Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Disaster Coming


__ADS_3

Saat ini, kami sedang bersantai usai santap malam di rumah Taylor dan Samantha. Aku sangat bahagia berada disini bersama orang-orang seperti mereka. Rasanya sangat damai dan tentram. Tempat ini bukti bahwa kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal kecil dan sederhana. Aku yakin belum pernah setenang ini saat duduk bersama orang lain selain keluargaku. Suara tawa yang bersambut tak pernah berhenti memenuhi setiap ruangan yang kami duduki, dan hatiku lebih tenang lagi ketika suamiku yang mempesona itu tak pernah mau berjauhan denganku. Kami bagai dua potong besi yang di las dan tak bisa dipisahkan oleh apapun.


Aku menyukai rumah Taylor dan Sam yang penuh kehangatan. Ruangan-ruangannya tidak terlalu luas, berlangit rendah dengan plafon datar, ukiran cat emas berpola garis berliku di langit-langit, dan bingkai-bingkai berprofil.


Taylor memilih salah satu album Jonas Brother untuk diputar sementara Maggie dan aku membantu Sam menghidangkan mangkuk-mangkuk berisi cokelat, kacang, biskuit, serta cheesecake dan salad buah yang kubawa di meja kayu.


Setelah melewati beberapa sesi konseling 'khusus' bersama Sam, sesuatu melintas di benakku. Mungkin serentetan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan lebih berdampak daripada yang kuduga sebelumnya. Bagaimana jika itu bagian pola tak tampak yang akan membawaku lebih jauh dari kesadaranku? Semakin kupertimbangkan, semakin aku yakin bahwa itu mempengaruhi mentalku ke arah yang lebih buruk.


Kadang, aku hanya ingin semua masalahku berlalu. Lenyap begitu saja ketika aku mencoba mencari ketenangan dengan melakukan hal-hal yang kusukai, setidaknya pikiranku bisa teralihkan. Tapi ternyata aku salah, tanpa kusadari aku malah semakin kesulitan. Semakin lama rasanya seperti berusaha dengan sekuat tenaga untuk memanjat tebing yang terjal dan dalam, sejengkal demi sejengkal, tapi seiring gerakan yang kulakukan, justru membuatku terperosok semakin dalam. Begitu melelahkan dan sia-sia.


Perlahan ocehan Taylor yang tak habis-habis mengembalikan pikiranku pada ruang tamu tempat kami berkumpul. Aku memandangi satu per satu manusia di hadapanku dengan perasaan tenang dan terharu sekaligus. Mereka orang-orang terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku. Paling tulus dan paling bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Saling melempar sindiran namun dengan cara yang paling halus, hingga setiap yang mendengar hanya menganggap itu sebagai gurauan.


Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Matt berseru. "Guys, ini tidak asik!" gumamnya dengan raut bosan. Kami semua menatapnya. Bingung. "Oh, come on... kalian tahu maksudku." Matt melanjutkan sambil mengangkat tubuhnya hingga berdiri tegak di depan sofa dengan wajah menuntut.


Keheningan terjadi tapi hanya dua detik. Setelah itu Taylor mengikuti gerakan Matt, lebih bersemangat. "Kau benar, sob..."


Dan, begitulah awalnya hingga sekarang kami duduk di sebuah pub di tengah kota.


Keadaan di dalam sudah cukup ramai, dan akan semakin ramai lagi seiring malam yang bertambah larut. Di tempat-tempat seperti ini di belahan dunia manapun, manusia selalu menaruh harapan yang besar. Yaitu bisa santai sejenak sambil minum-minum dengan teman. Walau pun tak semuanya begitu, tapi kebanyakan memiliki tujuan yang nyaris sama.


"Inilah yang dinamakan hidup!" Matthew berseru pada kami mengatasi suara musil yang membahana di seluruh penjuru pub.


Dari sampingku, Sean tersentak maju saat Matt memukul punggungnya kuat-kuat. Matt mengangkat sloki triple blue-nya dan mengosongkan isinya dalam sekejap lalu menyeringai pada Sean. "Mabuk sepanjang malam, musik, dan para cewek." Dia berbicara didekat wajah Sean sambil menepuk pundaknya. Cukup keras, karena aku bisa mendengar ucapannya.


"Singkirkan tanganmu dariku, Matt. Atau kau tak akan bisa menggunakannya lagi di sisa malam ini." geram Sean, namun aku tahu dia tidak serius dengan ancamannya.


