
Pada saat pagi aku terbangun dalam keadaan lelah, namun sisa kenikmatan yang masih berdengung panas di sela kedua pahaku lebih layak untuk dirasakan dibanding lelah itu sendiri. Suamiku yang perkasa itu bercinta denganku tanpa ampun, membuatku hanya bisa pasrah menerima serbuannya yang menggetarkan saraf-saraf di sekujur tubuhku.
Aku masih terbayang suara-suara yang berupa erangan serak yang berasal dari mulutnya ketika telapak tanganku menahan bokongnya yang keras sementara mulutku terus memuja tubuhnya yang beraroma unik dan khas. Dan rada tubuhnya... lebih luar biasa lagi sampai-sampai mulutku berair lagi karena memikirkannya. Aku ingin kembali mengusap setiap jengkal tubuh Sean dengan mulut dan tanganku, karena aku takkan pernah bosan. Tubuhnya itu selalu membuatku linglung dan tergila-gila.
Ah... lagi-lagi bayangan kegiatan panas semalam membuat jantungku berdebar. Aku sudah merindukannya dan ingin segera memeluknya lagi, tapi ketika aku membalikkan badan, pria seksi itu tidak ada di ranjangku. Aku melirik jam yang terpasang di dinding yang menunjukkan angka sembilan pagi, dan aku samar-samar mendengar suara orang berbicara dari arah halaman belakang.
Aku turun dari ranjang kemudian menyambar selembar pakaian dalam hitam berenda dan menaikkannya melalui kaki, lalu aku berderap ke lemari untuk mengambil satu kaus Sean yang selalu kusukai. Ketika aku mengenakan kausnya, aku merasa seolah dia memelukku karena aroma tubuhnya yang melekat disana.
Aku melangkah keluar dari kamar tanpa berniat memperbaiki penampilanku lebih dulu, bahkan aku tak sempat bercermin untuk melihat bagaimana rupaku saat ini. Tapi aku tahu jelas rambutku pasti sangat berantakan dan lembab akibat tercampur keringat hasil pertempuran panas kami semalam. Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku, dan ketika aku berada tepat di ambang pintu, aku menemukan jawabannya.
Di halaman belakang, Sean dan teman-temannya yang entah sejak kapan berada disini sedang berkumpul. Sam yang pertama kali melihatku langsung berseru. "Hei, lihat siapa yang muncul disana... kau seperti habis di terkam binatang buas, girl." selorohnya, diikuti gelak tawa ringan dari yang lainnya.
Aku melemparkan senyum pada mereka. "Well, aku tinggal di hutan, tentu saja banyak binatang buas disini." balasku bercanda sambil mendekat.
Aku merunduk memeluk Sean yang sedang duduk. "Good morning, husband." bisikku di telinganya, lalu menghadiahinya ciuman selamat pagi di pipinya sambil mengusap dadanya, ciuman yang sekaligus menyatakan terimakasih untuk malam panjang dan panas yang beberapa jam lalu dia berikan padaku.
Sean memiringkan wajah, manatapku sambil tersenyum. "Good morning, wifey." sahutnya lembut. Aku mendadak terserang gugup karena dia berbicara di depan wajahku, hingga sapuan napasnya yang hangat menggelitik kulitku.
Aku menelan ludah sekali saat beradu tatap dengan mata samudranya, kemudian dengan cepat aku mengakhiri momen mendebarkan itu dan melangkah ke arah Sam dan Maggie untuk menyapa mereka. "Apa kabarmu, Sam?" Dia menyambutku dengan kedua tangan terbuka lebar kemudian memelukku erat-erat.
"Selalu baik." Dia berkata sambil mengusap-usap punggungku.
Aku tersenyum padanya, lalu beralih kepada Maggie. "Maggie, kau terlihat cantik dengan gaun itu." pujiku dengan nada takjub yang alami. Aku tidak berbohong, dia memang terlihat luar biasa dengan gaun tipis dan ringan bermotif bunga yang melekat di tubuhnya hingga beberapa senti di atas pahanya.
