Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Going Crazy


__ADS_3

Edward terus memaksa Franda agar mengatakan masalah apa yang dihadapinya kini. Selama ini Edward memang terlihat tidak mau tahu dengan masalah pribadi Franda, tapi kali ini Ia tidak bisa acuh begitu saja setelah melihat sikap aneh adiknya itu, belum lagi tubuh Franda yang terlihat lebih kurus dari saat terakhir Ia melihatnya.


"Tidak sekarang, Ed! Tolong... Aku tidak ingin berbicara apapun sekarang. Beri aku waktu sedikit, aku ingin tenang sebentar. Lagipula ini masalah rumah tanggaku, aku tidak punya kewajiban apapun untuk menceritakannya padamu atau siapapun. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri!" Franda berkata dengan raut sedih sekaligus memohon pada kakaknya, lalu menunduk dan menopang wajahnya dengan tangan diatas meja. Air matanya mulai tumpah.


Edward terdiam mendengar kata-kata adiknya, Ia merasa bersalah seketika. Ia tidak menyangka Franda akan menangis seperti itu, dan akhirnya Ia menyadari sikapnya yang berlebihan.


"Istrirahatlah." katanya singkat lalu berjalan meninggalkan meja makan, diikuti Franda yang juga berjalan menuju kamarnya dilantai dua.


Franda langsung menghempaskan tubuhya diranjang, menarik selimut dan memejamkan mata. Memikirkan tentang semua yang telah terjadi selama belakangan membuat kepalanya pusing, Ia tidak tahu apakah keputusannya kali ini sudah tepat atau tidak. Tidak mudah baginya menerima kenyataan pahit seperti ini. Kehidupannya benar-benar kacau sekarang, Franda tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjalankan hidupnya kembali. Semuanya begitu cepat, Ia tidak pernah menyangka akan mengalami kehidupan pernikahan yang tragis.


Franda terkejut dan membuka mata ketika mendengar dering ponselnya yang Ia lupakan seharian ini. Franda mengerutkan keningnya ketika melihat Sean yang menelepon, Ia masih kesal dengan kata-kata Sean tadi pagi.


"Ada apa?" tanyanya ketus setelah mengangkat telepon.


"Kau baik-baik saja? Aku minta maaf soal tadi pagi, aku tidak serius mengatakannya". kata Sean menjawab.


"Ada perlu apa? Waktuku tidak banyak" Franda bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Sean.


"Aku hanya ingin meminta maaf!" Sean membalas dengan nada ketus.


"Itu saja? Aku ingin tidur, jangan mengganggu!" kata Franda sambil mematikan telepon. Bukan hanya memutuskan panggilan Sean, tapi benar-benar mematikan ponselnya.


Franda kembali berbaring diranjang, kali ini menyamping kearah lemari pakaian yang terletak disudut ruangan. Dari ranjang Ia bisa melihat fotonya dan Nino sewaktu mereka berpacaran dulu dipintu lemari, foto itu sudah berada disana sejak mereka resmi berpacaran.

__ADS_1


Franda bangkit dan berjalan mengambil foto tersebut lalu dibawanya ke ranjang. Lama Ia memandang dan mengelus wajah Nino yang terlihat bahagia difoto itu. Ia tersenyum, kemudian bibirnya bergetar menahan tangis. Ia tidak sanggup melihat wajah suaminya meskipun hanya difoto.


Franda menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangis, Ia sangat merindukan suaminya saat ini, Ia sangat ingin memeluk Nino. Franda terus menangis sambil memukul dadanya tanpa menyadari kehadiran Mia yang langsung memeluk dan menenangkannya.


"Hei, stop!" kata Mia sambil mendekap erat Franda yang terus bergerak dan mencoba melepaskan diri.


"Panda, stop it! What are you doing?" Mia terus berusaha menenangkan Franda.


Franda masih histeris ketika beberapa saat kemudian Ayah, Ibu, dan Edward masuk ke kamar Franda.


"Mia, what's wrong?" tanya Edward menghampiri mereka, disusul Ayah dan Ibu dibelakangnya.


