
...Sean Danial Warner POV....
Franda memelukku sementara dia terlelap dengan pipi yang merah. Matanya bengkak dan rambutnya berantakan. Tubuhnya yang berlekuk indah menempel di tubuhku sejak semalam dan sekarang sudah nyaris menyentuh siang. Franda kelelahan, tapi dalam suasana hati yang lebih tenang.
Sambil tersenyum, aku memandang wajah istriku yang menggoda. Keindahannya membuatku ingin menidurinya saat ini juga, tapi segera kutahan semua keinginan itu karena Franda masih membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Sudah kuumumkan dengan jelas bahwa aku akan menidurinya setiap kali aku punya kesempatan. Ya Tuhan, aku ingin sekali melakukannya sepanjang hari bersama Franda. Aku merindukan masa-masa gila yang pernah ada di antara kami.
Sebelah lenganku menariknya semakin merapat ke tubuhku, lalu mencium permukaan bahunya yang menyatakan pujian sekaligus dukungan. Sejauh apapun perubahan yang terjadi padanya tidak akan menghentikanku untuk tetap mencintainya. Aku memiliki perasaan yang tulus padanya, sehingga dia tidak akan mampu lari dariku.
Kepalaku kembali bersandar di bantal sambil mendengarkan suara napas Franda yang teramat halus. Aku nyaris terpejam saat menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan ke dalam dadaku. Tapi aku teringat dengan sesuatu yang sempat terlintas di benakku semalam.
Aku menoleh Franda sebelum aku bangkit duduk. Menarik diriku sepelan mungkin dari sisinya agar tidak mengganggu tidurnya yang tenang. Ketika aku bangkit, dadaku nyeri karena langsung merindukan tubuhnya. Aku sangat mencintainya dan itu menghujamku dengan keras. Aku merunduk dan mencium keningnya. "Aku mencintaimu, Franda. Aku membutuhkanmu di hidupku." bisikku padanya.
Kemudian aku segera berderap dari kamar dan langsung mendapati Edward sudah duduk di ruang keluarga begitu aku turun. "John, kau sudah datang." sapaku lalu menghempaskan bokongku di sofa di seberangnya.
Edward menoleh padaku, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian menjawabku. "Ya." desisnya. "Bagaimana keadaannya?" lanjutnya bertanya.
Aku menempelkan punggungku ke sandaran sofa. Menghela napas sekali seraya menyunggingkan senyum tipis. "Belum terlalu baik, tapi sedikit lebih tenang." gumamku.
"Syukurlah. Jadi, ada apa kau memanggilku?"
Aku terdiam sejenak, memikirkan kembali rencanaku. Aku tidak terlalu yakin ini akan berhasil, tetapi setidak patut untuk di coba. Sebelum berbicara, aku berdeham. "Hm... begini, John." Wajahnya mendadak serius menatapku. "Kurasa Franda membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Kita tidak bisa memaksa untuk menerima keadaannya karena Franda pun belum mau membuka diri. Dia masih berpikir kehadirannya hanya menjadi beban bagi kita, aku baru menyadari bahwa semua yang terjadi belakangan ini membuat kondisinya semakin parah."
__ADS_1
"Ya, aku juga merasa begitu." gumamnya menyetujui ucapanku.
Aku menarik napas dalam. "Kurasa Franda tidak bisa berada di tengah-tengah kita untuk sementara. Maksudku, jika kita menahannya, Franda akan terus menyalahkan dirinya dan itu akan semakin menyulitkan kita." Edward menyipitkan mata sementara aku menunggu responnya.
Setelah beberapa saat, dia tidak berkata-kata dan aku pun melanjutkan. "Aku berniat membawa Franda ke Australia. Dia sempat memintaku membeli rumah dengan pemandangan hutan dan danau, aku sudah membelinya dan ingin membawanya kesana, tapi belum terlaksana karena beberapa hal terjadi secara beruntun, membuatku menunda rencana itu sampai hari ini."
Edward menekuk bibirnya sebelum berkomentar. "Aku tidak masalah jika kau membawanya kesana, tapi bagaimana dengan Ben? Melihat kondisi Franda yang seperti itu, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk kembali. Kau paham maksudku, kan?"
Aku mengangguk dan segera menjawabnya. "Kita tidak bisa membiarkan Ben bersamanya untuk sekarang, aku tidak mau Ben melihat Franda dalam keadaan kacau. Dia masih terlalu kecil jika harus di hadapkan dengan pemandangan seperti itu, dan juga aku khawatir keadaan Franda akan mempengaruhi ingatan masa kecilnya." Aku berhenti bicara sejenak, memikirkan kemungkinan yang terjadi jika Ben harus menyaksikan Franda yang menggila. Dan itu membuatku semakin khawatir.