Bibir Maggie melengkung indah. "Belum lama ini aku berteman dengan seorang desainer, dan dia sangat membantuku dalam memilih pakaian yang pas." Aku terkekeh dan terkejut mendengar kalimatnya. Ini merupakan suatu kemajuan yang berarti untukku karena untuk pertama kalinya Maggie, si pendiam itu, berbicara agak panjang.
"Kuharap kau tetap berteman dengannya." balasku bercanda. Aku tahu yang dimaksudnya adalah diriku.
Setelah menyapa para cewek, aku kembali melangkah ke arah Sean dan memanfaatkan pahanya yang menganggur sebagai tempat duduk. Sebelah tanganku terjulur di sepanjang tengkuk sampai ke bahunya, sementara dia melingkarkan kedua tangannya di perutku.
"Bung, kau memang paling hebat dalam menyenangkan para wanita sampai istrimu sendiri tergila-gila seperti itu padamu. Tolong ajari aku." gumam Jason bergurau.
Aku menengok dan melihat Sean mendengus. "Kau lebih ahli dariku, Jason." sindirnya halus.
__ADS_1
"Ya," sambar Matthew. "Dia hanya berpura-pura tak laku, padahal antrian para cewek mengular di belakangnya."
"Exactly!" sambung Taylor, lebih bersemangat, membuat Jason mengangkat sebelah bibirnya. Lalu wajah Taylor berubah serius. "Bagaimana kabar Julie? Apa dia belum menghubungimu?"
Jason menunduk, rautnya tiba-tiba murung seakan awan hitam sedang menyelimuti kepalanya. Dia meraih sebotol bir di meja kayu yang terletak di tengah, meneguk isinya sampai setengah, lalu memandangi botol itu beberapa saat. "Dia masih marah padaku karena kejadian itu." ucapnya pelan, dengan nada putus asa yang sangat jelas.
"Yang benar saja, Jason!" Kepalaku berputar menghadap Sean. Keningnya berkerut. "Ini bahkan sudah tahun ketiga dan dia belum mau memaafkanmu? Sebenarnya sebesar apa kesalahanmu padanya? Karena setahuku Julie bukan gadis pendendam." cetusnya, sedikit agresif menurutku karena ini masalah percintaan orang lain. Ya, meskipun Jason adalah temannya, tetap saja tidak seharusnya dia terlihat gusar seperti itu. Aku jadi sedikit curiga dengannya.
Dia buru-buru mengerjap dan berusaha terlihat tenang ketika aku mengangkat dagunya, mataku menatap penuh tanya padanya. "Oh, maaf, sayang. Julie adalah sepupuku, adik perempuan Dave. Aku jarang berkabar dengannya karena dia tinggal bersama Ayahnya di Jerman."
"Kurasa kau perlu menjelaskan lebih banyak padaku tentang 'family tree' di keluargamu, Sean. Sejauh ini aku masih buta tentangmu." bisikku pelan di telinganya agar orang lain tidak mendengar ucapanku.
Sean tersenyum. "Aku akan menjelaskan semuanya nanti." balasnya berbisik, lalu kami menatap Jason lagi.
Dia masih menunduk memandangi botol birnya. Aku khawatir tatapannya akan menghancurkan botol itu, karena... kalian pasti tahu, orang yang patah hati pasti memendam sesuatu dalam dirinya. Berusaha terlihat tenang di hadapan orang-orang, padahal sesungguhnya dia sedang menanggung perasaan yang sulit.
"Julie pergi begitu saja malam itu tanpa mau mendengarkan penjelasanku," gumam Jason memulai. "Aku sempat mendatangi apartemennya, tapi dia tidak berada disana. Aku kembali lagi beberapa kali dan belum berhasil menemuinya sampai akhirnya aku menyerah, karena kupikir saat itu dia masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri."
Jason mendesah. "Beberapa minggu setelah itu, aku melihat dia sedang makan di Goodness Gracious bersama seorang pria. Saat itu aku sangat marah. Aku mencarinya kemana-mana seperti orang sinting dan malah mendapatkan sebuah pemandangan mengejutkan dia sedang tertawa bersama pria lain, dan mereka terlihat sangat dekat." Raut wajah Jason semakin muram, jemarinya mencengkeram erat botol bir seakan ingin menghancurkannya.