"I don't know! Dia sudah seperti ini saat aku masuk.". jawab Mia, masih terus memeluk Franda.


Franda masih histeris, terus menangisi kehidupannya. Pernikahannya yang dulu sangat bahagia kini sudah hancur akibat perbuatan Nino, suami yang sangat dicintainya. Franda tidak bisa percaya pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa Ia sangat merindukan suaminya, bahkan ketika Nino sudah berkhianat padanya. Bagaimana bisa Ia mencintai pria seperti itu? Kenapa harus mencintainya sebesar itu? Itulah yang ada dipikiran Franda saat ini.


Franda terdiam, lalu tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Mia, membuat Mia yang tidak siap terjatuh dari ranjang. Franda tidak perduli, Ia langsung berlari keluar kamar, bahkan Ia tidak berhenti ketika Ibunya juga terjatuh karena tidak sengaja ditabrak olehnya, beruntung ada Ayah yang siap menangkap istrinya. Edward langsung berlari mengejar Franda yang sudah keluar dari kamar.


Franda terus berlari keluar rumah dan menuju ke mobilnya, Ia akan mendatangi apartemen Jenny dan menghancurkan wanita itu. Franda keluar tanpa menggunakan alas kaki, Ia hanya menggunakan celana pendek dan kaos yang sedikit kebesaran, gaya berpakaian yang selalu seperti saat dirumah orangtuanya. Franda terus berlari keluar rumah setelah menyambar kunci mobil yang tergantung ditembok ruang tamu, berjejer dengan kunci mobil milik anggota keluarga lainnya.


Edward terus mengejar Franda dan langsung menghentikannya ketika perempuan itu akan memasuki mobil.


"Panda, stop! Where do you want to go?" kata Edward setelah memegang erat pergelangan tangan Franda.

__ADS_1


"Let me go, Ed! I have to do something. Don't stop me!" Franda berteriak, berusaha melepaskan tangannya dari Edward. Namun sia-sia karema tenaga Edward jauh lebih kuat.


"Are you crazy? What are you doing now? Let's go back inside!" Edwar menarik paksa Franda yang terus saja memberontak.


"Oh, f*ck you, Ed! I really want to kill someone now!" Franda memaki Edward, masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kakaknya.


"Well, try me then!" Edward berhenti, menatap Franda tajam. Membuat wanita itu takut dan langsung terdiam, wajah yang sebelumnya garang kini berubah menjadi sendu.


"Ed..." ucapnya pelan, Ia sangat takut melihat Edward sekarang, sangat jauh berbeda dari yang dikenalnya selama ini.


"Come, On!" kata Edward lagi, menaikkan kedua alisnya.


Franda terdiam, tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunduk, tak mampu menghadapi tatapan Edward.


"Masuk!" Edward membentak Franda yang masih terdiam. Franda tidak mampu membantah, Ia berjalan pelan sambil menunduk. Tak berani menatap Edward yang mengikutinya sambil tersenyum geli melihat adiknya yang ketakutan. Edward hanya berpura-pura marah agar Franda tidak pergi. Ia tidak ingin terjadi apapun pada adiknya itu, biar bagaimanapun Edward sangat menyayangi Franda.


Franda duduk diruang tamu setelah Edward menyuruhnya kesana sebelum Ia sampai ditangga menuju kekamarnya dilantai dua.


"Kau mau menceritakannya atau aku yang harus mencari tahu?" tanya Edward membuka suara setelah semua orang berkumpul diruang tamu. Franda masih terdiam.


"Panda, kau mau..."


"Aku akan berpisah darinya. Kami akan bercerai." ucap Franda pelan, menautkan kedua tangannya yang terlihat memutih karena Ia menggenggamnya sangat erat.

__ADS_1


Kata-kata Franda membuat semua orang terbelalak, tidak satupun diantara mereka percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Franda. Pertanyaan yang sama ada dikepala mereka; Apa sebenarnya masalah Nino dan Franda?


__ADS_2