Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Talk to her.


__ADS_3

"Dia ada di Ease Corner." kata ibuku. Itu istilahnya untuk menamai teras di belakang rumah yang penuh dengan koleksi tanamannya. Tapi aku dan saudaraku menyebutnya hidden jungle. "Bicaralah padanya walau hanya sebentar. Sudah bertahun-tahun, kau harus memberinya kesempatan, paling tidak sekali." ucapnya lagi karena melihatku tidak bergerak sedikitpun.


"Dia punya banyak kesempatan, mom. Tapi kenapa baru muncul setelah berpuluh-puluh tahun?" sahutku menahan geram.


"Sesuatu terjadi padanya, sweetie. Please, bicaralah padanya, kali ini saja." Ibuku memohon lagi.


Aku mengerang tak berdaya dalam hati, mustahil untuk menolak permintaannya kalau dia memohon seperti ini.


Dengan terpaksa aku berjalan menjauhi ruang keluarga di rumah ibuku, perlahan menyusuri lorong di samping rumah yang mengarah ke teras belakang. Rasanya seperti aku melakukan perjalanan paling berat seumur hidupku. Bukan untuk tubuhku, tapi hatiku.


Kemudian aku melihatnya sedang duduk di salah satu kursi kayu berlengan yang mengarah pada tanaman-tanaman hijau besar yang di tanam oleh ibuku. Pandangannya kosong, seolah dia sedang tenggelam dalam pikirannya. Sebelah tangannya memegang segelas cocktail yang masih penuh dan dia sama sekali tidak bergerak. Persis seperti patung.


Lalu tiba-tiba seperti menyadari kalau sedang diperhatikan, dia menoleh hingga pandangan kami bertemu. Aku bisa melihat sinar kelegaan terpancar di matanya, bibirnya tertarik ke atas, melengkungkan sebuah senyuman.


Aku tidak membalas senyumnya. Sebuah senyuman atau apapun tidak akan cukup untuk memperbaiki semuanya. Ini yang kedua kalinya aku melihat wajahnya setelah beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja kami bertemu dan dia memaksaku untuk berbicara. Tapi saat itu aku menolaknya dan berakhir kacau begitu aku pulang ke rumah.


Apa sekarang dia ingin mencoba memperbaiki kekacauan yang dibuatnya?


"Kau datang, Franda." katanya dengan suara serak. "Aku senang melihatmu lagi."


Aku mendengus kasar. "Akan lebih menyenangkan jika kau tidak meninggalkanku sejak dulu."


Dia berdiri dan menghampiriku. Seketika membuatku mengingat kembali masa kecilku yang menyakitkan. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas di pikiranku. Semua bayangan menyakitkan itu melintas begitu saja saat aku melihat wajahnya.


"Franda, aku tahu ini mungkin sudah terlalu lama," gumamnya memulai. "Tapi aku ingin meminta maaf untuk semuanya, dan untuk waktu yang sudah kau lewatkan tanpa keberadaanku di dekatmu."


Andai saja dia datang padaku setelah lima atau sepuluh tahun menghilang, aku mungkin akan memaafkannya. Tapi sekarang kata-katanya sudah tidak berarti lagi bagiku. "Kau meninggalkanku saat aku berusia empat tahun, lalu kau datang kembali ketika aku sudah memiliki anak yang usianya mirip denganku saat itu. Menurutmu apa yang akan kau dapatkan setelah kita berbicara?" kataku sinis.


Aku melihat tubuhnya gemetar seperti sedang menahan rasa sakit, tapi aku tidak bisa berhenti.


"Franda..."


"Aku belum selesai!" Aku menghardiknya dengan kasar. "Bagaimana rasanya menjadi satu-satunya orang yang bisa lari dari semuanya? Kau menjalani hidupmu seolah tidak terjadi apa-apa. Dan sementara kau bersenang-senang dengan suami barumu sambil merayakan kematian papaku, aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari selama bertahun-tahun terjebak dengan psikiater." gumamku berapi-api.


