
"How are you, mother?" sapaku pada Ibu sambil menggodanya. Aku baru saja pulang dari butik dan mendapati Ibu sedang santai di sudut balkon sambil mengurus tanaman yang tadi pagi dibawanya. Kemarin aku meminta Ibu, Mia, dan Edward untuk datang. Aku ingin memberitahu keluargaku tentang kehamilanku, melihat reaksi mereka secara langsung pasti menyenangkan.
Ibu tersenyum padaku sementara bola matanya memutar. Jemarinya yang keriput sedang sibuk bercengkerama dengan tanaman yang belakangan menjadi hobi barunya. Ibuku yang luar biasa kucintai. "Mother? Oh, kau terlalu formal, sweety."
Aku tertawa halus mendengar protesnya. Berniat menggodanya lagi, aku pun menjawab. "Ya, but you are my mother tho'." Tawaku nyaris tak bisa kutahan saat melihat mata Ibu yang membulat. Sudah lama rasanya kami tidak bercanda seperti ini, membuatku merindukan masa-masa dimana aku akan berada di sampingnya sepanjang hari sambil memeluk lengannya.
Sambil memiringkan kepalanya, Ibu menggeleng beberapa kali. "But, you can call me Mommy, or Mama." Kakiku melangkah mendekatinya kemudian memeluknya erat dan mencium pipinya yang keriput. Ibu menyipitkan mata dan menatap selidik padaku. "Ada kabar baik?" tanyanya sambil menaruh pot siram di atas rak kayu.
Aku tersenyum lalu mengangguk cepat. Kemudian kuraih tangannya, menuntunnya ke perutku dan mengusapkan perlahan disana. "Baby is coming." jawabku dengan mata berseri-seri. Aku memperhatikan perubahan raut wajah Ibu yang sebelumnya menyipit dan curiga, sampai kini dia tersenyum ceria. Kedua tangannya menarik tubuhku kedalam pelukannya lalu mencium pipiku berkali-kali.
"Selamat untukmu, sweety." serunya dipundakku. Setelah beberapa saat dia melepas pelukan kami dan bertanya padaku. "Apakah suamimu sudah tahu?"
Aku tersenyum getir dan menggeleng. "Belum. Aku baru akan memberitahunya nanti."
Ibu memundurkan kepala dan lagi-lagi tatapan matanya menyelidik. "Kenapa? Apakah terjadi sesuatu?" Aku mendesah pelan. Pandanganku berpindah ke bunga mawar putih yang sedang mekar. Sangat indah dan menawan.
Aku kembali berpaling pada ibu, kuangkat sudut bibirku naik menunjukkan aku baik-baik saja. "Well, ada sedikit kesalahpahaman kemarin. Tapi, kami sudah berbaikan sekarang." dengkurku seraya mengusap tangan tuanya. Aku sangat bersyukur memiliki Ibu sepertinya. Dia dengan kesabarannya yang luar biasa selalu ada untukku. Jutaan bahkan miliaran ucapan terimakasih tidak akan cukup untuk membalas kebaikannya.
Masih jelas tergambar di ingatanku bagaimana dia, Ayah, Ed, dan Mia berusaha menghiburku saat aku kehilangan kedua orangtuaku dulu. Ibu terus mencari cara agar aku melupakan kenangan pahit dan tidak menyalahkan diri atas kepergian kedua orangtuaku. Ibu, dengan cintanya yang tulus merawat dan menyayangiku melebihi anak-anaknya sendiri. Aku tahu Ed dan Mia sering cemburu, tapi dia selalu mengatakan aku lebih membutuhkan dukungan saat itu dibanding mereka.
Dia yang selalu paling panik ketika melihatku menangis, bahkan pernah satu kali dia membentak Ed karena tidak meminjamkan skuternya padaku. Pada saat itu Ed sangat marah karena lagi-lagi ibu membelaku, tapi Ibu dengan tenang menjelaskan pada Ed bahwa kondisi mentalku masih terpuruk. Aku tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini. Keluarga yang selalu ada dan menerimaku seburuk apapun keadaanku.
"Ed dan Mia dimana, Mom?" tanyaku saat kami berjalan ke arah ruang keluarga.
__ADS_1
Pandanganku beralih ke arah tangga begitu mendengar suara adikku yang pemalas. Dia melangkah turun dan mendekati kami. "Aku disini. Ed sedang bermain bersama Ben dikamarnya." dengkurnya sambil menguap dengan mata menatap ponsel di tangannya. Anak itu pasti baru saja bangun dari tidur.
Aku menyambutnya dengan tatapan sinis, sifat malasnya benar-benar membuatku jengah. Secepat kilat kurebut ponselnya. "Berhenti mengisi keranjang belanjamu di marketplace, Mia, karena aku tidak akan menyuapimu lagi. Kau harus bekerja!" gerutuku.
Lalu saat dia berusaha merebut ponselnya dari tanganku, Ibu membuka suara untuk menghentikannya. "Mia, stop. She's pregnant." Mia terbelalak, matanya membuka lebar. Namun sedetik kemudian kembali datar.
"Tidak mengherankan." desisnya pelan. Sambil berderap ke ruang keluarga, dia bersuara lagi. "Kau tahu, aku sudah yakin kau akan hamil dalam waktu dekat mengingat bagaimana ******* dan jeritanmu yang memekakkan telinga." Aku langsung melotot mendengar ucapannya. Wajahku mendadak panas menahan malu. Oh, astaga!
