Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Foreplay.


__ADS_3

Menuju honeymoon part 2.


Kalau komen di episode ini gak nyampe 10, aku gak akan update episode 100. Spesial honeymoon part 2😜


***


Langkahku berderap di basement rumahku. Ya, rumahku dan suamiku. Hatiku tersenyum geli mengingat tempat tinggal kami yang satu gedung dengan kantornya. Suamiku yang tampan dan rupawan itu memiliki seluruh ruangan gedung yang kami tempati, dari basement sampai lantai teratas. Lucu rasanya membayangkan kalau kami menempati semua lantai, dan aku yakin suamiku akan mengabulkan jika aku memintanya. Ah, aku harus melahirkan ratusan anak untuk membuatnya penuh.


Irama tumit high heels yang kugunakan mengiringi perjalananku menuju lantai 46. Dengan tangan meremas tengkuk, aku melangkah gontai. Semula aku hanya ingin memeriksa beberapa laporan perkembangan bisnisku, tapi semuanya berantakan karena ulah salah satu pelanggan yang memaksa menyelesaikan gaun pesanannya hari ini juga, padahal seharusnya masih ada waktu dua hari tersisa. Sial, aku benar-benar ingin menghajarnya tadi.


Ketika sampai didepan lift, Pritta yang sejak tadi pagi membuntutiku langsung menekan tombol. "Terimakasih, Pritta." kataku pada gadis itu. Aku tersenyum sambil mengusap pangkal lengannya. Dia balas tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit.


"Sama-sama, Mam." Pritta berbalik dan menghilang seiring pintu lift yang tertutup.


Kusandarkan tubuhku yang lelah ke dinding lift, aku terpejam dengan tangan memijat pelipisku. Bibirku melengkung saat mengingat suamiku yang tampan. Dia pasti sudah menungguku dan bersiap menyambutku dengan senyum magisnya. Oh Tuhan, aku merindukannya.


Aku terus membayangkan suamiku yang tampan sampai lift berhenti dan terbuka. Dengan semangat menggebu, aku melangkah lebih cepat. Hatiku tak sabar ingin segera bertemu suamiku yang pasti sedang menungguku dalam keadaan siap. Aku sangat membutuhkan pelukannya untuk mengembalikan kekuatanku.


Bibirku terus melengkung sampai aku masuk ke rumah. Memasuki ruang tamu, aku berpapasan dengan Emma, salah satu nanny yang menjaga anakku sedang melintas disana. Dia berjalan membawa sebotol susu. "Hai, Emma. Ben sudah tidur?" tanyaku, menghempaskan tubuhku disofa dan berbaring. Aku butuh sedikit suplai tenaga sebelum suamiku mengerjaiku nanti.


"Sudah, Nyonya. Anda membutuhkan sesuatu?"

__ADS_1


Aku menggeleng dan menjawab. "Tidak, terimakasih, Emma. Aku akan melihat Ben nanti." Emma mengangguk lalu berderap menjauh, melangkah menuju tangga dan naik ke kamar anakku.


Selagi berbaring, aku menatap langit malam dan pemandangan kota dari dinding kaca. Memandang dan melamunkan kota tempat tinggal kami yang begitu gemerlap. Kota ini memang sangat indah. Aku melihat beberapa gedung yang tidak setinggi tempatku. Gedung-gedung itu seperti menunduk hormat pada tempatku berbaring. Banyak hiburan kesenangan yang ditawarkan kepada penduduk kota seperti yang kurasakan selama ini.


Aku pergi ke bar dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dan bersantai dengan orang-orang yang kukenal. Aku pergi ke mall dan tempat perawatan kuku ekslusif. Aku pergi berkencan dan menikmati makan malam romantis dengan mantan suamiku dulu.


Aku memekik saat suamiku mengejutkanku dengan menggangkat tubuhku kedalam gendongannya. "Kau memiliki kamar untuk istirahat, Sayang." dengkurnya, membawaku naik tanpa menatapku.


Aku tersenyum, namun sedetik kemudian napasku tercekat. Jantungku berdebar keras dan tanganku gemetar saat menyentuh dengan kulit lehernya yang panas. Belum semenit dia menggendongku aku sudah kelimpungan. Suamiku memang heroin terbaik. Aku benar-benar melayang saat bersamanya. Pikiranku kacau setiap kali berada didekatnya. "Sean..." lirihku setengah mendesah. Aku menempelkan wajahku dilehernya, menghirup aroma tubuhnya yang menggiurkan.


Suamiku tertawa, menertawakan diriku yang kelaparan akan tubuhnya. Berjalan menaiki anak tangga satu persatu, dia menggodaku. "Kau memang kelaparan, Sayang." dengkurnya, membuatku membuka mata lebar.


"Hei, kau tahu lagi isi kepalaku." ketusku, tertawa halus lalu menyembunyikan wajahku dilehernya lagi. Semua yang ada padanya membuatku candu dan gila. Sikapnya yang jantan dan mendominasi membuatku kehilangan kendali, aku luluh setiap kali dia membujuk dengan tatapan matanya yang penuh cinta.