Sean mundur selangkah, melilitkan sebelah tangannya di pinggangku sementara Matt tertawa keras seraya mengangkat kedua tangannya dengan sikap menyerah, kemudian duduk bersandar di sofa. "Kau tegang sekali, tenanglah, seharusnya kita bersenang-senang." gumamnya penuh percaya diri seakan dia seorang pria single. Kami hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang 'kakak-adik' dengan Taylor. Urakan.


Aku mengalihkan pandangan ke lantai bawah, melihat-lihat kerumunan orang yang memenuhi ruangan utama di pub ini dan mendapati pemandangan seru. Samantha, Maggie, dan adikku sedang menari kecil mengikuti irama musik techno yang di pandu oleh seorang disjoki lokal. sementara di meja bartender, Taylor dan Jason duduk sambil minum dan mengawasi mereka.

__ADS_1


Kepalaku kembali menghadap Sean. Dia sedang menyesap campuran rum dan bourbon di gelasnya dengan mata menatap layar ponsel. Alisnya tiba-tiba bertaut, dan dia terlihat marah. Aku baru ingin bertanya, namun ponselnya berdering. Aku sempat membaca nama Dean tertera di layarnya.


"Aku keluar sebentar, sepertinya ini penting." katanya sambil menatapku.


Aku mengangguk. "Ya," Sean langsung berdiri dan melangkah menjauh dari Matthew dan aku yang sekarang hanya berdua sementara yang lain masih di lantai bawah.


Selagi menunggu Sean kembali, aku ingin ke toilet sebentar dan langsung berderap setelah mengatakan tujuanku pada Matt. Bunyi dentuman musik yang membahana bergema memenuhi kepalaku sepanjang perjalanan ke toilet. Aroma alkohol bercampur di udara serta suara bising tawa dan seruan orang-orang yang memenuhi ruangan pub membuat kepalaku berdenyut-denyut.


Aku sudah berada di dalam toilet bergaya kuno. Berbanding terbalik dengan pemandangan di luar ruangan ini. Dindingnya dilapisi marmer dengan motif kupu-kupu dinasti Ming, namun tentu saja itu hanya tiruan. Di satu sisi terdapat tiga bilik toilet sementara di sisi lain nampak dua wastafel lengkap dengan sebuah cermin besar.


Aku melempar senyum ramah pada seorang wanita yang baru keluar dari bilik terujung lalu segera menggantikannya. Menyelesaikan urusan 'penting' di dalam bilik toilet, aku pun keluar dan mendapati seorang wanita yang tak asing sedang berdiri menghadap cermin.


Aku maju sampai berdiri sejajar dengan wanita itu, berpura-pura tidak melihatnya. Aku tidak ingin membuat diriku terlihat sok asik dengan menyapanya lebih dulu.


"Franda?"


Dia tersenyum padaku, meletakkan dompetnya di sudut konter. "Aku tidak menyangka akan melihatmu disini. Kau bersama Danny?"


Aku mengernyit. "Danny?" tanyaku, aku benar-benar tidak tahu siapa yang dimaksudnya.


Ashley mengerjap, memutar keran dengan sebelah tangan lalu mengguyur tangannya. "Ya, suamimu. Aku menggunakan nama tengahnya sebagai panggilan sejak dulu." ujarnya santai, seolah panggilan itu bukan apa-apa.


Sesaat aku penasaran sejauh apa sebenarnya hubungan masa lalu suamiku dengan wanita ini, karena nadanya terdengar seperti sengaja ingin menekanku. "Oh, ya. Aku bersama suamiku dan teman-temannya." Aku berkata sambil mengawasi perubahan rautnya melalui sudut mataku.


"Teman-temannya? Apakah mereka Taylor dan yang lain?" Wajahnya terlihat antusias.


Aku mengangguk.


"Wah, ini mengejutkan! Aku harus menyapa mereka setelah ini. Terakhir kali aku bertemu dengan mereka yaitu saat aku menemani Danny membuat tato namaku di kepalanya."

__ADS_1


Aku membulatkan mata, memutar kepala dengan cepat sampai aku benar-benar menatap wajahnya, bukan dari pantulan cermin seperti sebelumnya. "Tato? Apa maksudmu, Ashley?"


