
...Sean Danial Warner POV....
Aku tengah di rundung kebingungan dalam menghadapi Franda. Aku tidak tahu kalau keadaannya separah itu, kupikir dia hanya kesulitan dalam mengatur emosi, tetapi ternyata semuanya lebih kompleks, rumit, dan menyakitkan. Apa yang di alami oleh Franda lebih buruk dari apapun, dan menjadi lebih buruk lagi karena dia sendiri tidak mengijinkan orang lain membantunya.
Franda berkeras bahwa dia bisa melewati semuanya meski dia sendiri tahu itu tidak mungkin, dia membutuhkan pertolongan tapi dia menolak semua bantuan yang ada. Franda seakan sedang berdiri di tepi jurang, bersiap melompat, mengabaikan kami yang berteriak menahannya, tapi dia tak peduli. Dia menghempaskan dirinya pada keputusasaan, terperosok ke dalamnya, memilih menyerah dan pasrah pada keadaan.
Ini menyakitkan bagiku, seumur hidup aku tidak pernah mengira akan berada dalam situasi sesulit ini. Aku bukan saja kesakitan melihatnya tersiksa, tapi juga menderita karena dia tidak bersedia membagi bebannya padaku. Keberadaanku tak berarti banyak untuknya, dia belum mau percaya dan menyerahkan semuanya padaku.
Aku membuang napas dengan harapan semua kekalutan melandaku juga ikut terhempas, kemudian mendadak aku tersentak saat mendengar teriakan Franda yang terdengar sampai ke dalam kamar Ben karena sekarang aku sedang menemani anakku tidur.
Dengan tergesa-gesa, aku melompat turun dari ranjang milik Ben lalu berderap keluar menuju kamarku. Ketika pintu kamar terbuka, aku syok menyaksikan tubuh Franda dalam bayangan kegelapan bergerak-gerak gelisah dan dia menjerit begitu keras, begitu tersiksa. Tak ada tanda tubuhnya yang meregang itu reda, malah jeritannya terdengar semakin serak dan menderita, aku langsung mendekati ranjang.
"Ya Tuhan..." erangku menggigil, sambil meremas rambutku kuat-kuat. Sesuatu yang mengerikan jelas-jelas sedang menerjangnya di dalam mimpi. Aku duduk di tepi ranjang, memanggil namanya dengan gemetar dan berulang kali. "Franda... Franda... bangunlah."
Air mata turun dari sudut mata Franda yang tertutup rapat sementara dada dan lehernya menegang, seketika membuat hatiku sakit. Aku tidak sanggup melihatnya tersiksa lebih jauh lagi walaupun itu di dalam mimpi. Tanganku langsung meraih tangannya dan mencengkeramnya dengan erat. "Franda, bangunlah. Kumohon bangunlah."
Setelah percobaan mengguncang-guncang lengannya yang kurus berkali-kali, baru saat itulah Franda tersentak bangun. Kedua tangannya sontak menarikku, menyergap wajahku dan dia menyerukkan hidungnya ke hidungku. Dengan napas berat dan dada naik turun karena terengah, Franda berbisik lirih. "Jangan tinggalkan aku, tolong jangan tinggalkan aku,"
Tubuhku mengeras dan tengkukku merinding merasakan sentuhan Franda yang posesif dan lembut di wajahku. Napasnya yang panas membakar sarafku. Aroma tubuhnya yang begitu kurindukan terasa menusuk penciumanku, membuatku linglung seketika. Tetapi begitu mata Franda terbuka, dia terkesiap mundur. Menarik bibirnya dari depan bibirku.
"Sean," desahnya.
Franda mengusap wajah dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Tapi kegelisahan disana tidak menghilang. "Aku minta maaf," gerutunya, merasa malu. Dan itu membuatku heran.
Aku mundur dari ranjang dan berlutut di lantai. "Tidak apa-apa, Franda. Aku tadi mendengarmu berteriak, kupikir sudah terjadi sesuatu padamu, sampai aku tidak sadar mengguncangmu terlalu keras. Aku juga meminta maaf untuk itu."
__ADS_1
Kepala Franda masih tertunduk. Dia menghindari tatapanku yang mendalam kepadanya. "Sean, sekali lagi aku meminta maaf karena sudah mengganggumu. Sekarang kau bisa istirahat." Aku mengerutkan kening.
"Tidak," kataku bangkit berdiri. "tunggu sebentar,"
Aku turun ke bawah untuk mengambil segelas air. "Franda, apakah kau tidak keberatan jika aku menyalakan lampu?" kataku saat aku sudah berdiri lagi di ambang pintu kamar, meminta ijin karena aku tidak mau membuatnya merasa malu dengan keadaannya.
Franda hanya berdeham dan mengangguk frusstasi. Aku pergi ke salah satu dinding, meraba saklar dan menekannya. Dan sekarang tampang Franda terlihat lebih jelas. Ada trauma, ketakutan, dan kesedihan yang berkecamuk di wajahnya. Aku mengulurkan gelas air itu kepadanya dan dia meneguknya perlahan. "Terima kasih, Sean." lirihnya, menaruh gelas itu ke nakas.
"Apakah kau butuh sesuatu lagi? Atau ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku?" tanyaku, dalam hati memohon agar dia mnerimaku.
"Aku baik-baik saja, Sean." balasnya keras kepala.
