Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Unpredictable.


__ADS_3

Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhku masih berbalut jubah mandi saat aku merapikan ranjang sambil bersenandung ria. Mulutku bersuara mengikuti Peabo Bryson yang menanyikan My heart belongs to you yang kuputar melalui pengeras suara di kamar kami. Sekedar informasi, aku tergila-gila dengan lagu lawas tahun 70an atau 80an.


Bahu dan pinggulku ikut bergoyang sementara tanganku menyusun bantal pada bagian atas ranjang. Suasana hatiku sangat baik hari ini. Bukan saja karena kondisi tubuhku yang sudah membaik, tapi juga karena rencana kerja sama butikku dengan Warner Enterprise pada akhirnya terlaksana. Aku dan Sean menandatangani semua berkas perjanjian kerja sama tadi pagi sebelum Sean turun ke kantornya. Kami mengesahkan perjanjian yang harusnya formal di dalam kamar. Lucu, bukan?


Dan hari ini aku harus mengunjungi kantor Warner Enterprise Fashion's Life yang letaknya tak jauh dari butikku dengan membawa contoh hasil rancanganku yang rencananya akan di muat di situs belanja online mereka. Aku sendiri sudah meminta Denise menyiapkan beberapa gaun dan jas rancangan terbaik yang pernah kubuat.


Dengan semangat menggebu, aku segera mempersiapkan diri. Aku mengurai rambutku ke belakang punggung. Rambut itu akan tetap berkibar disana, menjadi pemikat luar biasa saat tubuhku nanti tegak menunjukkan hasil tanganku pada perwakilan Warner Enterprise. Itulah satu-satunya bagian tubuh yang kuperlihatkan selain wajahku.


Tidak ada belahan dada atau kaki jenjangku. Hanya wajah dan rambutku yang akan menghadapi mereka yang mungkin akan menatap sinis padaku. Kupejamkan mataku dan menghirup aroma jasmine yang menguar dari leherku. Demi Tuhan, aku yakin mereka akan terpana padaku.


Bibirku berdesis selanjutnya membuka mataku kembali. Kali ini mataku benar-benar berkilat dan panas berbanding terbalik dengan tubuhku yang dibalut gaun biru dingin, sedingin air di samudra. Aku terlihat tenang, tapi akulah yang paling berbahaya. Kepercayaan diriku meningkat tajam sampai aku merasa bisa menenggelamkan pria mana saja. Astaga, tingkahku benar-benar seperti seorang gadis yang hendak mencari tambatan hati.


Pada detik selanjutnya, aku mendapati bibirku mengering sementara Mia terus memanggil namaku dari luar. Dia akan mengantarku ke butik, dan selanjutnya aku akan menuju gedung pertemuan bersama Denise. Sean belum mengijinkanku menyetir dan aku meminta Mia menemaniku kemana-mana untuk sementara sampai Sean menemukan pengganti Pritta.


Kulipat bibirku dan merasakan kelembapannya. Setelahnya aku mengaitkan tali sepatuku, aku berdiri tegak diatas hak setinggi tujuh sentimeter yang ditutupi oleh gaun dinginku. Aku melangkah dan bersiap menerjang dunia yang tidak biasa.


***


Aku dan Denise baru saja turun dari mobil dan kami langsung mendapati sebuah gedung yang mirip seperti rumah besar bergaya skandinavia berdiri tegak di atas halaman parkir yang luas. Di halaman gedung itu sendiri terpampang dengan jelas tulisan WE Fashion's Life dengan warna emas yang menyala. Tanpa lama, aku dan Denise segera memasuki gedung itu dan meminta seseorang di pos keamanan untuk membantu membawa barang dari dalam mobil.


Begitu masuk ke dalam gedung, aku beradu pandang dengan seorang pria bertubuh sempurna yang melototiku tubuhku dengan tatapan lapar. Pria itu sepertinya mencoba merayuku dengan memamerkan otot dadanya yang tercetak pada kaus ketat yang kuyakin akan segera robek karena tak sanggup menahan dorongan dadanya yang terlalu kuat. Tidak berkelas, pikirku.

