Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Punishment!


__ADS_3

Rules: No comment, no update!😂


Komen kalau masih mau lanjut😜


***


Dengan perasaan gugup dan takut aku kembali ke kamarku setelah mengantar Ben ke kamarnya. Kulihat suamiku berdiri menghadap keluar, tangan kirinya berpegangan pada tembok kaca, sementara tangan kanannya tertaut dipinggang dengan sebelah kaki yang menekuk.


Aku berjalan ke arah meja rias untuk mengambil kotak obat, lalu mendekatinya. Sebelum aku berhasil mendekat, suara dinginnya menusuk jantungku.


"Aku akan menceraikanmu."


Kotak obat yang kupegang terjatuh... dan segala perasaan bergumul seperti kumpulan petir yang menyerang dadaku. Ini lebih buruk dari sekedar ketakutan pada perceraian yang menyerangku dulu.


"S-Sean..." lirihku dengan gemetar.


"Aku akan menceraikanmu, Franda! Aku akan menceraikanmu." dia berteriak dengan kencang sambil menangis, suaranya membuatku semakin gemetar, sungguh aku takut menghadapinya. Tapi dia suamiku, aku harus bertanggungjawab sebagai istrinya. Ya, aku istrinya.


Masih dengan tubuh lemas dan gemetar, kuraih remot pengatur ruangan dari meja disisi ranjang dan mengaktifkan fitur kedap suara. Tidak boleh ada yang mendengar pertengkaran kami. Tidak Ibu, tidak Mia, tidak siapapun dirumah ini yang boleh. Aku berjalan ke arah pintu dan menguncinya, lalu kutarik lepas kuncinya dan kulempar sembarang ke arah ruang ganti. Aku tak peduli lagi dengan tubuhku yang hanya menggunakan bathrobe.


"Franda, aku akan menceraikanmu!" Sean berteriak lagi... dengan segenap sisa-sisa tenaga dan air mata di wajahnya. Sampai dia rubuh ke lantai dan menunduk dengan suara isakan berat dan serak yang keluar dari napasnya. Dia memukul-mukul lantai yang membuat luka di tangannya semakin terkoyak. Aku berteriak dan menyerbu ke arahnya.


Aku belum sempat mendekap tubuhnya, mengusap wajahnya yang marah, mencium tangannya yang berdarah, aku jatuh terduduk mendengarnya memakiku sementara memukulkan tangannya lagi dengan keras ke lantai granit itu, "Pergi dariku, Franda. Tinggalkan aku. Kau tidak akan sanggup hidup dengan pria pendendam sepertiku."


Aku menggeleng histeris dan gemetar, "Sean..." aku tidak peduli dengan responnya lagi, aku mendekat dan meraih kedua tangannya agar berhenti. Lalu aku tersungkur ke belakang karena dia menarik tangannya dengan kasar dari tangannya. "Apa lagi yang kau tunggu? Hubungi kakakmu, minta dia membawamu dan keluargamu dari sini, sialan! Kau tidak akan sanggup hidup denganku."


"Tidak," lirihku terisak. "Demi Tuhan, aku tidak akan meninggalkanmu, Sean. Tolong jangan mengusirku."


Sean mendengus dan menatapku tajam, "Tidak. Aku tidak ingin bersamamu lagi. Kau tidak akan sanggup hidup dengan pria sepertiku, Franda. Kau tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu. Pergilah, sialan!" umpat Sean menangis. "Seharusnya aku tidak memintamu menerimaku, seharusnya aku berhenti mengharapkanmu dari dulu, seharusnya kubiarkan kau hidup bersama suamimu dulu. Sehingga kau tak perlu terjebak dengan pecundang sepertiku. Kau akan muak padaku, Franda."


Sean memukul lantai itu lagi, membuat darah ditangannya semakin mengucur. Aku menyerbu dan mengguncang-guncang tubuhnya yang sekeras batu. Aku mengguncangnya dengan sisa tenaga dan emosiku. "Aku mencintaimu, Sean. Aku mencintaimu."


Aku menyentak wajahnya yang pucat dan murung untuk melihat cinta yang berkobar di mataku. "Aku mencintaimu, Sean. Aku mencintai matamu. Aku mencintai wajahmu. Aku mencintai jantungmu. Hatimu. Perasaanmu. Jiwamu. Bahkan sampai keujung kejantananmu, Sean. Aku mencintai semua yang ada padamu. Tidakkah kau melihatnya dalam mataku?"


"Kalau sekarang kau tidak memakai pakaianmu, aku sudah pasti akan bercinta denganmu." Sambungku lagi dengan berlinang air mata. "Sekotor itu aku mencintaimu! Segila itu aku mencintaimu, Sean. Tidak pernah segila ini pada siapapun. Tidakkah kau melihat semua itu? Mencintaimu adalah anugerah terbesar dalam hidupku, Sean."

