Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Interpol's Plan.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Jadi, ini tempatnya?"


Aku melangkah keluar dari mobil, membanting pintu kemudian menjejakkan kakiku ke jalan raya, sekelilingku nyaris gelap gulita karena cahaya dari lampu penerangan jalan terhalang kabut tipis yang turus sehabis hujan. Bunyi kerikil yang bergesekan dengan telapak sepatuku menjadi satu-satunya suara yang terdengar selain deru mobil.


"Menurutmu, berapa lama waktu yang kita punya?" aku menelengkan kepala menoleh Erick yang berjalan ke arahku.


Dia menjepit sebatang rokok di mulutnya sementara sebelah tangan merogoh saku kemeja dan meraih korek, lalu menyulutkan api. Erick bergabung denganku di sisi pagar pembatas jalan raya yang telah terbelah dua, dan masing-masing pelat-nya melesak keluar seperti sebatang pohon yang dipatahkan. Pecahan bodi dan kaca mobil berserakan di sekitarnya, sementara jejak ban yang terseret tercetak dengan jelas dari tepi jalan raya hingga sepanjang jalur menuju ke dasar tebing yang gelap.


Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi jika aku benar-benar berada di dalam Ford yang tergelincir itu.


"Tidak lama lagi..." Erick berbicara pelan sambil menghembuskan asap perlahan dari mulutnya. Pandangannya melayang jauh ke arah cahaya kerlap-kerlip yang berasal dari pemukiman warga sekitar. "Sebentar lagi mereka pasti sadar kalau kau menghilang dari sana." katanya sambil menoleh sekilas padaku.


"Lalu mereka akan mengejarmu. Tidak akan memakan waktu lama, bagaimanapun mereka telah meletakkan pemancar pada ponselmu yang berada di dalam mobil itu." sambungnya kemudian seraya menunjuk ke dasar jurang.


Jika diingat lagi, dua hari terakhir ini benar-benar gila. Setelah pesawat yang Paula dan aku tumpangi mendarat di Malaysia, orang-orang suruhan Syaiful membawa kami ke fasilitas milik gangster yang ada di pinggiran Selangor. Awalnya cukup sulit bagiku tetap berada pada rencana, karena tidak tahu siapa yang harus kupercaya.


Intetpol berkata akan menempatkan agen mereka di antara anak buah Syaiful yang datang bersama-sama dengan kami, tapi masalahnya, pada saat itu aku tidak punya gambaran siapa yang mereka maksud. Hingga dia muncul di hari berikutnya, lalu membeberkan detail rencana untuk meloloskanku dari para gangster.


Sementara itu, seperti yang sudah diperkirakan, begitu aku tiba di Malaysia anak buah Syaiful mendesakku untuk segera membuka enkripsi datanya sebelum mengijinkanku menemui Dave. Aku sangat yakin sikap mereka dipengaruhi oleh percakapan antara Paula dan aku yang mereka dengar saat berada di dalam pesawat. Karena setelah kami sampai di Malaysia, mereka tidak membiarkanku berada di ruangan yang sama dengan Paula. Tepat seperti yang kubutuhkan.

__ADS_1


Aku tenang karena tidak harus mendengar perkataannya yang penuh provokasi. Dan demi ketenanganku, Paula benar-benar harus segera disingkirkan sebelum rombongan mereka membawaku melintasi perbatasan menuju Singapura. Tempat interpol telah mengatur semuanya.


Kemvaki tentang file yang mereka cari, aku tidak bisa menuruti perintah mereka untuk meretas datanya. Kukatakan pada mereka bahwa filenya hanya bisa di akses dalam koordinat tertentu, pada jarak lima belas mil di sebelah barat daya Singapura, atau datanya akan rusak karena sistem keamanannya yang rumit.


Tentu saja aku mengarang semuanya, karena perjalanan ini sendiri hanyalah kedok. Semua telah direncanakan, demi kebaikan. Aku tidak bisa mengeluh soal ini. Aku sudah memberikan data yang asli pada interpol, satu-satunya yang kuterima dari Dave. Dan sekarang mereka sudah berhasil memecahkan sebagian nama yang ada di dalam file itu, keaslian serta sumber data itu. Setelah malam ini, mereka akan bergerak dan menyelesaikan semuanya.


Harus kuakui, aku agak terkejut ketika akhirnya aku tahu siapa orang yang berada di balik pembuatan data itu.


"Kenapa dia menginginkan file itu kembali padanya? Maksudku, Paula membuatnya untuk diserahkan pada kalian sebagai barang bukti untuk meringkus komplotan ayahnya, ini tidak masuk akal. Kenapa dia berubah pikiran?"