__ADS_1


Tubuhku yang sudah kurawat dengan mahal dan rutin harus dibalas dengan kemewahan yang sama. Dan balasan yang paling sempurna untuk tubuhku adalah bos dari pria yang sedang menatapku itu. Aku menaikkan bahu dan berjalan mantap ke meja resepsionis. "Hai, aku dari Femme Boutique." Aku sengaja tidak menyebutkan namaku karena ingin melihat respon wanita cantik yang berada di balik meja itu.


Aku cukup terkejut saat dia mengenaliku dan tersenyum padaku. "Mrs. Warner, Miss Stella dan yang lainnya sudah menunggu anda di ruang meeting." katanya dengan anggun dan lembut. Wajah dan penampilannya sempurna, sangat cocok dengan tempatnya bekerja. Sean memang handal dalam mengatur orang-orangnya, yang secara teknis juga menjadi orang-orangku. Well, aku istrinya.


Wanita itu keluar dari sarangnya dan memintaku untuk mengikutinya. Aku sedikit gugup dan mulai kehilangan irama percaya diri yang sejak tadi melekat padaku. Melihat gaya wanita yang menuntun kami membuatku sedikit ragu dengan diriku sendiri. Sambil berjalan aku mendengar suara Denise menegurku tanpa basa-basi. "Tenang saja, bos. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesonamu. Kau akan selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan, bos." Aku mengumpat dalam hati karena Denise ternyata menyadari kegugupanku sementara wanita itu terus berjalan sampai kami berada tepat di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Meeting Room.


Ini saatnya diriku untuk beraksi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mataku. Aku harus membawa nama butikku naik sampai ke puncak tertinggi karena aku memang pantas mendapatkannya. Kerja kerasku selama bertahun-tahun harus mendapatkan penghargaan yang setimpal. Dengan semangat berapi-api, aku bertanya pada wanita itu. "Apakah aku bisa masuk sekarang?"


Wanita itu tersenyum dengan instingnya dan membukakan sedikit pintu. "Silahkan, Nyonya." Aku mengangguk dan selanjutnya melenggang ke balik pintu bersama Denise dan seorang pria yang membantu membawa barang kami.


Sekarang aku berdiri di tengah ruangan dengan anggun dan tenang walaupun sedang dihujani tatapan tajam dan panas dari beberapa orang yang duduk di sebuah meja berbentuk persegi panjang namun setiap sudutnya tumpul. "Selamat siang." sapaku sambil mendekat dan menyalami mereka satu per satu.


Aku duduk di salah satu kursi sementara membiarkan Denise menggantung pakaian yang kami bawa pada sebuah hanger stand yang memang sudah berada disana. Senyumku terus mengembang saat beradu tatap dengan mereka, berbanding terbalik dengan kakiku yang gemetar dibawah meja. Aku menghela napas beberapa kali saat Denis sudah selesai dan mendaratkan bokongnya di kursi sebelahku.


Aku menyentuh sebuah gaun panjang berwarna merah berhias batu mulia dengan penuh kelembutan seolah aku sangat takut kehilangan barang itu, dan saat aku berpaling menatap mereka, aku membuka suara. "Aku membuat gaun ini dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Well, sama seperti rancanganku yang lain, tapi... gaun ini memiliki arti yang berbeda untukku. Ini gaun pertama yang kubuat dengan menyisipkan batu mulia. Bahkan aku baru mampu menyelesaikannya setelah dua tahun."


Aku menoleh gaun itu sejenak, menatapnya dengan perasaan bangga sekaligus tak percaya aku bisa menciptakan sesuatu seindah itu. Senyumku mengembang selebar layar pada perahu.


Beberapa menit berikutnya aku merasa nyaman saat menjelaskan desainku pada pakaian yang lain. Aku gembira seakan-akan melakukannya di butikku sendiri, tanpa khawatir orang lain melihat pekerjaanku. Aku gembira karena kenyataannya aku sudah mengusai ruangan itu. Benar yang dikatakan Denise, aku akan mendapatkan apapun yang kuinginkan.


Aku mencuri pandang pada sekumpulan orang yang duduk dan mendapati mereka menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba terdengar ucapan yang menghancurkan keheningan ruangan di sekeliling kami. Seseorang yang tadi menatapku di pintu masuk gedung tengah berdiri di pintu. "Aku menyukai semua desainmu, Nona. Apakah kau mau meluangkan waktu untuk berbicara denganku sebentar?"

