
"Maaf katamu? Sudah berapa ratus kali kau mengatakannya? Apa arti maaf bagimu, Nino? Aku sungguh tidak mengerti isi kepalamu!" seluruh tubuh Franda bergetar, matanya memerah, beruntung Ia tidak memiliki penyakit jantung, karena jika iya, bisa dipastikan Ia akan berakhir di rumah sakit.
"Sayang..."
"Apa?! Kau mau mengatakan apa? Tidak sengaja? Tidak bermaksud berselingkuh? Atau kau akan membawa-bawa orangtuanya lagi sebagai alasan?" semprot Franda sebelum Nino sempat berbicara.
"Bukan begitu...." Nino mulai putus asa.
"Lalu, bagaimana? Sudah berapa kali kau mengulanginya? Bahkan dengan orang yang sama! Tidak adakah cara lain yang bisa kau lakukan untuk menyakitiku? Tolonglah, setidaknya jangan buat aku merasakan hal yang sama berkali-kali. Aku sudah pernah memaafkanmu, tapi kau melakukannya lagi, kau bertemu dengannya dan memakai orangtuanya sebagai alasan, lalu sekarang kembali terjadi. Aku benar-benar bosan memaafkanmu. Aku muak harus menghadapi permasalahan yang sama berulang-ulang, bisakah kau lebih baik dalam menggunakan otakmu?" Franda mendorong Nino, lebih keras dari sebelumnya, hingga tubuh suaminya menghantam pintu kamar. Suaranya bahkan mengagetkan Papa dan Mama yang masih duduk di ruang keluarga.
"Pa, kenapa mereka?" tanya Mama penasaran, padahal Papa Azka sejak tadi bersamanya, mana mungkin pria tua itu tahu apa yang terjadi.
Papa Azka mengedikkan bahu, "Sepertinya ada masalah, Ma. Ayo ke kamar, biarkan mereka menyelesaikannya." jawab Papa Azka, diraihnya tangan istrinya dan langsung berjalan ke kamar mereka.
"Tapi, Pa..."
"Ma, mereka sudah dewasa. Kita tidak perlu ikut campur!" kata Papa Azka tegas.
Mama Rossa dengan lesu menuruti suaminya, berjalan menuju kamar mereka. Sementara di kamar atas Franda dan Nino masih terus berdebat, lebih tepatnya Franda mendebat Nino.
"Berapa kali aku mengatakan tolong jangan mengulanginya, aku bahkan memohon kau untuk mengingat Ben, ada Ben yang akan menjadi korban, bukan hanya aku! Aku mungkin bisa menahan rasa sakit hati atas kelakuan bejatmu, tapi tidak dengan Ben! Ya, Tuhan!... Kenapa putraku harus memiliki Daddy sepertimu?" Franda mundur, duduk di tepian ranjang sambil memijat pelipisnya, kepalanya mulai berdenyut akibat terlalu banyak menahan emosi.
__ADS_1
Nino melemas, "Sayang..." lagi-lagi Nino tidak bisa melanjutkan ucapannya, lidahnya kelu.
Franda melirik foto yang bertebaran di lantai, "Hah, kau bahkan memberinya apartemen baru. Hahaha, menggelikan sekali." tawa Franda lebih terdengar seperti mengejek dirinya sendiri yang terus dibodohi oleh suaminya. Ternyata kepercayaan yang susah payah diberikannya pada Nino tak berarti apa-apa, pada akhirnya pengkhianatan yang terus didapatnya sebagai balasan.
Nino tidak merespon, memilih tetap bersandar pada daun pintu dan mendengar segala ocehan istrinya. Ia sudah pasrah pada keputusan apapun yang akan di ambil Franda kali ini. Membela diri tidak akan mempengaruhi situasi buruk yang disebabkan olehnya.
Franda berjalan ke kamar Ben, mengambil ponselnya yang tertinggal disana bersama clutch bag hitam yang digunakannya tadi. Jemarinya bergerak cepat, lalu menempelkan ponsel berlogo apel tergigit itu ke telinganya.
"Ed, tolong datang kerumah sekarang, ajak Ibu bersamamu." kata Franda, memerintah dengan halus.
"Ada apa?" tanya Edward bingung.
"Aku akan menjelaskannya disini, datanglah sekarang."
Franda menatap putranya yang tengah tertidur nyenyak dengan mata berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala pada tepian baby crib milik Ben. Franda tidak tahu harus melakukan apa untuk melewati ini, kehadiran Ben membuatnya semakin sulit. Ia tidak ingin hidup bersama Nino lagi sebagai suami istri, sudah cukup rasa sakit yang diterimanya dari lelaki 34 tahun itu. Tapi bagaimana dengan Ben, putranya masih membutuhkan sosok Ayah, usianya terlalu kecil kalau harus terkena imbas dari perceraian.
