Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 50


__ADS_3

Minggu berlalu begitu cepat dan tenang. Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga, bercengkerama sebelum kembali ke kamar masing-masing, ada Edward juga disana yang datang berkunjung sejak tadi siang.


Franda duduk menempel pada suaminya, kepalanya bersandar pada lengan kekar lelaki 34 tahun itu sementara tangannya memegang berlabuh di perut buncitnya yang sebentar lagi akan mengempes. Minggu ini adalah hari perkiraan lahir bayi yang dipanggi Ben oleh Nino ke dunia, semua persiapan sudah selesai untuk menyambut sang cucu pertama di kedua keluarga.


Di sebelah Franda, Mia sibuk dengan ponselnya. Berselancar menyusuri postingan di akun sosial medianya, sesekali Ia tersenyum ketika menemukan postingan yang menarik baginya. Gadis 25 tahun itu masih saja bergelut dengan hari-hari menganggunya, belum mau bekerja meskipun sudah berulangkali kakak iparnya meminta untuk membantunya di perusahaan, alasannya tidak tertarik dengan kerja kantoran.


Di seberang mereka bertiga duduk Edward, papa Azka, dan Mama Rossa. Sementara Ibu duduk di sofa single yang menghadap ke televisi.


"Aww... sshhh..." Franda tiba-tiba meringis, merasakan tendangan dari bayi di dalam kandungannya.


Pandangan semua orang tertuju padanya, rasa was-was juga mulai hinggap di pikiran masing-masing.


"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Nino, sembari meletakkan ponselnya di sampingnya.


Franda menggeleng, "Biasa... Tendangan maut!" jawab Franda santai meski sangat terlihat di wajahnya kalau dirinya menahan sakit.


"Kau yakin?" tanya Nino memastikan.


"Ya, sudah tidak sakit lagi." jawab Franda sembari menggeser posisinya agar bersandar di sofa. Franda tiba-tiba menyipitkan matanya saat melihat sesuatu yang di kenalinya di atas meja TV. "Sayang, bisa tolong ambilkan itu?" pinta Franda pada Nino sambil menunjuk benda yang dia maksud.


Nino menurut dan mengambil benda itu, lalu memberikannya pada Franda.


"Ini kan jam yang waktu itu ku cari, kenapa bisa disini?" kata Franda setelah melihat isi tote bag kecil berwarna cokelat itu, tidak tahu pada siapa ucapannya ditujukan.


"Mungkin kau lupa, Sayang." ucap Nino, tangannya langsung meraih jam yang dipegang istrinya. "Jadi ini untukku? Hm, tidak buruk!" lanjut Nino sambil mengamati jam tangan merek Patek Philippe berwarna kombinasi Gold dan hitam itu.


Franda masih bingung dengan keberadaan jam yang seingatnya Ia taruh dikamar, "Aku ingat sekali menaruhnya di kamar, Sayang." protes Franda. "Tapi, sudahlah... Kau menyukainya?" tanya Franda, tangannya dengan cekatan memakaikan jam itu di pergelangan tangan suaminya.


"Ya, dari mana kau tahu tentang jam ini?"

__ADS_1


"Mia, dia yang menyarankanku untuk membelinya." jawab Franda jujur.


Nino langsung mengalihkan pandangan pada adik iparnya yang tetap sibuk dengan ponsel.


"Kau mulai meracuni istriku, Mia." Nino tersenyum saat mengatakannya.


"You're welcome!" balas Mia singkat, bahkan tanpa menoleh, seolah-olah kakak iparnya itu sedang berterima kasih.


Mia memang belum bekerja, namun uang saku yang diberikan oleh Edward membuatnya sanggup membeli apapun yang di inginkannya, belum lagi Franda juga memberinya uang untuk memenuhi isi ATM-nya. Jadilah gadis itu semakin meraja lela karena semua orang memanjakannya. Kebutuhannya yang sudah terpenuhi menjadi salah satu alasannya malas bekerja. Beberapa kali dirinya mengatakan ingin membuka usaha di bidang kuliner, namun belum mengantongi ijin dari kedua kakaknya.


"Aww... ahhhh..." Franda kembali tiba-tiba memekik saat merasakan sakit di perutnya, sakit yang lebih kuat dari sebelumnya. Dengan refleks diremasnya lengan Nino yang duduk di sebelahnya.


Nino sontak terkejut, semua orang juga sama terkejutnya begitu melihat wajah Franda yang pucat menahan sakit.


"Sayang, are you ok?" tanya Nino sambil mengelus perut Franda, diabaikannya remasan Franda yang cukup kencang di lengannya.


