. Bukankah kau ingin seisi lautan menyaksikan kebahagiaanmu, Sweety? Kita bisa membuat mereka iri sekali lagi."


Sialan, Sean benar-benar membuatku gelap. Sekujur tubuhku tegang saat tangannya mulai naik menjalari punggunggku. Mataku terpejam, napasku tersengal, mulutku kering, kedua kakiku merapat menahan denyutan di antara kedua pahaku.


"Apa kau menginginkannya, Sayang?"


Ya, aku menginginkannya. Tapi aku sadar ada hal lain yang lebih membutuhkan dirinya. Aku tidak ingin menjadi egois. Dengan gairah yang terpaksa kutahan, aku membuka mata dan tersenyum, "Tidak, kita harus pulang. Ada yang lebih penting untuk kau lakukan, aku bisa menunggu sampai sesi percintaan berikutnya." kataku dengan lantang, berupaya menetralkan debaran di dadaku yang kencang.


Sean tersenyum, ditariknya tengkukku dan mencium bibirku dengan lembut, "Kau sangat pengertian, Sayang." katanya setelah ciuman kami terlepas.

__ADS_1


***


Komen lagi, update lagi!😘


__ADS_2