Dia mematikan keran air lalu menoleh menatapku. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa dia sangat menikmati raut keterkejutan di wajahku. "Ah, kau belum pernah melihatnya? Ya ampun... maafkan aku, kupikir kau sudah tahu tentang tato itu." Dia memandangku seolah ada tanduk yang tiba-tiba muncul di kepalaku. "Aku sungguh tidak bermaksud membuatmu syok, girl. Maksudku, kalian sudah menikah. Jadi bukankah seharusnya kau sudah mengetahui tentang itu? Apakah dia tidak menceritakannya padamu, Franda?"


Aku buru-buru mengerjap, menyadari bahwa Ashley sedang berusaha memprovokasi dengan kalimatnya yang entah kenapa kedengarannya seperti sengaja dia lontarkan. "Kurasa aku tidak perlu tahu tentang itu." sahutku, mencoba terdengar riang. Namun sial, suaraku jelas bergetar, dan Ashley menangkap itu. Lalu dia mengoceh lagi untuk menyempurnakan aksinya memancingku.


"Tentu saja kau perlu tahu, Franda. Danny bukan tipe pria yang akan menyembunyikan sesuatu dari pasangannya, dan jika dia tidak mengatakan masalah tato itu padamu, pasti ada sesuatu yang dia coba sembunyikan."


Aku bisa melihat rasa puas tergambar di wajahnya saat dia menyadari bagaimana kata-katanya memperngaruhiku. Mungkin ucapannya tidak sepenuhnya salah, akan tetapi dia tidak akan pernah mengerti ikatan yang kurasakan bersama Sean tidak terjalin hanya dalam waktu sebulan.


Dengan susah payah, aku memaksa mulutku untuk tersenyum. Mencoba menahan sesuatu yang bergejolak di dadaku. "Terimakasih untuk saranmu, Ashley. Tapi aku yakin suamiku bukan ingin menyembunyikan masalah tato itu seperti yang kau katakan, aku malah berpikir dia sudah menghapus tato itu hingga aku tidak pernah melihatnya selama ini." kataku sambil mengamati wajah Ashley yang mendadak gelap setelah aku menyelesaikan kalimatku.


Dia tentu tidak mengira aku akan setenang ini meski aku sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja kuucapkan. Kenyataannya aku sedang takut jika Sean masih memiliki tato itu dan aku harus memeriksanya setelah ini.


Aku kembali berpaling ke wastafel dan mencuci tanganku seraya melirik Ashley yang terlihat masih terpukul dengan seranganku. Aku mencuci tangan seakan tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sampai aku menyelesaikannya dan meletakkan kedua tanganku di bawah mesin pengering tangan di sebelahku.


Tepat saat aku ingin pamit dan meninggalkannya, dia mengatakan sesuatu yang menghujam jantungku. "Aku dan Danny memiliki anak."


Sekujur tubuhku mendadak gemetar. Jika sejak tadi ucapan Ashley tidak terlalu menghantamku, berbeda dengan yang satu ini. Aku merasakan pipiku memanas dan darahku seakan menumpuk di kepala.


Aku memejam, menelan ludah sekali sebelum berbalik menatapnya dan aku melontarkan kata-kata yang membuat Ashley tiba-tiba nampak terserang penyakit jantung, hingga ekspresi mukanya lebih parah dariku. "Aku sudah tahu, Ashley. Tapi, bukankah itu hanya masa lalu di antara kalian. Jadi, tidak perlu bersusah payah memancing kemarahanku dengan kenyataan itu." Aku tidak percaya dengan kata-kataku sendiri. Hanya itu yang terlintas di kepalaku untuk menghentikan aksinya sebelum dia bertindak lebih jauh dan aku semakin terhasut untuk memukulnya.


Aku memajukan kepala sampai wajahku tepat berada di dekat telinganya. "Aku mengenal suamiku lebih dari siapapun." gumamku sinis lalu menarik kembali kepalaku dan memandangnya. Aku tersenyum puas melihat dia gemetar. Wajahnya pucat dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ya, aku baru saja berhasil menginjak-injak satu ulat nangka yang mengusik ketenangkanku.


"Selamat malam, Ashley." ucapku untuk terakhir kali, kemudian melangkah keluar meninggalkan Ashley yang masih membeku.


Begitu keluar dari kamar toilet, aku mendapati pemandangan pria yang menjadi topik pembahasan di toilet tadi sedang berjalan ke arahku. Aku ingin menyambutnya, tapi serentetan serangan Ashley tadi masih menggangguku. Yang keluar dari mulutku ketika pria itu berdiri tepat di hadapanku adalah.


"Aku ingin pulang. Sekarang."

__ADS_1


__ADS_2