"Sakit... aahhhh" Franda memekik lagi.


"Breath, baby... It's ok!" kata Ibu sembari mendekat, diusirnya Mia agar dirinya leluasa.


"Nino, telepon dokter kandungan Franda sekarang!" Mama Rossa menimpali, langsung beranjak dari duduknya dan mendekati Franda setelah mengusir Nino.


Franda terus merasakan sakit di perutnya selama hampir satu menit, lalu bernapas lega begitu rasa sakitnya hilang perlahan. Bulir-bulir keringat mulai membasahi wajah cantiknya. Ibu dan Mama Rossa dengan cekatan membantu meredakan rasa sakit Franda dengan memijat pinggulnya.


Edward, Mia dan Papa Azka hanya diam mengamati, tidak tahu harus melalukan apa. Pemandangan didepan mereka membuat ketiganya menatap iba pada Franda.


"Ma, dokter mengatakan aku harus menghitung jeda kontraksinya." kata Nino yang baru saja selesai menelepon dokter kandungan Franda.


"Ya sudah, kalau begitu bawa Franda ke kamar Ibu!" jawab Ibu, membawa Franda ke kamar atas akan menyulitkan sekarang, terlebih nanti harus turun kembali.

__ADS_1


Dengan perlahan Nino membantu Franda berjalan menuju kamar Ibu yang terletak di samping ruang keluarga, membaringkan Istrinya disana, sambil menenangkan dengan mengusap perut gembung Franda.


"Sayang, jangan bikin Mommy sakit ya, Daddy tau Ben anak pintar, kita harus bekerja sama sekarang. Mommy membutuhkan bantuanmu, Ben!" Franda tersenyum saat melihat suaminya berbicara pada perutnya, rasa haru dan bangga menyeruak di hatinya begitu saja.


Ibu, Mama, dan Nino menemani Franda di kamar, sementara yang lainnya tetap berada di ruang keluarga. Ketiganya bergantian menghibur wanita hamil itu selama hampir dua jam lamanya, Ibu dan Mama tak henti memijat pinggul Franda kala rasa sakitnya menyerang. Jarak kontraksi yang tadinya muncul setiap lima menit sekali kini semakin cepat, yakni dua menit sekali.


Nino kembali menghubungi dokter kandungan Franda, dan sang dokter memerintahkan untuk membawa Franda ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Franda terus merasakan sakit yang luar biasa di pangkal perutnya. Nino tidak sanggup melihat istrinya kesakitan seperti itu, tapi Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha menghibur istrinya.


"Aaahhhh... Sakit..." Franda memekik, berulang kali mengatur napasnya untuk meredakan tekanan pada pinggulnya.


"Sayang, sabar... Sebentar lagi kita sampai... Dika, tolong cepat sedikit!" bentak Nino pada supirnya.


Franda membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, berulang kali meremas baju calon Ayah itu dengan kencang, jari-jarinya memutih disertai keringat yang membasahi wajahnya. Nino terus menciumi pucuk kepala Franda sembari menenangkan.


Sesampainya di rumah sakit, dokter kandungan yang sudah menunggu langsung memeriksa Franda, "Baru pembukaan satu, kita harus menunggu sampai pembukaannya lengkap." ujar sang dokter yang bernama Clara itu, dokter yang disarankan Mia beberapa bulan lalu.


"Berapa lama, dok?" tanya Nino, dirinya tak sanggup lagi melihat istrinya yang kesakitan kala kontraksi datang menyerang.


"Tidak bisa dipastikan, Pak. Bisa cepat, bisa juga lama." jawab dokter Clara.


"Bagaimana cara mengurangi rasa sakitnya? Istriku sangat menderita, dok!" ujar Nino putus asa.


dokter Clara menggeleng, "Maaf, Pak. Ini memang proses yang harus di lalui setiap Ibu ketika akan melahirkan.


Dokter Clara meninggalkan ruang perawatan Franda, Ia sempat menenangkan Franda dengan ucapannya sebelum melangkah pergi.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kau akan sangat menderita..."

__ADS_1


Franda tersenyum, gelombangnya sedang mereda. "Kau bisa mengingat penderitaanku saat ini untuk selamanya, jadi kau tidak akan berbuat sesuatu yang menyakitiku." jawab Franda.


Ibu, Mama, dan Mia masuk ke ruang perawatan. Sementara Papa Azka dan Edward menunggu di depan. Keduanya memilih untuk menyingkir karena tidak sanggup kalau harus melihat Franda yang kesakitan.


__ADS_2