
No comment, no update!
Jangan lupa komen kalu mau di crazy up!❤️
***
"Sayang, kau membangunkannya!" Seru suamiku yang tampan.
Aku menggigit bagian dalam pipiku untuk menahan tawa, "Hei, kau memang sudah dalam keadaan siap bahkan sebelum aku menyentuhmu ya, Samson!"
Tubuh suamiku memang sudah keras dan penuh semenjak dia terlelap, dan semakin keras dan luar biasa lagi saat dia menemukanku putus asa didepan matanya. Sean selalu siaga saat berada dekat denganku, yang membuatku sadar kapan saja dia bisa memberiku kepuasan pada tubuhku yang berdenyut-denyut dan mendamba, yang luluh dan hampa. Itu karena dia benar-benar pria sejati, yang punya waktu, kendali, hasrat, dan tenaga untuk diberikan kepadaku.
Aku menegakkan punggung, dan berpangku di sekitar otot perut dan pusarnya. Suasana hati kami yang membaik menyemangatiku untuk menggodanya. Dengan telapak tanganku yang menempel didadanya, aku mendorong bokongku ke belakang untuk menyentuh tubuhnya yang bergairah sampai dia melotot bercanda padaku. Aku tersenyum, lalu menggoda tubuhnya sekali lagi yang kali ini membuatnya menggeramkan namaku. Aku tak bisa menahan hatiku lagi yang membuncah, aku tertawa halus sambil mengerling genit padanya. "Tenang saja, sayang. Aku takkan mengganggunya dulu pagi ini. Aku tahu kau masih sangat lelah."
Giliranku yang melotot seraya menempelkan telunjukku ke mulutnya yang hendak berbicara, "Hei, itu bukan pernyataan meremehkan atau menyinggungmu, ya." Sambil sesekali menggigit bibir, ujung jariku yang lentik menyusuri dagu serta tulang rahangnya, lalu menari turun menuju nadi tebap di lehernya, "Kau pria yang sangat mempesona dan mengagumkan. Kuat dan berani. Aku selalu kagum padamu. Selalu candu padamu."
Mataku kembali melirik matanya. Mata yang menatapku dengan lembut dan sensual, "Dengan apa yang sudah kau lalui saat kabur dariku, dan dengan luka di tanganmu, lalu bercinta bersamaku dengan gila-gilaan dan liar semalam, kau butuh bersantai dulu, Sayang. Hanya sesaat."
"Dan itu sama sekali tidak mengubah kenyataan bahwa aku selalu mengharapkan tubuhmu. Aku yang selalu rentan akan dirimu dan cintamu."
"Franda." erangnya dengan suara yang penuh janji kenikmatan sampai aku merinding. Tangannya terangkat meraih helaian rambutku, lalu melilitkannya dengan lembut di sela-sela jemarinya. Perlahan-lahan dia mendorongku sampai aku merunduk dan menempel resah di dadanya. "Bisakah kau ulang apa yang kau ketahui tentang diriku?" ucapnya serak.
__ADS_1
Aku kembali menggigit bibir bawahku karena suamiku sangat seksi dan menggairahkan. "Hmm... Kau yang sangat kuat?" bisikku.
"Apa lagi?" pintanya.
"Hmm.. kau yang sangat mencintaiku?"
"Apa lagi, Franda?"
"Kau yang sangat istimewa. Kau yang sangat pengertian. Kau yang sangat luar biasa. Hm?"
Sean menggeram dibalik dadanya dengan suara liar seperti singa. Kemudian bibirnya membuka gelisah dan pinggulnya yang kuat dibalik bokongku bergerak gelisah, "Lalu apa lagi yang harus kita tunggu, Franda? Aku hanya butuh dirimu bersamaku dan air putih di gelas itu, maka aku akan bercinta denganmu sekarang. Tidak ada kata lelah bagiku kalau itu menyangkut kebahagiaanmu."
Dadaku mengencang, dan tubuhku dibawah sana berdenyut penuh harap. "Hmm..." desahku genit.
Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku yang tengah takjub padanya, dia sudah meletakkan gelas kembali ke nakas lalu tangannya mencengkeram pinggulku dengan tekanan yang nikmat saat aku terkesiap. "Sekarang rayu aku kembali, Franda. Rayulah diriku. Rayu aku kalau kau memang benar-benar menginginkannya."
