Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Can't survive


__ADS_3

Langkahku berderap mengitari ranjang untuk mengambil ponselku yang tergeletak di sisi ranjang. Aku baru saja selesai mandi setelah sebelumnya menyiapkan makan malam untuk Ben dan bermain dengan Lily. Sekarang dua anak kecil itu sudah tenang bersama pengasuh mereka.


Sudah dua bulan berlalu sejak terakhir kali aku berbicara dengan Sean, hingga saat ini bisa kukatakan kami tidak pernah berbicara lagi. Aku sempat bertemu dengannya beberapa kali saat dia datang untuk bermain bersama Ben dan Lily, tapi aku belum mau membuka mulut untuk membahas masalah masalah yang terjadi. Ibuku, Mia, dan Edward juga datang beberapa kali, dan responku selalu sama.


From: Husband❤️: Franda, kumohon kembalilah. Aku merindukanmu, sayang.


Aku mengembuskan napasku yang terasa berat saat membaca pesannya. Dia terus mengirimiku pesan seperti itu. Setiap hari. Aku tahu dia sedang tersiksa, aku pun juga sama, tapi aku masih belum bisa menerimanya. Aku belum siap untuk mendengar kebohongan lagi darinya.


Terlepas dari apapun yang sudah dia lakukan, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Aku sendiri nyaris mati menahan rindu yang menyakitkan. Ada malam-malam dimana saat aku duduk sendirian di dalam kamar, setelah meminum beberapa gelas anggur, aku ingin membalas pesannya dan memintanya datang menemuiku. Aku tetap tidak sanggup menghilangkannya dari kepalaku. Rasa kecewa karena perbuatannya tetap ada, tapi aku juga merindukannya. Sangat merindukannya.


Veronica, gadis yang menjadi supirku mengajakku bertemu malam ini. Dia ingin membawaku ke klub paling ramai, yang katanya lebih asik dari tempat semacam itu yang pernah kudatangi. Aku tidak menolaknya, itu salah satu pengalihan yang kubutuhkan agar bisa melupakan Sean sementara waktu.


Aku meletakkan ponsel dan segera bersiap-siap untuk bersenang-senang bersamanya. Aku mengenakan gaun ringan bermotif floral dan sneakers putih. Tidak ingin repot-repot menggunakan heels. Setelah selesai aku langsung keluar dan berpamitan pada Dian, salah satu asisten rumah tanggaku.


Hal pertama yang kuketahui tentang Veronica setelah kami masuk ke dalam bar adalah dia seorang peminum berat. Kami memulai dengan dua tegukan tequila di meja bartender, lalu bergerak ke salah satu meja kosong di sudut bar dan memesan minuman tambahan.


Beberapa jam terlewati dan aku sudah mengosongkan gelas wine milikku yang entah sudah ke berapa kali, aku memutuskan untuk menyerah padanya. Kami mengobrol, menertawakan hal-hal bodoh dan lucu, dan lebih mengenal satu sama lain dengan berbagi cerita yang lebih pribadi. Beberapa temannya juga ikut bergabung disana.


Malamku terasa menyenangkan dan penuh dengan tawa, membuatku sedikit lebih santai dan melupakan masalahku, hingga ponselku tak berhenti berdering. Aku meraih ponsel dari dalam tas dan melihat siapa yang mengubungiku sementara Veronica dan teman-temannya sedang berada di tengah-tengah cerita lucu.


Jantungku berhenti berdetak sesaat ketika aku melihat nama Sean di layar ponselku.


Ini sudah hampir tengah malam dan dia tidak pernah meneleponku sebelumnya. Aku terlonjak membayangkan bagaimana reaksinya jika dia tahu aku sedang berada di luar dan tidak memberitahunya. Bahkan setelah apa yang dia lakukan, aku masih menghargainya sejauh ini. Aku masih memikirkan perasaannya. Dan satu lagi, siang tadi Ameer mengatakan padaku bahwa Sean berada di Singapura dan sedang sakit, tapi aku mengabaikannya.


Seketika panik menyerangku. Aku menyela obrolan Veronica sebentar dan mengatakan padanya aku perlu keluar untuk mengangkat telepon, lalu aku melangkah meninggalkan mereka.


"Sean," suaraku tercekat dan bergetar, perasaan gugup dan cemas menerjangku.


"Franda, hei..." Nadanya yang lembut dan serak terasa sangat menenangkan di telingaku. "Apa kau sibuk?"


Aku mengabaikan pertanyaannya. "Apa kau baik-baik saja? Ameer mengatakan padaku kalau kau sakit." tanyaku dengan gemetar sembari menyusurkan sebelah tangan ke rambut.


"Aku baik-baik saja," balasnya, suaranya terdengar sehalus bourbon, menjalarkan kehangatan ke sekujur tubuhku. "Aku hanya ingin berbicara padamu."


Aku menghembuskan napas lega. "Berbicara. Oh. Okay." kataku pelan, tidak bisa menutupi nadaku yang jelas terdengar mabuk. "Baiklah."

__ADS_1


Dia tertawa pelan, dan aku bisa mendengar langkahnya sedang berjalan. "Apa kau sedang minum?"


