Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Takkan Menyerah!


__ADS_3

No comment, no update!😜


Kepo kelanjutannya? Komen dulu😘


***


Duniaku runtuh seketika, aku terduduk di sofa. Tanganku yang lemah mencengkeram pinggiran sofa, melakukannya seakan-akan aku bisa menahan rasa sakit didadaku. Rasa sakit yang dalam karena memikirkan kemungkinan bahwa suamiku akan meninggalkanku. Mengusirku dari tempat yang paling bisa membuatku damai dan tentram.


"Aku akan pergi dari sini, Dave. Sampaikan permintaan maafku yang terdalam padanya." aku berdiri, beranjak ke meja kerja suamiku, dengan cepat meraih tasku.


"Franda," Dave menghentikanku dengan gerakannya yang tiba-tiba menarik tanganku.


Aku menatap matanya, memohon agar dia melepaskanku. "Tolong, Dave. Aku ingin pergi dari sini. Aku tidak bisa terus berada disini. Aku adalah putri dari seorang pria kejam yang merenggut kebahagiaan keluargamu. Kalian tidak bisa hidup berdampingan dengan orang yang kalian benci. Kau harus membenciku, Dave. Kau harus membenciku seperti Sean membenciku. Sean membenciku... Sean membenciku, Dave."


Dave maju dan memelukku, "Franda, itu tidak benar. Sean mencintaimu. Dia sudah melupakan dendamnya, Franda."


Aku menatap putus asa pada Dave yang ada dihadapanku. "Apa lagi yang harus kukatakan padanya, Dave? Aku adalah putri dari pria yang membunuh Ibunya. Aku orang jahat, Dave!" Dengan air mata yang mengalir dipipi dan gaunku, aku berlari menuju pintu keluar. Sebelum sempat meraih gagang pintu, Dave lagi-lagi menarikku sampai aku terhuyung kebelakang ke dalam pelukannya.


"Jangan pergi, kakak ipar." pinta Dave dengan suara serak dan lirih. Dan aku mendengar dia menangis. "Siapa lagi yang akan menemaninya kalau bukan dirimu? Siapa lagi yang akan membuatnya tersenyum? Kau datang membawa kebahagiaan untuknya, Sean bahagia sejak kau menerimanya, Franda. Apakah kau tega menghancurkannya lagi? Apakah kau tega, Franda?"


Dave mengguncang tubuhku dipelukannya. Aku semakin hancur. Aku sudah membuat pria yang baru kukenal kalut karena diriku. "Tapi dia membenciku, Dave. Sean membenciku." ucapku, menengadah menatapnya.


Dave menggeleng, "Dia mencintaimu. Dia sangat mencintaimu."

__ADS_1


"Tidak, Dave. Aku tidak sanggup melihat dia melukai dirinya karena keluargaku. Aku takkan pernah sanggup."


"Franda," kedua tangan Dave menyentak bahuku. "Sean mencintaimu. Sean juga membutuhkanmu. Kau adalah orang yang paling dibutuhkannya saat ini. Cintamu ajaib, Franda. Cintamu anugerah baginya. Jangan kutuk dia kembali menjadi batu. Tolong dia, Franda. Kumohon. Tolong Sean."


Air mata yang menekan mataku semakin perih, "Dave..."


Dan air mata Dave membuatku remuk, "Franda, kau tidak tahu apa yang dilaluinya selama ini. Sean menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Aunt Lily, Sean menderita karena kehilangan Ibunya. Kau datang dan merubah hidupnya, Franda. Sean mencintaimu. Sean bahkan berjuang untuk melupakan dendamnya pada keluargamu."


"Tapi dia sangat marah padaku, Dave..."


"Tidak. Sean hanya terkejut. Dia tidak pernah masuk keruangan itu lagi selama dua tahun ini. Aku yakin dia hanya terkejut melihatmu disana. Bayang-bayang Aunt Lily yang perlahan dilupakannya pasti muncul. Franda, aku mengenalnya. Sean tidak akan meninggalkanmu."


"Tapi, Dave..."


Dengan lemas, tas yang kugenggam meluncur jatuh ke lantai dari tanganku. Dave menyadarkanku kembali tentang arti kebahagiaan dalam hidupku. Aku bisa bahagia dari hal-hal kecil. Senyum Sean yang menyambutku dipagi hari, tawanya saat aku menggodanya, bahkan tatapannya saat aku mengganggunya. "Ya Tuhan, antarkan aku padanya, Dave. Aku harus menemuinya. Dia adalah suamiku yang takkan pernah kutinggalkan selamanya."