Franda kembali ke kamarnya, duduk di tepian ranjang sembari menundukkan kepala dan menatap foto-foto itu lagi. Hatinya benar-benar sakit, batinnya begitu tersiksa melihat semua itu. Dengan pelan Franda memunguti semua foto dan menumpuknya menjadi satu.
"Aku tidak bisa menghadapi ini sendiri, semua orang harus tahu apa yang terjadi. Edward dan Ibu sedang dalam perjalanan kesini, tunggulah dibawah." ucap Franda lirih, berlalu meninggalkan Nino menuju kamar mandi. Ia ingin menyegarkan diri sebentar sebelum berbicara pada seluruh anggota keluarga.
Tekadnya sudah bulat, Ia tidak harus memikirkan ulang keputusannya kali ini. Perpisahan memang harus terjadi, demi kebaikan semua orang.
__ADS_1
***
"Ada apa?" tanya Edward membuka pembicaraan. Franda meminta mereka semua berkumpul, sudah pasti ada sesuatu yang penting untuk dibahas.
Franda melempar pelan foto-foto yang di pegangnya ke atas meja tanpa mengatakan apapun. Membiarkan mereka melihat sendiri, tidak ingin repot-repot menjawab. Bibirnya terlalu malas untuk berbicara. Ia tersenyum sinis pada Nino yang duduk tertunduk di seberangnya, jijik pada sikap suaminya yang sok merasa bersalah.
"Berengsek!" maki Edward, Ia langsung berdiri menarik Nino dan melayangkan pukulan keras pada wajah adik iparnya itu. Nino terjatuh, di sudut bibirnya mulai mengalir darah segar.
"Edward!" teriak semua orang, terkecuali Franda. Ibu satu anak itu diam saja, tampak tidak ingin melerai, memandang pun tidak. Rasa sakit hatinya memaksa membiarkan kakaknya melakukan itu pada Nino, setidaknya pukulan Edward akan mengaktifkan kembali otak suaminya yang sudah mati.
Mama Rossa dan Ibu membantu Nino berdiri, menjauhkannya dari jangkauan Edward yang sedang ditahan oleh Papa Azka. Sementara Mia, sama seperti Franda. Gadis itu senang melihat Nino mendapat pukulan dari Edward. Dirinya begitu geram dengan kelakuan kakak iparnya itu yang seakan tidak pernah bertobat, sudah diberi istri yang cantik dan anak yang menggemaskan seperti Ben saja masih belum bersyukur, tetap saja merasa kurang dan mencari kesenangan diluar sana. Tidak tahu diri!
"Ed, jangan ada kekerasan. Kita bisa membicarakannya baik-baik." kata Ibu pelan.
"Aku sangat ingin membunuhnya, Mom! Laki-laki tidak tahu diri ini pantas untuk dihajar agar dia tidak bisa lagi menyakiti adikku! Dulu aku diam karena Franda yang meminta, tapi tidak kali ini. Aku akan membuatnya membayar apa yang dilakukannya!" ucap Edward dengan lantang, berusaha memberontak dari pegangan Papa Azka. Ancamannya yang begitu serius membuat Mama Rossa takut Edward benar-benar akan menghabisi putranya.
"Tolong jangan memukulnya, Nino pasti memiliki alasan melakukan itu, setidaknya biarkan dia mengatakan sesuatu." kata Mama Rossa membela putranya, Ia pun sangat marah saat melihat foto yang ditunjukkan Franda, namun Nino tetap anaknya. Melihat seseorang memukul dan mengancam anaknya pasti membuatnya khawatir.
Franda berdiri, "Aku akan bercerai dengannya. Ma, bujuk putramu untuk menceraikanku. Setidaknya aku masih menyelamatkan harga dirinya yang tersisa secuil itu dengan membiarkan dia yang menggugatku!" Franda berjalan masuk ke kamar Ben, Ia tidak tertarik mendengar penjelasan yang akan keluar dari mulut suaminya.
Perpisahan tak dapat dihindari lagi, toleransi yang diberikan Franda sudah sampai pada ujungnya, tidak ada lagi yang harus dipertahankan dalam pernikahan mereka. Sekali berkhianat maka akan selamanya begitu, sifat itu sudah menempel dan menyatu dalam darah Nino, tidak akan bisa dirubah. Suaminya terlalu ahli dalam berbohong, Franda tidak ingin dibodohi lagi untuk kesekian kalinya. Cukup sudah semua usahanya dalam hal Nino, tidak perlu menyiksa diri lebih lama dengan alasan anak.
__ADS_1
Franda yakin Ben akan tumbuh menjadi anak yang bahagia jika Ia mampu memberikan kasih sayang yang penuh pada putranya. Anak akan berkembang sesuai pola asuh orangtua, dan Franda harus mampu mengasuh putranya dengan baik, meskipun tanpa Nino disampingnya. Franda tidak ingin gila karena mempertahankan rumah tangga tanpa kejujuran, Ia perlu menjaga kewarasannya demi Ben, putranya. Menjaga dan membesarkan putranya dengan baik perlu jiwa dan raga yang sehat.