"Sedikit." Aku mengakuinya sambil tersenyum, belum percaya bahwa aku benar-benar mengangkat teleponnya. "Aku senang mendengar suaramu, Sean."


Dia terdiam selama beberapa detik sebelum menjawabku. "Franda, sayang."


Air mataku menggenang mendengar suaranya yang begitu lembut menyapu telingaku, dan perlahan-lahan air mata itu turun membasahi pipiku. Ini menyakitkan. Menahan rindu sangat menyakitkan, dan lebih menyakitkan lagi karena akulah yang tidak ingin menemuinya.


"Apa kau sendirian? Atau ada orang yang menemanimu?" tanyanya setelah beberapa saat.


"Aku bersama supirku dan teman-temannya, tapi mereka di dalam. Aku mengira sesuatu terjadi padamu, Sean. Kau tidak pernah meneleponku selarut ini." gumamku menjelaskan.


"Aku minta maaf jika membuatmu terkejut." Kutebak dia sedang menyeringai sekarang. "Aku mencintaimu, Franda."


Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Aku takut sesuatu terjadi padamu."


Sean berdeham. "Aku baik-baik saja, Franda. Apa kau ingin kembali menemui teman-temanmu atau kita bisa bicara sebentar?" Aku terpaksa memejamkan mata mendengar suaranya yang terus terdengar nyaman di telingaku. Suara yang begitu kurindukan.


"Ya, kita bisa bicara." jawabku malu-malu.


"Bagaimana kabarmu, sayang?"


Dia terdiam lagi selama beberapa detik sebelum suaranya terdengar kembali. "Benarkah?"


"Ya," Aku terengah-engah. "Ini menyakitkan, Sean."


"Aku tidak tahu apakah ini akan membantumu, tapi aku juga merindukanmu, Franda. Aku sangat merindukanmu." Dia berdeham, mencoba menenagkan suaranya yang bergetar. "Dengar, Franda... kau sedang mabuk, mungkin akan..."


Aku tidak sanggup mendengar suaranya lebih lama lagi, dia sangat lembut, dan bukan tidak mungkin aku akan berakhir dengan sekujur tubuh yang gemetar di depan klub seperti orang gila. Maka aku memotong ucapannya. "Aku tidak bisa melupakanmu, Sean."


Sean tidak mengatakan apa-apa. Aku terisak dan mencoba menenangkan emosiku yang tidak terkendali, tapi mendengar suaranya adalah sesuatu yang sangat mendebarkan. Aku tidak akan sanggup melarikan diri dari pria ini. Dia sangat brengsek dalam memikatku.


"Franda, kembali ke supirmu dan minta dia mengantarmu pulang." Hatiku sakit karena dia mengabaikan ucapanku.


"Sean, aku tidak bisa melupakanmu." kataku mengulangi dengan suara putus asa dan terisak lagi. "Kumohon, katakan sesuatu."

__ADS_1


"Franda, aku juga tidak bisa melupakanmu, tapi kau sedang mabuk dan besok kau tidak akan mengingat apa yang kau katakan malam ini. Sial! Cepat kembali ke dalam dan minta supirmu untuk mengantarmu pulang."


"Sean,"


"Ya,"


"Kumohon, datanglah... aku membutuhkanmu."


"Franda, aku sedang di Singapura. Aku tidak mungkin mendatangimu malam ini. Kita akan bertemu besok pagi, oke?"


"Sean,"


"Ya, Franda."


"Kumohon, datanglah, Sean... Kumohon, aku membutuhkanmu. Datanglah padaku..." Aku tidak bisa lagi menahan suara tangisanku. Ini benar-benar gila dan menyakitkan.


Dia mengikatku sekuat dan sekeras itu. Aku tidak akan pernah sanggup berpisah dengannya sampai kapanpun. Persetan dengan harga diri. Aku membutuhkannya berada di dekatku. Aku ingin menghabiskan setiap hari bersamanya.


"Sean, please..." Aku memohon lagi dengan suara tercekat.


"Ya Tuhan, kau benar-benar mabuk, Franda."


"Please, come to me." kataku mengabaikannya. Aku tahu bahwa aku sedang mabuk, tapi aku benar-benar membutuhkannya.


"Sean," Aku mulai tertawa seperti orang sinting. "Sean, Sean, Sean,"


"Ya, Franda. Ada apa?"


"Namamu sangat lucu," Aku tertawa lagi, sama sekali tidak menyadari apa yang kuucapkan. "Kau pria yang dingin tapi namamu Sean."


Dia terkekeh. "Jadi, kau tidak menyukainya?"


Aku menggeleng. "Aku suka namamu, terdengar manis. Hanya saja lebih cocok jika anak-anak yang menggunakan nama itu." tawaku semakin meledak, hingga orang-orang memandangku dengan tatapan heran. Aku tidak peduli.


Sean ikut tertawa di ujung telepon. Hatiku dipenuhi ketenangan saat mendengar suaranya yang lepas dan riang. Membuatku semakin merindukannya.

__ADS_1


"Sean," kataku setelah tawa kami mereda. "Aku merindukanmu. Aku membutuhkanmu, Sean. Apa kau mendengarku?"


"Fine! Sebaiknya kau membuat pengingat di ponselmu sekarang, karena aku tidak mau kau menendangku saat melihatku besok pagi."


__ADS_2