
Sudah seminggu berlalu sejak liburan gagal Nino dan Franda, tidak ada sesuatu yang spesial sepanjang itu. Franda masih setengah hati dalam memaafkan suaminya meski berkali-kali pria itu meminta maaf. Bahkan dirinya mengabaikan Nino yang mengajaknya makan malam romantis untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ketujuh kemarin. Tidak ada perayaan apapun bagi keduanya tahun ini karena Franda masih kesal dengan suaminya.
Franda sedang memeriksa beberapa pesanan gaun dan jas dibutik saat dering teleponnya berbunyi, terlihat Mia yang menelepon.
"Mia, what's up?" ucap Franda setelah terhubung.
"Hey, umm... What are you doing now?" tanya Mia dari sambungan telepon.
"Nothing, just having fun with some stuff at my office. Why?" Franda menjawab sambil memeriksa jas yang terpasang di salah satu manekin.
"Oh, ok! Hanya ingin meneleponmu saja. Anyway, happy 7th wedding anniversary! Are you guys have a party last night?" tanya Mia penasaran, sebab biasanya Franda dan Nino pasti mengadakan acara untuk merayakan setiap hari ulang tahun pernikahan mereka meskipun hanya makan malam dengan keluarga, namu kali ini tidak.
"Tidak, aku dan Nino sedang sibuk akhir-akhir ini. Kami tidak sempat memikirkannya." jawab Franda berbohong, Ia tidak ingin siapapun mengetahui bahwa hubungannya dengan Nino sedang tidak baik.
"Are you sure? Why do I think there's something happen here?" kata Mia memancing, Ia merasa ada yang disembunyikan Franda.
"Mia, I'm fine, we're fine. Tidak ada masalah apapun dengan kami, hanya terlalu sibuk dengan pekerjaan." jawab Franda santai, namun raut wajahnya terlihat sendu. Untungnya Mia tidak bisa melihat itu.
"Ok, aku menelepon karena Ibu bertanya tentangmu, orang tua itu semakin cerewet jika membicarakan hal yang berhubungan denganmu, telingaku sampai sakit mendengarnya terus-menerus menanyakan kabarmu. Aku tidak tahu kenapa dia harus bertanya padaku padahal dia bisa langsung menghubungimu, bukan?" ucap Mia dengan sedikit kesal.
"Hahaha, I'll call her later. Mungkin weekend aku dan Nino akan kerumah, menginap semalam sepertinya akan seru!" seru Franda sambil berjalan ke sofa diruangannya.
"Really? Mereka pasti senang mendengarnya, aku akan memberitahu Ibu dan Ayah nanti." jawab Mia dengan semangat, niat Franda untuk berkunjung saja sudah sangat baik apalagi menginap, pasti akan menghidupkan suasana rumah mereka walaupun hanya semalam.
"Oh, no, no! Jangan mengatakan apapun, I want to surprised them!" kata Franda berniat memberi kejutan pada orangtuanya.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup..."
__ADS_1
"Wait, Mia! Kau ada acara malam ini?" tanya Franda memotong ucapan adik perempuannya itu.
"Belum ada, kenapa?" Mia penasaran, tidak biasanya Franda bertanya kegiatannya.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Franda menawarkan, Ia memang rindu saat-saat bersama adiknya itu.
"Kemana?" tanya Mia lagi, ini adalah hal baru sejak Franda menikah.
"Kemana saja! Aku sedang bosan dirumah, ingin sedikit menghilangkan rasa jenuh. Kau bisa?" kata Franda santai.
"Bagaimana dengan suamimu yang posesif itu?" ucap Mia, Ia yakin Nino pasti tidak akan mengijinkan Franda, apalagi dirinya sangat tahu apa yang dimaksud bersenang-senang oleh kakaknya.
"Tenang saja, aku akan meminta ijin padanya. Kau hanya perlu menyiapkan dirimu!" kata Franda tegas.
"Baiklah, tapi aku tidak mau dia menyalahkanku jika terjadi sesuatu, kau tanggung sendiri akibatnya." Mia mencoba memberi peringatan diawal pada Franda.
"Memangnya aku melakukan apa, hah? We're just having fun! I'm not going to murder someone, Mia!" Franda menjawab ketus.
Franda menggeleng saat mendengar bunyi sambungan telepon yang sudah terputus, adiknya itu benar-benar tidak sopan. Ia lanjut memeriksa beberapa pakaian yang tadi sempat terhenti saat berbicara dengan Mia, dan setelahnya mengirim pesan pada wanita muda itu untuk memberi tahu tempat mereka bertemu.
