
Guntur menggelegar di langit yang berubah hitam. Aku bisa menyaksikannya dari tempat dudukku bersama Sean di sofa dalam kamar kami. Sean tengah membaca beberapa e-mail terkait pekerjaan melalui ponsel dan sebelah lengannya kugunakan sebagai bantal. Hatiku begitu tenang dan bahagia malam ini seiring Sean membuktikan bahwa dia benar-benar jujur mengenai Yola.
Yolanda Riyadi. Tadi siang, Sean mengajakku menemuinya untuk membicarakan masalah perjodohan mereka yang sebenarnya hanya salah paham. Beberapa tahun lalu, Papa Yola membantu Sean mengatasi masalah yang terjadi di perusahaannya dan saat itu dia mengatakan pada pria itu bahwa dia akan menjaga Yola sampai kapanpun sebagai rasa terimakasih atas bantuan pria itu. Namun dia salah menangkap maksud ucapan Sean, kemudian ketika dia sakit keras sejak setahun lalu, dia meminta Sean untuk menikahi Yola.
Sejujurnya aku mengerti maksud pria itu meminta Sean menikahi putrinya. Sebagai orangtua, tentu saja dia menginginkan putrinya berada di tangan orang yang tepat agar bisa menjaganya. Dan Sean memang pria yang tepat untuk manita manapun. Dia terlalu sempurna untuk dibiarkan begitu saja.
Sejak pertemuan kami siang tadi, untuk pertama kalinya aku mengagumi Yola. Dia gadis yang baik meskipun terkadang sikapnya menjengkelkan saat bermanja-manja dengan Sean. Tapi aku membiarkannya untuk sekarang, karena aku belum melihat sesuatu yang mengancam darinya. Yola hanya gadis kecil yang terpaksa mengikuti kemauan Papanya, dan dia sendiri sudah memiliki kekasih. Bahkan dia membawa kekasihnya saat bertemu kami tadi siang.
Mataku masih menatap keluar melalui dinding kaca sementara tubuhku gemetar karena kilat petir yang mencekam, juga gemetar karena aku mempunyai pria yang sangat tampan di sampingku. "Sepertinya hujan pertama akan turun hari ini," Sean menjulurkan tangan untuk menaruh ponselnya di nakas lalu menoleh padaku. "Kau takut petir?" Dia menyadari remasan tanganku di kausnya saat suara keras petir menyambar puncak salah satu gedung tak jauh dari tempat tempat tinggal kami.
Hangat yang terpancar dari mata Sean membuatku tersenyum dan merasa aman. "Ya." pipiku berubah panas. "Tapi aku tidak takut lagi karena kau akan memelukku sepanjang malam."
Tangan Sean meremas tanganku. Tatapannya beralih kesamping, menatap pada langit hitam seperti apa yang kurasakan beberapa saat lalu. Hatiku terasa jungkirbalik, pekat dan penuh kekhawatiran, tapi aku berhasil menumpahkannya sehingga aku sekarang merasa lega. Lebih lega lagi karena Sean bersamaku, berbaring bersamaku, dan tersenyum kepadaku. Ketika aku merasa getir menatap kilat petir yang mendadak di kejauhan, tangannya menyapu tanganku.
Aku menengadah, mengamati wajah Sean sampai hatiku beguncang. Tulang rahangnya sangat indah, bulu-bulu tipis dan kasar tumbuh di sekitar mulut, dagu, dan rahangnya, dan aku sangat tergila-gila dengan tampang seksi dan berandalnya itu. Ketika wajah itu terbenam di perutku seperti beberapa malam lalu, kulitku tergelitik dan merinding. Sensasinya sangat membakar.
Tapi kini dia mengerutkan bibir, menarik napas dalam, dan sedikit resah. Dia menoleh padaku dengan raut penuh penyesalan. "Franda, aku benar-benar minta maaf karena sudah menyakitimu."
__ADS_1
Dia diam kembali setelah mengucapkan itu. Rautnya sekarang tegang dan gelisah, dia mendesah berat seakan-akan aku baru saja menusuk hatinya dengan sebilah pisau. "Aku benar-benar hancur saat kau mengatakan ingin sendiri. Aku takut kau menghukum dirimu lagi." Sean berdecak, rahangnya berkedut. "Tapi karena kau wanita yang luar biasa, kau bersedia menghadapi perasaan itu, dan bertahan bersamaku."