Aku tersenyum puas tanpa membuka mata saat tangannya yang besar dan kuat melingkar dipunggungku. Kurapatkan tubuhku padanya dan memeluknya lebih erat, seakan takut dia meninggalkanku saat aku tertidur. Kakiku melilit kedua betisnya. Rambut-rambut kasar di betisnya menggelitik kulitku yang masih dalam balutan stocking. Membangkitkan sesuatu yang lain dalam diriku. Aku berdebar dan gugup ketika napasnya yang hangat menerpa wajahku.


Lama kami terdiam dan saling memeluk. Sean tidak menggodaku sedikitpun, tapi aku selalu tergoda padanya. Aku menahan diri sekuat tenaga agar tidak menyerangnya. Ya, Tuhan! Aku bahkan belum mandi. "Apakah aromaku menjijikkan?" lirihku pelan.


Suamiku menggeser tubuhnya agar bisa menatapku, sebelah tangannya menyentuh pipiku yang terasa panas ketika beradu dengan mata birunya, "Kau selalu menggiurkan, Sayang." dengkurnya. Jemarinya menyisipkan anak rambut diwajahku ke belakang telinga. "Tubuhmu selalu seharum kasturi. Akan akan tetap gila dengan aromamu sekalipun kau tak mandi sebulan." sambungnya lagi.


Aku mengerucutkan bibir dan menyipitkan mata. Tak lama aku tersenyum. "Aku yakin kau selalu berhasil merayu para gadis dengan bibirmu yang manis ini." cetusku. Telunjukku terulur untuk menyentuh bibirnya yang seksi, lalu berpindah ke rahangnya, lalu naik lagi ke alis, turun lagi ke hidungnya dan kembali mendarat di bibirnya. Suamiku menggeram pelan dan tertahan.

__ADS_1


Aku memajukan kepala untuk mencium bibirnya sekilas. Tertawa geli saat wajahnya memerah. Suamiku yang jantan sedang gugup. Tentu saja dia gugup, aku menggodanya dengan menggigit bibir bawahku. Menggoda dan merayunya, membangkitkan hasrat yang masih tersembunyi dibalik celana pendek katun yang melilit pinggangnya.


"Apa kau lapar sekarang?" kataku memancing, tanganku turun untuk mengusap dadanya. Aku bisa merasakan degupan jantungnya dibalik kaus tipis yang membungkus tubuh bagian atasnya.


Sean menggeram, pinggulnya bergerak-gerak gelisah sementara tanganku menyusup menyentuh perutnya yang keras. Aku meraba setiap jengkal tubuhnya yang panas, tidak sesenti pun yang kulewatkan. Aku merayunya dengan genit. Sampai suamiku menahan keliaran tanganku. "Kau benar-benar ingin membalasku karena kejadian tadi pagi?" aku sontak tertawa mendengar ucapannya. Lalu menggodanya lagi.


"Tidak, Sayang." lirihku, setengah mendesah aku melepas genggamannya dan menurunkan tanganku ke pinggulnya. Masuk tanpa permisi kedalam celananya lalu meremas lembut kejantanannya yang sudah penuh dan keras. "Aku sedang menyenangkanmu." sambungku berbisik.


Suamiku menggeram lagi. "Franda..." ucapannya tertahan karena aku menutup mulutnya dengan bibirku. Aku mengangkat tubuh, berbaring diatasnya tanpa melepaskan ciumanku. Tanganku naik menyentuh rambutnya sementara bokongku turun untuk menggoda hasrat dibalik celananya. Aku mendorongnya beberapa kali sampai dia menggeram dan menangkup bokongku.


"Aku baru tahu kalau kau senakal ini, Sayang." katanya sambil tersenyum genit.


Aku membalasnya dengan duduk diatas pinggulnya dan bergerak pelan namun liar. Menarik lepas gaun melewati kepalaku, menyisakan dua penutup tubuh terakhir dan stocking hitam yang membungkus kakiku. Aku mendesah dan menahan napas ketika dia menangkup kedua dadaku. Sedetik kemudian aku melayang karena dia menghempaskanku ke ranjang. Keadaan berbalik.


Sean menindihku, kedua kakinya yang besar menangkup kakiku yang kurus. Aku tertawa lebar didepan wajahnya yang menggemaskan. Suamiku sudah berada diujung hasratnya. Aku yakin dia akan memporakporandakanku beberapa detik lagi.


"Ah, Sean." Aku memekik pelan saat dia menandai leherku dengan bibirnya. Menyesapku seperti vampir yang ingin menghisap darahku. Aku mendongak dan terperjam merasakan jarinya menyentuh kewanitaanku yang berdenyut-denyut dibalik segitiga pembungkus tubuhku.


"Sean..." erangku. Kenikmatan menjalar melalui kedua pahaku, menyerbu sekujur tubuhku yang menegang. Aku tak tahan untuk membuka mulut. "Kau memang brengsek!" umpatku tersengal-sengal.


"Apakah ini yang kau inginkan, Sayang?"

__ADS_1


***


Ku ingatkan lagi ya, habis ini spesial episode 100. Honeymoon part 2 on the way. Kalo penasaran, kasih tahu aku di kolom komentar. Kalo komennya sedikit, aku tamatkan aja novel ini😜


__ADS_2