Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Full of lust


__ADS_3

Seusai mandi aku mengambil pakaian dalam dari rak paling bawah di ruang ganti lalu dengan cepat berdiri kembali dan melekatkannya di tubuhku. Setelah selesai, aku bergeser ke samping dan meraih gaun merah panjang dengan yang belahan berbahaya sampai ke pahaku.


Gaun itu pada detik ini sudah berada dalam dekapanku. Melebur bersamaku ketika aku memasangkannya pada tubuhku. Gaun itu adalah api dan aku adalah pengendali api. Aku akan menggunakan kekuatan api itu untuk membakar Sean, sebelum diriku yang lebih dulu terbakar oleh pesonanya saat makan malam romantis kami nanti.


Aku harus menyiksanya. Memancing gairahnya yang terpendam selama beberapa bulan belakangan dan membuatnya menggeram sampai bagian di antara kedua pahanya terasa akan meledak, barulah setelah itu aku menyerahkan diriku yang rapuh padanya. Membiarkannya bersenang-senang dengan tubuhku sementara aku juga menikmati serbuan gairahnya yang luar biasa panas dan keras.


Perhiasan pun sudah terpasang di telinga, leher, dan pergelangan tanganku. Hak tinggiku adalah benda selanjutnya yang akan menunjang kesempurnaan penampilanku. Bibirku merah dan mataku berkilat-kilat. Satu lagi, dompet kecil akan menemaniku ketika aku melangkah untuk mengguncang hati suamiku yang berdebar-debar untukku.


Sean Danial Warner, persiapkan dirimu untuk menghadapi malam paling panjang dan panas bersama diriku.


Sekali lagi mataku menembus cermin. Wajahku mengencang ketika aku menatapnya. Di balik kenyataan bahwa sekarang aku terlihat sedang berdiri tegar, sebenarnya satu bagian yang tersembunyi dalam diriku sedang terguncang seolah ada seseorang bertangan kasar sedang melepaskan satu pukulan telunjuk dibawah sana.


Oh, sial, sial, sial, kau, Sean! Kau sudah terlalu banyak merasuki tiap bagian sarafku. Kau mencekikku sebelum tanganmu yang besar dan kuat itu sendiri menyentuhku tubuhku. Aku bersumpah, bahwa aku akan membuatmu tersiksa sebelum kau benar-benar menarikku ke ranjang. Kau akan gila karena tak sanggup menahan dirimu yang terdesak sementara aku menggodamu dengan cara paling liar yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Kita lihat saja nanti.


Napasku baru saja berdesis. Hak tinggi dua belas sentiku kini mengentak pada anak tangga saat kakiku terayun. Bibirku melengkung dan menyaksikan Mia melongo di sofa melepaskan pandangannya dari gadget yang selama ini selalu berada di urutan nomor satu hidupnya.


Aku terus melangkah sambil berharap anak tangga yang kulalui tidak ikut terbakar. Dan dua langkahku yang terakhir pada akhirnya membawaku tepat berada di hadapan Mia yang masih saja membulatkan matanya.


Dengan gemulai, tanganku maju dan membuat sentakan suara dari jemariku. Mia tersadar, menggeleng, lalu mengangkat tubuhnya berdiri menyamai diriku. "Panda?" Mia melirih atau terserang sesak napas, aku tidak dapat membedakannya. Aku hanya tersenyum geli karena responnya.


"Kau seperti dewi api, atau dewi gairah asmara. Terkutuklah kau, Panda! Kakak iparku yang tampan dan kaya itu akan mati kehabisan napas saat melihatmu. Dia pasti tidak menyangka akan mendapat persembahan istimewa malam ini."

__ADS_1


Mia berhasil membuatku tergelitik. Komentarnya membuat hatiku lebih berani dan liar. Mataku menyipit sementara aku memperkecil jarak dengan Mia dan berbisik padanya. "Tidak ada siapapun yang menjadi sesembahan. Bukan Sean, bukan diriku. Yang ada hanya dua orang yang memang harus menampilkan yang terbaik satu sama lain karena kami saling mencintai."


Tanganku mengudara lalu terkulai di bahu Mia. "Bersenang-senanglah dengan mobil manapun yang kau inginkan. Aku mengijinkanmu malam ini. Hanya malam ini. Karena aku sedang berbahagia menyambut malam paling panas bersama suamiku."


Aku tertawa dalam hati karena kebekuan Mia. Sementara aku menggeser bahuku sedikit lebih ke kiri, aku menunduk untuk menjumput beberapa permen di meja. Ketika aku sudah mendapatkannya, aku segera berpamitan pada Mia. "Nikmatilah malammu, sissy, sebab ini adalah akhir pekan, dan Ben tidak dirumah." ujarku, lalu memasukkan satu permen ke mulutku.


Mia menyahutiku lagi. "Kau... yakin tidak perlu pengawal untuk mengontrol gairahmu itu? Aku khawatir dia akan mematahkan kakimu lagi."


Aku melenggang begitu saja. "Aku siap untuk tidak terkontrol malam ini, Mia." sahutku seraya melambaikan tangan.


Kini hentakan demi hentakan kakiku seolah berirama. Melantunkan melodi cinta yang berputar di atas piringan hitam. Lagu-lagu yang akan akan mengantarku untuk menemui suamiku yang sekarang berada di sebuah restoran, menungguku datang dan memberinya kejutan yang akan memporakporandakan hidupnya.