Aku mengangkat wajah ketika mendengar suara Edward berdeham. "Aku juga setuju dengan itu, tapi tetap saja rasanya sulit menjauhkan mereka berdua. Kau tahu bagaimana dekatnya hubungan mereka."
"Ya, aku tahu, dan aku sudah menyiapkan rencana untuk itu. Aku akan menemani Franda disana dan kalian bisa mengunjungi kami setiap minggu. Dave akan mengatur semuanya."
"Baiklah," ujar Edward pada akhirnya. "Aku berharap ini bisa membantunya."
Aku menghembuskan napas lega lalu mengangguk. "Sampaikan rencana ini pada Ibu, karena kami akan terbang malam ini juga." gumamku. "Tolong tunggu disini sebentar, John. Ada beberapa hal yang harus kubahas dengan Dave." tambahku lagi, langsung berdiri setelah Edward mengangguk.
Dengan cepat aku melangkah turun, melupakan penampilanku yang baru bangun tidur. Aku tak peduli pada orang-orang yang melongo menatapku, ada sesuatu yang lebih mendesak saat ini selain mengurusi penampilan atau menghardik mereka.
Sampai di depan ruanganku, aku melihat Selena sedang sibuk mengetik sesuatu di komputernya. "Selena, hubungi Dave dan katakan padanya untuk menemuiku sekarang." titahku, lalu melangkah masuk ke ruanganku tanpa menunggu responnya.
__ADS_1
Sembari menunggu Dave, aku memeriksa beberapa berkas yang memerlukan tanda tanganku. Aku harus memastikan semuanya beres sebelum aku dan Franda terbang malam ini karena aku tidak mau rencanaku terganggu.
Aku masih sibuk mencoret-coret kertas saat Dave masuk dan duduk di kursi di depanku. "Sebentar, Dave." kataku tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang kuperiksa.
Setelah aku selesai, aku langsung mengangkat kepala menatap Dave yang kini mengamati penampilanku. "Ada yang harus kulakukan bersama Franda, Dave." kataku membuka obrolan.
Dave mengernyit, "Ada apa dengannya? Bukankah dia sedang kehilangan ingatan?" Aku terkesiap. Aku memang belum mengatakan padanya jika Franda hanya berpura-pura amnesia.
Aku menarik napas dalam sebelum menjawabnya. "Ada sesuatu yang terjadi, dan aku harus terbang ke Australia malam ini." gumamku tanpa membuang waktu. "Aku percayakan urusan perusahaan padamu, dan juga, tolong siapkan satu jet lagi untuk keluarga Franda. Mereka akan mengunjungi kami disana seminggu sekali."
Dave melotot menatapku. Terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku. "Seminggu sekali? Itu artinya..."
"Ya." sahutku cepat. "Aku dan Franda akan tinggal disana untuk sementara dan aku masih belum tahu akan berapa lama." sambungku.
Dave terhenyak. "Tapi, kenapa? Bukankah dia sudah baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Aku ingin menjelaskan padanya tentang tujuanku, tetapi waktuku tidak banyak mengingat Franda sedang tidur sekarang, dan bisa saja dia mencariku saat terbangun. Aku mencemaskan keadaannya sekarang, suasana hatinya yang belum sepenuhnya membaik membuatku waswas.
Aku beralih menatap Dave. "Aku akan menjelaskannya nanti, Dave. Saat ini Franda mungkin sedang menungguku, aku harus naik secepatnya. Jadi, aku menyerahkan semuanya padamu. Untuk butik, aku akan menghubungi Dean. Sementara kedai kopi Mia, kau yang akan memantaunya mulai sekarang. Apa kau bisa, Dave?"
Dave mengerjap. Aku tahu permintaanku terlalu banyak, tapi aku tidak memiliki jalan lain. Keadaan yang memaksaku melakukan semua itu, situasi saat ini tidak menguntungkan bagi siapa saja. Tapi apa peduliku, yang harus kupikirkan sekarang adalah Franda. Dia lebih membutuhkanku saat ini.
__ADS_1
Dave masih terbengong, lalu tak lama kemudian dia mengerjap. "Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Tapi bisakah kau tetap mengaktifkan ponselmu? Aku tidak mau kau menghilang begitu saja, dan mungkin aku akan membutuhkan sesuatu nanti."
"Ya. Kau bisa menghubungiku kapanpun."