Aku berpaling menatap Ibu dan tersenyum kikuk. Sementara Ibu terlihat menahan tawa sambil melangkah ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, Mia kembali berbicara. "Kau benar-benar sudah gila, Panda. Lain kali tolong gunakan fitur kedap suara yang ada di kamar canggihmu itu. Atau kau akan membuat semua orang dirumah ini berendam tengah malam." Ya Tuhan, mulut gadis itu benar-benar kurang ajar. Aku semakin gugup dan kuyakin wajahku pasti memutih sekarang.
Belum sempat aku mengatakan sesuatu, dia menggodaku lagi. "Kau seperti remaja yang baru mengenal sekss, Panda."
Oke. Aku akan meladeninya sekarang. Akan kutunjukkan bagaimana aku merespon ucapannya. Aku menarik napas dan menghembuskan pelan. "Ya, dan itu semenjak aku mengenal dirinya." Aku mendaratkan bokongku disampingnya dan menjawab tanpa ragu. Tidak akan kubiarkan dia senang karena berhasil mengejekku.
Menangkap nada sinisnya, mataku terangkat sekaligus melemparkan senyum lebar padanya. "Seperti yang kau dengar, sissy."
Gadis itu mengulurkan tangannya untuk meraih remot televisi sekaligus mengecilkan suaranya. Mia, gadis yang sejak kecil selalu bersaing denganku sedang menggeser tubuhnya menghadap ke arahku. "Maksudku, kalau kau ingin melakukan adegan panas dengannya, its okay! Tapi serius, kau harus mengumumkannya pada semua orang? Kurasa kau perlu mencuci otakmu, Panda." katanya sambil memelototiku sementara dia meraih ponselnya dari tanganku.
Aku tertawa lebar, lalu melanjutkan kegiatan mengusilinya. Aku menggoyangkan bokongku di sofa sambil tersenyum genit padanya. Mia tak berhenti menatapku dengan matanya yang terbuka lebar. Ekspresi Mia sebenarnya jauh dari serius, dia begitu menggemaskan.
Aku pun tersenyum sambil membayangkan diriku sedang berada dibawah kendali suamiku yang jantan. Mataku terpejam dengan tangan bergerak mengusap paha. "Oh... Mia. Aku menikmati suamiku. Bahkan dengan membayangkannya saja aku bisa terbakar." Aku berhenti bicara sejenak sewaktu menikmati pipiku yang kurasa semakin memerah. Setelah mendapati kalau aku tidak bisa berhenti tersipu, aku melanjutkan ucapanku kembali.
"Dan kau tahu Mia, Dia sangat luar biasa jantan dan tak terkendali."
__ADS_1
Mia menekuk bibirnya sebelum berkomentar. "Baik kalau kau ingin dia menggempurmu setiap saat, aku juga paham karena setiap wanita pasti menginginkan percintaan yang dahsyat. Tapi setidaknya secara eksklusif, Panda. Kami tahu suamimu sangat ahli dan bisa diandalkan, jadi tidak perlu mengumumkannya dengan jeritanmu." Aku tertawa puas karena berhasil mengganggunya.
"Kau tidak ingin menikah, Mia? Ayolah, kau akan merasakannya." kataku menggoda lagi.
Mia memutarkan bola mata dan seketika itu juga dia menyandarkan punggung di sofa. "Kau Franda Atmaja, jangan mengatakan apapun kalau kau hanya terpana dengan kejantanan suamimu. Kau bahkan menerimanya tanpa memikirkan apapun di otakmu yang kosong itu."
Aku terkekeh hingga bahuku bergoyang, "Sudah selesai dengan ocehanmu itu, sissy?"
"Sekarang dengarkan aku." Aku memutar tubuh pelan agar menghadapnya. Dan Mia sepertinya kehabisan tenaga untuk memelototiku, maka sekarang gadis itu hanya memutar bola matanya semakin ke atas.
Aku menyengir melihat wajah Mia. "Sissy, kau tentu tahu," Aku mencoba melanjutkan percakapan dengan tatapan yang sedikit tajam serta menaikkan sebelah alisku. Itu membuat Mia memajukan sedikit wajahnya dan siap mendengarkanku. Dia tahu, kalau sudah begitu, aku akan berkata-kata serius.
"Aku mendengarkan!" kata Mia dengan tatapan mata menerawang.
Aku pun menggeleng dan tertawa kecil. "Okay. Kau tentu tahu kalau aku menyayangimu. Kau satu-satunya temanku berbagi sejak kecil, kita selalu menghabiskan waktu bersama walaupun tak selalu tertawa. Tapi aku sangat menyayangimu, Mia. Aku peduli padamu." Tanpa terasa mataku mulai panasa dan berair.
"Aku tidak memintamu menikah agar kau menghilang dari hidupku, tidak sekalipun, Mia." Aku meraih tangannya dan menggenggam erat. "Aku bisa memberikan apapun yang kau minta. Apapun. Tapi aku ingin kau belajar menghargai hidup." kataku pelan dan lembut.
Aku berhenti untuk menghirup udara sebentar, lalu melanjutkan ucapanku. "Seperti yang kau katakan, aku memiliki mesin pencetak uang dirumah ini. Tapi, apa gunanya Tuhan memberiku tangan dan kaki jika aku hanya berbaring di ranjang, dan menunggu suamiku pulang untuk bersenang-senang semalaman lalu kembali kosong seharian saat dia bekerja."
Mia diam menunduk. Kudengar dia menggembuskan napas beberapa kali. Kuusap lengannya seraya mengeluarkan suara lagi. "Baik, kau tidak ingin bekerja bersama Ed. Lalu, apa yang ingin kau lakukan?"
Mia mengangkat wajahnya cepat dan matanya menatapku berbinar-binar. "Aku ingin berbisnis." katanya dengan antusias.
__ADS_1
"Aku akan membicarakannya dengan suamiku."