Aku tersenyum dan membenamkan wajahku di lehernya. Tanganku mengusap dadanya yang berdebar keras untukku sementara sebelah kakiku menimpa pahanya yang besar dan berotot. "Sebenarnya aku sama seperti wanita lainnya di luar sana, aku juga wanita biasa, Sean." Aku mengangkat wajah menatap matanya yang sudah melirikku. "Aku bisa cemburu dan ragu, marah dan resah. Tapi perasaan cintaku kepadamu lebih besar dari semua itu."
Rahang Sean mengertak. Dia menarik tanganku dengan lembut untuk diciumnya. "Sebenarnya akulah yang beruntung, Franda. Aku merasa hidup karena cintamu yang istimewa."
Aku menggigit bibirku sendiri, lalu berpura-pura mendesah untuk menggodanya. "Ya, tapi Yola benar-benar mengacaukan suasana hatiku."
Mulut Sean melengkung seksi, nakal, sekaligus intim. Kami bertatapan beberapa saat sampai kurasakan jantungku hendak pecah berhamburan karena Sean memang sangat menawan. "Franda," dengkurnya serak padaku. "Aku akan menebusnya. Aku berjanji akan menebusnya."
Aku membalasnya sambil bercanda. "Tapi kakiku belum terlalu kuat untuk menghadapimu. Kecuali kau memang mau membuatku terbaring di ranjang selamanya."
"Dan saat hari itu tiba, pastikan dirimu memiliki tenaga yang cukup karena aku tidak akan melepaskanmu."
Aku ikut tertawa mendengar godaannya. "Aku selalu kuat menghadapimu, babe. Saat ini hanya kakiku yang menahanku untuk tidak menyerangmu."
Sean tertawa lagi, tawanya benar-benar jantan dan memukau. Lalu dia berdecak padaku dan aku sangat ingin mencium bibirnya. "Apa yang harus kulakukan untuk membungkammu, Franda? Kenapa kau begitu berani menantangku, hm?"
__ADS_1
Aku bergidik ngeri mendengar suaranya yang tiba-tiba lebih berat dan matanya menyipit. "Mungkin... kau harus meniduriku di tempat lain. Kita butuh suasana baru, sayang."
Raut sean mendadak berubah, seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu. "Sebenarnya, aku sudah membeli rumah yang dengan pemandangan hutan dan danau seperti yang kau katakan di basement waktu itu. Lokasinya tak terlalu jauh dari tempat bulan madu kita."
Aku sontak mengangkat kepala dan menatap dalam pada matanya. "Ya Tuhan, kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku sebelumnya, Sean? Aku ingin kita pergi kesana."
Sean membalas tenang, dengan mata yang berkilat-kilat. "Karena saat itu aku ingin memberikannya sebagai hadiah atas kehamilanmu. Tapi kau kecelakaan tepat sehari sebelum aku membawamu kesana, dan situasi kita memburuk sejak hari itu."
Tubuhku melemah, rasa bersalah kembali menyerang. Ucapan Sean baru saja menamparku, di ingatkan tentang kejadian itu membuatku kembali merasa bahwa aku memang bodoh.
"Hei, jangan salah paham. Aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku minta maaf karena mengungkit masalah itu."
Sean mengangkat daguku agar menatapnya. "Percayalah... aku tidak menyalahkanmu sedikitpun. Kau sudah cukup untukku."
Sean menurunkan wajahnya untuk menciumku. Tapi aku belum membalas. Pikiranku masih kalut karena ucapannya. Kehilangan bayi di kandunganku beberapa bulan lalu nyatanya tak bisa kulupakan begitu saja. Setiap saat aku melihat atau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan hari itu, hatiku selalu sakit dan tanpa kusadari air mataku menetes.
Aku sedikit meringis ketika Sean menggigit bibir bawahku. Dan saat mulutku terbuka, lidahnya membelaiku dengan pelan dan penuh cinta seperti yang dilakukannya selama ini sampai aku terbuai dan membalasnya.
__ADS_1
Ibu jari sean mengusap air mata yang mengalir di pipiku setelah ciuman kami terlepas. Sekali lagi, dia meyakinkanku dengan kata-katanya. "Berhenti menyalahkan dirimu, Franda. Aku mencintaimu karena itu kau. Bukan karena aku mengharapkan sesuatu darimu. Waktu kita masih banyak jika memang kau ingin hamil lagi, tapi aku tidak akan melakukannya sampai kau benar-benar siap." Sean menciumku lagi.
Sialan. Aku mengumpat pada diriku sendiri yang begitu bodoh dan lemah karena tak bisa bangkit dan melupakan hari itu.