Aku menarik napas dalam lalu duduk di repi ranjang. "Kau baru saja bermimpi buruk, Franda. Aku mendengarmu meminta seseorang untuk tidak meninggalkanmu. Kau tersiksa dalam mimpi."
Pengelakannya yang tajam membuat hatiku sakit. Tapi entah kenapa itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya dalam mimpinya. Aku mencondongkan bahu ke arahnya dan tanganku menyentuh pipinya. "Kau menangis, Franda. Sudah pasti hal itu sangat menyiksamu. Kau bisa berbagi denganku dan kita bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama." kataku lembut seraya tersenyum padanya.
Franda bangkit dengan cepat. Menunjukkan tubuhnya yang kurus, rapuh, dan lemah itu. "Omong kosong. Itu hanya mimpi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan dari itu. Kau tidak perlu mencemaskan mimpiku."
Franda masih cantik. Masih sangat cantik. Sangat mudah bagiku untuk menyerah dan mengikuti perintahnya. Tetapi aku tidak bisa membiarkannya sebelum suasana hatinya tenang, ya, setidaknya begitu. Maka aku pun menjawab, "Aku akan menemanimu."
Franda melongos dari tempatnya. Aku menyusul dan melihat dia membuka pintu kaca yang menuju balkon. Disana, dia duduk di kursi. Tatapannya muram dan kosong.
Telapak kakiku menyentuh lantai granit yang dingin sementara aku menghampirinya, duduk di kursi di sampingnya. Dengan hati-hati, aku bertanya, "Apakah kau tadi bermimpi tentang kedua orangtuamu?"
Franda melemparkan tatapan tajam padaku tetapi rautnya murung. "Sean," desahnya pelan.
__ADS_1
Aku tersenyum dan menyentuh pipinya lagi. Mencoba sejenak mengabaikan sensasi panas akibat bersentuhan dengan seberkas kulitnya dan sisa air matanya yang hangat. "Tidak apa-apa, Franda. Mereka orangtuamu dan kau pantas merindukan mereka."
Dada Franda mengembang dengan satu tarikan napas keras. "Jangan paksa aku untuk bercerita, aku belum ingin mengatakan sesuatu."
Dia berjalan ke pagar balkon dan mencengkeramnya sambil mendongak ke langit. Aku tidak pernah menyaksikan. seseorang serapuh itu seumur hidup. Jelas sekali kepergian orangtuanya dulu sangat mengacaukan hidupnya, bahkan sampai sekarang. Dan dari situlah semuanya berawal.
Aku meremas tanganku yang panas saat berdiri di sampingnya. "Franda, orangtuamu sudah pergi darimu. Kau tidak perlu takut mereka meninggalkanmu. Mereka selalu ada di dalam hatimu, kan?"
"Kalaupun sekarang kau tidak bisa memeluk mereka, kau bisa memejamkan mata dan merasakan mereka memelukmu." sambungku. Aku pernah mendengar, orang-orang yang bermimpi buruk atau orang-orang yang menyesal, pelukan dari orang yang mereka cintai dapat menyembuhkan suasana hatinya. Aku ingin hal itu bekerja sekarang pada Franda.
Franda tak menjawabku, dia hanya melirik singkat dengan mata segelap malam. Aku menangkap bahunya, beruntung dia bersedia aku memutar tubuhnya untuk menghadapku.
Aku menunduk dan selembut mungkin berbicara padanya. "Tutuplah matamu, Franda. Kau bayangkan mereka ada di dekatmu, dan sedang memelukmu."
"Sean, kau tidak harus..."
Tanganku menangkup wajahnya yang mungil dan kedua ibu jariku menutupi bibirnya. Pelan-pelan, Franda memejamkan matanya. Bulu matanya lentik. Kecantikan Franda menerjangku sampai aku merasa penuh dan sesak. Tapi aku berusaha menahan gairahku sendiri dengan terus melirih. "Bayangkan mereka ada di depanmu, mereka tersenyum padamu, dan mereka memelukmu."
Tubuh Franda kembali gemetar, mulutnya terbuka dan mengeluarkan isakan pelan. Tarikan napasnya berat dan tersengal. Dia tersedu-sedu. Lalu tiba-tiba dia membuka mata dan menatapku. Tatapannya penuh putus asa dan kesakitan. "Aku tidak bisa membayangkan mereka, Sean. Aku tidak tahu bagaimana wajah mereka. Tidak ada satupun yang bisa kuingat dari mereka." Franda menangis sejadi-jadinya.
Aku menariknya ke dalam diriku, memeluknya erat sampai rasanya pelukanku bisa menghancurkan tubuhnya. Membiarkannya menangis dan meluapkan semua yang dirasakannya sampai merasa tenang, sampai dia merasa bebannya sedikit terangkat. Tapi Franda tidak akan bisa tenang, sampai kapanpun bayang-bayang sepeninggal orangtuanya akan terus menghantuinya.
Menyaksikannya sehancur itu, aku pun ikut menangis merasakan betapa dia sedang kesakitan saat ini. Kalau bisa, aku ingin aku saja yang menggantikannya merasakan semua itu, membebaskannya dari belenggu kepahitan dan membiarkannya hidup dengan damai.
"Menangislah, Franda. Keluarkan semua yang kau rasakan agar aku bisa mengerti perasaanmu. Aku akan selalu bersamu tidak peduli apapun yang terjadi, kita akan melewati ini bersama-sama. Aku pasti menemanimu selamanya, sampai kau benar-benar terlepas dari ikatan itu."
__ADS_1