Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Suddenly


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Segalanya antara aku dan Franda membaik sejak malam itu. Mungkin jauh, jauh lebih baik. Setelah semua drama yang terjadi, aku hanya tak bisa membiarkannya sendiri. Aku mengantarnya ke kantor setiap pagi dan menjemputnya lagi ketika pekerjaannya sudah selesai. Dan saat akhir pekan kami menghabiskan seharian berada dirumah dengan bermain bersama Ben. Hal yang sebelumnya jarang terjadi di rumah kami, well, kami memang melakukannya, tapi belakangan intensitasnya menjadi lebih tinggi, dan juga berkualitas.


Ada satu lagi kebiasaan baru kami yang paling kusukai, yaitu saat kami berada di rumah, kami lebih sering bercengkerama dengan orang-orang, termasuk para asisten rumah tangga. Sebelumnya aku tidak terlalu menyukai hal-hal remeh seperti ini, kebanyakan hanya basa-basi dan obrolan yang tidak bermanfaat sama sekali. Tapi Franda dengan gigih memaksaku bergabung dan mengenal mereka lebih jauh. Sejujurnya itu membuatku agak terkejut, karena ternyata mereka adalah orang-orang yang menyenangkan.


Kami biasanya makan malam berdua dengan menu yang kami masak sendiri. Maksudku, aku yang memasaknya. Franda bahkan nyaris tak bisa memotong kentang tanpa melukai jarinya sendiri. Jadi, aku memintanya duduk di kursi dan menyaksikan kegiatanku selama di dapur, lalu kami akan makan dengan tenang setelahnya. Semuanya benar-benar sempurna.


Aku hampir melupakan semua masalahku hingga suatu hari, ketika aku baru saja mengantarnya dan kembali ke kantorku. Aku mendapati Syaiful tengah duduk di salah satu sofa yang ada disana.


"Kau punya ruangan yang bagus."


Aku menuangkan bourbon ke dalam gelas seraya mengamati Syaiful yang berjalan mengamati sekeliling ruang kerjaku.


"Thanks, sir." Aku tidak tahu harus berkata apa, atau memikirkan alasan kedatangannya di kantorku.


Kusodorkan salah satu gelas di tanganku padanya lalu memberi isyarat agar dia mengikutiku duduk di sofa yang ada di sudur ruangan.


Dia meletakkan gelas itu di atas meja rendah di hadapannya tanpa meminumnya. "Aku tadinya berharap kau akan menemuiku lebih dulu, tapi sepertinya kau lebih tertarik untuk menemui putriku. Jadi, kuputuskan datang kemari."


Aku tersenyum sekilas padanya, mencoba terlihat ramah. "Kupikir kau sedang sibuk, jadi aku belum menemuimu."


"Benarkah? Kudengar kau bertanya pada Paula semua jadwal yang kulakukan di kota ini, seharusnya kau menanyakannya sendiri padaku. Aku bisa saja menjelaskan lebih detail jika kau mau. Atau mungkin teman-teman interpol-mu itu bisa menemuiku secara langsung, jadi kita bisa mengobrol."


Mataku sontak melebar mendengar perkataannya. Rudi pernah mengatakan sesuatu soal ini. Brengsek, apa yang sebenarnya dia bilang waktu itu? Aku berusaha menggali ke dalam ingatanku tapi tidak menemukan apapun.


"Kapan kau datang kemari?" Suaraku akhirnya lolos dari tenggorokan.


Dia menyeringai. "Aku tahu David Boseman memberikan sesuatu padamu, sesuatu yang sangat penting. Berikan saja itu padaku, dan kita berdua bisa berpura-pura seakan pertemuan ini tidak pernah terjadi."


Alisku bertaut. "Sir, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


Mulutnya berdecak merespon perkataanku. "Sayang sekali, aku berharap kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih baik." Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Dave bicara padaku setelah seminggu berada di dalam kamp interogasi kami, dan dia bilang telah mengirimkan semua data yang dicurinya dari bandar kepadamu."