***


Pinggulku berlenggok sesuai irama. Satu tanganku bergerak bersama dompet sementara satunya lagi terayun sewaktu aku melangkah. Jantungku semakin berdebar membayangkan reaksinya ketika menatapku. Kepalaku menunduk dan mataku mengawasi kemana sepatuku harus menginjak dengan tepat pada anak tangga yang akan mengantarkanku pada Sean.


Tiba di anak tangga tertatas, aku menemukan pria dengan rambut mengkilap yang di sisir rapi ke samping. Jas nya tampak lebih mahal daripada set meja dan kursi yang memenuhi ruangan. Dia duduk sambil memainkan ponselnya, masih belum menyadari kedatanganku.


Aku berjalan maju mendekatinya. Lalu ketika mengangkat wajah dan menatapku, reaksinya persis apa yang diperlihatkan Mia saat di rumah. Mulut dan matanya terbuka lebar, terperangah dengan penampilanku yang memang luar biasa. Aku tertawa pelan saat dia tersentak oleh suara ponsel yang terlepas dari tangannya dan jatuh membentur meja.


Malam ini Sean terlihat begitu segar. Matanya bersinar seperti antingku. Gayanya gemerlap mengikuti aura gaunku. Dan bibirnya... Ya Tuhan, aku takkan sanggup menahan diri lebih lama jika dia tidak segera berbicara. "Kau siapa, Nona?" tanyanya bercanda. Matanya bergerak menelusuri tubuhku dari atas sampai ke bawah, lalu kembali menatap mataku lagi. "Sepertinya malam ini aku membutuhkan pemadam kebakaran karena kurasa aku melihat dewi api sedang berdiri di hadapanku."

__ADS_1


Aku tersenyum geli. "Aku tidak akan membakar hal-hal yang tidak perlu kubakar. Aku hanya membakar sesuatu yang kurasa pantas untuk dibakar." balasku sambil mengedipkan mata lalu mencium pipinya sekali.


Sean menyelaku. "Aku adalah jawabannya. Kau memang akan membakar habis tubuh dan ranjangku, Franda. Sialan, kenapa kau sangat berani menantangku?"


Tanpa berlama, Sean membuka tangan dan aku menerimanya. Lalu dia menggiringku ke kursi di seberang kursinya kemudian menarik kursi itu sedikit kebelakang agar aku bisa duduk. "Terimakasih, Warner."


Aku terpejam menikmati wewangian yang merebak dari lehernya saat dia menunduk dan berbisik tepat di telingaku. "Kau harus membayar untuk ini, Franda." Jantungku terasa akan meledak detik itu juga. Bisikannya yang ajaib nyaris melumpuhkan saraf-saraf tubuhku.


Hampir saja aku goyah dan termakan rayuannya. Beruntung aku masih menyadari rencanaku untuk membuatnya gila lebih dulu. Dengan kepercayaan diri yang berusaha kupertahankan, aku membuka mata dan mengangkat wajah lalu menatapnya yang kini duduk di seberangku. "Tentu saja, sayang. Kau pantas mendapat bayaran yang setimpal untuk usahamu menyiapkan makan malam seromantis ini."


Aku baru saja memulai aksiku menggodanya dengan gigitan kecil pada bibir bawahku, membuatnya mulai gelisah. Matanya membuka, gundukan kecil di lehernya bergerak ketika dia menelan ludah. Dan ketika aku menyentuh gelas berisi wine, dia berbicara dengan suara berat dan gelisah. "Franda," desisnya. "Hentikan sikap liarmu itu. Kecuali kau ingin melewatkan steak di hadapanmu dan kita bisa pergi dari tempat ini sekarang juga."


Mataku tersenyum untuk menantangnya lagi. "Aku masih bisa menikmati steak lain kali, sayang. Kurasa... kau yang tak sabar untuk segera menghempaskanku di ranjangmu. Oh, ayolah." kataku bersemangat sekaligus gemetar sementara bagian tubuhku dibawah sana mulai berdenyut ketika mataku menatap satu urat nadi yang menebal di lehernya saat dia menelan ludah lagi.


Ingin menyiksanya lebih jauh, kini aku menarik gelas wine dan mengarahkannya ke bibirku lalu meminum sedikit isinya tanpa mengalihkan tatapan mataku dari matanya. "Bagaimana, babe?" Aku bersorak dalam hati merayakan keberhasilanku menggodanya.


Detik itu juga Sean berdiri dan mengumpat. "Persetan dengan makan malam romantis. Kau akan menyesal karena menggodaku, Franda. Jangan menyalahkanku jika aku mematahkan kakimu malam ini." Dengan mendadak dan tiba-tiba dia mengangkat tubuhku sampai aku menjatuhkan gelas wine di tanganku.


"Oops!" Aku tertawa pelan, namun kemudian terdiam karena sadar orang-orang sedang menatap kami.


Sean tidak peduli. Dia membawaku keluar dari tempat itu. Entah kemana dimana aku akan mendarat setelah ini, tapi selama orang yang membawaku adalah Sean, maka aku akan dengan senang hati mengikutinya. Sekalipun dia membawaku ke neraka. Karena neraka yang di tunjukannya penuh dengan kenikmatan layaknya surga.

__ADS_1


__ADS_2