"Aku terkejut karena kau terlihat begitu tenang dan sangat baik setelah apa yang kau lakukan. Apa kau pernah memikirkanku? Apa kau pernah sekali saja mencaritahu tentang kehidupanku?" kataku menambahkan.


Dia terdiam, sekujur tubuhnya gemetar sementara air matanya mulai menggenang. Jika dia bukan orang yang sudah tega menelantarkanku, mungkin aku akan memeluknya sekarang. Tapi aku tidak sanggup melupakan kenyataan buruk yang dilemparkannya padaku.


"Kenapa kau meninggalkanku?" tanyaku dengan nada tajam.


Dia tersenyum padaku, mencoba mengabaikan pertanyaanku. "Kau terlihat baik-baik saja sekarang, setidaknya itu bisa mengobati rasa bersalahku."


Aku mendengus sinis. "Kau tidak pernah tahu apa yang sudah kulalui hingga aku bisa berada di tempat ini, tapi kurasa sekarang aku patut bersyukur kau meninggalkanku. Terima kasih untuk itu, dan untuk membiarkanku hidup tanpa wanita sepertimu." balasku tajam.


"Franda, mama tidak benar-benar meninggalkanmu, sayang."

__ADS_1


"Omong kosong!" sambarku. "Kau jelas-jelas pergi dan tidak pernah berniat ingin melihatku. Apa kau tahu bagaimana aku hidup selama ini? Kau tidak mengerti bagaimana rasanya diabaikan, karena kau hanya memikirkan dirimu sendiri."


Dia menunduk, tampangnya sangat menyedihkan, tapi aku tidak ingin merasa iba, tidak sampai aku mengungkapkan semuanya. "Apakah mama seburuk itu bagimu?"


Aku tertawa pelan, lalu menyeringai padanya. "Kata buruk bahkan tidak cukup tepat untuk menggambarkanmu. Kau mengerikan. Kau monster! Kau tega membunuh suamimu dan meninggalkan anakmu satu-satunya. Kau manusia terburuk dari semua orang yang pernah kutemui."


"Franda, kau tidak mengerti alasanku melakukan itu, sayang. I'm sorry for leaving you but... aku tidak menyesal karena telah membunuhnya. Dia pantas mendapatkan itu."


Aku menggeleng tak percaya mendengar kata-katanya. Dia bahkan terlihat sangat tenang mengucapkan itu. Apakah wanita ini benar-benar ibu kandungku? Dia membunuh dan tidak merasa bersalah sedikitpun. "Apakah membunuh seseorang membuatmu merasa lebih baik?" kataku menyindir.


"Tidak, tapi aku tidak akan pernah menyesalinya. Apa yang terjadi di antara kami tidak ada sangkut pautnya denganmu, kau tidak bisa menyalahkanku karena dia yang memaksaku melakukan itu, Franda."


"Tapi aku menderita karena perbuatanmu! Apa yang ada di pikiranmu saat kau meninggalkanku? Aku salahku hingga kau merasa pantas melakukan itu padaku? Ya Tuhan..." Aku menarik napas sejenak sembari menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang, kemudian melanjutkan lagi. "Aku menangisi kematianmu nyaris setiap hari, aku menyalahkan diriku atas kecelakaan itu. Aku menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk menghilangkan trauma, belum lagi menangisi makam wanita yang tidak kukenal. Astaga... aku benar-benar bodoh karena telah melakukan itu."


"Franda, kau anakku... tidak mungkin aku sengaja menelantarkanmu." suaranya bergetar. "Hidupku tidak semudah yang kau bayangkan, aku pun menyesal karena telah meninggalkanmu. Tapi hanya itu satu-satunya pilihan saat itu."


"Apa tidak ada pilihan yang bisa kau pertimbangkan untuk kehidupanku? Kau bilang aku anakmu, tapi kenyataannya kau membuangku. Ibu macam apa yang sanggup melakukan itu pada anaknya?" Mataku mulai buram karena air mata yang menggenang, tapi aku tidak ingin menangis di hadapannya. Sudah terlalu banyak air mata yang kukeluarkan untuk menangisi kematian palsunya.