'Black Cat Jazz & Blues Club Senayan.
Aku akan sampai disana jam 8.
Jangan terlambat!'
Itulah isi pesan yang dikirimnya pada adiknya.
__ADS_1
Franda menyusun kertas yang bergambar sketsa rancangan yang berserakan dimejanya, menumpuk menjadi satu dan memasukkan ke dalam laci, lalu mengambil tas dan pulang kerumah setelah sebelumnya pamit pada beberapa karyawannya. Ia pulang lebih awal agar memiliki waktu untuk bersiap, dirinya berniat akan berdandan cantik malam ini meskipun yaki Nino pasti melarangnya namun Franda memutuskan tetap akan pergi dengan atau tanpa ijin dari suaminya.
.
Nino sedang memarkirkan mobilnya dihalaman rumah dan dikejutkan dengan penampilan istrinya yang terlihat seperti ingin menghadiri pesta. Franda menggunakan gaun berwarna merah ketat dengan tali hanya sebesar kelingking bayi yang baru lahir, gaun itu benar-benar sukses menunjukkan lekuk tubuh rampingnya, rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Make-up yang merias wajahnya memang tipis namun terlihat lebih menyala dengan lipstik yang senada dengan gaunnya, Franda juga menggunakan high heels setinggi tujuh sentimeter berwarna hitam agar menyempurnakan penampilannya.
"Sayang, kau mau kemana?" tanya Nino yang masih terkejut dengan penampilan istrinya.
"Kau sudah pulang? Aku mau mau bertemu dengan Mia." kata Franda sambil mendekat dan mencium pipi suaminya.
"Kau bertemu Mia dengan penampilan seperti ini?" Nino menatap istrinya dari atas sampai kebawah, merasa heran dengan penampilan Franda.
"Iya, kau sudah berjanji akan memberiku waktu bukan? Jangan katakan aku tidak boleh keluar lagi kali ini..." kata Franda dengan mengangkat alisnya sebelah.
"Tapi penampilanmu..." Nino terdiam saat Franda memotong ucapannya.
"Apa aku harus menggunakan piyama supaya kau mengijinkanku? Ayolah, Sayang! Aku ingin seperti ini sesekali, lagipula aku bersama Mia bukan orang lain, hm?" Franda memohon sambil menggoyangkan lengan kekar suaminya dan wajah memelas.
"Ok, kalian akan bertemu dimana?" tanya Nino.
"Senayan, Black Cat. Aku akan pulang sebelum cepat, hanya mengobrol dengan Mia tidak akan memakan waktu lama." jawab Franda dengan santai, Ia membuka mobil dan menaruh tas dan blazer-nya dijok depan, disamping jok kemudi.
"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam, dan jangan mabuk!" kata Nino mengingatkan istrinya. Ia pasrah dan membiarkan Franda pergi, tidak mungkin baginya menahan Franda karena dirinya sudah berjanji pada wanita itu.
"Noted! Aku pergi dulu, Sayang. Love you!" Franda memeluk dan mencium sekilas bibir suaminya, lalu masuk kemobil dan langsung melaju meninggalkan Nino yang masih mengikuti mobilnya menjauh dengan tatapan mata sedih. Nino tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan istrinya, Ia berusaha tetap tenang dan meyakinkan dirinya bahwa Franda akan baik-baik saja. Istrinya pasti bisa menjaga diri dengan baik seperti selama ini.
Nino masuk kerumah dengan langkah gontai, Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Berada dirumah tanpa istrinya adalah hal yang paling dibencinya, rumah akan selalu hidup dengan suara Franda, mengingat itu membuat Nino merasa bersalah pada keluarga Franda. Bagaimana mereka bisa menahan rindu pada Franda selama ini sedangkan Nino yang belum sehari saja sudah tidak sanggup.
__ADS_1
Keceriaan Franda memang mampu menghidupkan kembali seauatu dalam diri seseorang, wanita itu bisa menyesuaikan diri dengan siapapun dan sangat mudah dekat dengan orang lain. Nino sangat tidak menyukai pesona istrinya dalam hal itu, kekurangannya yang tidak bisa memiliki anak membuat rasa percaya dirinya berkurang dan hal itu juga yang tanpa disadari membuatnya mengekang Franda, Ia sangat takut istrinya akan tergoda dengan laki-laki yang bisa memberinya sesuatu yang tidak dimiliki oleh Nino.
Setiap hari Nino terus berusaha membuat Franda bahagia agar wanita itu tetap berada disampingnya dan menemaninya sampai tua.