Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 52


__ADS_3

Franda masih berjuang dalam proses melahirkan putranya, sudah hampir delapan jam dirinya berkali-kali merasakan sakit di pinggulnya namun belum ada tanda-tanda sang bayi akan mengakhiri penderitaannya. Franda tampak begitu lelah, tekanan pada pinggul dan perutnya tidak bisa membuatnya istirahat barang sebentar. Setiap kali dirinya menutup mata, gelombang cinta itu datang kembali, menyerang tanpa permisi.


Nino yang setia menemani juga tak kalah putus asa melihat wajah lelah istrinya, mengabaikan kantuknya, memilih menemani dan menghibur wanita pujaannya itu sementara yang lainnya sudah kembali ke rumah.


"Sayang, aku mau minum..." ucap Franda dengan lemah, tenaganya benar-benar terkuras habis.


Nino bergerak mengambil air mineral dan menyerahkannya pada sang istri, "Masih sakit?" tanya Nino.


Franda mengangguk, "Ini benar-benar tidak nyaman!" keluh Franda.


"Sabar, Sayang! Bertahanlah sebentar lagi..." Nino mengelus perut Franda dengan lembut, "Ben, jangan menyusahkan Mommy, Mommy kesakitan sekarang. Ayo, keluarlah... Kau tidak bosan di dalam sana? Dunia lebih indah, Ben! Daddy akan bermain denganmu disini, jangan membuat Mommymu kesakitan terus, Sayang!" lanjut Nino, mengajak bicara bayi di balik lapisan kulit istrinya yang menggembung, berusaha bernegosiasi agar sang bayi menurutinya. Hah.


"Sayang, bantu aku berdiri, aku bosan berbaring seperti ini terus." kata Franda.


Nino dengan sigap langsung memegang kedua tangan Franda, mengarahkannya ke pundaknya, lalu menahan pinggang istrinya. Dengan perlahan Franda berjalan sambil berpegangan pada pundak suaminya, mengabaikan rasa nyeri dibawah sana dengan berulangkali menarik napas dalam.


"Sayang, maaf membuatmu menderita." Ucap Nino.


Franda tersenyum dan menggeleng, "Aku juga menginginkannya, rasa sakit ini tidak sebanding dengan perasaan bahagiaku, aku rela membayar lebih untuk mendapatkannya." jawab Franda, sambil menatap manik cokelat suaminya.


"Maafkan kesalahanku di masa lalu, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, aku akan membahagiakan kalian disisa hidupku. Terimakasih untuk cintamu yang luar biasa. Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu!" Nino melabuhkan ciuman hangat di kening istrinya, perasaan harunya menyeruak begitu saja. Matanya berkaca-kaca mengingat perjuangan istrinya dalam pernikahan mereka.


Franda mengelus pipi suaminya, ditatapnya dengan penuh cinta lelaki yang bersamanya selama 8 tahun terakhir, "Sayang, kau tau... Aku begitu lemah saat berhadapan denganmu, kenapa kau mengikatku seperti ini? Kau memberiku cinta yang membuatku tidak bisa melihat kesalahanmu, kau terlalu jahat! Kenapa pesonamu begitu mengagumkan? Hm?"


"Apa yang membuatmu mencintaiku dan menerimaku kembali?" tanya Nino, tangannya bergerak memijat punggul istrinya dengan lembut.


"Semuanya... Mata, hidung, bibir, rambut, dan tanganmu. Aku menyukai semuanya, kau juga menarikku dengan hal-hal sederhana, kebaikanmu pada orang lain, dan juga cintamu pada keluargaku." kata Franda sembari mengabsen semua bagian tubuh Nino yang diucapkannya tadi.


"Tapi, aku tidak sebaik itu, Sayang!"


"Ya, kau memang jahat padaku. Sangat jahat. Kau tahu apa yang membuatku memaafkanmu dulu?" tanya Franda.


Nino menggeleng.

__ADS_1


"Itu karena Mia, anak kecil itu membuatku berpikir kembali untuk bercerai denganmu. Aku tidak mengira dia memiliki pemikiran yang dewasa dibalik sikap kekanakannya, dia mengatakan kau juga pasti menderita jika kita bercerai..." Franda terdiam sebentar, merasakan sakit di pinggulnya.


"Aku tidak tahu dari mana pikiran seperti itu muncul di kepalanya, padahal saat itu jelas-jelas dia mengatakan tidak mau berhubungan serius dengan laki-laki." lanjut Franda.


Nino tersenyum, "Aku harus mengucapkan terimakasih padanya nanti." ucap Nino.


"Sayang, apa kau mencintaiku?" tanya Franda tiba-tiba, membuat Nino mengerutkan dahi.


"Tentu saja! Kenapa bertanya seperti itu?"


"Lalu, kenapa kau menduakanku?" Franda menatap lekat mata suaminya, menuntut penjelasan yang masuk akal.


Selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan jawaban yang masuk akal baginya. Nino selalu mengatakan Ia selingkuh karena keadaan mereka sama, Ia dan Jenny memiliki situasi yang sama, membuat mereka bisa memahami perasaan satu sama lain.


"Sayang, kenapa membahasnya lagi? Aku tahu kau pasti tidak nyaman jika kita membicarakan masalah ini..."