"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang dan aku tidak membutuhkan kehadiranmu lagi. Suamiku dan keluargaku yang menjagaku dengan baik selama ini saat kau menikmati hidupmu diluar sana. Jadi, kau tidak perlu meminta maaf hanya karena melewatkan bagian terbaik dalam hidupku." kataku mengakhiri dengan nada sarkastis.


Aku tidak tahan lagi berlama-lama berbicara dengannya, efeknya bisa jauh lebih buruk dari yang kukira. Aku mengepalkan tanganku yang mulai gemetar dan berbalik melangkah meninggalkannya. Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini secepatnya.


Aku melihat ibuku saat melewati ruang tamu dan dia langsung menghampiriku begitu melihatku. "Seharusnya aku tidak perlu kesini, mom." gumamku sambil berusaha menahan suaraku yang bergetar penuh emosi.


Ibuku memandangku dengan tatapan sedih seraya menggelengkan kepala. "Aku tahu ini pasti berat untukmu, tapi tinggallah sebentar saja,"


Mata ibuku mulai barkaca-kaca. "Kakak iparku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar padamu dan juga ayahmu, biarkan aku menggantikannya meminta maaf..."


"Tidak," Aku menggenggam tangannya agar dia berhenti berbicara. "Please, jangan lakukan itu." Kuraih tubuh ibuku dan aku memeluknya erat, merasakan tubuh rentanya gemetar di pelukanku. Ibuku yang malang, yang selalu tersiksa karena perasaan bersalah, bahkan oleh sesuatu yang tidak dilakukannya sama sekali. "Aku mencintaimu, mom. Kau satu-satunya ibuku. Dia memang melahirkanku, tapi kau yang membesarkan dan menjagaku selama ini." kataku di telinganya sebelum melepaskan diri.


Kupaksa langkahku keluar dari rumah ibuku tanpa melihat kebelakang lagi sambil berjuang mengeraskan hatiku saat aku samar-samar mendengar suara tangisan ibuku yang memilukan.


"Ke Warner Enterprise, Black." gumamku begitu memasuki mobil.


Aku meraih botol air dari kursi penumpang di sebelahku, meneguk isinya banyak-banyak seakan suasana hatiku bisa membaik dengan melakukan itu. Lalu aku bersandar dan memejamkan mata.


Berbicara dengan ibu kandungku adalah terakhir yang kuinginkan terjadi dalam hidupku. Efek dari perbuatannya terlalu kejam menerjangku, membuatku hancur berkeping-keping, dan entah kenapa aku tidak bisa menerima alasannya. Apakah aku anak yang buruk karena sudah menghukumnya? Jika iya, bagaimana dengan perbuatannya?


Aku menarik napas dalam-dalam dan membuang semua pikiran tentang buruk yang bersarang di kepalaku. Masih banyak hal yang membutuhkan perhatianku selain wanita itu. Aku tidak tahu apakah aku akan membencinya seumur hidupku atau suatu saat nanti aku bisa memaafkannya, dua kemungkinan itu bisa terjadi dan aku tidak mau memilih salah satunya. Biarkan waktu yang akan menjawab.


Tanpa sadar aku tertidur di dalam mobil dan suara Black terdengar memanggilku. "Ma'am, kita sudah sampai." Aku mengusap mata dan melihat sekeliling. Ternyata kami sudah berada di depan lobi gedung kantor suamiku.


Dengan perasaan yang lebih baik, aku turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam gedung. Beberapa orang terlihat menyambutku dengan senyum, sekedar basa-basi karena tahu aku istri bos mereka. Klasik. Tapi aku tetap menganggukkan kepala.


"Hai, Selena! Apa kabarmu, cantik?" sapaku dengan nada riang. Wanita itu selalu terlihat mengagumkan, hampir tidak ada cacat dalam penampilannya. Aku yakin kecantikannya tidak akan luntur meski wajahnya dipenuhi lumpur. Sungguh, dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku iri.