__ADS_1


Dia menyandarkan dirinya kembali ke sofa sementara matanya mengamati ekspresiku dengan seksama. Mungkin dia ingin melihat tanda-tanda bahwa aku telah berbohong kepadanya. Itu tidak perlu, faktanya aku memang sama sekali tidak mengerti apa yang dia tanyakan. Tapi dia tidak akan percaya padaku.


"Akhir pekan akan ada penggalangan dana di kementrian pajak dan bea cukai, aku akan menunggu jawabannya. Kau bisa saja mengatakan pembicaraan ini kepada interpol, tapi semuanya mungkin akan berakhir buruk. Terutama untuk wanita berambut cokelat yang sekarang menjadi istrimu, siapa namanya?"


Aku mengertakkan rahang dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuhku. "Apa kau mengancamku?"


"Tentu saja tidak. Subroto adalah teman lamaku, dan kau adalah keponakannya, bagaimana mungkin aku tega mengancammu?"


Setelah mengatakan itu, dia pamit dan langsung pergi dari ruanganku. Tak mau membuang waktu lebih lama, aku menghubungi Erick dan mengatakan soal pertemuanku dengan Syaiful, dan mereka datang tak lama setelahnya.


***


"Tak bisa dipercaya."


Aku berjalan mondar-mandir mengitari ruang kerjaku, menggosok tengkukku dengan gusar sambil melirik pada Erick dan Rudi yang duduk di sofa dimana Syaiful berada sebelumnya. Aku tak bisa berhenti memikirkan kata-kata yang diucapkan Syaiful, itu benar-benar meracuni otakku. Aku benci mengakuinya, tapi ini membuatku merasa gundah, dan tak berdaya. Kapan terakhir kali aku begini?


Benar, saat Franda koma waktu itu. Saat aku dengan putus asa menungguinya terbangun di samping ranjangnya, karena waktu itu memang tak ada lagi yang bisa kulakukan. Semuanya akan selalu tentang dia, itulah satu-satunya kelemahanku.


"Istrimu baik-baik saja, unit-ku yang mengawasi kantornya baru saja mengkonfirmasi." Ujar Erick setelah menutup sambungan telepon sambil mengacungkan ponsel itu di dekat wajahnya. "Sekarang, tenanglah."


Aku berhenti mondar-mandir, lalu menggeram dan menatapnya dengan sorot berapi-api, seakan aku ingin membakarnya saat ini juga. "Tersangka yang kalian cari mendatangiku kemari kurang dari satu jam yang lalu, dan dia mengancam akan menyakiti istriku jika aku tidak memberikan apa yang dia inginkan. Bagaimana mungkin aku bisa tenang?"


Erick bergeming mendengar nada kekalutanku, raut wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi membuatku bertanya-tanya berapa kali dia menghadapi situasi seperti ini?


Dia terdiam beberapa saat sebelum memberi isyarat padaku agar ikut bergabung bersama mereka di sofa. "Aku mengerti perasaanmu, tapi saat ini kita perlu memikirkannya dengan baik. Ceritakan padaku apa saja yang dia katakan tadi?"


Aku menarik napas panjang sambil menyandarkan diri ke sofa. "Dia meminta untuk menyerahkan sebuah data atau semacamnya. Dan dia memberiku waktu sampai akhir pekan ini, atau dia akan melakukan sesuatu pada istriku."


Erick terdiam mendengarkan penjelasanku, rautnya tampak sedang memikirkan apa yang baru kusampaikan. "Menurutku ini tidak sesederhana itu, dia pasti ingin melihat reaksimu dan mencoba memperhitungkan situasinya."


"Apa maksudmu?"