Jason memukul pegangan kursi kayu dengan kuat sampai kami terlonjak, bahkan aku nyaris melompat dari pangkuan Sean karena Jason bergerak tiba-tiba dan tampak sangat mengerikan. Aku tidak percaya pria seriang Jason memiliki masalah asmara yang menyakitkan seperti itu. Meskipun aku belum pernah bertemu Julie, tapi aku yakin dia adalah gadis yang luar biasa karena bisa membuat pria sekeren Jason terlihat sangat menderita.
Jason terisak, sangat memilukan. Menyaksikan seorang pria menangisi wanita merupakan pemandangan langka, tidak banyak pria yang akan mengeluarkan air mata demi seorang wanita. Tapi Jason, dia melakukannya. Maka pengaruh Julie memang sangat besar di hidupnya.
Taylor yang berada di sampingnya langsung mengulurkan tangan menepuk pundaknya. "Bersabarlah, bung. Suatu saat dia akan memaafkanmu." gumam Taylor lembut.
Keheningan tiba-tiba menyelimuti halaman belakang. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami, terkecuali isak tangis Jason yang sesekali masih terdengar. Lalu sesuatu yang melintas di kepalaku membuatku tersentak. "Ya Tuhan... aku belum melihat Mia sejak tadi."
"Siapa Mia?" Sam bertanya padaku.
Aku menoleh menatapnya. "Adikku. Dia datang bersama keluargaku yang lain, tapi dia tidak ikut pulang karena suamiku yang tampan ini berpikir aku membutuhkan seorang teman." Mataku beralih pada Sean. Dia tersenyum kikuk mendengar nada sindiran yang memang sengaja kutujukan padanya.
"Aku ke dalam sebentar." pamitku pada mereka sambil mengangkat bokong dari pangkuan Sean. "Jason, kau pria yang luar biasa keren. Ketampananmu menurun drastis jika kau sedang murung, dan aku tidak menyukai raut itu berkeliaran di sekitar wilayahku. Jadi, berhenti bersikap cengeng." ujarku agak sinis pada Jason. Aku merasa lega karena dia tersenyum padaku. Setidaknya peringatan main-main yang kulontarkan bisa sedikit menghiburnya.
__ADS_1
Aku berbalik dan langsung melangkah ke dalam rumah, mulutku melengkung amat tinggi saat telingaku masih sempat mendengar suara Matt berbicara. "Wanitamu mengerikan, bung." katanya bergurau.
"Ya, sedikit." balas Sean, dan mereka semua tertawa.
Berada di dalam rumah, aku langsung membuka pintu kamar Mia tanpa mengetuk dan mendapati dia masih meringkuk di ranjang. Tubuhnya menelungkup, dan dia terlihat sangat lelap. Aku melangkah lebih dekat, melewatinya sejenak untuk membuka jendela kayu, lalu berbalik arah sampai berdiri tepat di tepi ranjang.
Aku mengamati lekat-lekat wajah adikku yang terlelap. Dia tampak tenang dan damai, namun aku bisa melihat beban yang tersirat di rautnya. Masalah identitasnya yang diungkap ke publik sudah pasti membuatnya resah, belum lagi tekanan dari orang-orang yang nanti mungkin akan menghakiminya secara sepihak, atau bahkan mencacinya habis-habisan karena dianggap telah merusak keluarga orang lain.
Aku tidak sanggup membayangkan betapa sulit berada di posisinya saat ini. Mia adalah gadis yang baik, bahkan terlalu baik untuk menerima keadaan sekalut ini. Aku sendiri diam-diam selalu mengaguminya karena cara berpikirnya lebih sederhana dibanding denganku. Mia tidak mau ambil pusing dengan sesuatu yang menurutnya tidak penting, dan jika dia bisa terjebak bersama walikota itu, maka pria itu pasti memperlakukannya dengan baik.
Aku belum menanyakan apapun padanya sejak kemarin karena kurasa saat ini dia lebih membutuhkan dukungan, lagi pula, menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan bukanlah tindakan yang bijak. Ada sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang diluar sana, bahwa kita tidak bisa memilih pada siapa hati kita akan terikat.