Franda menggeleng cepat. "Tidak! Aku benar-benar ingin tahu, ceritakan alasan yang masuk akal padaku. Sayang, kau tahu apa yang paling menyakitiku? Aku merasa bodoh karena tidak mengetahuinya, aku seperti tidak mengenali suamiku. Kita tidur di ranjang yang sama setiap hari, bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa kau tidak sepenuhnya bersamaku?"


"Sayang, tidak begitu..."


"Aku memberimu seluruh hidupku, mencurahkan segalanya tanpa menyisakan ruang bahkan untuk keluargaku sendiri, aku sudah berjanji akan setia padamu seumur hidup, dan aku membuktikannya. Tidak pernah sekalipun aku membiarkan diriku disentuh oleh lelaki manapun, bagiku hanya kau yang berhak memilikiku."


Franda menunduk didada suaminya, air matanya tumpah seketika. Kembali mengingat pengkhianatan Nino membuatnya merasakan sakit di hatinya. Diremasnya pundak suaminya, berusaha menyalurkan perasaan sesak yang menyeruak di dadanya. Franda mengangkat kembali wajahnya, menatap dalam pada mata suaminya.


"Sayang, aku sudah membuktikan cintaku padamu, kau sudah merasakan sebesar apa aku bisa menerimamu, kau sudah melihat seluas apa tempatmu dihatiku. Bisakah kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi?" pinta Franda.


"Sayang, aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Maafkan kesalahanku, aku tidak mencintai siapapun selain dirimu. Aku lelaki, kaum kami bisa melakukan apapun meski tanpa cinta, berbeda dengan wanita. Jangan mengungkitnya lagi, aku tidak akan melupakan itu seumur hidupku, Sayang. Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain. Bisakah kau percaya padaku?"


Franda tersenyum, lalu mengangguk pelan, "Aku pegang janjimu. Ingat hari ini setiap kali iblis berusaha merasukimu, ingat anak kita yang akan menjadi korban. Berusahalah menjaga dirimu, Sayang! Posisimu sangat rawan, aku tidak bisa terus mengandalkan kepercayaanku. Banyak wanita yang menginginkanmu, kita harus bekerja sama agar bisa memukul mundur mereka. Kau bisa?"


"Ya, Sayang! Aku akan menjaga diriku untukmu." janji Nino pada istrinya lalu melabuhkan ciuman hangat di bibir Franda.


"Aakh..." Nino tiba-tiba berteriak karena istrinya menggigit bibirnya hingga berdarah. "Kenapa menggigitku?" ucapnya kesal sembari memegang bibirnya.

__ADS_1


"Simbol tanda tangan kontrak! Hahaha" Franda menjawab sambil tertawa kencang, tanpa sadar tawanya mengundang masalah. "Aaahhh..." gantian Franda yang berteriak merasakan gelombang cintanya yang kembali.


"Sayang..." Franda menurunkan pandangannya kebawah, Ia merasakan seperti ada yang mengalir dibawah sana.


Nino langsung panik saat melihat cairan yang keluar dari paha istrinya, "Kau pipis?" tanyanya. "Sabar, aku panggil dokter," Nino segera melepaskan pegangannya pada Franda, namun langkahnya terhenti saat akan keluar ruang perawatan.


"Kau mau kemana?" tanya Franda kesal, bisa-bisanya suaminya meninggalkannya saat dirinya seperti itu.


"Memanggil dokter!" jawab Nino singkat, wajah paniknya tak bisa ditutupi lagi.


"Itu!" Franda menunjuk tombol nurse call di samping hospital bed.


Secepat kilat Nino menyambar benda itu menekannya berkali-kali, hingga seorang perawat masuk dan menatap kesal padanya.


"Ya, Pak! Ada yang bisa dibantu?" tanyanya dengan tak ramah. Nino ingin marah namun istrinya lebih penting sekarang.


"Istriku..." hanya itu yang keluar dari bibirnya, tidak tahu harus mengatakan apa.


Sang perawat dengan name tag yang bertuliskan Elvira itu langsung mengikuti arah telunjuk Nino.


"Astaga!... Sebentar..." perawat itu langsung berlari keluar, tak berapa lama kembali bersama dokter kandungan Franda, dokter Clara.


Sang dokter tersenyum begitu masuk, acuh pada ekspresi dua orang di ruangan tersebut yang sedang panik, "Sepertinya kantung ketubannya sudah pecah. Ayo, kita periksa, semoga sudah ada kemajuan." ucap sang dokter, sambil mengarahkan Franda ke hospital bed.


"Ibu, ini pasti tidak nyaman, tahan sebentar ya." ucap sang dokter. Franda yang sudah hapal hanya mengangguk, karena sejak delapan jam lalu dokter itu selalu saja mengatakannya tiap akan memeriksa dilatasinya (pembukaan).


"Belum bertambah, masih dilatasi 1. Kita tunggu beberapa jam lagi, ya." ucap sang dokter sambil tersenyum sembari membuka sarung tangan medisnya.


Nino yang tidak sabar langsung menghardik sang dokter, "Berapa lama lagi, dok? Istri saya sudah menderita sejak kemarin!" bentaknya tanpa sadar, rasa panik membuatnya gila.


Dokter Clara yang memahami sikap calon bapak itu hanya tersenyum, tentu ini bukan pertama kalinya dirinya berhadapan dengan situasu seperti ini.


"Maksimal 24 jam, Pak! Kalau..."

__ADS_1


"Hah? Bagaimana mungkin istri saya bertahan selama itu? Dia sudah kelelahan, kalian mau membunuhnya?"


__ADS_2