
Franda sedang kesal pada suaminya yang tidak taat pada perjanjian mereka tentang liburan. Sudah dua hari mereka di jogja namun belum sekalipun pergi jalan-jalan seperti keinginan Franda, Nino terus menahan Franda dengan seribu alasan agar istrinya menurut. Keduanya hanya keluar sebentar untuk menikmati kuliner disekitar hotel tempat mereka menginap. Apa yang dibayangkan oleh Franda benar-benar jauh dari kenyataan, menikmati liburan versinya lenyap seketika.
"Kau mau makan malam apa, Sayang?" tanya Nino cuek dengan kekesalan istrinya.
"Aku sudah kenyang melihatmu sampai mau muntah rasanya!" jawab Franda asal. Ia melempar bantal tepat diwajah suaminya.
"Sudahi marahmu, kita akan pergi besok!" kata Nino sambil mengambil bantal dan melemparnya kembali ke ranjang.
"Tidak usah, aku mau pulang!" Franda melangkah ke kamar mandi, dan membanting pintu dengan keras.
Nino menunggu Franda keluar dari kamar mandi sambil memainkan ponselnya, memeriksa email dari Erika, sekretaris barunya yang menggantikan Jenny beberapa bulan lalu. Erika yang sudah berkeluarga dan memiliki anak membuat Nino menerimanya, menurutnya status Erika akan membuat istrinya tidak akan mencurigainya terus-menerus dan kembali mengingat tentang Jenny.
"Sayang, kau mau kita makan diluar atau aku pesan room servis?" tanya Nino santai saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Franda tampak masih kesal meskipun sudah hampir satu jam berendam dikamar mandi.
"Aku tidak lapar!" jawab Franda ketus. Ia memakai gaun tidur yang baru saja dikeluarkannya dari koper.
"Kau harus makan, Sayang... Jangan marah-marah dan simpan energimu untuk besok, aku akan membawamu kemanapun kau mau." Nino berusaha membujuk istrinya.
"Aku tidak mau, aku mau pulang besok! Kau lanjutkan saja liburanmu, aku tidak berminat lagi. Lain kali aku akan kembali kesini sendiri, pergi denganmu benar-benar membuang waktu!" kata Franda tanpa memandang suaminya, fokus mengoleskan skincare diwajahnya
"Kau yakin mau pulang? Tidak ingin jalan-jalan? Padahal aku ingin membawamu ke pantai besok." ucap Nino memancing istrinya. Franda terdiam sebentar, namun kemudian kembali menekuk wajahnya.
"Aku tidak tertarik! Mood-ku sudah hilang, lebih baik kau pesan tiket untuk besok, aku akan pulang sendiri jika kau masih ingin disini!" Franda menyelesaikan kegiatannya dan naik keranjang, berbaring lalu menarik selimut padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh malam.
__ADS_1
"Kau serius sayang? Aku minta maaf sudah menahammu dua hari ini, tapi besok aku benar-benar akan menemanimu, ayolah jangan marah lagi..." bujuk Nino, tapi usahanya sia-sia karena Franda tetap tidak mau. Istrinya teguh dengan keputusannya untuk pulang.
"Aku mau tidur, pesankan aku tiket paling pagi!" kata Franda tegas, dan Nino tidak bisa membantah lagi jika istrinya sudah begitu.
Nino mengambil ponsel, menghubungi Erika agar membelikan tiket paling pagi untuk dirinya dan Franda besok. Sekretarisnya itu heran karena kemarin Nino mengatakan mereka akan berlibur selama seminggu, tapi baru hari kedua sudah mau pulang. Ia sangat ingin bertanya namun segera menahan karena itu bukan urusannya dan bosnya juga tidak harus memberitahunya. Yang perlu dilakukannya hanya memesan dua tiket business class pada penerbangan pertama seperti yang dikatakan bosnya.
Nino berbaring disamping istrinya setelah menutup sambungan telepon dengan Erika. Entah kenapa belakangan istrinya sangat sensitif, sedikit saja dirinya melakukan kesalahan maka Franda akan marah dan sangat sulit untuk membujuknya.
"Kau sudah tidur? Aku minta maaf... Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu." kata Nino membuka suara.
"Aku mau tidur, jangan menggangguku!" ucap Franda pelan namun tegas.
"Kenapa kau semarah itu, Sayang? Waktu kita masih banyak kalau untuk sekedar jalan-jalan." Nino memiringkan badan, menatap punggung istrinya.
"Wow, honey... What's wrong with you? Kau terlalu berlebihan, Sayang!" ucap Nino heran, menurutnya sikap Franda terlalu berlebihan kali ini.