__ADS_1


"Cukup, Franda. Aku bukan lagi milikmu. Aku bukan milikmu." Dia berteriak lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi. Sean mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower dan aku hanya memandanginya dari luar kaca pembatas.


"Sean..." lirihku, masih dengan gemetar.


"Kau bisa pergi." bentaknya, berbalik menatapku. "Sialan. Kau bisa pergi. Aku sudah melepasmu." lanjutnya mengumpatku.


Aku gemetar melihat tatapannya, tapi aku tidak akan menyerah. "Aku akan selamanya bersamamu. Disini. Kau berjanji akan membuatku bahagia dan kau tak bisa mengubahnya lagi kecuali sekarang aku mati." kataku dengan lantang.


Jari-jarinya yang basah mengertak ketika dia mengepalkan tangannya begitu kuat, "Kumohon pergi, Franda. Jangan biarkan aku menyakitimu lebih daripada ini. Kau terlalu rapuh, dan sekarang aku sangat marah padamu. Kau tidak akan sanggup menghadapinya, Franda."


Aku melangkah maju dan memgangkat dagu, "Apa yang tidak mampu kuhadapi, Sean? Masa kecilku yang menyakitkan? Pengkhiatan mantan suamiku dulu? Perceraianku? Gangguan panik sialan yang tak tahu diri itu? Aku menghadapi semuanya. Aku bahkan sedang menghadapi kenyataan bahwa kau berusaha mendorongku mundur dari hidupmu."


"Hukum aku kalau kau memang ingin melakukannya. Berikan rasa sakit itu padaku. Biarkan aku ikut merasakannya. Kau tak boleh hancur seorang diri, aku harus ikut hancur bersamamu. Aku ingin hancur bersamamu!"


Aku semakin gemetar saat Sean maju dan mengangkat tubuhku ke pundaknya. Aku tidak ingin melawannya meskipun aku bisa. Aku pantas menerima hukumannya. Aku menghancurkan hatinya tanpa aba-aba, tanpa persiapan, sehingga kenangan buruk yang menghantuinya kembali dan membuatnya berubah. "Hukum aku, Sean. Hukum aku." bisilku lemah.


Sean melemparkan tubuhku yang gemetar ketakutan ke ranjang. Matanya menatapku tajam dan penuh kebencian, "Tidak ada yang pernah meminta rasa sakit dan amarahku seperti ini, Franda. Kau seharusnya menyesal sekarang kalau kau melihat apa yang berkelebat di mataku sekarang."


Aku kembali menantangnya dengan menitikkan air mata. "Ya, berikan rasa sakit itu padaku. Aku takkan pernah menyesal menerima rasa sakit asal kau yang memberikannya padaku, Sean."


Sean menarik lepas kemeja dan celana panjangnya yang basah kuyup, melemparkannya ke lantai, menyisakan sekujur tubuhnya yang basah dan lengket. Yang diselimuti cinta dan dendam.


Tubuhku semakin bergetar hebat saat dia merangkak padaku. Merunduk dan mencengkeram tulang pipiku. "Kau tahu aku sedang amat marah padamu. Kau tahu aku sangat brengsek karena berusaha menyakitimu." Tangannya menyentak wajahku yang dicengkeramnya erat. "Jadi, apa sebenarnya yang kau harapkan dariku, Franda? Apa yang kau harapkan dari pria lemah yang mudah hancur karena bayang-bayang masa lalu. Katakan padaku, Franda."


Aku takut dan gemetar, air mataku tak berhenti turun, "Tubuhmu dan hatimu, Sean. Aku menginginkan keduanya." Jawabku jujur dan tegas.


Aku tahu jawaban lantangku semakin membuatnya murka dan terpancing. Sean mengusap air mata disebelah pipiku dengan ibu jarinya, "Ada apa dengan tubuhku, Franda," dengkurnya liar. "Ada apa dengan hatiku. Katakan padaku ada apa dengan keduanya."


Aku menatap matanya dengan berani, menumpahkan segala perasaanku kedalam matanya yang sebiru lautan. "Tubuhmu membuatku gila, Sean. Dan hatimu membuatku bahagia. Aku luluh sekaligus hancur saat kau memberiku keduanya. Demi Tuhan." Aku mengatakannya dengan yakin meskipun suaraku gemetar.


"Tatap aku, Franda." Sean menyentakku dan menempelkan pelipisnya ke pelipisku.


"A-aku menatapmu, Sean," lirihku.


Rahangnya mengertak dan dadanya naik turun dengan cepat, "Malam ini aku akan sangat membencimu diranjang ini, Franda. Itu adalah hukuman seperti yang kau inginkan. Kau akan menjerit, kau akan diserbu banyak kali pelepasan sampai kau tak mampu lagi berpikir, kau akan basah sebasah-basahnya dirimu, Franda. Masih ada waktu bagimu untuk angkat kaki dari hidupku selamanya kalau kau tidak ingin menjadi wanita paling hancur didunia ini. Pilihlah jalan hidupmu, Franda."