__ADS_1


Selena mendongak menatapku. "Ma'am! Ya ampun... sudah lama aku tidak melihatmu." Dia berdiri dan menghampiriku. "Omong-omong, aku baik. Bagaimana kabarmu, ma'am?" balasnya sambil memelukku.


Aku tersenyum. "Selalu luar biasa." cetusku. "Apa suamiku di dalam?"


"Ya, dia di dalam bersama Dean."


"Oke, terima kasih." Selena mengangguk.


Aku memutar arah, lalu masuk ke ruangan Sean dan langsung melihat pria seksi nan gagah itu sedang duduk di kursinya. Hanya dengan melihatnya saja sudah cukup membuatku melupakan kejadian hari ini. Ah, dia memang obat penenang yang paling manjur.


Aku mengamati wajahnya yang tampak serius selagi melangkah lebih dekat, dan begitu melihatku matanya seketika memancarkan sinar yang menyilaukan. "Hei, malaikatku!" Uuh, suasana hatiku semakin cerah mendengar suaranya yang lembut.


Aku tersenyum padanya. "Hai, Samson!" balasku, lalu aku menyapa Dean. "Hai, adik ipar yang gagal menggodaku." kataku bercanda. Dean cemberut sekilas namun kemudian tersenyum menanggapi gurauanku.


"Tolong jangan ungkit kejadian memalukan itu, atau aku akan menghilang sekarang." ucap Dean malu-malu. Aku terkikik geli sementara ingatan hari saat pertama kali kami bertemu di gedung WE Fashion's melintas di benakku.


"Ah, itu akan bagus. Keluarlah, aku harus menyambut malaikatku sebentar." kata Sean sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku meraih uluran tangannya. "Aku tidak ingin mengganggu. Lanjutkan saja kalau belum selesai, aku akan menunggu di sofa."


Sean melilitkan kedua lengannya di pinggangku. "Oh, tidak, sayang. Kau lebih penting dari apapun." Dia memutar kepala ke arah Dean. "Kita lanjutkan nanti, oke?"


Dean menaikkan alis seraya mengangkat bahu, kemudian berdiri. "Aku akan mengirim berkasnya padamu." gumamnya sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan kami.


"Sorry!" seruku padanya, dia mengangkat sebelah tangan sebelum menghilang di balik pintu.


"Jadi, apa yang membuatmu berkunjung ke medan perangku siang ini, gadis nakal?" kata Sean dengan nada genit. Tangannya mengusap lembut pinggulku.


Aku memalingkan wajah menatapnya. Memandangi setiap sudut wajahnya yang tampan sambil merapikan rambutnya. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya merindukanmu."


"Aw, mendadak jantungku meledak." Dia menyentuh dadanya dengan ekspresi seakan aku baru saja melempar tombak kesana. Lalu tiba-tiba alisnya berkerut. "Tunggu, apa aku sedang berada di surga? Kenapa ada peri di depanku?"


Suara tawaku menggema di seluruh ruangan. Aku menangkup wajahnya dan merunduk mencium bibirnya sekilas. "Kau memang perayu ulung, Warner." Aku menciumnya lagi.


Bibir Sean melengkung tinggi. "Itu karena kau mudah tergoda, Franda."


"Apa kau sudah merenovasi ruang rahasiamu di balik rak itu?" kataku sambil menunjuk rak buku yang berada di belakangnya.


Dia mengangguk. "Hm, kenapa?"


"Apa kita bisa menggunakannya sekarang?" bisikku liar sambil menghembuskan napas di telinganya.


Mata Sean melotot, membuatku tertawa menyaksikan wajahnya yang terkejut. "Franda, kau benar-benar...." Dia menggoyangkan kepalanya beberapa kali sebelum mengulurkan tangan ke telepon di atas meja kerjanya, lalu menekan salah satu tombol yang ada disana.


"Selena, jangan menggangguku sampai dua jam ke depan." Aku tertawa lagi dan tubuhku langsung melayang saat Sean mengangkatku.

__ADS_1


What a great life is this!


__ADS_2