"Oh, jadi aku berlebihan? Kau yang menawarkan liburan ini dan kau juga sudah berjanji akan menemaniku, tapi yang kau lakukan hanya mengurungku dikamar ini! Sekarang kau mengatakan aku berlebihan? I can't believe you!... Aku merasa seperti j'alang yang kau sewa untuk menghangatkan ranjangmu!" Franda duduk menatap tajam suaminya.
"Kita bisa pergi besok, masih ada beberapa hari untuk jalan-jalanmu. Jangan terlalu mendramatisir keadaan, Sayang! Aku benar-benar tidak mengenalmu sekarang!" kata Nino putus asa.
"Aku yang tidak mengenalmu! Kau tahu, aku sudah membayangkan betapa menyenangkannya menghabiskan hari dengan mengunjungi tempat-tempat yang selama ini ingin kudatangi dan kau menipuku! Aku mau hidup normal seperti orang lain, menikmati hidup saat aku bisa melakukannya, bukan menikmati kekayaanmu dan hidup didalam istanamu yang menyiksa!" suara Franda terdengar bergetar, Ia baru saja menumpahkan apa yang dirasakannya selama ini.
"Jadi kau tersiksa?" tanya Nino pelan, terdengar menyedihkan.
__ADS_1
"Ya, aku tersiksa! Aku tidak pernah lagi merasakan hidup semenjak menikah denganmu! Apa pernah kau mengajakku liburan yang sebenarnya? Selama ini kau hanya membawaku kemana kau mau dan mengurungku dikamar hotel mewahmu! Aku benci mengatakannya tapi itu yang kurasakan, kau terlalu egois!"
"Aku tidak tahu kau merasa seperti itu selama ini, kenapa kau tidak mengatakannya?" ucap Nino, Ia tidak tahu jika istrinya merasa terkekang saat bersamanya.
"Well, aku berusaha untuk memahamimu tapi sepertinya kau tidak mau tahu denganku, kau terlalu sibuk dengan dirimu! Kau melupakanku dan tidak mau tahu soal keinginanku... Bisakah kau mengerti sedikit saja? Selama ini apakah aku pernah meminta sesuatu padamu? Aku selalu mengikuti keinginanmu, menuruti kata-katamu, tapi apa yang kudapat? Aku tidak mendapatkan kesenangan apapun!" kata Franda berapi-api.
Selama menikah Franda memang tidak pernah pergi berlibur dan bersenang-senang seperti yang dulu dilakukannya bersama keluarga atau temannya, bahkan teman-temannya juga sudah mulai menjauh saat Ia menikah karena Nino tidak pernah mengijinkannya pergi tanpanya.
"Maaf..." Nino berkata lirih.
"Simpan saja maafmu, tidak akan berlaku jika kau masih begini. Aku cuma mau kau mengerti sedikit saja, aku butuh waktu untuk diriku sendiri, untuk keluargaku, untuk temanku. Aku tidak memiliki seorangpun yang bisa kuajak berbagi, Nino!" Franda menutup wajah dengan kedua tangannya, Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Nino merasa bersalah karena tidak mengetahui perasaan istrinya selama ini, Ia berpikir Franda baik-baik saja dan bahagia hidup bersamanya. Pria itu menarik istrinya kepelukannya.
"I'm sorry, I really didn't know you felt that way..." Nino menarik napas dan mengusap punggung istrinya. Ia menyadari memang terlalu posesif pada Franda, tanpa sadar sikapnya yang takut kehilangan ternyata membuat istrinya merasa tersiksa.
"Aku merindukan kehidupanku yang dulu, menikah selama bertahun-tahun denganmu membuatku kehilangan semuanya, bahkan aku sangat jarang mengunjungi keluargaku padahal mereka sangat berharap aku lebih sering datang, teman-temanku juga menjauh sejak kita menikah. Aku tidak ingin menyalahkanmu namun itu yang terjadi, aku tidak memiliki siapapun lagi disampingku karena kau mengekangku!" kata Franda sambil terisak, perasaan yang ditahannya selama ini dimuntahkannya begitu saja.
"Aku minta maaf, aku tidak akan membatasimu lagi. Kau bebas melakukan apa saja selama kau tahu batasanmu... Jangan menangis lagi, aku benar-benar minta maaf, Sayang..." Nino menghapus air mata istrinya dengan lembut.
"Aku bukan ingin bebas, Sayang... Aku cuma minta kau memberiku waktu untuk melakukan hal lain selain bersamamu, aku bahagia hidup denganmu tapi ada saat aku ingin menghabiskan waktu dengan bercerita atau mengobrol dengan orang lain." kata Franda menjelaskan.
"Ya, aku mengerti. Aku akan memberikanmu waktu untuk itu, sekarang tidurlah. Kita akan pulang besok!" ucap Nino sambil mengajak istrinya berbaring dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
__ADS_1