Erick menghembuskan asap rokoknya untuk yang terakhir kali, sebelum menjatuhkannya ke tanah lalu menginjaknya. "Paula bertemu dengan Jack Duron, saingan dari para gangster yang bekerja sama dengan ayahnya sebelum dia berangkat ke Indonesia. Kelompok lain yang masuk dalam daftar hitam kami, dan menguasai separuh bisnis ilegal di Indonesia." kata Erick menjelaskan.


"Nama mereka juga ada di dalam file itu. Singkatnya Jack Duron pasti sudah menawarkan kepada Paula sesuatu yang lebih menarik dibanding kesepakatan kami."


Erick menganggukkan kepala. "Mungkin."


"Apa yang akan terjadi padanya?"


Dia menatapku sejenak sebelum membuang pandangannya ke depan lagi. "Yang seharusnya terjadi. Ayo, kita harus pergi dari sini sebelum orang-orang itu muncul." Dia berjalan melewatiku seraya menepuk ringan pundakku. "Kau tidak ingin mereka melihatmu disini setelah menemukan bangkai mobil beserta 'jenazahmu' didalamnya, bukan? Itu akan sangat menyeramkan." lanjutnya bergurau, disertai tawa pelan sambil masuk ke sisi pengemudi dalam mobil.


Aku melayangkan pandangan pada lokasi kecelakaan palsu itu sekali lagi sebelum ikut masuk ke mobil.

__ADS_1


"Kupikir kau sudah meletakkan semua barang-barang pribadimu di Ford itu." Aku menoleh sekilas pada Erick yang tengah mengemudi di sebelahku, menyadari bahwa dia sedang mengomentari cincin pernikahanku dengan Franda yang sedang kuperhatikan di jariku.


"Ya, tapi bukan yang ini." tukasku. Benda itu tidak akan pernah lepas dariku.


Aku memejamkan mata mengingat semua momen yang sudah terjadi dalam pernikahan kami. Mencoba mengingat suaranya, dan itu sangat menenangkan, seakan aku merasakan dia sedang berada di sampingku. Berbicara padaku, dan tersenyum padaku. Ya Tuhan, aku merindukannya.


"Kenapa tidak?" suara Erick menarik pikiranku kembali.


Bibirku spontan melengkung tinggi sementara aku membayangkan wajah Franda di dalam benakku. "Ini adalah jimat keberuntunganku. Kau tidak akan mengerti." gumamku seraya melayangkan tatapan mengejek padanya. Erick hanya mendengus pelan tanpa membalas ucapanku.


Kami telah berkendara sepanjang malam meninggalkan Selangor, menjauhi titik kecelakaan, kemudian mengambil jalur memutar melewati Distrik Batu Pahat untuk tetap berada di wilayah yang aman. Sekarang Erick hendak membawaku menuju ke sebuah hangar tua yang ada di daerah itu, bersiap meninggalkan Malaysia selagi menunggu seseorang melaporkan kecelakaannya pada polisi setempat.


Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya menghidupkan radio mobil. Menekan-nekan sejenak kemudian berhenti pada saluran berita lokal. Terdengar suara penyiar radionya sedang membacakan lalu lintas dalam bahasa melayu. Aku berusaha memusatkan perhatianku dalam siarannya.


..."Sebuah kecelakaan lalu lintas dilaporkan baru saja terjadi di daerah Kawasan 18, Klang. Tabrakan terjadi di perlintasan jalan raya delapan mil dari Selangor, mengakibatkan sebuah mobil Ford terlempar sejauh dua puluh meter dan tergelincir ke dalam jurang. Para polisi yang tiba di tempat kejadian mengalihkan lalu lintas ke jalur alternatif lain, selagi mereka berusaha untuk mengevakuasi jenazah korban yang terhimpit di dalam mobil Ford tersebut. Menurut informasi yang beredar pengemudi mobil naas itu adalah Sean Warner, pengusaha muda yang sukses asal Indonesia. Pihak kepolisian tengah menyelidiki penyebab..."...


Erick mematikan radio lalu melirikku dengan tatapan penuh arti. "Sepertinya kita berhasi menuntun mereka dengan benar, dan para polisi sudah melakukan pekerjaannya, itu bagus." gumamnya tenang, lalu menembalikan pandangannya ke jalanan di depannya.


"Mereka sudah menemukan mobil itu, berikut 'mayatku'." Aku menyambung ucapannya.


"Ya, semua sesuai dengan rencana. Kau baru saja secara resmi dinyatakan tewas dalam kecelakaan mobil. Beritanya pasti akan segera disiarkan secara global, dan headline-nya bakal menarik perhatian semua orang."

__ADS_1


Dari sudut mataku, kulihat dia menoleh padaku. "Bersiaplah, kami akan membawamu kembali ke Indonesia malam ini. Waktunya menjalankan rencana yang sesungguhnya." katanya lagi.


__ADS_2