Sama seperti mantan suamiku. Nino tanpa sadar dia sudah membuat lubang yang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam jurang kehancuran. Dia hancur bersama wanitanya, sementara aku bahagia bersama Sean. Tapi itu bukan berarti aku senang karena merasa benar atau menang, aku malah ikut bersedih karena dia sendiri tidak bisa melupakan kehidupan kami dulu. Ya, biar bagaimanapun dia pernah menjadi seseorang yang berharga di hidupku dan membuatku bahagia, apalagi aku memiliki Ben dengannya, dan itu adalah hadiah terindah yang pernah dia berikan padaku selama sembilan tahun pernikahan kami.
Aku menghela napas, agak sedikit berat. Lalu menarik kembali pikiranku kepada saat ini. Aku memandang Mia beberapa detik lagi, kemudian menarik selimut yang menutup tubuhnya. "Bangunlah, pemalas!" gerutuku, berpura-pura sambil menepuk bokongnya.
Dia menggeliat. "Ah, jangan menggangguku." balasnya dengan suara serak. Mia memutar kepalanya menghadap ke sisi dinding yang terdapat jendela yang belum lama kubuka. "Ah..." erangnya, ketika sinar yang menyilaukan mengusik matanya. Lalu dia menarik kembali selimut sampai menutupi kepalanya.
Sadar dia akan tertidur lagi, aku mendaratkan bokongku di atas bokongnya dan menggerakkan pinggulku untuk mengganggunya. "Panda," Dia menggeram sambil berusaha menjatuhkanku dari bokongnya.
"Bangun! Ini sudah jam empat sore, dasar pemalas." Aku berbohong, dan itu berhasil. Gerakannya berhenti di bawahku. Kutebak matanya sedang terbuka lebar di balik selimut, dan beberapa detik lagi dia akan memunculkan kepalanya.
"Astaga... apa aku tertidur selama itu?" Tawaku seketika terlepas saat dia terbelalak menatapku. Beberapa saat kemudian dia menyadari kebohonganku saat matanya menangkap jam dinding yang menunjukkan angka sepuluh dan rautnya berubah kesal. "Sialan, kau sudah membuatku terjaga sepanjang malam karena jeritanmu dan sekarang kau mengganggu tidurku?" Aku terlonjak mendengar kalimat sinis yang dilontarkannya ketika kebetulan aku sedang menelan ludah, dan aku tersedak.
Pikiranku kembali menerawang pada kegiatan panas yang terjadi di kamarku semalam, dan aku menelan ludah lagi begitu teringat sekeras apa aku menjerit ketika Sean memberiku pelepasan yang amat panjang. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhku berdiri. Aku gugup meremas kedua tanganku sementara kakiku gemetar. Aku memang menjerit seperti orang gila, bahkan aku yakin harimau pun akan terjaga di suatu tempat di hutan yang lebih jauh ke dalam. Ya ampun, aku bahkan merasakan gairahku bangkit dan kewanitaanku berdenyut dan basah. Sialan!
Belum selesai aku membayangkan kejadian yang membangkitkan gairahku, suara Mia menarikku kembali. "Ya Tuhan, Panda! Apa kau sedang membayangkan kejantanan suamimu?" ujarnya setengah memekik, terperangah, lalu menggeleng tak percaya menatapku, sementara aku hanya tersenyum sambil menggigit bibir.
Dengan satu gerakan cepat mendorong tubuhku, menyibak selimut dengan kasar, kemudian buru-buru turun dari ranjang. Aku berbaring gelisah memandanginya, menahan sesuatu dalam diriku yang penuh oleh hasrat dengan merapatkan kedua pahaku.
Sembari melangkah ke arah lemari, Mia mengomel lagi. "Kurasa aku tidak akan sanggup lebih lama berada disini. Kau tahu? rumah ini akan segera terbakar karena panasnya hubungan kalian."
Mendengar dia menyindirku, aku sontak tertawa sampai setitik air mata keluar di ujung mataku. Mia tidak bersuara lagi karena setelah itu dia langsung ke luar sementara aku kembali tergoda untuk membayangkan kejadian malam tadi.
__ADS_1
"Warner, kau memang memabukkan."