Angin sejuk dari mesin pendingin ruangan menerpa tubuh kami. Tapi aku merasa panas dan tubuh suamiku sendiri juga terasa panas. Aku merayunya lagi. Merayunya dengan memuja setiap jengkal tubuhnya. Tubuh yang kuhargai, kudambakan. Dan jemariku kembali menari disekitar dadanya yang berdetak-detak, yang membuatku merasa lebih sadar bahwa aku juga membutuhkan degupan dalam jantungnya untukku.
Aku menegakkan punggungku dan terlonjak saat Sean berseru, nyaris berteriak, "Sayang!" Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, dia menarikku untuk duduk di sampingnya dan sebelah tangannya menarik selimut hingga sebatas pinggangku, sementara sebelah tangannya yang lain menyentuh perutku. "Apa ini? Kenapa ini, Sayang?" Aku menurunkan pandangan ke perutku lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa..." Ucapanku menggantung saat dia mengumpat dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sialan kau, Sean! Ya Tuhan, Franda... apa yang sudah kulakukan padamu?" Suamiku menangis, kedua tangannya gemetar menyentuh bagian lebam di perutku. Hatiku sakit sekaligus bahagia di waktu bersamaan. Sakit karena melihat suamiku yang sangat menyesali perbuatannya. Dan bahagia karena dia sangat mencintaiku sampai menangisi kesalahannya.
Kuangkat kedua tanganku menangkup pipinya, dengan ibu jariku kuhapus air mata uang mengalir membasahi pipinya. Aku menatap dalam mata birunya yang berkabut, "Sean, aku tidak apa-apa. Hei, aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Lagi pula, kemarin memang salahku karena lancang mengusikmu. Aku minta maaf." kataku sembari menarik kepalanya yang berguncang menumpang di pundakku. "It's okay, babe. I'm okay." sambungku.
Suamiku yang jantan masih terisak di pundakku, aku bahkan bisa merasakan air matanya mengalir di punggungku yang polos. "Maafkan aku, Franda. Aku benar-benar pria brengsek. Aku sudah menyakitimu, Franda. Aku menyakitimu." Aku menggeleng di pundaknya.
"Ya, kau menyakitiku!" cetusku. "Tapi bukan tubuhku yang sakit, melainkan hatiku." Aku menarik kepalaku mundur dan menatapnya, "Kau membuat hatiku sakit melihatmu marah seperti kemarin. Jangan pernah menyakiti dirimu lagi, kau tidak berhak melakukannya. Tubuhmu milikku, seluruhnya milikku, jadi jangan berani merusaknya."
"Franda," lirihnya. Aku tersenyum, lalu mengangkat tubuhku dan mendaratkan bokongku ke pangkuannya.
"Dengar... aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau melukai dirimu sendiri, Sean." Tanganku meraih kedua tangannya, dan mataku menatap punggung tangannya yang terluka. "Bagaimana bisa kau melakukannya? Apa yang sudah kau lewati selama ini sampai luka di tanganmu tak kau rasakan lagi?" Aku terisak, hatiku hancur. Sehancur tangannya yang sedang kutatap.
Suamiku menarikku kedalam pelukannya. "Jangan menangis lagi, Franda. Luka di tanganku bukan apa-apa dibandingkan air mata yang kau keluarkan. Maafkan aku yang bodoh. Maafkan suamimu yang brengsek ini."
Aku larut dalam tangis dipelukannya. Suamiku juga terisak bersamaku. Kami hanyut dalam sakit yang menyiksa akibat rasa cinta yang luar biasa. Tidak pernah aku sesakit sekaligus sebahagia ini. Sean menghadiahiku perasaan yang baru kukenal. Aku benar-benar menjelma menjadi oase di tengah padang pasir yang gersang.
Seluruh duniaku berubah begitu aku mengenalnya. Tidak ada yang lebih menggembirakan selain hidup bersamanya sampai mati. Menghabiskan sisa hari dengan menyaksikannya tersenyum, tertawa, menangis, dan puas setelah meniduriku berjam-jam. Setiap ucapan dan sentuhannya menggetarkan hatiku, melambungkanku setinggi-tingginya. Mengantarkanku pada kehidupan yang nyata. Yang lebih hidup dari sebelumnya. Yang lebih mendebarkan. Yang lebih memuaskan. Aku benar-benar wanita yang beruntung. Bahkan keberuntunganku mengalahkan para gadis cantik yang mengantri dibelakangku. Sungguh, mereka menyedihkan.
***
Awas kalo gak komen kalian ya.
__ADS_1
5 komen di bab ini baru aku upload lagi.🤣