Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Aku Bahagia!


__ADS_3

Aku dan Sean baru saja selesai makan siang disebuah restoran cepat saji tidak jauh dari apartemenku, lalu Sean mengajakku mampir ke tempat tinggalnya yang ternyata satu gedung dengan kantornya. Aku mengiyakan karena kurasa perlu membahas beberapa hal tentangnya, banyak yang ingin kuketahui darinya, terutama kehidupan pribadinya. Aku merasa perlu mengenalnya lebih jauh sebelum kami benar-benar menikah.


Sean menggandeng tanganku memasuki gedung Warner Enterprise, senyuman dibibirnya tak hilang sedetikpun, entah kenapa dia terlihat begitu bahagia. Berbeda denganku yang tak nyaman dengan tatapan orang-orang yang melihat kami, aku merasa seperti maling yang baru saja tertangkap basah.


Kami memasuki lift khusus, bukan lift yang sama saat aku datang kesini setahun lalu. Kulihat Sean menekan tombol 46 yang kupercaya tempat tujuan kami.


"Jangan gugup." ucapnya pelan sambil tersenyum. Aku baru menyadari tanganku yang gemetar digenggamannya. Aku berusaha tersenyum, meskipun hatiku tidak tenang sekarang. Entah kenapa aku bisa segugup ini padahal kami tidak akan menemui siapa-siapa disana.


Kenapa lift ini lama sekali, suasana canggung begitu terasa karena tidak ada orang lain selain kami. Aku menunduk, menatap sepatu kets putih yang kupakai, pikiranku melayang kemana-mana, dimulai dari pernikahan hingga ketakutanku akan kegagalan. Tanpa kusadari Sean menangkup pipiku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya bertumpu pada pinggangku, ditariknya aku mendekat untuk mengikis jarak diantara kami.


Aku membuang pandangan saat merasakan napasnya yang menyapu wajahku, aroma mint yang menguar dari mulutnya begitu segar, padahal aku tidak melihatnya memakan permen sejak tadi, entahlah dari mana asal aroma itu. Sean menarik wajahku agar menghadapnya, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang tampan dengan mata biru, hidung mancung dan rahang tegas yang ditumbuhi rambut tipis.


"Kenapa kau gugup? Aku hanya mengajakmu melihat tempat tinggalku, bukan mau membawamu ke persidangan." Sean tergelak, pasti wajahku merona sekarang. Ah, memalukan!


"Berhenti menggodaku!" ucapku ketus, berani-beraninya dia menunjukkan wajah bahagia saat berhasil membuatku kesal.


Ting!


Pintu lift terbuka, aku langsung melangkah cepat meninggalkan Sean yang tertawa dibelakang. Benar-benar menyebalkan! Kekesalanku hilang sekejap ketika melihat pemandangan didepanku, sebuah ruangan luas berdinding kaca transparan yang menunjukkan pemandangan kota jakarta. Aku yakin liurku akan segera menetes jika Sean tidak bersuara.


"Welcome home!" katanya santai, berjalan melewatiku menuju salah satu ruangan, yang terakhir kutahu sebagai dapur saat dia muncul dari sana membawa dua kaleng soda dingin.


"Kau tinggal disini selama ini?" tanyaku penasaran, aku masih mengamati seluruh ruangan yang jelas didesain untuk pria, tidak ada sentuhan feminin sedikitpun. Tembok putih dengan furnitur yang didominasi warna hitam dan abu-abu, terdapat beberapa lukisan yang menempel ditembok, salah satunya adalah lukisan Guernica karya Pablo Picasso, aku tidak tahu itu asli atau palsu, yang jelas aku mengenal lukisan itu.

__ADS_1


"Tidak selalu, hanya saat senggang dan malas bepergian." Tanganku menjulur menerima satu kaleng soda yang disodorkannya.


"Lalu, dimana kau tinggal selama ini?"


"Dimana saja aku mau, tapi ini rumah utamaku. Biasanya aku berpindah-pindah dan kembali kesini saat bosan menjelajah."


"Apa kau bersaudara dengan Dora The Explorer?" Sean tertawa mendengar pertanyaan bodohku, ya, siapa juga yang percaya Dora itu nyata. Hah!


"Mau melihat-lihat?" katanya menawarkan. Aku terkesiap lalu menggeleng, bukan ini tujuanku kesini. Aku mengikutinya karena ingin bertanya tentangnya bukan untuk melakukan house tour.


Aku duduk di salah satu sofa yang menghadap keluar, menikmati pemandangan sambil sesekali meneguk soda dingin yang sejak tadi kupegang.


"Bisakah kau menceritakan tentangmu?" ucapku setelah cukup puas memanjakan mata.


"Apa yang ingin kau ketahui?"


Sean duduk disampingku sambil menumpuk kakinya, lagi-lagi dia tersenyum.