Dave menggeleng, "Tidak sekarang, Franda. Berikan dia waktu untuk menenangkan diri. Tunggulah dia dirumah. Sean akan pulang. Tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkannya, tunggu dia. Sean akan kembali padamu."


Aku luluh. Aku menuruti perkataan Dave. Aku harus memberi waktu untuk suamiku. Aku menyadari betapa hancur dirinya saat ini. Suamiku yang penuh cinta hancur karena keluargaku. Suamiku yang lembut bersedih karena diriku.


"Hei, Franda," Dave menuntunku kembali ke sofa. "Tenang, oke? Sean akan kembali padamu. Dia pasti baik-baik saja, oke?" Dave meraih tisu dan menyodorkan padaku.


Aku menyambut tisu yang diberikannya dan mengusapkannya ke pipi. "Aku sangat mengenalnya, Franda." seru Dave. "Kau tahu? Suamimu itu bahkan pernah mendapat luka lebih daripada itu saat dia melawan seekor harimau dihutan. Ketika aku dan teman-teman kami berusaha menolongnya, dia malah bangkit dengan tampang sialan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Astaga, kau tidak akan mengira dia menghabisi harimau itu dengan mudah."

__ADS_1


Bibirku tersenyum samar-samar membayangkan momen itu. Ya... suamiku memang setangguh itu sehingga hati ini merana ingin sekali memeluknya. Tapi kebanyakan orang mungkin tidak tahu kenangan buruk yang mengekang hidupnya, membuatnya menangis dan tersiksa, termasuk diriku. "Ya, dia memang luar biasa," ucapku setengah malu dan ragu. "Tapi kita tahu bukan hanya tubuhnya yang bisa terluka, tapi juga hatinya. Dan semua masalah yang melukainya itu berhubungan denganku. Aku dan keluargaku sudah mengacaukan hidupnya."


Aku menarik napas gemetar, "Kalau dia memintaku untuk pergi dari hidupnya... aku pasrah walaupun hatiku hancur dan takkan pernah sembuh. Tapi kupikir itu balasan yang setimpal bagiku. Bahkan tidak ada balasan yang setimpal untuk penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun selama ini. Dia berhak membenciku seumur hidupnya. Dia berhak mencampakkanku selamanya."


Senyumku pudar. Terisak memikirkan tak ada lagi senyum Sean dalam hidupku. Bahkan mungkin tak ada lagi tatapan apinya padaku karena dia takkan pernah lagi ingin melihatku.


Dave mengusap-usap tulus bahuku, "Franda, tenanglah. Sikapnya kadang-kadang memang keras, tapi dia tidak akan pernah sanggup menyakiti hati orang yang disayanginya. Dia mencintaimu. Kau hanya perlu menunggunya siap untuk membicarakan masalah ini."


Aku tersenyum lagi disela isakan. Tanganku menepuk lembut lengan pria yang punya postur setegap suamiku, "Dave, terimakasih karena mendukungku. Aku akan selamanya mengingat kebaikanmu. Aku tidak akan mengatakan padanya kalau kau memelukku, dia pasti akan membunuhmu."


"Ya, tidak diragukan lagi. Aku akan berakhir seperti harimau dihutan itu."


Dave ikut terkekeh serak sepertiku selagi dia beranjak bangkit, "Ayo, aku akan mengantarmu ke atas. Keluargamu pasti menunggu." Dave mengulurkan tangannya padaku.


Aku menyambut uluran tangannya dan bangkit, mengikuti langkahnya keluar dari ruang kerja suamiku.


"Jangan menangis, Franda. Aku yakin Sean tidak akan suka melihat air mata di pipimu. Dia adalah pria yang paling melindungi orang yang dicintainya." seru Dave sebelum kami keluar dari ruangan itu.


"Ya, dia memang begitu." balasku getir. Aku adalah wanita paling beruntung memiliki suami sehangat dan selembut Sean. Tapi sekarang, aku sendiri tak tahu apakah dia masih menginginkanku atau sudah siap mengusir keluargaku dari tempatnya. Aku tidak akan meninggalkannya, tidak akan pernah. Sekeras apapun dia mengusirku, aku akan memaksa bertahan di sisinya.


***


Komen, komen, komen!😜

__ADS_1


Like, like, like!😘


__ADS_2