__ADS_1


Dengan cengkeramannya di pipiku, aku mengangguk. "Bersihkan diriku dari kesalahanku. Hukum aku sekarang, Sean. Hukum aku." Ucapku tulus, pasrah, dan juga mendambakannya.


Sean melepas bathrobeku dengan kasar. Aku gemetar dan nyaris berteriak saat dia meraih rambutku, melilitkan helaian rambutku dijemarinya sementara tangannya yang lain meraih pinggulku dan dalam satu gerakan cepat membalikkan tubuhku memunggunginya.


Aku mencoba menengadah padanya sementara dia masih mencengkeram rambutku. Lalu sisi wajahku kembali menempel ke kasur karena tangannya menekan wajahku. "Aku membencimu, Franda. Aku membencimu. Kau sudah mencintai pria yang salah." katanya mengejekku.


Aku menggeleng, "Tidak," ucapku pelan dan gemetar, "Aku mencintai pria yang benar. Aku mencintai pria yang luar biasa. Aku benar-benar mencintai pria yang luar biasa. Berikan padaku. Berikan rasa sakit itu padaku. Aku akan menerimanya." mohonku.


"Hukum aku, Sean. Hukum aku yang sudah merenggut Ibumu. Merenggut kebahagiaanmu. Mencabik-cabik hatimu. Membuat Ibumu berdarah, membuatnya..."


"Franda," Sean menggeram, lalu tiba-tiba dia menghujamku dengan tubuhnya yang sudah amat keras dan kencang.


Aku memekik. Punggungku yang kurus melengkung. Kedua tanganku mencengkeram seprai dengan kuat, dan mulutku menghembuskan napas kegembiraan dan putus asa saat menerima dirinya yang penuh dan keras, gusar dan kasar, berdenyut dan kencang, ke bagian tubuhku yang terdalam. "Itu jeritanmu yang pertama, Franda. Kau akan berteriak lagi. Kau akan berteriak lagi." katanya dengan suara berat.


"Oh, Tuhan, Sean!" Aku berteriak didalam kamar. Merasakan sakit yang teramat sangat sekaligus nikmat saat dia menghentakku dengan dalam. Aku tidak sanggup melawan, tidak ada yang bisa kulakukan selain mencengkeram seprai dan menerima serbuan kemarahannya.


Sean pria tangguh. Dia memiliki hasrat yang kuat dibalik dadanya dan energi panas mengalir dalam darahnya. Ketika dia mengalirkannya pada seseorang, berarti ada malam panjang dan penuh jeritan. Ada banjir keringat dari tubuh yang menggelenyar. Sean akan menggerakkan pinggul sampai tenaganya habis. Dan malam ini dia tidak akan kehabisan tenaga dengan cepat. Aku tak tahu apa yang terjadi nanti, aku tak peduli.


Sean tidak akan berhenti meskipun aku memohon ampun. Dan aku tidak akan benar-benar memohon ampun. Aku tersenyum setiap dia menggempurku lagi dan lagi. Aku tidak akan pergi, aku akan menerima semua yang diberikannya, karena aku tahu Sean akan memberikan sebesar apa yang bisa kuterima. Betapa menakjubkannya hukuman yang diberikannya padaku, walaupun dia menggeram dan membuat tubuhku yang berbaring telungkup berguncang-guncang dalam desakan yang dalam dan lama.


"Hukum aku. Hukum aku selamanya seperti ini, Sean." lirihku penuh getaran dan harapan.


Sean meremas pinggulku lebih kuat, menggeram lagi seperti binatang buas yang dengan senang hati mengabulkan permohonanku yang menantang. Dia memberiku desakan bertubi-tubi yang amat kuat dan dalam, sampai aku berteriak dan tubuhku bergetar hebat, lalu melemas.


Sean tidak berhenti, tidak pernah berhenti. Dia menghujamku dengan cara yang paling kasar, namun aku menikmatinya. Jika memang aku harus mati sekarang, setidaknya aku akan mati dalam keadaan bahagia. Aku rela mati saat menerima serbuan cintanya yang menghancurkanku. Aku rela mati untuk menyenangkannya.


Entah berapa lama Sean menggempurku, aku tidak mengetahuinya. Hal terakhir yang bisa kuingat sebelum aku kehilangan kesadaranku adalah dia berteriak memanggil namaku, lalu menjatuhkan tubuhnya dipunggungku. Saat duniaku perlahan menggelap, aku tersenyum. Entah akan masuk ke surga atau neraka, aku tak peduli. Aku sudah merasakan keduanya.


***


Udah ya🥺 Hari ini aku lembur kasih satu episode panjang. Dari kemarin udah banjir update kan😁


Mau tidur dulu sampe nanti malam😜


I'm done for today, see you tomorrow, guys!!!

__ADS_1


Komen kalian ya. Gak ku update besok kalo gak komen!😠


__ADS_2