"Tidak ada yang spesial dariku, aku anak tunggal, terlahir dan besar dikeluarga yang kurang beruntung, Daddyku meninggal saat aku berusia 13 tahun, sementara Mommyku meninggal ketika aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Kehidupan pribadiku tidak menarik sama sekali, aku jarang berhubungan dengan wanita, pernah beberapa kali namun hanya bertahan dalam hitungan bulan. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu." Sean mengedipkan sebelah matanya, membuatku tersenyum sinis, kepercayaan dirinya sungguh tinggi.


"Bagaimana bisa kau memiliki perusahaan sebesar ini?"


"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Kerja keras dan cinta. Kau satu-satunya alasanku bekerja keras sampai bisa mencapai titik ini. Awalnya aku dibantu oleh pamanku, Papanya Dhea, perlahan tapi pasti, aku mampu mengembangkan usahaku. Tidak mudah, tapi, ya, bisa dibilang aku berhasil sekarang." Sean terdengar sangat yakin dengan ucapannya. Sinar matanya memancarkan kebanggaan terhadap dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apakah Daddymu orang asing?" aku penasaran darimana dia mendapat bola mata biru dan hidung mancung itu.


"Ya, Daddyku keturunan Indo-Jerman, sementara Mommyku Tionghoa. Tapi aku tetap besar di lingkungan orang indonesia asli, sejak Daddy meninggal, aku dan Mommy menumpang hidup pada kedua orangtua Dhea. Mereka yang membantu kami menghadapi masa-masa sulit." Sean tersenyum getir, ada kesedihan yang bisa kulihat.


"Cukup untuk perkenalan kali ini, aku akan melanjutkannya nanti." Sean berdiri, mengulurkan tangannya tepat didepan wajahku, dan aku menerimanya.


"Kau mau membawaku kemana?" tanyaku penasaran. Sean hanya menampilkan senyumnya yang menawan tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku mengikuti langkah kaki Sean yang membawaku menaiki tangga, terus berjalan sampai kami berhenti didepan sebuah ruangan paling ujung dilantai dua. Sean melepaskan genggamannya dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana jinsnya.


"Aku berharap kau bisa percaya padaku setelah masuk keruangan ini." katanya, ucapannya kali ini terdengar serius. Dibukanya ruangan itu, namun tidak terlihat apa-apa karena gelap.


Seketika aku mematung begitu lampu menyala, menunjukkan isi ruangan tersebut. Refleks mataku membulat dan tangaku menutup mulutku yang terbuka lebar. Ini benar-benar mengejutkan! Ruangan didepanku penuh lukisan bergambar wajahku, aku tidak bisa menghitung jumlahnya, mungkin sekitar tiga puluhan lebih, berbeda bentuk dan ukuran, mataku tertuju pada satu lukisan terbesar, dilukisan itu aku tertawa ceria dengan mulut lebar, entah kenapa aku terlihat bahagia disitu. Lalu aku berpaling pada lampu natal yang berkelap-kelip, lampu yang disusun membentuk tulisan 'I LOVE YOU'.


Aku berbalik, menatap Sean dengan lekat, mataku berkaca-kaca, perasaan haru dan bahagia bersatu dengan indah, melambungkanku pada angan-angan yang tak pernah kucapai selama ini. Aku merasa seperti gadis yang baru saja menerima pernyataan cinta, begitu bahagia, begitu berbunga-bunga.


Sean mendekat, menangkup pipiku dengan kedua tangannya, dihapusnya air mataku menggunakan jempolnya yang terasa halus.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan ragu untuk melangkah bersamaku, kita akan melewati semua hal bersama. Berbagi bebanlah denganku, ceritakan setiap keluh kesahmu, aku siap mendengarkan semuanya, tetap percaya padaku, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak sedetikpun!"


Aku mengangguk cepat begitu Sean menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada lagi yang perlu diragukan, semuanya sudah jelas. Sean mencintaiku dan itu sudah cukup. Aku berjinjit untuk mencapai bibir Sean, menikmati rasa manis itu sembari menyampaikan rasa terimakasih dan bersyukur yang luar biasa.


"Terimakasih!" kataku begitu ciuman kami terlepas, kupeluk erat pria yang akan menjadi suamiku beberapa hari lagi.

__ADS_1


Aku bahagia, tak peduli aku mencintainya atau tidak. Aku bahagia! Sangat bahagia! Kehidupanku yang setahun ini terasa membosankan berubah hanya dalam hitungan hari, sejak aku membalas satu email yang dikirimkannya padaku, semuanya berubah. Pria ini membuatku merasa seperti ratu, diperjuangkan dan diutamakan. Membuatku lebih yakin kalau aku juga layak untuk dicintai, aku layak untuk bahagia. Persetan dengan cinta, yang pasti aku bahagia. BAHAGIA!!!


***


__ADS_2