"Kau harus tahu, Syaiful pernah menjabat sebagai ahli taktis angkatan darat Malaysia dan rekam jejaknya benar-benar mengesankan. Jadi jika memang dari awal dia ingin mencelakaimu, tidak mungkin dia melepaskanmu begitu saja saat menemuimu tadi."

__ADS_1


Aku memandangnya sambil menyipitkan mata. "Maksudmu, jika dia mau maka dia bisa saja melakukan sesuatu padaku dan tak ada yang dapat menghentikannya? Kemana perginya program perlindungan saksi yang kalian tawarkan dalam hal ini?"


Erick dan Rudi mengabaikan gerutuanku. "Dia tahu kami sedang mengawasinya. Kami benar-benar tidak mengira dia akan berani mendatangi dan mengancammu secara terang-terangan seperti itu. Semuanya sudah keluar dari jalur. Kita harus harus menyusun rencana baru." gumam Rudi.


"Kenapa kalian tidak langsung menangkapnya saja? Dikota ini, sekarang juga."


"Dia bukan preman jalanan, sir." Erick menyela. "Dia seorang perdana menteri, apa kau sadar betapa sakral posisinya? Jika kami membuat kesalahan sedikit saja, ini akan berubah menjadi sentimen politik yang melibatkan kedua negara. Kalau itu terjadi, kami bukan hanya kehilangan Syaiful, tapiseluruh bandar narkoba yang berada di bawah pengaruhnya. Semua usaha kami selama ini akan sia-sia."


Aku menyumpah pelan sambil mengembuskan napas berat. "Jadi apa yang akan kalian lakukan? Dengar, aku tidak mau mempertaruhkan keselamatan istriku atau keluargaku yang lain karena masalah ini."


Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruanganku hingga akhirnya suara Erick terdengar. "Apakah Dave tidak pernah memberimu petunjuk tentang data yang disebutkan oleh Syaiful?"


"Tidak. Aku tidak tahu." sahutku gusar. Hanya omong kosong tiap kali..." suaraku terputus saat sesuatu tiba-tiba melintas di kepalaku.


Aku bergegas menyusuri ponselku, dan melihat sebuah email yang kuterima dua hari yang lalu. E-mail itu masih ada disana, keningku berkerut saat membaca isi yang tertera di dalamnya. "Aku tidak tahu jika ini berarti sesuatu untuk kalian," gumamku ragu sambil menyodorkan ponselku kepada Erick.


Dia meraihnya dari tanganku lalu mereka mengamatinya lekat-lekat. Dari perubahan ekspresi yang tampak di wajah keduanya, aku bisa menduga isi e-mail itu berhasil menarik perhatian mereka.


"Alamat surel-nya asing bagiku. Kupikir mungkin ada seseorang yang salah kirim, atau mungkin juga spam yang berisi virus, jadi aku hanya membiarkannya begitu saja."


Erick mengangkat wajahnya, ada kilatan yang terpancar dari matanya saat dia menatapku. "Ini mungkin sesuatu yang berguna, tapi kami harus menyelidikinya lagi. Aku perlu file itu." ucaonya, lalu menyerahkan kembali kembali ponselku.


Aku mengangguk. "Akan kukirimkan padamu."


Erick mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan bertumpu pada kedua siku di lututnya. "Rudi benar, kita perlu membuat rencana baru. Pertama kami harus mengeluarkanmu secepatnya dari kasus ini."


"Bagaimana dengan Syaiful?"


Erick tampak berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya lalu memandangku. "Aku punya rencana... tapi kita mungkin harus memintamu pergi dari Jakarta untuk sementara waktu, sir."


Aku mengerutkan kening, tidak paham maksud ucapannya. "Kalian ingin aku meninggalkan kota ini?"


Erick dan Rudi saling melempar pandangan sejenak sebelum berpaling ke arahku. Wajah Erick tampak lebih serius sesaat sebelum dia melanjutkan ucaoannya. "Sebenarnya... lebih dari itu." katanya dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2