__ADS_1


Aku mengangkat dagu dan menyimak kalimat berikutnya. "Kalau iya, aku akan menggendongmu keluar dari tempat ini sekarang juga."


Mulutku terbuka sementara aku melihat cahaya matanya menggelap. Melihatku hanya terpaku diam, pria itu kembali berbicara. "Aku sangat tertarik denganmu secara pribadi, Nona. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu."


Raut wajah itu semakin serius seiring kedua alisnya bertaut. "Kau tidak perlu membuang waktu untuk bekerja. Aku punya uang dan kepuasan untukmu." Jantungku serasa akan meledak menahan amarah. Pria itu baru saja melecehkanku di depan umum. Namun aku buru-buru menetralkan ekspresiku karena tidak ingin mempermalukan diriku sendiri dengan memakinya menggunakan kata-kata kotor, meskipun aku sangat ingin melakukannya.


Dia benar-benar salah jika mengira aku adalah gadis remaja yang akan terbuai dengan iming-iming hidup mewah dan terpuaskan. Sebesar apapun daya tarik pria sepertinya atau pria manapun di luar sana, mereka tidak akan mampu menarikku. Mungkin aku bisa bergairah dengan saat berdekatan dengan tubuhnya yang menggoda, tetapi aku hanya bisa merasakan detak jantungku berdebar tak karuan saat bersama belahan jiwaku. Dan orang itu adalah suamiku, Sean Danial Warner. Pria tampan dan kaya yang sekaligus menjabat sebagai bosku.


Pria itu sekarang seperti menunggu jawabanku dan aku harus mengatakan kejujuran padanya. Aku menjilat bibirku yang beku agar sedikit basah. Aku menarik napas pelan lalu bersuara. "Aku sudah menikah, Sir." kataku sopan dan tersenyum.


Mata pria itu semakin menggelap. "Nona, jangan menipuku dengan omongkosong. Mana mungkin gadis secantik dirimu mau menikah muda. Apalagi kau terlihat begitu bersemangat."


Pria itu tersenyum ringan. "Jika kau takut aku hanya memanfaatkanmu, aku Dean Subroto. Kau bisa bertanya tentang diriku pada mereka, aku akan membuatmu hidup seperti ratu kalau kau setuju untuk keluar bersamaku dari ruangan ini, Nona."


Aku tersenyum sambil menunduk, merasa lucu dengan perkataannya yang penuh janji indah. Pria itu seolah mencoba mengikatku dengan talinya, tetapi aku tak dapat bergerak mengikuti tarikannya sebab seseorang sedang menahanku. Aku merasa Sean saat ini sedang mendekap tubuhku dari belakang. Sean seolah membelaiku sehingga aliran darahku mendidih. Aku melayang membayangkan dia berada di atasku dengan senyum dari wajah berandalnya. Ya Tuhan, aku memang sudah gila.


Ikatan tali Dean di tubuhku terlepas dan terlempar jauh ke dasar jurang. Nama Sean saja mampu memberiku kekuatan besar untuk melepas tali itu. Aku langsung mengangkat wajah menatap mata Dean Subroto. "Terimakasih untuk tawaranmu. Kurasa kau bisa menanyakan tentang suamiku pada mereka, Sir." Aku menoleh pada orang-orang yang tengah duduk. Beberapa diantara mereka terlihat pucat, menyadari sesuatu yang mengancam dari sorot mataku yang tajam untuk pertama kalinya.


Belum sempat mereka membuka mulut untuk menjawab, muncul seorang lain yang kini membuatku lebih terkejut. Dia menatap Dean sekilas dan melewatinya begitu saja. Pria yang baru datang itu, tersenyum padaku. Mendekat lalu merangkul pundakku sambil mengerdipkan sebelah matanya genit. "Apakah kau sedang merayu kakak iparmu, Dean?" Mataku membuka lebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sean.


Dean Subroto. Pria itu tak kalah terkejut. Wajahnya berubah pucat. Setelah beberapa saat dia berbicara dengan gagap. "Kkk-kakak ipar?"

__ADS_1


Sean tertawa halus kemudian mengangguk. Dia menjawab sambil menatapku yang bingung. "Ya, dia istriku, bro."


__ADS_2